GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 111. BUNGA UNTUK EMIR


Aslan pun sepertinya memahami situasinya dengan cepat, “Yeah, Reza itu benar-benar tidak beruntung.” katanya dengan suara terdengar agak iba.


Arimbi jatuh cinta pada Reza pada pandangan pertama sedangkan Reza mau bersamanya karena tidak tahan akan rayuan wanita itu. Pada saat itu Arimbi tergila-gila pada Reza. Apa yang membuatnya berubah pikiran dan menikahi Emir? Puff….hati wanita memang terlalu sulit untuk dipahami.


“Aku akan membiarkan Kanchana Semesta kalau tindakannya tidak keterlaluan!” ujar Emir.


Meskipun Emir adalah orang yang kejam tetapi dia bukan orang yang akan sembarangan menyerang orang lain tanpa sebab. Reza sudah cari gara-gara dengannya.


“Sebarkan berita kalau pesanan Sanco melonjak sehingga kita membutuhkan papan sirkuit cetak dalam jumlah besar.” kata Emir lagi menambahkan.


Aslan yang cerdik bisa langsung memahami rencana Emir selanjutnya. Namun dia tidak mengerti alasan Emir yang lebih memilih untuk menyebarkan rumor seperti itu agar Rafaldi Group membuat penawaran, alih-alih mendekati mereka secara langsung untuk bekerjasama. Melihat Emir tidak berniat menjelaskan, Aslan pun tidak bertanya lagi. Dia hanya akan menunggu dan melihat. Dia pasti akan tahu jawabannya suatu hari nanti.


Sementara itu, Arimbi akhirnya bisa bekerja setelah berbicara dengan suaminya, kini moodnya jauh lebih baik. Kegelisahan hatinya pun sudah hilang entah kemana, sementara dia berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya waktu pun berjalan dengan cepat dan tibalag waktu jam makan siang.


Kemudian dia memasukkan sketsa-sketsa kedalam tasnya. Dia bermaksud akan melihatnya nanti setelah makan siang. “Arimbi!” panggilan ayahnya menghentikannya saat dia baru saja keluar dari ruangannya. Arimbi berbalik lalu tersenyum pada ayahnya.


“Arimbi, ibumu baru saja menelepon dan meminta kita berdua untuk makan siang dirumah. Dia sudah menyiapkan banyak makanan untuk merayakan hari pertamamu bekerja.”


“Bahkan dia tidak sepenuh hati merayakan pencapaianku ketika aku mengambil alih Rafaldi Group!” ujar Yadid dengan terkekeh.


“Aku rasa ibu memberi perayaan khusus untuk ayah.” balas Arimbi menggoda ayahnya.


Yadid menepuk kepala putrinya dengan lembut, “Dasar gadis nakal!”


Arimbi membalas dengan menjulurkan lidahnya dengan manis. “Ayah, Emir mengajakku untuk makan siang bersamanya. Tapi karena ibu sudah menyiapkan sendiri makan siang untukku. Aku akan menolak permintaan Emir. Aku bisa makan siang dengannya lain kali.” ujarnya lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Emir.


Namun Yadid menghentikannya, “Pergilah makan siang dengan Emir. Dia sudah mengajakmu Arimbi! Aku akan memberitahu ibumu. Terimakasih karena aku bisa melahap semua makanan lezat itu sendirian nanti.”


“Apakah ibu akan kecewa?”


“Tidak akan! Aku dan ibumu senang asalkan kamu dan Emir rukun dan dia memperlakukanmu baik.”


“Baiklah ayah. Aku akan pulang untuk makan malam dengannya kalau begitu.” jawab Arimbi.


Arimbi pun tak ingin mengecewakan Emir dengan membatalkan janjinya. Pria picik itu pasti akan menghukumnya untuk menulis essai refleksi diri yang lebih panjang! Mengingat itu Arimbi menghela napas. Menulis refleksi diri lagi, bahkan kali ini isinya tidak boleh bertele-tele.


‘Apakah suamiku itu sudah mulai kecanduan ya menghukumku? Lihat saja nanti, kalau sampai dia jatuh cinta padaku maka gantian aku akan memaksanya menulis surat cinta yang unik!’ gumamnya didalam hati. Arimbi sangat ingin menerima surat cinta dari Emir suatu hari nanti.


“Ayah, apakah ayah setuju bekerjasama dengan Harimurti Group?” tanya Arimbi sambil mengikuti ayahnya masuk kedalam lift.


