
Dua insan berlainan jenis yang sedang hanyut dalam kenikmatan itu tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang mengintip. ‘Aihhhh….ya Tuhan ampuni aku! Mataku ternoda! Arimbi….kamu harus membayar mahal untuk ini!’ ucapnya berusaha menenangkan debaran jantungnya.
Joana menutup matanya karena takut melihat apa yang akan terpampang didepannya. Perlahan dia membuka mata dan melihat Amanda sedang dalam posisi terbaring membelakangi Reza. Pria itu sedang memacu sambil menutup matanya sehingga tidak melihat Joana. Dengan cepat Joana membidikkan kamera ponselnya kearah pasangan itu.
Setelah mengambil foto dengan cepat dan juga video singkat, Joana bergegas pergi dengan jantung berdegup kencang. Setelah menuruni tangga dia berlari kencang keluar rumah sampai lupa menutup pintu belakang dan lari sekencangnya. Untuk pertama kalinya dia melihat adegan seperti itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
BRAAKKK!
Joana membanting pintu mobilnya sambil berusaha menenangkan debaran jantungnya. Dia masih bergidik ngeri dengan pemandangan yang tadi dilihatnya! Sambil memukul-mukul pelan keningnya dia menggerutu.
“Sialan! Manusia-manusia bejat itu! Heh! Reza akan menikah dalam waktu dekat bukan? Bisa-bisanya dia melakukan itu dengan Amanda?’
“Eitss…..hahahahaha…..ini bakal jadi drama yang menyenangkan dan menggemparkan! Aku akan membuat beberapa copy foto dan video ini. Untuk jaga-jaga, iyakan? Hahahaha Joana memang hebat! Persis seperti detektif fi film Hollywood! Aku harus segera pergi dari sini.” ucapnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan area itu.
Begitu dia tiba dirumahnya, Joana langsung berlari ke kamarnya tanpa mengindahkan panggilan ibunya. “Iya….iya…..” jawabnya.
“Joana! Apa yang kamu lakukan? Ibu mau bicara denganmu!” teriak ibunya.
“Nanti saja Bu! Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan! Misi dari Arimbi.” lalu dia mengunci pintu kamarnya dan langsung menyalakan laptopnya.
Sedangkan Jayanti hanya berdiri terpaku, “Tumben anak itu sibuk! Misi dari Arimbi katanya? Ah biar saja yang penting dia sudah tidak bikin ulah lagi.” ucap Jayanti lalu pergi.
Joana terlihat sangat antusias membuat beberapa copian untuk foto-foto yang berhasil diambilnya. Setelah selesai, dia menyimpannya di beberapa tempat dan dia juga mengirimkan kepada Arimbi.
“Rasaian Arimbi! Kamu tonton tuh video saudarimu itu! Biar sama-sama merasakan penderitaanku! Ehm….enaknya minta aku main detektif-detektifan.” omelnya yang merasa apes hari ini. “Tapi, kalau aku mengirimkan foto dan video itu pada Ruby sekarang, mereka bakal batal menikah dan bisa saja Reza malah menikahi Amanda!”
“Ohhhh….tidak bisa begitu! Sebaiknya kusimpan dulu semua bukti-bukti perselingkuhan sampai pernikahan Reza dan Ruby! Dengan begitu, Amanda akan tetap jadi wanita simpanan! Mampus!” Joana merasa geram sekali pada Amanda yang jago berakting seperti wanita baik dan elegan tanpa cela.
********
Flashback on
“Aslan! Apa semuanya sudah siap?”
“Sudah. Emir, apa kamu yakin ingin melakukan ini? Kamu benar-benar akan mengumumkan ke publik?” tanya Aslan yang terkejut dengan keputusan yang dibuat Emir tiba-tiba.
“Yakin. Memang ini yang seharusnya kulakukan sekarang! Ada sesuatu yang terjadi diluar dugaanku. Jadi aku tidak punya pilihan lain.” jawab Emir. “Mana semua data yang kuminta.”
Aslan pun langsung menyerahkan apa yang diminta oleh Emir sejak kemarin.
Tok tok tok….
“Masuk!”
Rino melangkah masuk lalu mendekat dan berdiri dihadapan Emir.
“Katakan!”
“Kemarin Nona Zivanna dan Tuan Gio bertemu dengan Amanda di restoran. Anak buahku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena berada disana cukup lama.”
