
Emir menuntun Arimbi menuju meja mereka, melihat wajah istrinya yang muram dan ketakutan membuat hatinya sakit. Dia tidak akan melepaskan Samantha dan keluarga dengan mudah, hampir saja perut Arimbi menjadi sasaran. Arimbi tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum dalam dekapan Emir bahwa rencananya berhasil.
Sedangkan keluarga Rahardika semuanya tampak kahwatir, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa Samantha yang begitu manis dan lembut menyerang Arimbi.
Kekhawatiran akan berbagai kemungkinan yang akan menimpa keluarga mereka membuat keluarga itu diam seribu bahasa dan perlahan meninggalkan area pesta.
Sedangkan Arimbi dan Emir masih bertahan karena akan ada satu pertunjukan menarik lagi. Saat semua tamu sudah kembali tenang dan acara dansa dimulai, musik pun terdengar tapi Arimbi dan Emir tidak ikut berdansa. Mereka memilih duduk sambil berbincang sembari tertawa mesra. Semua tamu undangan berdansa diiringi musik romantis.
Tapi…..
Ting!
Ting!
Ting!
Saat semua orang berdansa, ponsel mereka pun berbunyi dan semuanya saling menatap heran. Masing-masing langsung mengeluarkan ponsel mereka dan mendapati ada pesan masuk.
Suasana dansa terhenti tiba-tiba saat ekspresi semua orang terkejut menatap layar ponsel masing-masing. Pengantin pun ikut merasa heran, karena mereka tidak membawa ponselnya jadi tidak tahu apa yang terjadi.
Sedangkan wajah kedua orang tua Ruby langsung merah dan menatap Reza dengan tajam. Bahkan seluruh tamu pun menatap Reza. Sedangkan orang tua Reza nampak pucat pasi dan terkejut.
“Ada apa ini? Kenapa semua orang menatapmu seperti itu?” tanya Ruby pada Reza.
“Tidak tahu! Ada yang aneh, sebaiknya ku tanyakan.” jawab Reza dengan tenang menatap ayahnya.
Namun sebelum Reza bertanya, tampak kedua putra dari keluarga Lavani yang berjalan kearahnya. Johan berjalan berdampingan bersama Gio yang terlihat paling marah langsung memukul Reza.
BUG!
BUG!
BUG!
“Aahhhhhh…….” teriakan para tamu undangan pun terdengar. Orang-orang yang berada disekitar tempat itu langsung berlari menghindar dari area perkelahian. Suasana mendadak kacau balau, para tamu berlarian ke berbagai arah menghindar. Sedangkan para pengawal keluarga Lavani dan keluarga Kanchana berusaha menghentikan perkelahian.
Sedangkan Arimbi dan Joana saling melempar pandang sambil tersenyum puas. Malam ini drama pernikahan paling menyedihkan yang tidak akan dilupakan oleh semua orang. Sedangkan Dilon yang memakai topeng wajah sedang menyiapkan kejutan berikutnya. Saat ini terjadi Dilon sedang berada didalam sebuah kamar hotel di tempat itu. Ditemani seorang wanita yang sedang dalam keadaan setengah mabuk.
Reza babak belur dihajar oleh Johan dan Gio yang sangat marah saat membaca pesan yang masuk kedalam ponsel mereka. Sementara itu Amanda melarikan diri sebelum orang-orang itu mengejarnya tapi sialnya salah satu pengawal keluarga Lavani berhasil menangkapnya lalu membawa Amanda ke tengah, orang-orang menatapnya dengan tatapan tajam dan menjijikkan.
“Bukankah dia putri angkat Keluarga Rafaldi?”
“Cih! Keluarga Rafaldi sudah membuangnya setelah kejadian waktu itu.”
“Memalukan sekali perbuatannya! Tidak disangka wajah cantik dan sikap lemah lembut yang ditunjukkannya selama ini ternyata hanya topeng!”
“Bukankah dia tadi datang bersama putra keluarga Lavani?”
“Iya benar. Aku melihatnya bersama Gio putra kedua keluarga Lavani.”
“Wah…..skandal keluarga ini luar biasa! Reza menikahi Ruby yang sudah dilecehkannya. Tapi ternyata selama ini dia dan Amanda berhubungan. Dasar laki-laki brengsek! Dulu dia menjalin hubungan dengan putri kandung keluarga Rafaldi.”
Bisik-bisik para tamu semakin melebar membuat Keluarga Lavani, Keluarga Zimena dan Keluarga Kanchana malu besar, sebuah rahasia terbongkar di acara pernikahan Reza dan Ruby.
Ayah Reza berhasil menyelamatkan putranya yang sudah babak belur sedangkan Ruby menangis sesenggukan ditemani ibu dan ayahnya.
