
Mendengar pertengkaran kedua saudari itu bergegas memberitahu pada Yadid. Pria paruh baya itu segera meminta Sartika untuk memanggil kedua putrinya ke ruangannya. Tak berapa lama kedua saudari itu masuk dengan wajah Amanda yang kesal sedangkan Arimbi terlihat tenang seperti tidak ada masalah.
“Apa kalian berdua tidak bisa memilih tempat lain untuk bertengkar? Ada apa ini?”
Saat Arimbi ingin bicara dengan cepat Amanda mendahului, “Ayah, aku tadi menasehati Arimbi perihal videonya yang viral tadi malam. Zivanna dibawa ke kantor polisi gara-gara masalah itu. Ini akan berakibat buruk pada keluarga kita dan perusahaan.”
Arimbi hanya diam membiarkan Amanda bicara sepuasnya, sudut bibirnya tersenyum sinis. Yadid memang belum sempat melihat video itu, Sartika baru memberitahunya soal berita viral tentang Arimbi tapi karena kesibukannya hari ini dia belum menanyakan hal itu pada putrinya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Aku belum membaca beritanya karena sangat sibuk hari ini bertemu dengan beberapa klien perusahaan. Amanda, apa Nona Zivanna baik-baik saja? Kamu sudah ada bicara dengannya?” tanya Yadid.
“Dia sudah dibawa pulang oleh keluarga tadi malam ayah. Arimbi yang membuatnya dibawa polisi. Arimbi menuduhnya telah menjebaknya di toko perhiasan.” jawab Amanda.
“Amanda, terima kasih kamu sudah bersedia menjelaskan. Kenapa jadi kamu yang lebih tahu cerita sebenarnya? Apakah kamu ada disana saat kejadian itu? Atau jangan-jangan…..”
“Arimbi, aku tahu kamu masih baru disini dan belum paham bagaimana cara berhadapan dengan lingkungan kelas atas tapi sebaiknya kamu menghindari Zivanna! Kenapa kamu harus selalu bertengkar dengannya dan menentangnya? Ayah, ingat kejadian tempo hari didepan kantor ini?”
“Cukup! Aku membiarkanmu bicara terlebih dulu karena menghargaimu! Bukankah orang yang tepat untuk menjelaskan masalah itu adalah aku? Karena aku berada disana sebagai korban.”
“Amanda, Arimbi jika ada masalah ayah harap kalian berbicara dengan baik-baik. Amanda, biarkan Arimbi menjelaskan karena kamu tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya kan?”
“Ayah….” Amanda ingin protes tapi melihat tatapan Yadid membuatnya bungkam. Ini bukan waktu yang tepat untuk menjatuhkan Arimbi didepan ayahnya. Lagi-lagi sepertinya Yadid. Tapi, lagi-lagi dia melihat sikap ayahnya yang sedikit dingin menatapnya lalu ekspresi itu dengan cepat berubah normal kembali. Yadid menatap Arimbi dengan lembut, dia tahu bahwa putrinya itu tidak bersalah.
“Katakanlah.”
“Aku dan Joana pergi ke toko perhiasan untuk membeli beberapa perhiasan. Tapi tiba-tiba Nona zivanna sudah ada disana! Sedikit aneh ya, dia selalu muncul dimana saja aku berada mungkin ada orang yang memberitahunya.”
Amanda mengeratkan tangannya tapi sikapnya masih terlihat tenang. Apa Arimbi tahu kalau dia yang memberitahu Zivanna? Akhir-akhir ini dia memang menguntit Arimbi karena merasa curiga dan tak sengaja kemarin dia mendengar Arimbi berbicara ditelepon. Rencananya Zivanna akan memberinya pelajaran agar diusir dari keluarga Serkan.
Tapi siapa yang menyangka kalau malah Zivanna dibawa ke kantor polisi? Rencananya gagal lagi.
“Aku malas ribut dengannya ayah, lalu aku mengajak Joana segera pergi tapi mereka malah menuduhku mencuri gelang seharga lebih satu milyar! Ayah, menurutmu apakah seorang pegawai toko punya keberanian begitu besar untuk menjebakku jika tidak ada orang yang menyuruhnya?”
Yadid diam dan memikirkan perkataan Arimbi, memang benar-benar aneh! Selama ini Zivanna selalu mencari masalah dengan Arimbi. Yadid melirik Amanda sekilas, apa mungkin Amanda yang memberitahu Zivanna tentang Arimbi? Dia tidak boleh salah menilai sebelum ada buktinya. Tapi jika memang itu perbuatan Amanda maka dia harus melakukan sesuatu tentang itu.
“Kenapa Nona Zivanna bisa dibawa ke kantor polisi?” tanya Yadid.
