GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 164. IBARAT BUKU TEBAL


Saat ini ada sekitar sepuluh laki-laki di generasi mereka dan prestasi mengesankan Emir tidak perlu disebutkan karena itu sudah sangat jelas. Yang lainnya juga pemuda-pemuda luar biasa yang berbakat diberbagai bidang yang mereka geluti.


“Arimbi! Emir itu ibarat buku tebal dan menarik untuk dibaca. Dan jika kamu meluangkan waktu untuk membaca bukunya secara perlahan rasanya akan seperti berburu harta karun. Akan ada banyak kejutan yang menunggumu untuk menemukannya.” kata Elisha lagi.


Ada makna tersembunyi dibalik kata-kata Elisha dan Arimbi pun semakin tersipu. Meskipun begitu Arimbi menjawab dengan lembut, “Aku pasti akan berada disisi Emir dan membuka setiap halaman hingga halaman terakhir buku itu. Aku tidak akan melewatkan apapun.”


“Baguslah kalau begitu! Kamu memiliki masa depan yang cerah dimasa depan! Pertahankan dan aku yakin kamu bisa bertahan dan mencapai akhir yang bahagia.” ujar Elisha menyemangati kakak iparnya.


Arimbi menatap Elisha dan mata keduanya bertautan, Keduanya bisa melihat ketulusan dimata masing-masing. Arimbi pun menyadari jika Elisha yang cukup cerdas telah menyadari banyak hal setelah melihat semuanya.


Arimbi tersenyum dan mengingatkan Elisha, “Kaki ayamnya akan terbakar.”


Saat itu Elisha buru-buru melirik kaki ayam panggang yang dia siapkan.


Kringgg…..kringggg...kringggg…...tiba-tiba ponsel Arimbi berdering kencang. Dia mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya sebelum menjawab panggilan.


“Hai Joana!”


“Arimbi, apakah kamu masih tinggal di kediaman Serkan?”


“Iya. Memangnya kenapa?”


“Bolehkah aku datang kekediaman Serkan untuk menemuimu? Apakah tidak masalah?” tanya Joana.


Arimbi tersenyum dan menjawab,  “Ya,tidak masalah jika kamu mau menemuiku.Apakah kamu punya waktu luang untuk datang dan menemuiku? Bukankah ibumu sudah mempersiapkan kencan buta untukmu? Tadi malam, ada banyak pria tampan yang hadir. Apakah kamu mendapatkan seseorang yang kamu sukai?”


Joana terdengar cukup pasrah ditelepon, “Yang bersemangat itu adalah ibuku. Aku tidak ingin menikah dulu. Semua orang dilingkungan sosial kita tahu hobiku. Jadi tidak ada yang tertarik untuk menikahiki. Bagaimanapun aku belum siap untuk menikah jadi ada alasan bagiku untuk terus hidup dalam kebebasan dan menikmati hidupku.”


Joana senang mengoleksi foto-foto pria tampan yang enak dipandang. Dimatanya pria tampan itu mirip dengan pemandangan yang indah. Dan dia tidak benar-benar memiliki pikiran mesum. Tapi dimata semua orang dia hanyalah seorang gadis nakal yang hidup bebas.


“Apakah kamu bebas untuk keluar? Aku akan menunggumu di cafe tempat biasa kita bertemu.”


Arimbi melirik pria yang sedang asyik memancing dan dia menjawab Joana, “Tunggu sebentar. Aku akan coba meminta ijin dan aku akan segera meneleponmu kembali nanti.”


Joana menyadari pada saat itu bahwa temannya saat ini melayani Emir sebagai pengasuhnya secara gratis. Joana memahami kesulitan Arimbi jadi dia mengatakan dengan penuh perhatian, “Arimbi, jika kamu merasa tidak nyaman, kita bisa bicara lain kali.”


“Tidak apa-apa Joana! Aku hanya perlu meminta izin dulu.” balas Arimbi.


Arimbi menutup teleponnya lalu duduk disamping Emir.


“Apakah Joana yang meneleponmu barusan?” tanya Emir.


Sementara itu Emir menoleh dan matanya cukup kelam ketika dia berbicara dengan nada kasar, “Berhentilah menjilat dan katakan saja apa yang ingin kamu katakan.”