Padahal sebenarnya Yadid sangat ingin bekerjasama dengan Harimurti Group. “Dion Harimurti itu orang yang aneh! Dulu, aku pernah datang ke perusahaannya untuk menawarkan kerjasama bisnis tapi bertemu denganku saja dia tak mau.” ujar Yadid.


“Bagaimanapun sekarang dia datang langsung untuk mendiskusikan kerjasama. Kesannya seperti ada maksud terselubung. Mungkin dia sudah hubunganmu dengan Emir, itu sebabnya dia datang langsung untuk menemukan cara mengalahkan kita dengan dalih kerjasama bisnis. Jika itu terjadi maka Emir akan terpaksa membantu kita. Itulah yang diinginkan Dion.”


“Aku juga berpikir begitu ayah.” Arimbi menganggukkan kepala. Tapi Emir kalau Dion datang menemui ayahnya di perusahaan itu karena Arimbi. Padahal sebelumnya Dion Harimurti sudah menjelaskan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki hubungan apapun di masa depan. Tetapi dalam waktu singkat dia sudah mengingkari perkataannya. Tampaknya orang sepertinya tidak bisa dipercaya.


Saat mereka sudah sampai dilantai dasar, pembicaraan keduanya pun berhenti. Mereka berpisah setelah keluar dari gedung. Dimas sudah menunggu di luar gedung ketika Arimbi keluar. Ketika Dimas melihatnya mendekat, pria itu keluar dari mobilnya untuk menyapanya. Arimbi pun memperlakukan pria itu dengan sopan.


“Nyonya Muda Arimbi, Tuan Muda Emir sudah menunggu anda di perusahaan.”


“Apakah dia belum berangkat dari kantornya?”


“Belum Nyonya. Waktu istirahatnya tidak menentu.”


“Oh begitu.”


“Apakah anda sudah lapar Nyonya Muda Arimbi?” tanya Dimas menyalakan mesin mobil lalu dia menyerahkan sekotak kue pada Arimbi.


Arimbi mengambil kotak kue dan berterimakasih. Tak heran Dimas menjadi pengawal Emir, dia begitu perhatian dan peka.


“Ini perintah Tuan Muda Emir. Tuan khawatir kalau Nyonya mungkin lapar dan ingin makan kue dulu.” Dimas menjelaskan karena memang emir yang memerintahkan begitu.


Mendengar ucapan Dimas, Arimbi langsung membuka kotak kue dan memakan satu kue, rasanya jadi jauh lebih enak karena itu bentuk perhatian suami tampannya.


Ditengah jalan, tiba-tiba Arimbi meminta Dimas menghentikan mobil. Lalu Dimas menghentikan mobil di tepi jalan dengan bingung. Arimbi meletakkan kotak kuenya dan membuka pintu mobil. Lalu dia berkata pada Dimas, “Tunggu aku di mobil, aku mau ke toko bunga untuk membeli bunga.”


Arimbi berjalan ke toko bunga dan membeli bunga mawar dan gypsophila. Sepuluh menit kemudian dia keluar dari toko bunga dengan seikat bunga ditangannya.


Dimas ingin mengatakan sesuatu tapi melihat wajah Nyonya Mudanya yang bahagia, dia pun tak jadi mengatakan apapun. Dimas kembali melajukan mobilnya menuju Serkan Global Group. Jam istirahat di perusahaan itu jam dua belas siang. Saat mereka tiba disana, suasana di kantor itu masih tegang kecuali Arimbi.


Dia orang baru disana dengan seikat bunga ditangannya membuatnya tampak menonjol. Pengawal Emir mengikutinya dengan raut wajah serius. Melihat mereka berdua, kedua resepsionis tidak berani menghadang. Mereka malah melirik keduanya memasuki lift khusus dengan rasa penasaran.


Sementara di saat bersamaan, Emir menggerakkan kursi rodanya keluar. Rino yang berdiri disamping pintu kantor langsung membantunya. Baru tiga langkah berjalan, mereka melihat Arimbi berjalan mendekat dengan senyum lebar. Dia sudah cantik, jalannya elegan dan tersenyum manis sambil membawa seikat bunga membuatnya tampak seperti bidadari dari kayangan.


Emir tertegun dan menatap Arimbi, tatapannya terpaku padanya. Bahkan para pengawalnya ikut meliriknya. Lalu bunga yang dia bawa diserahkannya pada Emir. “Ini bunga untukmu suamiku sayang.” ucap Arimbi dengan senyum.


Suamiku sayang?