
“Ku pikir akan sia-sia saja bagiku harus berdebat dengannya, buang-buang air liurku saja, jadi aku menamparnya agar dia tahu siapa bos-nya! Lebih menghemat waktuku untuk membungkam mulutnya!” kata Arimbi.
Semua orang terdiam beberapa saat setelah mendengar penjelasan Arimbi, Emir menatap Arimbi sedangkan yang lainnya menatap Emir dalam diam.
Prok! Prok! Prok!
Emir bertepuk tangan, dan semua orang menatapnya dengan bingung. Akhirnya dia bicara sambil terus bertepuk tangan, “Bagus! Begitu cara yang benar! Jika agresi fisik bisa menyelesaikan masalah, maka kamu harus melakukan opsi itu! Tidak peduli siapapun orangnya jika ada yang mengkritikmu atau mengomelimu, kamu harus memberikan tamparan paling keras pada mereka! Atau lempar saja sesuatu pada orang itu, jangan lukai tanganmu. Bahkan jika langit runtuh setelah itu, kamu harus tahu bahwa aku akan berada disana untuk menahannya untukmu!”Emir terdengar mendominasi saat berbicara.
Amanda menjadi bingung mendengar ucapan Emir. ‘Kenapa dia harus melindungi Arimbi? Semua itu bukan pura-pura kan? Emir juga belum pernah bertemu dengan Arimbi di masa lalu…..bahkan jika Arimbi cantik pun aku yakin dengan status Emir yang kaya raya dia pasti sudah pernah melihat wanita cantik bahkan mungkin lebih cantik dari Arimbi, kan? Mungkin ini waktunya aku harus mengenal adikku lebih baik. Aku tidak bisa membiarkan Emir terus melindunginya…..tidak boleh itu!’ bisik Amanda didalam hatinya.
“Tuan Emir….” Yadid hendak mengatakan sesuatu ketika Emir langsung menatapnya dengan tajam. Pria itupun langsung menelan kembali kata-katanya yang sudah diujung lidah.
“Kenapa kamu masih ada disini?” Emir telah melindungi Arimbi beberapa saat yang lalu tetapi kini dia kembali pada ekspresi dingin seperti biasa.
“Naik keatas dan kemasi barang-barangmu! Aku ingin kamu tinggal bersamaku. Aku benci menunggu jadi aku memberimu waktu sepuluh menit untuk berkemas. Jika kamu terlambat maka aku akan meninggalkanmu disini!” kata Emir menatap lurus pada Arimbi.
Arimbi terpaku setelah mendengar kata-kata Emir, “Kamu ingin aku ikut denganmu? Kita mau pergi kemana Emir?” tanya Arimbi bingung. ‘Dia bahkan ingin aku mengemasi barangku. Apa kami akan pergi liburan?’ pikirnya.
Emir pun mencibir, “Ku rasa orang sibuk sepertimu pasti pelupa ya Nona Arimbi! Apa yang kamu katakan dan lakukan ketika kamu menolak pernikahan kita? Apa kamu sudah melupakan semuanya?”
Arimbi berkedip bingung, ‘A---apa dia mencoba membuatku memenuhi tuagsku sebagai seorang istri?’
Dia pun langsung berkata dengan suara gemetar, “Aku….aku kehilangan buklet itu.”
Tatapan mengancam dan berbahaya muncul di wajah Emir saat dia memicingkan matanya, “Apa kamu pikir kamu bisa melanggar janjimu hanya karena kamu kehilangan buklet?” tanya Emir tak senang,
‘Tidak….aku…..bukan begitu maksudku!” jawab Arimbi.
Tangan Emir menyentuh dadanya dimana Arimbi menggigitnya tempo hari dengan tatapan mengejek. Arimbi langsung menyadari tindakannya dan mengingat ucapannya bahwa dia akan bertanggung jawab untuknya karena dia sudah meninggalkan bekas ditubuh Emir.
Arimbi sudah menyetujui bahwa dia menikahi Emir maka dia harus ikut tinggal bersama pria itu. Namun, setelah mendapatkan surat nikah mereka, Emir mengusirnya dan meminta pengawalnya untuk mengantarnya pulang. Setelah itu Arimbi berpikir mungkin Emir tidak menginginkannya untuk bertanggung jawab untuk merawatnya. Beberapa hari setelah Arimbi pulih, dia tidak ada menerima satu pesan maupun telepon dari Emir.
