GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 310. MEMALUKAN!


Arimbi menatap wajah Emir ingin melihat ekspresi wajahnya setelah membaca berita viral tersebut. Tak tanggung-tanggung, beberapa foto Reza dan Amanda pun terpampang disana. Ada foto saat petugas memasuki kamar hotel dan disana jelas terlihat Amanda dalam posisi ditutupi selimut, meskipun wajahnya tidak terlihat sangat jelas tapi namanya tercetak dengan jelas entah memang disengaja atau tidak.


 


“Bukankah tadi kalian makan malam bersama? Apa yang terjadi?” tanya Emir menatap Arimbi serius.


“Ya benar! Bukan aku tapi tepatnya Joana! Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Bukan aku yang ada disana tapi Joana! Ah, bagaimana kalau kamu minta rekaman CCTV pada Shinta atau Qiana saja?”


 


“Besok pagi aku akan menyuruh Rino! Sebaiknya sekarang tidur saja, ingat kalau kamu itu sedang hamil. Tidak baik tidur terlalu larut. Kemarilah.” Emir menarik Arimbi berbaring disebelahnya.


“Aku kasihan pada ayah, dia pasti syok sekali dengan berita ini! Sayang, bisakah kita menemui ayah dan ibuku besok? Aku mencemaskan mereka.”


 


“Hm! Mereka akan baik-baik saja. Setidaknya dengan kejadian ini mereka bisa melihat wajah asli Amanda. Sudahlah tak perlu membahas hal itu lagi, kamu harus istirahat.” ujar Emir memeluk Arimbi. Tak butuh waktu lama keduanya pun lelap hingga pagi hari.


 


“Ya, kasihan ayah. Selama ini dia sangat mempercayai Amanda dan bertahun-tahun mempersiapkannya untuk menjadi pewaris. Tapi setelah aku kembali semuanya berubah, meskipun ayah menyayangiku tapi dia mempercayai Amanda melebihi siapapun.”


 


“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kasihan anak kita kalau kamu stress begini!”


“Ehm, Sayang…..apa kamu mau menjenguk anakmu?” tanya Arimbi tiba-tiba.


“Pffff! Arimbi, sebaiknya kita tidur. Kamu pasti sangat lelah hari ini.” ucap Emir memeluk Arimbi dan memejamkan matanya. Seolah dia tidak mendengar perkataan istrinya.


 


Dia sebenarnya ingin tapi enggan karena merasa lelah dan besok pagi dia harus bangun awal karena ada hal penting yang harus dikerjakannya. Emir ingin pergi ke villa Dion untuk memastikan keadaan Joana karena dia juga mengkhawatirkan kondisi gadis itu.


Meskipun ini ide Joana tapi gadis itu berkorban untuk Arimbi. Emir tidak akan membiarkan begitu saja pengorbanan Joana. Dia harus melakukan sesuatu yang sudah seharusnya.


 


“Emir….” Arimbi kembali memanggilnya sambil mencium bibirnya.


“Arimbi aku lelah sekali. Apa kamu tidak lelah setelah sibuk seharian? Kamu tidak boleh kecapekan.”


“Aku baik-baik saja. Emir, kamu yakin tidak mau menengok anakmu malam ini?”


“Dia tidak akan kemana-mana. Tidurlah. Besok aku masih bisa menengoknya.”


 


“Tapi….”


“Ssshhhh….diamlah. Ini sudah lewat tengah malam. Besok harus bangun awal, ada hal penting yang harus kita kerjakan. Apa kamu lupa?” Emir mengingatkan Arimbi tentang janjinya akan membawa Arimbi menemui Joana besok pagi. “Kalau kamu tidak mau tidur dan menggangguku terus, aku tidak akan membawamu menemui Joana.”


 


“”Euhhh…..tidak. Mana bisa begitu! Aku sangat mengkhawatirkannya.”


“Kalau begitu tidurlah.” Emir menggeser Arimbi semakin merapat ketubuhnya dan memeluknya.


Arimbi mencoba untuk memejamkan matanya meskipun pikirannya masih melayang kemana-mana. Tapi tak lama kemudian dia pun terlelap.


 


 


Sedangkan dirumah utama terjadi kehebohan akan berita penggerebekan hotel dan kelab malam mewah tadi malam. Yaya berdiri disamping meja makan menatap Layla Serkan yang wajahnya menunjukkan ekspresi tak senang. “Huh! Sangat memalukan! Kedua putrinya ternyata tidak bisa diandalkan!” tiba-tiba umpatan itu keluar dari bibir Layla Serkan.


