GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 324. SIAPA AYAH BAYINYA


Emir menatap Arimbi dengan serius. Lalu dia menarik Arimbi kedalam pelukannya dan mencium bibirnya. “Aku tidak masalah kalau harus menggantikanmu! Bahkan jika langit runtuh sekalipun aku akan menahannya untukmu! Yang penting kamu dan anak kita baik-baik saja.”


 


Arimbi menatap haru pada Emir dan sudut matanya sudah meneteskan airmata, “Sayang, kamu manis sekali! Aku jadi terharu! Anak kita pasti bahagia dan bangga sekali punya papa sepertimu.”


“Aku memang hebat!” Emir memuji dirinya sendiri. “Aghh! Sakit!”


“Maaf, tidak sengaja. Sayang…..kamu memang hebat! Suamiku hebat!”


 


“Ayo, kita tidur lagi. Ini masih jam empat pagi.”


Emir menggendong Arimbi menuju ke tempat tidur. Kini kekuatan kakinya sudah normal kembali tapi Emir masih tetap menggunakan kursi roda karena dia tidak mau orang diluar sana mengetahui kalau dia sudah sembuh.


 


“Emir, apakah kakimu sudah cukup kuat menggendongku? Aku khawatir!” ucap Arimbi.


“Aku baik-baik saja! Kemarin juga aku menggendongmu kan? Kakiku sudah kuat! Kamu jangan khawatir.” ucap Emir sambil membaringkan Arimbi diatas tempat tidur. Lalu dia pun berbaring disebelahnya sambil memeluk Arimbi.


 


“Sampai kapan kamu akan memakai kursi rodamu?” tanya Arimbi memeluk suaminya.


“Tidak tahu! Mungkin sampai aku bisa memastikan keadaan benar-benar sudah terkendali! Apakah kamu ingin aku berjalan seperti biasa? Kamu sudah bosan melihatku di kursi roda?”


“Bukan begitu, sayang! Kalau kamu sudah bisa berjalan, bukankah lebih baik kalau kamu tidak menggunakan kursi roda lagi?” tanya Arimbi.


 


“Lalu semua orang akan tahu kalau aku sudah sembuh sehingga para wanita itu kembali datang mengejarku? Sementara kamu masih dalam keadaan hamil? Aku tidak mau ada yang mengganggumu. Jadi biarkan saja begini untuk sementara.”


“Tapi kamu pasti tidak merasa bebas.”


 


“Aku sudah biasa, Arimbi! Kamu lupa berapa lama aku duduk dikursi rodaku?”


“Ya aku tahu! Aku hanya memikirkanmu saja. Tidurlah!” ucap Arimbi menutup mata suaminya dengan tangannya yang membuat Emir tersenyum. Istri nakalnya itu selalu saja punya tingkah lucu dan menggemaskan yang membuatnya selalu ingin dekat.


...*******...


“Selamat pagi Tuan Muda. Selamat pagi Nyonya Muda.” sapa Beni saat melihat pasangan suami istri itu keluar dari lift. Seperti biasa Rino mendorong kursi roda Emir menuju ke pavilliun untuk sarapan.


Saat Emir mencium bau makanan itu, membuat perutnya kembali mual.


 


“Makanan apa ini?” tanya Emir menutup hidungnya karena bau yang menyengat.


“Ini makanan kesukaan Tuan dan Nyonya! Apa ada yang salah Tuan?”


“Makanan ini bau sekali! Cepat singkirkan! Aku tidak mau makan ini!”


Beni langsung memerintahkan pelayan untuk menyingkirkan makanan itu dan membersihkan meja.


 


“Berikan saja makanan itu pada pelayan. Jangan dibuang!” ujar Arimbi yang menatap Emir dengan prihatin. Lagi-lagi suaminya yang harus merasakan penderitaan morning sicknessnya.


“Sayang, kamu mau sarapan apa?”


“Terserah kamu saja!”


 


“Beni! Katakan pada dapur utama, jangan pernah memasak makanan itu lagi! Aku tidak suka baunya!”


“Baik Tuan Muda! Akan saya sampaikan.” Beni melirik kearah Arimbi. Seolah mengerti apa yang sedang dialami Emir, kepala pelayan itupun bertanya. “Apa Tuan ingin request makanan khusus?”


“Buatkan roti dan telur dadar saja. Aku tidak mau makan yang lain.” jawab Emir masih menutup mulutnya dengan tangan.


“Nyonya?”


 


“Aku tidak lapar. Nanti aku makan di kantor saja.” jawab Arimbi.


“Kamu harus makan, Arimbi! Ingat, bukan cuma kamu saja yang harus makan!” ujar Emir.


