GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 343. PERTARUNGAN


“Oh begitu? Tapi aku tidak peduli pada peraturan apapun itu. Katakan saja pada atasanmu atau siapapun itu yang memerintahkanmu! Aku bisa pergi kemanapun aku mau dan jangan halangi jalanku.” Arimbi melangkah lagi namun pengawal itu tetap tak mau mengalah, dia kembali menghalangi Arimbi sehingga membuat wanita itu kehilangan kesabarannya.


 


Dengan gerak cepat, dia menarik kerah pengawal itu dan meninju wajah pria itu dengan keras. Semuanya berlangsung dengan cepat, dan saat bersamaan pintu lift terbuka terlihat Joana dan Dion keluar dengan langkah cepat menuju kearah Arimbi. Keduanya berhenti saat melihat apa yang baru saja dilakukan Arimbi pada pengawal bertubuh kekar itu.


 


Dion sudah tahu kemampuan Arimbi yang bisa mengalahkan pengawalnya sedangkan Joana yang baru ini melihat Arimbi menghajar seorang pria hany bisa menutup mulutnya sambil berteriak kaget. Joana sampai tidak berkedip dan kaku ditempat melihat kejadian itu. Pengawal itu roboh ke lantai dengan hidung dan bibir berdarah.


 


Arimbi mendekati pria itu tapi pria itu dengan cepat mengeluarkan pistol.


“Arimbi! Awas!” teriak Dion dan Joana serempak.


Tapi Arimbi lebih cepat lagi, kakinya berhigh heels menekan tangan pria itu sebelum senjata itu ditodongkan padanya. Tumit high heelsnya berada tepat didada pria itu, menekan dengan sangat kuat sehingga pria itu mengerang kesakitan.


 


Arimbi mengambil senjata itu dan melanjutkan menapakkan kaki kanannya didada si pria dengan kekuatan penuh. Pengawal itu berusaha menahan tapi kekuatan Arimbi tak tergoyahkan.


High heelsnya semakin menekan seolah perlahan memasuki dada pengawal itu, meski sudah ditangan oleh tangannya. Sedangkan Joana menatap Dion, “Tuan Dion, kenapa diam saja? Ayo bantu Arimbi.”


 


“Tenang dan lihat saja! Jangan berisik! Dia bisa menghadapi sendiri, tidak perlu bantuanku!”


“Eh…..benar-benar tidak punya hati! Arimbi sedang hamil bagaimana kalau-----”


“Diam saja! Dia akan baik-baik!”


 


“Ampun! Ampun Nyonya!” erang pengawal itu merasa sangat kesakitan. Bibirnya kembali berdarah dan Arimbi bahkan tidak mau berhenti.


“Arimbi jangan! Hentikan Arimbi! Kamu bisa membunuhnya.” teriak Dion yang bergegas menghampiri untuk menghentikan Arimbi. Dia tidak mau wanita itu kelewatan batas hingga membunuh pengawal itu.


 


Entah mengapa Dion merasa terhibur dan kagum karena memang fisik wanita itu luar biasa. Pengawal pribadinya yang sangat terlatih saja bisa dikalahkan oleh Arimbi dengan mudah apalgi pengawal didepannya ini.


Hanya dengan satu hentakan saja pasti sudah tumbang. Mendengar teriakan seseorang Arimbi pun tersaar, dia tidak boleh membunuh pengawal itu.


 


Sesaat dia diliputi amarag. Akhirnya dia mengangkat kakinya membuat pengawal itu segera beruling kesamping mencari udara dan terbatuk-batuk.


“Aku harap selanjutnya kita tidak pernah bertemu lagi. Aku tidak menyukaimu dan aku benar-benar serius mengatakannya. Jika kamu masih sayang nyawamu jangan pernah muncul didepanku lagi. Untuk alasan apapun.” ujar Arimbi penuh penenkanan.


 


Pengawal itu baru saja hendak berdiri namun Dion menahannya. “Katakan siapa yang membayarmu?”


Pengawal itu tetap diam dan tak mengatakan apapun, “Aku Dion Harimurti dan wanita ini adalah istri Tuan Emir Serkan! Dia mungkin melepaskanmu, tapi tidak denganku! Aku akan menghabisimu jika kamu tidak mengatakan siapa yang menyuruhmu.”


 


Dion merampas pistol dari tangan Arimbi lalu mengarahkan ke kepala pengawal itu. “Aku tahu kamu tidak takut mati! Bagaimana dengan keluargamu? Kamu pikir jika kamu mati aku tidak akan mengejar keluargamu hah?” tanya Dion dengan penuh amarah.