 


“Nenek, lebih baik kita sarapan dulu. Kenapa harus membahas hal tidak penting?” ujar Elisha mencoba menenangkan neneknya. “Lagipula Reza itu memang brengsek! Dia sudah mempersiapkan pernikahannya minggu depan tapi malah selingkuh dengan Amanda! Laki-laki tidak bisa dipercaya!”


 


 “Ini sangat penting! Akan berdampak sangat buruk pada keluarga kita. Semua orang sudah tahu jika Arimbi adalah istri Emir dan sekarang saudari perempuannya membuat masalah yang memalukan! Tidak bisa dibiarkan.” ujar Layla Serkan.


“Benar Bu! Orang-orang akan mengaitkan hal ini pada keluarga kita! Aku tidak akan berani menunjukkan wajahku dihadapan orang-orang kelas atas.” ujar Rania menimpali.


“Cukup! Keluarga Serkan memiliki status tertinggi di kota ini! Kita tidak perlu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.” ujar Alarik menimpali.


 


Rania dan Layla Serkan pun langsung terdiam, Alarik memang jarang bicara seperti Emir tapi sekali mengeluarkan kata-kata maka semua orang akan terdiam. Pria paruh baya itu tidak menyukai keributan dan pertengkaran, itulah alasannya dia langsung membawa Rania berlibur ke luar negeri saat Arimbi tinggal di villa Emir. Pria paruh baya itu tidak ingin ada pertengkaran dirumahnya.


 


“Bu, aku harap ibu tidak mempersulit Arimbi gara-gara masalah ini. Tidak ada hubungannya dengan Arimbi!” ujar Alarik pada Layla Serkan.


“Bagaimana bisa kamu berkata begitu? Mereka itu bersaudara, sama-sama putri keluarga Rafaldi! Memalukan sekali! Jangan-jangan Arimbi itu….” Layla Serkan tidak melanjutkan ucapannya.


 


Alarik hanya bisa menatap ibunya sambil menghela napas panjang. “Arimbi adalah istri Emir! Dia menantu dirumah ini! Apa ibu pikir bahwa Arimbi pernah melakukan perbuatan itu dengan Reza dulu? Karena mereka pernah menjalin hubungan? Hanya Emir yang tahu kebenarannya.”


 


“Apa kamu lupa sesuatu?” tanya Layla Serkan lagi dengan tajam. “Bisa saja dia melakukannya, mengingat Emir tidak memiliki kemampuan! Setiap hari dia pergi keluar rumah, siapa yang bisa menjamin apa yang dilakukannya diluar sana?”


 


Tiba-tiba Yaya masuk ke ruang makan lalu menoleh kearah Nenek Serkan yang langsung bertanya. “Ada apa kamu tergesa-gesa begitu?”


“Tuan Muda Emir dan Nyonya Arimbi sudah pergi sejak pagi tadi.” ucap Yaya yang langsung membuat Layla Serkan menghentikan makannya.


 


“Heh! Pasti mereka sudah mendengar berita itu! Ini masih terlalu pagi untuk ke kantor.” cibir Rania.


“Sepertinya mereka tidak pergi ke kantor Nyonya. Karena Nyonya Arimbi tidak memakai baju kerja.”


“Ha…..aku ingin melihat apa yang akan terjadi pada keluarga Rafaldi! Mereka sedang punya masalah besar dengan perusahaan dan sekarang masalah baru datang dari putri angkatnya! Benar-benar keluarga yang sial! Semoga saja kesialannya tidak sampai ke keluarga ini.” ujar Rania lagi dengan nada suara penuh kebencian.


 


“Rania! Berhenti bicara! Aku jadi tidak selera makan, tidak ada ketenangan dimeja makan dan dirumah ini! Selalu saja membicarakan hal-hal tidak baik. Sebaiknya kita pergi liburan selama enam bulan!” ujar Alarik menatap tajam istrinya.


 


“Aku tidak masalah! Lebih baik aku liburan di luar negeri daripada melihat wajah wanita itu.”


“CUKUP!” teriak Alarik marah. “Arimbi tidak pernah membuat masalah denganmu, dia bahkan membantu Emir untuk sembuh! Sedangkan kamu, apa yang kamu lakukan selain mencari masalah dan bicara buruk pada orang yang sudah merawat putramu!”