
Dasar tidak tahu malu! Pikir mereka. Akhirnya Jordan pun membereskan peralatan memancingnya dan menatap Arimbi. “Ayo Nona.” ujarnya.
Setelah Arimbi selesai membereskan peralatannya, dia berjalan mengikuti Jordan. Ketika dia hendak lewat didepan Reza, dia melambatkan langkahnya dan membuka mulutnya seperti sedang bicara.
Namun Reza tidak mendengar apapun yang dikatakan Arimbi. Ruby melihat itu dan dia menjadi penasaran. Dia mau tahu apa yang dikatakan Arimbi pada Reza.
Sementara itu, Arimbi memang tidak mengatakan apapun pada Reza. Dia sengaja hanya membuka mulutnya seolah sedang berbisik pada Reza. Tapi Ruby tidak akan mau percaya jika Arimbi tidak mengatakan apa-apa.
Dia akan mencurigai Reza. Lalu mereka akan bertengkar soal itu. Bagaimanapun caranya, Arimbi tidak mau Reza bisa tidur nyenyak begitu saja. Lagipula, tujuan utamanya adalah membuat Reza menderita. Lagipula Reza tidak mencintai Ruby. Dia hanya menikahinya untuk menyelamatkan bisnis keluarganya.
Jika mereka terus bertikai, Reza akan semakin memihak Amanda, dan perlahan Ruby akan merasa bahwa dia di selingkuhi. Semua ini salahnya sendiri, siapa suruh dia menghina Arimbi seperti itu?
Jordan tidak mau memancing lagi setelah semua kejadian itu. Namun dia jadi lebih mengerti tentang Arimbi. Dia sadar bahwa tidak hanya mulutnya saja yang pedas, Arimbi juga ternyata jago berdebat.
Jordan menyadari kalau Arimbi lebih suka main tangan daripada banyak bicara. Semua itu sangat menarik bagi Jordan. “Arimbi, aku takut keluarga Zimena akan melaporkan ini kepada keluarga Lavani. Kalau kamu menceburkan Nona Muda mereka ke sungai, semua akan kacau bagi keluarga Rafaldi jika keluarga Lavani menyerang kalian.”
“Seharusnya kamu harus lebih bisa menjaga emosimu tadi. Tapi caramu menyelesaikan masalah membuatku takjub. Aku suka gayamu.” ujar Jordan.
“Keluarga Lavani akan tetap berlaku kejam padaku meskipun aku tidak memukul Ruby dan membiarkan dia bilang ke semua orang kalau semua pria bisa menaiki aku,Tuan Jordan.”
Lagipula Zivanna sudah menyiapkan berbagai bahan untuk menyerang Arimbi. Bukan salahku jika Tuan Emir jadi suamiku kan? Kenapa aku harus memaafkan semua ini? Pikir Arimbi.
“Aku sangat menghargai hubunganku. Aku tidak terima dia bicara seperti itu.” balas Arimbi lagi. Dia tida menyesali apa yang sudah dilakukannya pada Ruby.
Lagipula, tidak ada gunanya untuk menyesal. Apa yang terjadi, terjadilah pikir Arimbi. Toh dia juga sudah mempersiapkan dirinya untuk peperangan yang akan terjadi tidak lama lagi. Arimbi hanya menunggu sampai musuh-musuhnya datang menyerang baru dia melakukan pembalasan. Dia tidak akan pernah melangkah duluan.
“Bagaimana kamu dan Tuan Kanchana bisa putus? Aku telah mendengar hubunganmu denngannya semenjak aku di PT. Libra Elektroindo.”
“Ya putus saja. Aku hanya menyadari kalau dia bukan pria baik-baik. Selain itu, dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Jadi apa gunanya terus mencintai dia yang tidak mencintaiku?” ujar Arimbi dengan kesal.
Sebuah pasanngan suami istri harus saling mencintai satu sama lain. Namun, jika itu tidak mungkin Arimbi percaya kalau seorang wanita harus mencari pria yang perasaannya lebih besar kepada wanita ketimbang sang wanita kepada si pria. Karena wanita yang lebih mencintai pria itu sangat melelahkan karena dia harus berkorban untuk si pria.
“Lalu bagaimana dengan Tuan Emir dan Tuan Harimurti? Kamu suka pada mereka?” tanya Jordan.