“Joana mengajakku keluar. Menurutmu haruskah aku pergi keluar untuk menemuinya? Atau aku memintanya untuk datang saja kesini?”


Ada banyak pria tampan di kediaman Serkan, jika Joana datang kesana sudah bisa dipastikan kalau dia tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak mengambil foto mereka.


Arimbi agak khawatir jika Joana akan menyinggung salah satu pria dikeluarga Serkan dengan tindakannya. Emir menatap istrinya dengan seksama selama beberapa detik.


Dengan suara tenang dia berkata, “Kamu mengatakan padaku bahwa kamu akan menghabiskan sore hari bersamaku.”


“Ah, bagaimana kalau aku meminta Joana saja yang datang kesini?”


“Apakah kamu harus bertemu dengannya hari ini?” tanya Emir balik.


Arimbi berhenti bicara sesaat, setelah dia mempertimbangkan dan memikirkan matang-matang, dia pun mengirimkan pesan teks ke Joana. Joana membalas pesannya segera setelah dia menerimanya dan sebenarnya dia tidak mempunyai masalah besar. Dia hanya merasa bosan dirumah jadi dia berpikir untuk mengajak Arimbi keluar untuk mengobrol dan berbelanja.


Setelah Joana menyadari bahwa Arimbi tidak nyaman untuk pergi keluar, Joana pun meminta Arimbi untuk meneruskan kegiatannya. Arimbi tidak menerima ajakan Joana karena dia tahu jika sahabatnya itu bisa dengan mudah menghibur dirinya sendiri.


“Emir, aku sudah bicara dengan Joana dan aku tidak jadi keluar.” ujar Arimbi menoleh kearah Emir.


“Dia tidak mengajakku keluar karena dia punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Dia hanya merasa bosan saja dan ingin pergi berbelanja.” tambahnya.


Tapi Emir tetap saja diam seolah tidak terpengaruh dengan perkataan istrinya. Dia fokus menatap sungai didepannya sambil memegang pancing. Karena Arimbi yang menyadari tidak ada tanggapan dari Emir jadi dia berpikir bahwa Emir tidak akan menjawab, lalu Arimbi bangkit untuk pergi.


“Aku tidak mencoba untuk membatasi kebebasanmu tetapi aku tidak suka ketika seseorang tidak menepati janji kepadaku. Jika kamu tidak dapat menepati janji, jnagan dengan mudah membuat janji.”


Arimbi kembali duduk disebelah Emir setelah mendengar ucapannya. Lalu dia mengulurkan tangan untuk memegang tangan Emir yang lain.


 Tetapi pria itu mengangkat tangannya, tak mau disentuh oleh Arimbi. Wanita itupun tetap sabar dan kembali mengulurkan tangan untuk memegang tangan suaminya sekali lagi. Setelah melakukannya berulang kali, akhirnya Emir pun mengalah dan berhenti mengabaikannya.


“Emir.”


Arimbi meletakkan kepalanya dipangkuan Emir dan dengan nada suara yang menyesal dia mendongak menatap wajah tampam suaminya dan berkata, “Aku yang salah. Seharusnya aku tidak mencoba keluar setelah berjanji padamu bahwa aku akan menghabiskan sore hari denganmu. Mulai sekarang aku akan menepati janjiku padamu. Tidak peduli siapa yang menelepon untuk mengajakku kencan, aku tidak akan berubah pikiran.”


Emir menundukkan kepalanya dan matanya bertemu dengan mata istrinya yang besar dan mempesona. Emir memperhatikan ekspresi dimatanya yang memancarkan penyesalan dan ekspresi minta maaf diwajahnya sehingga membuat pria itu pun mengalah. Dengan tenang dia berkata, “Hari ini terlalu panas. Berhentilah menempel padaku.”


Arimbi tertawa gembira dan bersikeras untuk menyentuh pahanya dengan lembut dan mencubit pelan sebelum dia duduk kembali sambil tersenyum, “Baiklah. Aku akan berhenti menempel padamu. Aku akan membuat beberapa makanan. Kurasa kita tidak perlu masak untuk makan malam nanti.”


Emir sepertinya ingin mengatakan sesuatu ketika dia melihat Arimbi berjalan pergi dengan senyum lebar diwajahnya. Namun setelah itu dia mengerucutkan bibirnya dan pria itu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.