GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 318. MIMPI ITU SAMA


“Tadi Adrian yang bilang! Katanya Amanda akan tinggal disana sementara. Ibu, apa kalian mengusirnya?” tanya Arimbi ingin memastikan.


“Ibu yang memintanya untuk tinggal disana sementara! Bagaimana mungkin ayah dan ibu mengizinkannya tetap disini setelah semua yang terjadi dan apa yang dia lakukan padamu?”


 


“Bu, itu akan menyakiti hati Amanda! Dia pasti marah dan menyalahkanku, mengira aku yang meminta kalian untuk mengusirnya dari sana. Apalagi kata ayah tadi, Amanda tidak akan datang ke kantor untuk sementara waktu. Apakah itu benar bu?”


 


“Ya benar! Bagaimana bisa dia menunjukkan wajahnya di kantor setelah berita dan foto-fotonya tersebar? Ibu tidak setuju! Lagipula itu keputusan ayahmu. Biarkan dia disana dulu untuk merenungi dirinya. Itu akan bagus untuknya, bisa semakin dekat dengan ibunya.”


 


“Eh, apa dia terlihat marah saat keluar dari rumah?”


“Tidak! Tadinya dia mau pergi ke luar negeri! Tapi aku menyuruhnya pergi ke desa saja, dia bisa tinggal disana sementara dan menghabiskan waktu bersama keluarga kandungnya! Selama ini dia tidak pernah mengunjungi mereka kan? Entah apa yang dipikirkan anak itu!”


 


“Bu, aku bukannya keberatan dengan itu. Tapi aku mencemaskan ayah dan ibu kalau Amanda akan marah karena merasa telah diusir. Ibu tahu sendiri kan bagaimana hubungannya dengan keluarganya?”


“Arimbi! Ibu hanya melakukan apa yang seharusnya ibu lakukan! Semakin hari kelakuannya semakin menjadi-jadi dan kejadian kemarin malam itu sangat memalukan!”


 


“Bagaimana ibu akan menghadapi teman-teman ibu setelah ini? Arimbi, semua yang kamu katakan benar adanya! Pasti selama ini Reza dan Amanda berhubungan jauh! Apa yang dipikirkan oleh anak itu? Dia sunguh tak punya hati nurani!” Mosha sangat geram.


“Bu, tenangkan dirimu. Kita akan bicara lagi nanti ya Bu. Namaku sudah dipanggil.”


“Baiklah! Jaga dirimu dan calon cucu ibu baik-baik.”


 


Klik


‘Akhirnya  ayah mengusir Amanda dari rumah? Mungkin aku harus menghubungi ibu besok dan menanyakan kabar Amanda.’ bisik hati Arimbi namun dia langsung terdiam.


‘Amanda sudah kembali ke keluarga kandungnya, aku tidak boleh mengganggu kebahagiaan mereka lagi! Memang sudah seharusnya seperti ini. Aku akan menghubungi Adrian saja untuk menanyakan kabar Amanda selama dia disana.’


 


‘Semoga saja keberadaan Amanda disana tidak menimbulkan masalah baru lagi. Kasihan ibu, dia sangat menyayangi Amanda tapi sikapnya sangat buruk pada ibu. Apalagi rumah keluarga Darmawan hanya rumah biasa, berbeda jauh dengan kediaman keluarga Rafaldi. Apa dia bakal betah disana?’


 


Arimbi pun memasuki ruang dokter karena namanya sudah dipanggil.


“Selamat pagi Nyonya Serkan. Hari ini anda datang sendiri?” sapa dokter tersenyum.


“Pagi dokter. Iya dokter, suami saya ada meeting pagi ini. Jadi dia tidak bisa menemani saya periksa.”


“Oh begitu. Silahkan berbaring dulu Nyonya. Biar saya periksa kandungannya.”


 


Seorang perawat membantu Arimbi berbaring. Lalu dokter memeriksa kandungan Arimbi, setelah itu dia mengoleskan gel di perutnya.


“Nyonya mau lihat bayinya?”


“Iya dokter.” Arimbi tersenyum tak sabar ingin melihat calon bayinya.


“Janinnya berkembang dengan baik, Nyonya. Saya harap Nyonya tetap menjaga kandungan dengan baik, jangan terlalu kelelahan.” ujar dokter itu.


“Jika ada keluhan segera hubungi saya.”


“Baik dokter. Terima kasih.”


 


“Mual kadang-kadang, tapi tidak pernah muntah. Mungkin belum ya dokter.”


