GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 55. JEPITAN RAMBUT MAHAL


“Ah…..kukira Emir tidak akan suka makan bubur mentegaku! Aisss…...dia bahkan mengambil semangkuk buburku?” Arimbi menghela napas. Karena Emir sudah mengambil semangkuk buburnya, sudah tidak ada lagi makanan yang bisa dia makan. Akhirnya dia memutuskan membuat mi goreng. Usai memasak, Emir telah kembali kerumah.


“Apa kamu menyantap makananmu di pavilliun setiap hari?” tanya Arimbi.


“Memangnya ada yang salah? Apa kamu mau makan disana juga sekarang?” Emir balik bertanya.


“Tentu tidak. Aku tidak berani!” jawab Arimbi.


“Menurutku kamu terlihat cukup berani. Kamu bahkan berhasil membuat ibuku naik darah setelah kamu membalas ucapannya! Ibu mengeluh padaku saat aku pulang tadi.” kata Emir tapi dia tidak terdengar seperti marah saat mengatakan itu.


“Ibumu…..dia mencoba mempersulit hidupku. Ibumu memerintahku seperti seorang pelayan tak dibayar! Bukankah itu berarti dia tidak akan membiarkanku pergi? Kalau aku takut saat dia memarahiku, menurutmu apakah aku akan pernah mempunyai hidup yang tenang lagi disini?” ujar Arimbi membela dirinya.


Mata Emir fokus menatap Arimbi. Istrinya itu telah memberinya jepit rambutnya yang membuat rambut Arimbi terurai. Emir tidak tahan lagi melihatnya untuk mendekat dan mengikat rambut wanita itu. “Sebaiknya kamu jalan sebentar setelah makan malam untuk membantu pencernaanmu.” ujar Emir mengubah topik pembicaraan.


Arimbi mengerti maksud perkataan Emir dan berjalan kebelakang kursi roda dan mendorongnya. ”Karena kamu ingin berjalan-jalan, sebaiknya kamu beranjak dari kursi roda dan jalan sendiri. Dengan begitu kamu akan melatih ototmu dan mencegah masalah pencernaan.”


“Apa kamu mengejekku karena aku lumpuh?” Emir terlihat tidak senang.


“Emir! Kenapa kamu selalu berprasangka buruk pada orang-orang? Aku berkata begitu untuk kebaikanmu! Kamu harus melatih ototmu sedikit, tidak baik bagimu selalu duduk dikursi roda seperti ini. Sering-seringlah melakukan terapi fisik, dengan begitu kamu akan cepat sembuh.”


“Kamu tidak pernah bisa tahu apa yang orang benar-benar pikirkan!” kata Emir ketus.


“Kamu sangat sulit untuk kupahami. Saat aku mencoba memahamimu rasanya tidak mungkin.” ucap Arimbi lagi.


Raut wajah Emir berubah menjadi muram, Arimbi berada dibelakangnya dan dia tidak bisa melihat raut wajah pria itu, “Apa kamu merasa nyaman tetap dikursi roda? Kamu tidak mau memulihkan tubuhmu seperti semula? Dengan wajahmu yang tampan, saat kamu bisa berjalan lagi maka wanita-wanita itu akan tunduk padamu lagi Emir!”


“Lantas bagaimana kalau aku bisa jalan lagi? Saat aku cacat tidak ada seorang wanitapun yang akan menikahiku, kecuali wanita bodoh sepertimu yang tetap bersikeraas menikahiku!” ucap Emir sarkas.


Arimbi berhenti mendorong kursi roda lalu bergerak mendekatkan wajahnya menatapnya dari samping, Emir bisa mencium wewangian yang muncul dari tubuh Arimbi. “Emir, apa kamu benar-benar impoten?” tanya Arimbi lirih.


“Ada apa? Kamu menyesali keputusanmu sekarang?”


“Apa yang perlu disesali? Aku sudah mengatakan padamu aku tidak peduli kamu seperti apa dan aku tidak akan pernah menyesalinya.”


“Lalu kenapa kamu menyayat pergelangan tanganmu waktu itu?”


“Itu…...yaah, setelah aku mencoba untuk menantang maut, aku sadar bahwa kamu adalah pria yang sangat baik dan berhati mulia. Setidaknya kamu bukan orang munafik yang mengenakan topeng dihadapanku. Jadi aku mengubah keputusanku!” jawab Arimbi.