Malu! Sangat memalukan! Semua tamu yang hadir menerima pesan berupa video dan foto mesra Reza dan Amanda di villa milik Reza. Video dan foto yang diambil oleh Joana dulu. Bukan itu saja, bahkan foto hasil tes kehamilan Amanda pun tersebar. Ternyata saat dia memeriksakan diri dirumah sakit, Amanda membubuhkan nama Reza Kanchana sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya.
Akibat perkelahian Reza dan kedua putra keluarga Lavani, Reza pun dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan Amanda duduk tertunduk disalah satu kursi menghadapi tatapan jijik dan merendahkan dari semua orang.
Johan mencibir sinis menatap Amanda, jika saja Amanda adalah seorang pria maka sudah bisa dipastikan dia menghajarnya habis-habisan. “Puas kamu? Kamu sudah menghancurkan banyak orang! Aku memperingatkan Gio untuk menjauhimu, kamu benar-benar perempuan murahan yang tidak tahu diri! Kamu tidak layak untuk Gio!”
Sedangkan jauh dari tempat itu, Joana menghampiri Arimbi dan Emir yang masih duduk dengan santai sambil menikmati makanan. Tak terpengaruh dengan kekacauan pesta pernikahan itu.
“Arimbi, sepertinya pesta sudah usai. Aku pulang duluan ya.” ucap Joana.
“Ehm…..kami juga mau pulang. Apa kamu bawa mobil sendiri kesini?” tanya Arimbi.
“Iya! Aku menyetir sendiri. Lagipula sudah tidak ada yang menarik yang mau dilihat di pesta yang sudah kacau balau ini.” ucap Joana tersenyum puas sambil melirik kearah kerumunan yang jauh dari tempat mereka berada sekarang.
“Baiklah. Mungkin kesenangan lainnya bisa dilanjutkan lain waktu. Ayo sayang, kita pulang.” ajak Arimbi lalu bangkit berdiri bersama Emir.
Ketiganya melangkah menuju pintu, sebelum pergi Arimbi masih sempat melemparkan pandangan kearah Amanda yang terlihat sangat menyedihkan. Entah bagaimana nasibnya setelah ini dan apa yang terjadi. Tapi itu sudah resiko dari perbuatannya.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu, “Joana…..dimana Dilon? Bukankah tadi kamu bersamanya?”
“Oh itu…..hehehehe…..dia sedang bersenang-senang! Tenang saja Arimbi, Dilon aman dan dia bisa jaga diri. Sebaiknya kita segera pergi sebelum kena imbasnya. Semua orang sedang menghakimi Amanda! Lihat saja beritanya besok.” ujar Joana terkekeh.
“Sebagai perempuan sebaiknya kamu tidak bertindak seperti itu, Nona Joana. Dan jangan bawa-bawa istriku dalam masalah ini. Dia sedang hamil dan aku tidak mau kandungannya sampai kenapa-napa.” ucap Emir menatap tajam pada Joana. Ketiganya berjalan menuju ke parkiran diikuti para pengawal.
“Tunggu! Tunggu aku!” terdengar suara pria yang berlari dengan napas terengah-engah. Dia menepuk bahu Emir sambil mencoba mengatur napas.
“Kenapa kamu?” tanya Emir pada Dilon Pradipa.
“Aku sudah mendapatkannya!” jawab Dilon tanpa menjawab pertanyaan Emir sebelumnya.
“Kamu ikut mobil dibelakangku bersama Brian.” perintah Emir.
“Baiklah.” jawab Dilon mengikuti Brian menuju mobilnya. Rombongan itupun meninggalkan hotel tempat pesta pernikahan Reza diadakan.
Sementara itu, di kediaman Harimurti tampak Dion menghisap rokoknya sambil menatap kelayar televisi dihadapannya. Tapi sorot matanya seperti tidak fokus ke layar TV melainkan ketempat lain. Pengawalnya berdiri tak jauh dari tempatnya menatap Dion sambil mengerutkan dahinya.
Sudah satu jam dia berdiri disana menunggu perintah dari atasannya itu.
Namun, satu jam berlalu tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Dion. Tapi…..
“Kemana wanita itu pergi?”
“Tunggu sebentar Tuan saya akan hubungi pengawal yang mengawasinya.” jawabnya lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Tak berapa lama dia menjauhkan telepon dari telinga dan memasukkan kedalam saku celananya.
“Tuan, menurut pengawal itu Nona Joana pergi ke pesta pernikahan Tuan Kanchana.”
“Lalu?” Dion masih merasa tidak puas.
“Ehm…..sepertinya dia pergi bersama seseorang, Tuan.”
“Siapa? Arimbi atau orang lain?”
“Pengawal itu bilang kalau Nona Joana datang ke pesta itu bersama seorang pria tampan. Disana dia bertemu dengan Nyonya Arimbi dan Tuan Emir.”
PRANNNGGG!
Dion melemparkan asbak rokok yang berada diatas meja kecil disampingnya. Asbak itu hancur berkeping-keping di lantai. Sorot matanya berubah merah penuh amarah.