GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 316. AGAK ANEH


Setelah mereka kembali dari menjemput Amanda di kantor polisi tadi malam, Mosha dan Yadid sudah membahas hal ini saat mereka berada dikamar.


Mosha menceritakan semuanya pada Yadid, kalau acara makan malam itu adalah ide Amanda dan juga perihal perusahaan-perusahaan yang tiba-tiba membatalkan kerjasama juga adalah ulah Amanda.


 


Mosha memberitahu Yadid jika Amanda tidak pernah pergi menemui perusahaan-perusahaan itu setelah kejadian pembatalan kerjasama. Amanda pergi menemui Reza di villa dan bukti-bukti yang dikirimkan Arimbi pada ibunya itupun ditunjukkan Mosha pada suaminya.


 


Itulah yang membuat semakin tidak mempercayai Amanda lagi. Apalagi setelah kejadian kemarin malam membuat pria paruh baya itu ingin melakukan sesuatu yang memang seharusnya dia lakukan!


“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak mau pergi ke tempat ibumu karena kehidupan mereka tidak semewah disini? Mereka keluarga kandungmu Amanda! Arimbi saja bisa bertahan disana dan menikmati hidupnya selama lebih dua puluh tahun!”


Lagi dan lagi Mosha menyindir Amanda. Mosha tahu kalau alasan Amanda enggan pergi kerumah keluarga kandungnya karena mereka miskin. Rumah di pedesaan tidak semewah rumah keluarga Rafaldi. Belum lagi, kehidupan disana benar-benar sederhana yang pastinya Amanda tidak akan betah.


 


“Bu---aku---aku tidak terlalu dekat dengan ibuku! Begitu juga dengan ayah dan saudara-saudaraku.” jawab Amanda yang terdiam cukup lama. “Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan pada mereka nanti.”


“Ya katakan saja semuanya! Toh mereka juga pasti sudah melihat beritanya? Kalau kamu pergi ke luar negeri, apa kamu bisa menjamin kalau kamu akan baik-baik saja disana?” ujar Mosha.


 


Wanita paruh baya itu tahu bagaimana enggannya Amanda bertemu dengan keluarga kandungnya. Hal itulah yang membuat Mosha tidak menyukai Amanda sejak awal mereka mengetahui Amanda dan Arimbi tertukar sejak bayi.


Tak sekalipun Amanda menghubungi orang tua kandungnya. Sedangkan Arimbi tetap memperlakukan orang tua Amanda seperti dulu, tak ada yang berubah.


 


“Aku akan meminta pelayan untuk membereskan barang-barang yang akan kamu bawa! Kali ini aku dan ayahmu tidak memberimu hak untuk menolak dan menentukan pilihanmu! Anggap saja kamu menjenguk keluargamu. Bukankah kamu juga tidak menemui ibumu saat dia keluar dari rumah sakit? Bahkan Arimbi yang menjemput mereka dan meminta supir keluarga Serkan yang mengantarkan ibumu pulang ke desanya.”


 


Mosha sengaja menekankan itu agar Amanda tahu diri bahwa Arimbi melakukan banyak hal baik pada ibu kandung Amanda. “Bagaiman Amanda?”


“Baiklah Bu! Aku akan pergi ke desa.” jawab Amanda yang tak ingin berdebat dengan ibunya. Kalau dia menolak, bisa saja Mosha dan Yadid menyingkirkannya selamanya.


 


“Bagus! Kamu teleponlah ibumu dan katakan kalau kamu akan datang dan tinggal disana sementara.” kata Mosha lagi yang ingin Amanda segera pergi dari rumah itu. Kekesalannya sudah menumpuk dan emosinya tak bisa dia kendalikan lagi.


Dia merasa Amanda sudah banyak membohongi mereka selama ini. Satu-satunya cara untuk menjauhkan Amanda adalah dengan menyuruhnya pergi dan menetap sementara dirumah keluarga kandungnya di pedesaan.


 


...*****...


“Bu, untuk apa ibu mau ke kota lagi? Amanda tidak akan mempedulikan ibu seperti waktu itu.” ujar Adrian berusaha menghentikan ibunya yang ingin menemui Amanda. “Sudahlah bu. Urungkan saja niat ibu. Cukup telepon saja Amanda, jika dia meminta ibu datang menemuinya, aku akan mengantarkan ibu ke kota.”


 


“Adrian! Adikmu sedang menghadapi masalah besar! Dia pasti membutuhkan ibu sekarang, ayo temani ibu kota menemui adikmu.” ujar Pratiwi.


“Ibunya Arimbi pasti marah sekali saat ini! Aku ibu kandungnya, aku harus menemui Amanda.”