Arimbi sedikit ketakutan karena pria licik nan pintar ini nyaris membuatnya menguak rahasianya lagi. Emir mendengus mendengar ucapan Arimbi. Wanita itu terus saja menyangkal perkataan pria itu seakan tidak ada yang terjadi. Tapi, dia mulai berpikir jika Emir benar-benar impoten? Jadi dia pun tak perlu khawatir lagi untuk menggodanya.


‘Hahahahaha sudah kutemukan kelemahannya!’ bisiknya didalam hati. Saat pikirannya melayang memikirkan ide-ide untuk mengerjai Emir, tiba-tiba sebuah jepitan rambut muncul didepannya.


Arimbi kehilangan kata-kata dan menggerutu didalam hatinya,’Apakah sulit untuk mengucapkan kata-kata yang baik ya? Bilang saja mau memberiku hadiah? Apa perlu bilang kalau aku seperti hantu? Tajam sekali lidahnya! Huh.’


Saat Arimbi mengambil jepit rambut itu, dia menyadari kalau jepit rambut itu dari brand ternama Chanel, pasti harganya sangat mahal dibandingkan jepit rambutnya yang dia berikan pada Emir tadi.


“Terimakasih Emir.” ucapnya tersenyum.


“Ini sebagai tanda aku menghargaimu karena kamu memberiku hadiah.”


“Hehehe…..Emir, kamu manis sekali.” ucap Arimbi dengan suara lembut nan manja lalu memberikan satu kecupan dipipi pria itu yang membuat hati Emir merasa senang.


...***********...


Reza mengemudikan mobilnya menuju kediaman Kanchana, saat dia sampai di pintu gerbang rumahnya dan membunyikan klakson. Selang beberapa saat seorang penjaga keluar membukakan pintu untuknya. Reza berjalan memarkir mobilnya tepat didepan pintu masuk lalu bergegas turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


Dia mendengar suara-suara orang yang sedang bermain kartu. Pasti ibunya mengundang teman-temannya lagi untuk bermain kartu dirumahnya. Perlahan matanya dipenuhi rasa gusar tetapi ketika dia mendekati ibunya, Reza tersenyum sembari bersandar untuk melihat kartu ditangan ibunya.


“Ibu, apa hari ini menang banyak?”


“Ibu hanya dapat tas Louis Vuitton!” jawab Yessi. Dia mendongakkan wajahnya dan menatap Reza. “Kenapa kamu pulang cepat? Apa malam ini tidak ada acara makan malam dikantor?”


“Aku ada janji bertemu klien jam sembilan nanti. Sekarang masih sore jadi aku memutuskan untuk pulang dan menemui ibu.” jawab Reza.


“Kamu ini! Selalu saja berkata manis.” ucap Yessi merasa senang.


“Ibu!”


“Tunggu sebentar ya. Ibu akan bicara denganmu setelah kami selesai main kartu.”


“Hehe….ya sudah aku pergi kekamarku dan mandi dulu.”


Yessi bergumam mengiyakan dan Reza pun mengangguk pada para wanita itu lalu beranjak menuju ke kamarnya dilantai atas.


“Nyonya Kanchana! Kudengar Reza ingin menikahi gadis yang baru saja kembali ke keluarga Rafaldi ya?” tanya para wanita itu setelah kepergian Reza dan mereka sudah tidak melihatnya lagi disekitaran.


“Reza itu terlalu baik! Wanita itu ingin menikahinya dan Reza tak ingi melukai perasaan wanita itu.”


Yessi menunggu teman-temannya untuk menyudahi berbagai pertanyaan mereka, “Arimbi adalah wanita yang baik. Walaupun dia tidak dibesarkan di Keluarga rafaldi, dia masih seorang wanita yang santun dan aku setuju jika Reza menikahinya.” ujar Yessi bicara memuji Arimbi didepan teman-temannya dengan wajah bahagia seolah dia seorang ibu yang baik.


‘Bagaimanapun wanita itu adalah putri kandung sekaligus ahli waris Keluarga Rafaldi! Seluruh kekayaan keluarga itu akan jatuh ketangan Arimbi! Jika Reza menikah dengannya maka keluarga kami bisa menguasai semua yang dia miliki!’ bisik Yessi didalam hatinya. ‘Apalagi Arimbi mencintai Reza, jika Reza menikahinya maka dia akan menjadi pemilik perusahaan Rafaldi Group.’