GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 113. KAKAK IPARMU


Bahkan sebelum Arimbi sempat turun dari mobil, seorang pemuda mendekat dan membukakan pintu mobilnya dengan sopan dan hormat padanya.


“Terimakasih.” ucapnya saat keluar dari mobil. Tidak heran jika hotel ini berbintang tujuh, pelayanannya luar biasa. Pria yang membukakan pintu itu juga tampan, dia memiliki kemiripan dengan Emir. Sesaat setelah melihat Arimbi, Agha terpukau menatapnya.


Dia pikir orang yang akan keluar dari mobil adalah kakaknya, ternyata yang keluar adalah wanita yang tak dia kenal. Wanita itu sangat cantik meskipun riasannya tipis dan penampilannya elegan meskipun pakaiannya tidak glamor. Sekarang Arimbi tinggal di Villa Serkan tapi karena jadwalnya yang sibuk, dia jarang berada lama disana. Agha juga sibuk dan tidak pernah melihat Arimbi sebelumnya.


“Anda ini siapa?” tanya Agha.


“Arimbi Rafaldi.” jawabnya.


Setelah mendengar namanya, Agha sadar bahwa wanita ini adalah perawat Emir. Tampaknya dia merawat Emir dengan baik karena dia juga mengikutinya keluar rumah. Agha mengira kalau Arimbi adalah perawat Emir, kakaknya.


Pada saat yang bersamaan Emir juga akan keluar dari mobil dan kedunya ingin membantunya. Tetapi Emir menghentikan mereka berdua dan keluar mobil sendiri. Setelah duduk di kursi rodanya dia memerintahkan Agha, “Bawakan buket bunya, Agha!”


Bunga?


Agha melirik kedalam mobil dan didalam ada buket bunga. Sembari mengeluarkan bunga dengan rasa penasaran dia bertanya, “Siapa yang memberimu bunga ini Emir?”


“Kakak iparmu.” jawab Arimbi.


Arimbi salah mengira bahwa Agha adalah petugas parkir valet, ternyata dia adalah adik iparnya. Agha adalah Tuan Muda kedua Keluarga Serkan dan adik kandung Emir.


Arimbi hanya mengetahui sedikit tentang keluarga Serkan dan belum mengenal semua anggota keluarga itu. Jadi dia tidak mengenal Agha apalagi mereka belum pernah bertemu sebelumnya meskipun tinggal di komplek villa keluarga Serkan.


“Aku sedang bicara dengan kakakku. Jangan asal menyela ucapanku.” ujar Agha.


Agha kecewa karena sebelumnya Arimbi mencoba bunuh diri untuk menolak pernikahannya. Jika Emir tidak memintanya untuk melupakan masalah itu, Agha pasti sudah memberi Arimbi pelajaran dan membuatnya menyesali perbuatannya. Mendengar ucapan Agha membuat Arimbi terkejut akan sikapnya yang tidak sopan. Sepertinya adik iparnya tidak suka padanya.


“Agha!” panggil Emir, alisnya mengerut. Dia tidak suka dengan perlakuan Agha pada Arimbi. “Apapun yang terjadi di masa lalu lupakan! Sekarang kamu harus hormat padanya.”


“Emir! Kita tidak perlu menghormati perempuan seperti dia. Dia tidak tahu menghormati orang lain.”


“Aku adalah kakak iparmu jadi aku adalah tetuamu. Kamu harus menghormatiku.” ucap Arimbi.


Agha tercengang mendengarnya. Saat dia melihat Emir tidak membelanya, Agha dengan bingung bertanya, “Ada apa ini Emir? Meskipun aku jarang pulang akhir-akhir ini tapi aku menganggap diriku banyak mengetahui kabar terkini. Apa yang aku lewatkan?”


“Dia benar!” jawab Emir. Kemudian dia mengisyaratkan Arimbi mendorongnya kedalam hotel, bunga masih ia genggam.


Ini pertama kalinya selama tiga puluh tahun usianya Emir menerima bunga mawar. Itu juga yang pertama kalinya dia pikir bahwa bunga mawar itu indah. Sementara itu, Agha berpaling dan melihat keduanya menjauh.


Dia lalu menahan tangan Rino dan bertanya, “Rino! Kamu selalu bersama kakakku. Katakan padaku apa yang terjadi? Sejak kapan Arimbi Rafaldi menjadi kakak iparku?”