“Aku meminta mereka memeriksa rekaman CCTV dan disana terlihat Zivanna berbisik kepada pegawai toko. Awalnya pegawai toko itu tidak mau mengaku tapi aku tidak pernah menyentuh gelang itu, jadi aku meminta polisi melakukan tes sidik jari. Siapapun yang melakukan itu maka sidik jarinya pasti tertinggal di gelang itu.”
“Tidak mungkin Zivanna melakukan perbuatan serendah itu, ayah! Dia berasal dari keluarga kaya dan terkemuka di kota ini! Bisa saja pegawai toko itu melakukannya atas inisiatifnya sendiri. Tapi dia sengaja membawa-bawa nama Zivanna untuk meloloskan diri.”
“Wah, tidak kusangka Amanda semakin pintar dalam hal konspirasi! Tapi sayangnya, kamu salah besar! Saat aku meminta dilakukan tes sidik jari, pegawai itu ketakutan dan akhirnya mengaku kalau Zivanna yang menyuruhnya memasukkan gelang itu kedalam tas ku. Dia bahkan menjanjikan pada pegawai toko kalau dia akan melindunginya.”
“Ck! Aku jadi bingung, kenapa dia selalu mengganggumu. Arimbi, menghindarlah jika kamu bertemu dengan Nona Zivanna dimanapun di masa depan. Ingat, kamu harus menjaga dirimu dengan baik.”
“Iya ayah. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahnya tapi dia selalu muncul begitu saja! Sepertinya ada orang yang memang menginginkan aku dan Zivanna bersiteru. Karena itu ornag itu dengan sengaja selalu memberitahunya dimana keberadaanku.”
“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanya Amanda tak senang dia dituduh.
“Kenapa kamu marah? Apakah aku ada menyebutkan namamu?”
“Arimbi, aku memang berteman baik dengan Zivanna tapi aku juga bukan seorang pengkhianat yang sengaja menciptakan masalah untuk keluarganya sendiri! Selama ini keluarga kita tidak pernah bersinggunggan dengan siapapun.”
“Amanda, apakah kamu sering berhubungan dengan Nona Zivanna? Karena kalian berteman baik, pergilah mewakili Arimbi untuk meminta maaf padanya.”
“Ayah…...” Amanda tak percaya apa yang didengarnya. Bukankah si udik itu yang membuat masalah kenapa dia yang harus meminta maaf atas nama Arimbi? Kenapa ayah memperlakukanku seperti ini? Setiap ada masalah aku yang harus maju meminta maaf atas nama keluarga! Lalu apa peran si putri kandung? Wah, enak sekali ya. Putri kandung yang salah tapi aku yang minta maaf.
“Ini demi kebaikan keluarga dan juga perusahaan! Arimbi masih baru di kalangan atas dan jika dia yang pergi ke kediaman Lavani maka dia akan ditolak duluan sebelum melewati pintu gerbang rumah itu. Berbeda denganmu, kamu berteman baik dengan Zivanna. Jika keluarga Lavani sampai membalas dendam dengan menghancurkan perusahaan, itu akan berpengaruh padamu juga! Apakah kamu mau perusahaan ini hancur?”
Amanda merasa marah tapi mencoba terlihat tenang dan tersenyum lalu berkata, “Baiklah ayah. Aku akan menemui Zivanna dan meminta maaf. Sebaiknya lain kali Arimbi tidak membuat masalah baru lagi. Aku tidak mungkin selalu mendatangi mereka.” ucap Amanda.
“Kamu tidak perlu meminta maaf Amanda, karena aku tidak bersalah sama sekali! Jika mereka ingin membalasku biarkan saja, aku tidak takut! Siapapun yang berani menjebakku, menggangguku dan keluargaku tidak akan pernah kubiarkan begitu saja.”
“Arimbi…..” ucap Yadid yang sudah dipotong oleh Arimbi.
“Ayah, jika kita selalu meminta maaf atas perbuatan yang tidak pernah kita lakukan, maka orang-orang seperti keluarga Lavani ataupun sejenisnya akan merasa senang. Mereka tidak akan pernah tahu jika mereka berbuat salah! Pantas saja selama ini mereka selalu memperlakukan orang lain semena-mena.”
“Ayah, jangan takut! Aku akan selalu melindungimu dan keluarga kita! Didalam tubuhku mengalir darah keluarga Rafaldi! Aku tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan keluarga ini!”
“Apa-apaan kamu? Dalam situasi ini kamu masih bersikap keras kepala seperti ini?”
“Amanda, jika kamu benar-benar peduli pada keluarga yang sudah membesarkanmu selama dua puluh tahun! Kamu tidak akan menjadi anjing penjilat untuk orang seperti Zivanna! Berdirilah didepan untuk membela keluargamu, bukan hanya minta maaf lalu diinjak-injak!”
“Aku memikirkan keluarga ini! Cara kita memang berbeda, kamu lebih menyukai konfrontasi sedangkan aku lebih menyukai berdamai dan tenang!”