“Iya, aku tahu.” lalu dia menoleh kepada Beni dan berkata, “Buatkan aku susu hangat dan roti saja.”


 


Sementara itu di dapur utama, para pelayan yang tadi membawa kembali makanan dari villa Emir berbisik. “Semua makanan ini boleh kita makan. Perintah dari Nyonya!”


“Kenapa? Apa Tuan Emir tidak menyukai makanannya?”


“Apa ada yang salah dengan makanannya? Biasanya Tuan dan Nyonya tak pernah menolak makanan apapun, juru masak membuatnya sesuai menu yang dipilih Tuan Emir!”


 


“Ssssttttt…...kalian jangan berisik! Ada sesuatu yang ingin kukatakan!” ujar Desi.


“Apa?”


“Katanya nyonya tidak selera makan dan mual-mual saat mencium aroma makanan ini. Makanya dia meminta makanannya dibawa lagi untuk pelayan! Dia hanya makan roti saja.”


Para pelayan tidak tahu jika Arimbi yang menyuruh Beni untuk mengatakan itu karena dia tidak mau mereka tahu jika Emir yang mual.


 


“Ah! Apakah Nyonya hamil? Mungkin dia sedang mengidam!”


Tanpa mereka sadari Yaya yang hendak memasuki dapur tak sengaja mendengar percakapan para pelayan itu. Dia pun menghentikan langkahnya dan berdiri dibalik pintu, mendengarkan apa yang dibicarakan mereka.


 


“Benarkah? Nyonya Arimbi benar-benar hamil? Bukankah kabarnya----”


“Sssttt…...jangan membahas itu. Tapi yang pasti, ini bukan pertama kali nyonya menolak makanan dengan alasan yang sama!” kata pelayan itu lagi.


“Aku semakin yakin kalau Nyonya Arimbi memang hamil!”


 


“Oh iya! Aku ingat tempo hari aku sempat melihat Nyonya Arimbi di halaman belakang mengambil mangga muda malam-malam! Waktu itu aku hendak menutup pintu belakang dan aku sempat melihat Rino yang memanjat pohon mangga. Tuan Emir dan Nyonya Arimbi juga ada disana.”


“Ini kabar bagus kalau memang benar begitu!” sela pelayan lainnya.


 


Yaya mengeryitkan dahinya, ‘Arimbi hamil? Tapi--- bukankah Tuan Emir mengalami masalah disfungsi sejak kecelakaan itu? Kalau memang benar Arimbi hamil, siapa ayah bayinya?’ bisik Yaya didalam hatinya. Dia melangkah meninggalkan area dapur dan berjalan menuju ke makan. Bertepatan Layla Serkan baru saja selesai sarapan.


 


Wanita tua itu mengangkat wajahnya lalu menatap Yaya yang terlihat gelisah. “Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah begitu? Jika ada yang mau kamu sampaikan, katakan saja.”


“Ehm….Nyonya Besar!” Yaya melirik Layla Serkan. Memikirkan apakah dia harus mengatakan apa yang barusan didengarnya atau membiarkan saja.


 


“Katakan! Jangan membuatku menunggu.”


“Ada apa Yaya?” tanya Rania.


“Hmm….saya mendengar kabar.” Yaya mencoba memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikan.


“Kalau tidak penting sebaiknya kamu lanjutkan pekerjaanmu. Jangan membuang waktuku!” ujar Layla Serkan sembari berdiri.


 


“Nyonya Besar! Bisa kita bicara diruang baca saja? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan.” ujar Yaya. Dia merasa tidak enak jika membicarakan hal itu dihadapan anggota keluarga Serkan yang lain.


“Baiklah! Ikut aku.”


Keduanya berjalan menuju ke ruang baca. Tempat favorit nenek Serkan menghabiskan waktunya. Setelah Yaya menutup pintu, dia duduk dihadapan Layla Serkan.


 


“Apa yang mau kamu katakan?” Layla Serkan terlihat tak sabar.


“Ini ada hubungannya dengan Nyonya Arimbi!” ujar Yaya menarik napas panjang.


“Cih! Masalah apa lagi yang dibuat wanita itu?” ujar Layla Serkan mendengus kesal.


“Kali ini berbeda Nyonya Besar! Tidak ada masalah! tapi----saya mendengar kabar kalau Nyonya Arimbi mungkin hamil.” ucap Yaya.


 


“Apa? Hamil? Ha ha ha omong kosong apa yang kamu bicarakan ini Yaya?” ujar Layla Serkan dengan menghentakkan tongkat kayunya. "Siapa ayah bayinya? Jangan membuat berita bohong dan tidak masuk akal seperti ini.”