“Tuan Muda Agha, ini adalah urusan Tuan Muda Emir dan kami tidak bisa mengungkap apapun. Silahkan tanya pada Tuan sendiri jika anda ingin mengetahui apa yang terjadi.” jawab Rino.


Mengingat Emir mempunyai aturan ketat, Agha tidak melanjutkan menginterogasi Rino. Setelah beberapa saat semua sudah berada di presidential suite di lantai teratas hotel. Mereka duduk di meja makan dan makanannya telah tersedia.


“Ini urusan pribadiku jadi aku akan memberitahiu keluarga kalau aku mau, begitupun sebaliknya.”


Ucapannya membuat Agha tersedak. Sekarang Emir adalah kepala keluarga Serkan. Sejak dahulu dia memang orang yang tegas dan keras, tidak ada seorangpun yang bisa menyanggah keputusan yang telah ia buat. Bahkan nenek mereka tidak berani meragukan kewenangannya dalam keluarga.


“Tapi ini adalah masalah penting….”


Agha menelan sisa kalimatnya setelah dia melihat kakaknya menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam. Di sisi lain Arimbi menikmati makanannya, tatapannya melumpuhka Agha. Kedua orang itu tidak menjelaskan semua padanya sehingga membuatnya ingin tahu akan apa yang sebenarnya terjadi.


...*****...


Sementara itu Amanda sudah menemukan bangsal dimana Reza di rawat di rumah sakit.


“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Reza?” tanya Amanda setelah memasuki bangsal. Dia terenyuh melihat tangan pria itu diperban. Lalu dia memegang tangannya dan bertanya lagi, “Apakah Arimbi yang melakukan ini? Sejak dulu dia selalu saja kasar! Sudah lebih dari setahun sejak dia kembali tapi dia masih tak bisa mengubah sifat kasarnya. Dia tidak akan pernah bisa menjadi wanita muda terhormat.” geramnya.


“Bukan dia pelakunya.” jawab Reza.


Tangan Reza yang terkilir sudah dirawat. Karena dia tidak mau orang tuanya tahu tenang cederanya dia memilih untuk dirawat dirumah sakit dan hanya memberitahu Amanda.


“Kalau bukan ulah Arimbi, lantas ulah siapa? Katakan padaku dan akan kubalaskan dendamu! Beraninya orang itu melukai kekasihku? Apakah dia sudah bosan hidup?”


Melihat kemarahan Amanda dan betapa wanita itu menyayanginya, suasana hati Reza semakin baik. Mengapa dia peduli kalau Arimbi tidak suka padanya? Amanda masih bersamanya sekarang. Nyatanya Amanda adalah orang yang dia cintai sejak awal.


“Amanda, tolong berhenti bertanya. Aku yang menyinggung seseorang dan langsung mendapatk pelajaran. ku yang sepantasnya disalahkan atas semua ini.”


Reza tidak berani mengatakan yang sebenarnya bahwa dia telah memanfaatkan Arimbi karena takut Amanda merasa cemburu. Raut wajah Amanda berubah tapi ia menahan diri, dengan penuh perhatian dia bertanya, “Apakah kamu frustasi dengan masalah perusahaanmu Reza? Apa itu alasanmu tanpa sengaja menyinggung seseorang?”


Hanya sedikit orang di kota ini yang berani memberikan pelajaran pada Reza langsung ditempat.


“Ya benar. Masalah perusahaan membuatku frustasi dan aku sudah menduga kalau Arimbi akan menolak membantuku. Kali ini dia telah mengabaikanku.” ujar Reza. Ada kekecewaan didalam nada suaranya saat mengatakan itu. Amanda adalah waniya yang cerdas dan dia bisa merasakan kekecewaan Reza. Dia mengerjapkan matanya, tatapannya memancarkan kecemburuan tapi dia tetap berusaha tenang. “Apa kamu mau dia membelamu dihadapan Emir? Tapi dia malah menolak permintaan sesepele itu? Ternyata perasaannya padamu sangat dangkal ya?”


Reza hanya bisa diam.


“Jangan khawatir Reza! Aku yang akan mengurus semuanya. Yang terpenting adalah kamu harus banyak istirahat sekarang.” ujar Amanda tersenyum penuh kasih sayang.


“Kamu baik sekali padaku Amanda.”


“Aku mencintaimu dengan tulus tidak seperti perasaan cinta Arimbi yang palsu itu.” jawab Amanda.


Ekspresi wajah Reza langsung muram saat mendengar nama Arimbi. Dibandingkan Arimbi memang Amanda adalah yang terbaik untuknya.