“Lalu apalagi yang Brian laporkan padamu?”
“Berdasarkan pengecekan yang dilakukan anak buahku, Tuan Marcel Arkatama baru tiba di kota ini dan pergi ke restoran itu untuk makan malam. Jadi sepertinya secara kebetulan bertemu dengan Nona Zivanna. Setelah itu mereka berdua pergi tapi Brian tidak bisa mengikuti mereka. Dia kehilangan jejak setelah mencoba melacak keberadaan Nona Zivanna.” Rino melaporkan berdasarkan apa yang disampaikan Brian padanya.
“Apa kamu sudah melakukan perintahku mengirim seseorang mengawasi Amanda?” tanya Emir lagi.
“Sudah Tuan! Amanda hanya bertemu dengan Tuan Gio setelahnya dia langsung pulang. Dia tidak terlalu banyak bepergian keluar, hanya antara rumah dan kantor saja.”
Emir terdiam sejenak memikirkan laporan anak buahnya. Dia menerima laporan dari Rino yang mengatakan kalau anak buahnya memberitahunya perihal pembatalan kerjasama yang dilakukan beberapa perusahaan dengan Rafaldi Group pagi ini. Hal itu menyebabkan kerugian besar pada perusahaan mertuanya itu.
“Apa yang harus saya lakukan Tuan?” tanya Rino.
“Tidak ada! Terus awasi mereka, jangan sampai ada yang terlewatkan.” ucap Emir yang merasa ada kejanggalan dengan apa yang terjadi pada Rafaldi Group.
Perusahaan itu adalah yang terbaik dibidangnya, hal yang sangat bodoh jika membatalkan kerjasama. Kecuali ada sesuatu yang terjadi, karena itu Emir memutuskan untuk mengundang mertuanya untuk makan siang bersama.
“Rino.”
“Ya Tuan!”
“Cari tahu alasan orang-orang itu membatalkan kerjasama! Pasti ada orang yang menekan mereka atau mungkin memprovokasi dengan sengaja.” ujar Emir.
“Baik Tuan. Kalau tidak ada hal lain lagi, saya pamit dulu.” ucap Rino yang pergi setelah mendapat anggukan dari Emir.
“Emir, malam ini Jordan akan mengajak Amanda dan Arimbi makan malam untuk merayakan kerjasama yang baru dibuat.” kata Aslan.
“Dimana tempatnya?” tanya Emir.
“Di sebuah kelab! Kamu tahu kan seperti apa Jordan! Apa kamu akan membiarkan istrimu pergi kesana malam ini? Atau kamu ingin aku menyuruh Jordan membatalkan?” tanya Aslan.
Emir tidak langsung menjawab, dia memikirkannya sejenak. “Tidak perlu! Biarkan saja! Arimbi tahu mengatasinya. Apa ada hal lainnya?”
“Tidak ada hal penting. Hanya soal pernikahanmu, apa ada perubahan?”
“Jalankan sesuai rencana semula! Hubungi desainer perhiasan dan tanyakan untuk membawakan beberapa perhiasan terbaru untuk Arimbi.”
Flashback off
Sudah hampir jam makan siang. Arimbi bersama kedua orang tuanya sudah dalam perjalanan menuju The Palm Bliss Hotel. Setibanya disana, Arimbi segera turun dan melihat mobil Emir juga baru saja tiba. Dia langsung berlari menghampiri dan langsung berhenti saat melihat Emir memelototinya.
“Kenapa lari-lari?”
“Sayang, aku sangat merindukanmu!” Arimbi langsung memeluk Emir tanpa mempedulikan mata Emir yang melotot memperingatinya.
‘Dasar istri tidak tahu malu! Main peluk-peluk seenaknya!’ omelnya didalam hati.
Yadid dan Mosha hanya bisa bertukar pandang dan menahan senyum melihat tingkah anaknya.
“Agha! Kenapa kamu tidak menyambut ayah dan ibu mertuaku?” ujar Emir ketus pada adiknya yang berdiri terpelongo menatap pasangan yang selalu membuatnya gerah itu.
“Ehm…..i—iya.” jawab Agha. “Selamat datang Tuan dan Nyonya Rafaldi! Perkenalkan saya Agha, adiknya Emir! Saya yang bertanggung jawab di hotel ini.”