“Bagus kalau begitu. Berarti janinya adem, tidak mau menyusahkan ibunya. Kalau Nyonya merasa mual dan muntah, dimakan obat mual yang pernah saya resepkan sebelumnya.”


 


“Oke.” jawab Arimbi singkat.  Memang selama ini dia tidak pernah merasakan morning sickness yang parah seperti yang biasa dialami ibu hamil. Tapi dia pernah melihat Emir muntah-muntah di pagi hari, namun saat Arimbi menanyakan pada Emir, dia bilang hanya sakit perut dan kembung saja.


 


“Ehm, dokter….apakah morning sickness-nya bisa dialami suami ya?” tanya Arimbi penasaran ingin bertanya. Karena dia bukan cuma sekali melihat Emir muntah-muntah, bahkan tadi pagi pun dia melihatnya.


“Bisa saja, Nyonya. Kadang sang suami yang mengalami ngidam.”


“Oh begitu ya.”


...******...


“Tuan, ini laporan yang anda minta. Semuanya ada disini termasuk rekaman CCTV dari kelab malam itu. Dan laporan dari pengawal yang mengawasi Nona Joana mengatakan kalau sampai sekarang Nona Joana belum terlihat keluar rumah.”


 


Dion tak mengatakan sepatah katapun, ekspresi wajahnya tegang dan sangat dingin melebihi biasanya. Dia mengambil dokumen yang diberikan anak buahnya lalu membacanya.


Dokumen itu berisi informasi pribadi Joana, termasuk kehidupan pribadinya. Dion meminta anak buahnya untuk mencari tahu semuanya tentang Joana dan insiden kemarin malam.


 


“Kamu boleh pergi!” ucapnya tanpa memandang asisten pribadinya itu. Setelah asistennya pergi, Dion membaca dokumen itu lalu menyambungkan flashdisk ke laptopnya. Dengan serius dia menatap layar laptopnya yang menampilkan semua yang terjadi di kelab malam itu.


 


Matanya memicing saat dia melihat dua orang wanita memasuki ruangan yang bersebelahan. Dia masih ingat pakaian yang dikenakan Joana malam itu. Dalam rekaman itu wajah Arimbi yang memakai topeng Joana tidak terlalu kelihatan. Tapi Dion mengenali pakaian itu adalah pakaian yang sama yang dipakai Arimbi pagi ini.


 


Dion meletakkan dokumen itu disampingnya lalu memejamkan mata. Bayangan kejadian kemarin malam kembali muncul, dia memang merasakan ada keanehan yang dia rasakan malam itu. Perasaan yang sama seperti yang dia rasakan setiap kali mimpi itu datang. Tapi bedanya, kali ini rasa itu terasa sangat nyata.


 


Dion tidak mengerti mengapa semuanya bisa menjadi begini tapi kemarin malam dia merasakan hal yang sama persis didalam mimpi yang selama ini mengganggunya.


Rasa familiar yang sama, wangi tubuh yang sama persis dan lekuk tubuh polos Joana yang juga sama persis dengan wanita berwajah Arimbi di mimpinya.


 


Hal itulah yang membuat Dion tak tenang pagi ini. Setelah mengetahui kalau wanita yang dia tiduri malam itu bukan Arimbi melainkan Joana yang mengenakan topeng wajah Arimbi.


Tadinya dia mengira jika mereka sengaja melakukan itu untuk menjebaknya tapi setelah dia menyelidikinya, tidak ada hal seperti itu. Anak buahnya yang salah menangkap orang!


 


Hingga Dion berakhir merenggut kesucian Joana dan menghabiskan malam panjang bersama gadis itu. Dion mulai meragukan dirinya sendiri sekarang.


‘Apakah aku yang salah paham? Mungkin Arimbi yang ada di mimpiku selama ini bukan Arimbi Rafaldi tetapi wanita lain yang memakai topeng wajahnya?’ bisik hati Dion.


 


Dion berdiri lalu mengisi gelas winenya dan menyesapnya. Dia berjalan mondar mandir di ruang kerjanya. Sejak tadi dia hanya memikirkan kejadian itu, tapi setelah dia melihat rekaman cctv itu dia semakin tidak tenang. Kenyataan pahit bahwa dia telah melakukannya bersama Joana sedikit mengganggunya.


 


‘Aku bukan lelaki yang tidak bertanggung jawab! Tapi aku tidak menyukai wanita itu! Ah, aku sudah memberikan cek pada ayahnya. Aku ingin lihat berapa banyak uang yang akan dia tulis di cek itu sebagaii ganti rugi.’ Dion mencibir sinis. ‘Semua wanita menyukai uang bukan?’