 


“Tuan Johan Lavani! Dia yang membayarku, Tuan.” ucapnya.


 


Tak berselang lama, kerumuman orang keluar dari lift langsung menghampiri dan menahan pengawal itu. Sedangkan Arimbi segera menuju ke kamar 408 diikuti Dion dan Joana. Beberapa orang membawa pergi pengawal itu sedangkan yang lainnya mengikuti kemana perginya Arimbi.


BRAAKKKK!


 


Tendangan Arimbi membuat pintu kamar itu terbuka lebar. Dia menerjang kearah wanita yang polos diatas tempat tidur baru saja hendak melakukan aksinya namun kedatangan Arimbi membuatnya terkejut. Arimbi tersenyum berdiri tidak jauh dari ranjang, sedangkan Zivanna segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


 


Dia menyeringai penuh kemenangan menatap Arimbi dengan menantang, “Sepertinya kamu melewatkan pertunjukan menarik Arimbi! Sekarang Emir adalah milikku! Aku sudah memberikan diriku padanya, lihatlah dia sampai kelelahan dengan permainan kami yang panas. Kamu tahu? Dia menyukaiku sejak dulu, hanya saja dia menutupinya.”


 


“Ha ha ha ha ha…...Zivanna…...Zivanna…...Ckckck! Ternyata hidupmu penuh kepalsuan dan kehobongan! Luar biasa sekali bagaimana keluarga Lavani membesarkan putri mereka satu-satunya! Tak bermoral dan kejamserta murahan!”


“Arimbi! Jangan-----” kata-kata Zivanna tercekat saat dia melihat Dion dan Joana memasuki kamar itu.


Tatapan tajam Dion menghunjam seolah-olah ingin menyayat Zivanna menjadi potongan-potongan kecil. Zivanna merasa malu dengan kehadiran Dion namun dia melihat Joana yang berdiri disebelah pria itu membuatnya kembali marah.


 


“Apa-apaan kalian berada disini? Pergi kalian!”


“Wah, Nona Zivanna! Hebat sekali anda ya, ternyata putri keluarga Lavani itu seorang pelakor.”


Beberapa orang bahkan ikut memasuki kamar itu membuat Zivanna panik, terlebih lagi saat seseorang berkata, “Hah! Ternyata tayangan di layar tadi itu benar-benar Nona Zivanna! Ya ampun…..berani sekali kamu menjebak Tuan Emir dan naik ke ranjangnya?”


 


“Zivanna! Biar aku beritahu ya, saat kamu berada di kamar ini semua yang terjadi dan apa yang kamu lakukan di kamar ini di tonton oleh semua tamu undangan. Ha ha ha ha ha…...Apakah kamu benar-benar menikmati permainan jebak-jebakanmu Zivanna? Cepatlah berpakaian karena sebentar lagi polisi akan tiba disini. Upssss…….saudara laki-lakimu sudah ditahan dibawah.”


 


“Apa?” suara Zivanna terdengar dingin. “Huh! Jangan bicara omong kosong Zivanna! Kamu tidak malu dalam kondisi polos begitu? Sedangkan disini ramai orang? Mungkin saja ada diantara mereka yang merekam dan memposting online.” kembali Arimbi tertawa geli bersama Joana.


“Oh iya Zivanna! Aku sengaja membawa Tuan Dion kesini untuk melihat dirimu yang sebenarnya karena kamu memohon-mohon cinta pada Tuan Dion sebelumnya, bukan?”


“Aku tidak peduli apa yang kalian katakan! Aku sudah mendapatkan Tuan Emir! Benihnya sudah ada didalam tubuhku dan kalau aku hamil maka tidak akan ada yang bisa menghentikanku untuk menjadi Nyonya Serkan!”


 


Plok plok plok plok…..


“Wow! Zivanna! Ternyata begini hasil dari keluarga sampah! Anaknya juga sampah! Semua orang sudah tahu apa yang kamu lakukan disini! Apa yang kamu rencanakan bersama saudara laki-lakimu dan Amanda! Juga, rahasia tentang kecelakaan yang menimpa Emir! Ha ha ha ha dasar bodoh! Kamu mengakui semuanya didepan para tamu undangan malam ini.”


 


“A---apa maksudmu!”


“Kenapa kau begitu ketakutan? Aku hanya mengatakan apa yang kamu katakan tadi pada EM----Emir ya? Apakah pria itu benar Emir suamiku?” tanya Arimbi melirik kearah ranjang.


“Hah! Pastilah suamimu! Bagaimana Arimbi? Menyakitkan bukan melihat suamimu tidur bersama wanita lain? Dia bahkan terlelap karena kelelahan.”