Keluarga Serkan juga tidak membuat pengumuman tentang pernikahan sama sekali. Saat itulah Arimbi tahu jika Emir tidak ingin menikahinya. Dia hanya setuju menikahi Arimbi karena tindakannya memicu amarah pria itu.
Arimbi bahkan tidak memberitahu orang tuanya tentang pernikahan mereka. Dan yang lebih parahnya lagi, dia telah kehilangan surat nikahnya! Apa ada orang yang akan percaya padanya jika dia mengatakan kalau dia adalah istri sah Emir Rayyanka Serkan? Sedangkan dia tidak punya bukti.
“A—apa kamu yakin Emir?” Arimbi kembali bertanya. ‘Apa dia serius ya ingin aku bertanggung jawab untuk merawatnya?’ Arimbi tercengang sesaat.
Dia tidak tahu bagaimana caranya bertanggung jawab pada Emir. Kemudian dia melirik kaki pria itu, tiba-tiba dia punya ide---dia kembali tersadar dan bersemangat setelah memikirkan sesuatu. Ya! Aku pasti akan melakukannya, Aha! Itu pasti bagus sekali, pikirnya. Arimbi berpikir bahwa dia akan merawat Emir dan membantunya fisioterapi.
Begitu dia bisa berjalan lagi seperti dulu, tugasnya akan selesai dan jika Emir ingin menceraikannya, Arimbi akan setuju. Tapi, jika Emir tetap menginginkannya sebagai istrinya maka Arimbi akan tetap menjadi istrinya. Akhirnya Arimbi pun membuat keputusan ini saat dia teringat kembali ke kehidupannya di masa lampau.
“Apa-apaan ini? Apa kamu mau mengingkari janji? Apa kamu sedang mencoba membodohiku?” nada suara Emir seperti mengancam sehingga membuat Arimbi gemetar ketakutan.
‘Ah, aku yakin Emir akan mencabik-cabik tubuhku dan melemparkan tulangku pada anjing peliharaan dirumahnya jika aku menjawab iya. Dia tidak akan menahan dirinya hanya karena aku istrinya.’ bisik Arimbi didalam hatinya.
Meskipun Yadid dan Amanda tidak tahu apa yang sedang dibicarkan oleh dua orang itu, tapi mereka takut jika Arimbi akan membuat Emir marah.
“Arimbi adalah orang yang bisa dipercaya, Tuan Emir! Dia tidak akan mengingkari ucapannya. Terlepas dari apapun itu yang dia janjikan padamu. Aku sangat yakin dia akan melakukannya. Aku akan pastikan untuk mendesaknya agar menepati janjinya.” ujar Yadid.
Emir tidak menanggapi, dia hanya memelototi Arimbi.
“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan menyesalinya Emir! Beri aku waktu sepuluh menit untuk berkemas dan aku akan pergi bersamamu.” kata Arimbi.
Setelah mendengar ucapan Arimbi, aura dingin di sekeliling perlahan-lahan memudar. “Pergilah! Hanya sepulu menit. Kamu harus berjalan ke rumahku jika kamu terlambat satu menit.” kata Emir tegas karena dia tak akan menunggu Arimbi lebih lama.
Arimbi langsung membalikkan tubuhnya dan berlari menaiki tangga. Yadid dan Amanda pun langsung bertukar pandang, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Emir dan Arimbi. Karena Yadid adalah ayah kandung Arimbi jadi dia pikir dia bisa menanyakan langsung pada Emir, “Tuan Emir, sebenarnya apa yang sudah Arimbi lakukan?”
Emir hanya menatap Yadid tanpa menjelaskan apapun, dia memang punya kebiasaan untuk tidak menjelaskan tentang urusannya pada siapapun. Yadid menjadi agak canggung karena tidak mendapati respon dari Emir. Suasana menjadi hening selama sepuluh menit, meskipun hanya sepuluh menit tapi rasanya bagai setahun.
Arimbi kembali ke bawah dengan barang bawaannya dengan kurun waktu kurang dari sepuluh menit. Emir tampak sedikit senang ketika melihat betapa tepat waktunya wanita itu. “Apa kamu sudah selesai berkemas? Apa kamu masih perlu tambahan waktu beberapa menit lagi?” tanya Emir dingin.
“Tidak apa-apa. Aku sudah selesai kok.” Arimbi tidak akan jatuh kedalam perangkapnya lagi.