 


“Dengarkan aku Bu! Kedua orang tua Arimbi pasti membantunya! Apa ibu lupa bagaimana mereka memperlakukan Amanda selama ini? Percayalah Bu, meskipun ibu datang menemuinya belum tentu Amanda mau bertemu dengan ibu.” bujuk Adrian yang tidak setuju jika ibunya pergi ke kota menemui Amanda. Dia tak ingin ibunya terluka lagi dengan sikap Amanda yang tak mempedulikannya.


 


Saat keduanya sedang berdebat, ponsel Pratiwi berdering. Dreeettt dreeetttt dreeeettttt


Pratiwi menatap layar ponselnya, dia seakan tak percaya karena baru saja dia hendak menelepon putrinya itu tapi Amanda sudah menghubunginya duluan.


“Halo, Amanda.” ujar Pratiwi.


Adrian yang berdiri didepan ibunya pun mengerutkan kedua alisnya.


 


“Oh aku baik-baik saja. Amanda, apa kamu baik-baik saja? Tadinya ibu mau pergi ke kota menemuimu.” kata Pratiwi bersemangat.


“Hmm….Bu. Tidak perlu datang ke kota.” kata Amanda yang membuat ibunya merasa sedih tapi wanita itu tetap tersenyum.


 


“Tidak apa-apa Amanda. Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja, ehmmm….kami melihat berita tentangmu. Itulah mengapa aku ingin ke kota menemuimu tapi karena kamu baik-baik saja, aku merasa lega sekarang.”


 


“Bukan begitu. Aku akan datang kesana dan mungkin akan tinggal selama beberapa hari.”


“Ah! Benarkah Amanda? Kapan kamu mau kesini? Ibu akan memasak makanan yang enak untukmu.”


“Hari ini bu. Sebentar lagi aku berangkat, aku menyetir sendiri.” kata Amanda menjelaskan.


“Amanda, kamu yakin mau menyetir sendiri kesini? Aku bisa meminta Adrian untuk menjemputmu.”


“Tidak perlu Bu. Mungkin nanti sore aku sudah sampai disana. Sampai ketemu nanti, bu.” kata Amanda lalu memutuskan panggilannya.


Wajah Pratiwi berbinar penuh kebahagiaan, dia menatap Adrian yang menunggu sejak tadi. “Ada apa Bu? Apa kata Amanda barusan pada ibu?”


 


“Adrian! Amanda akan datang kesini. Katanya dia akan tinggal disini selama beberapa hari. Ibu akan memasak makanan yang enak untuknya.” kata Pratiwi yang senang sekali.


“Baiklah. Aku akan membereskan kamar Arimbi untuknya. Itupun jika dia mau menempati kamar itu.”


“Ya...ya…..dia akan menempati kamar Arimbi. Tolong kamu bereskan, biar ibu pergi ke kebun memberitahu ayahmu.”


 


Pratiwi segera melangkah menuju ke pintu rumah. Adrian hanya menatap kepergian ibunya yang tampak antusias sekali untuk menyambut kedatangan Amanda.


Sedangkan Adrian merasa agak heran kenapa Amanda mau datang ke desa? Mengingat sikap Amanda selama ini yang tak pernah mengakui keluarga kandungnya, ini agak aneh.


 


“Kenapa tiba-tiba Amanda mau datang kesini? Apakah keluarga Arimbi mengusirnya karena kejadian itu? Tapi, memang mereka tidak salah jika melakukan itu! Perbuatan Amanda sudah membuat keluarga itu malu!’ bisik hati Adrian yang merasa tak nyaman dengan kedatangan Amanda. Dia tidak pernah menyukai adiknya yang angkuh itu.


 


‘Sebaiknya aku menanyakan pada Arimbi! Lagipula sudah lama aku tidak bicara dengan Arimbi.’ Adrian mengambil ponselnya lalu menghubungi Arimbi. Tak butuh waktu lama, setelah berdering panggilan pun terhubung. Suara nyaring Arimbi yang sudah lama tak didengar Adrian membuatnya tersenyum.


 


“Adrian! Kenapa kamu tidak pernah meneleponku?”


“Maafkan aku Arimbi! Aku tidak mau mengganggumu, aku tahu kamu pasti sibuk sekali sekarang.”


“Ah, kamu tidak asyik Adrian! Aku ini adikmu, kamu bahkan tidak mau menanyakan kabarku.”


“Hehe….apa kabarmu Arimbi?”


 


“Kabarku baik-baik saja, Adrian! Bagaimana denganmu? Apa ibu ada disana bersamamu?”


“Aku juga baik. Ibu tidak ada dirumah. Dia baru saja pergi ke kebun.”


“Oh begitu. Tidak apa, nanti aku akan menelepon ibu.”


“Ehm…..Arimbi…...”


“Ada apa? Kenapa suaramu begitu?”


“Amanda….”