Arimbi hanya bisa tertawa saat mendengar pertanyaan itu.”Ruby itu hanya mengada-ada saja Tuan Jordan. Kamu kira aku akan berani menggoda mereka? Aku hanya gadis muda, memangnya aku bisa? Aku masih mau menikmati hidupku.”
Sementara di tempat lain. Saat itu Dion Harimurti memandangi ibu dari anaknya dengan muram. “Aku mau kamu menggodaku Arimbi. Kapan kamu mampir? Aku bisa kapan saja.” ucap pria itu lirih.
Karena Arimbi tidak mau menikahi Emir, Emir mungkin sakit hati dan mau membalas dendam. Saat aku merepotkan Arimbi untuk membela Emir, dia tidak banya bicara soal itu.
Jadi sepertinya mereka tidak mungkin memiliki hubungan seperti yang dikatakan Ruby. Itu artinya, seseorang benar-benar membenci Arimbi dan mencoba untuk merusak reputasinya, pikir Jordan.
Lalu Jordan menatap Arimbi lalu bicara dengan terus terang, “Tuan Emir dan Tuan Harimurti tidak pantas buatmu. Kamu adalah wanita cerdas, jadi kamu jangan memikirkan hal-hal seperti itu.”
Arimbi tersenyum, “Terima kasih Tuan Jordan. Aku mengerti. Maaf soal hari ini.”
“Jangan khawatir. Itu bukan salahmu. Bukan kamu yang mencari masalah. Memang kita sedang sial saja bertemu mereka.”
“Kita harus memancing lagi kapan-kapan.” ujar Arimbi.
“Siap.” balas Jordan dengan tersenyum. “Kita selalu bisa keluar kapan saja Nona Arimbi. Bagaimana kalau kita kembali untuk makan siang? Masih ada waktu untuk makan sebelum kamu pergi untuk janjimu.” Jordan juga mendapati sifat baik Arimbi, dia selalu menepati janjinya.
Sudah jelas kalau dia pasti akan mau pergi memancing lagi untuk menyenangkan Jordan supaya dia menandatangani kontraknya. Tapi Arimbi berkata cukup jujur mengatakan padanya kalau dia mau pergi siang ini untuk bertemu seseorang.
Walaupun Jordan awalnya merasa tidak puas ketika mendengar Arimbi harus pergi dan dia juga merasa kalau dia juga pergi terlalu cepat, Jordan harus mengakui kalau dia lebih memilih berbisnis dengan orang yang menepati janjinya.
Arimbi melihat jam tangannya lalu berkata dengan nada menyesal, ”Perjalanannya jauh Tuan. Sepertinya kita tidak akan sempat makan siang. Kita bisa makan kapan-kapan saja. Aku yang traktir.”
Emir sudah selesai kerja ketika Arimbi kembali ke kota. Jadi waktunya cukup pas. “Tidak apa-apa. Kita bisa berpisah disini, hati-hati dijalan Nona Arimi. Kabari bila sudah sampai dirumah.” ucap Jordan.
“Maafkan soal hari ini Tuan Jordan. Arimbi tahu kalau tindakannya hari ini akan mempengaruhi pandangan Jordan terhadapnya.
Tapi dia sudah berjanji pada Emir, dan dia tidak bisa kehilangan kepercayaannya.
“Sudahlah Nona Arimbi. Tenang saja. Aku tidak akan menolak untuk bekerjasama dengan Rafaldi Group hanya karena apa yang terjadi hari ini.” Jordan mulai menyukai Arimbi. Jadi dia tidak akan mempermasalahkan hal-hal kecil seperti tadi.
Acara memancing mereka adalah permulaan. Jadi Jordan lebih tidak berharap apapun, aku mungkin tidak terlalu tertarik pada Arimbi jika dia menuruti kemauanku setelah acara memancing hari ini. Kita manusia memang suka tantangan. Kita lebih menghargai hal-hal yang sulit dicari dan sulit untuk didapatkan, pikir Jordan.
“Terima kasih Tuan Jordan.” ucap Arimbi dengan rasa syukur karena kesempatannya untuk mendapatkan kontrak kerjasama ini lebih besar. Ini akan jadi prestasi pertamanya di perusahaan.
“Tenang saja. Aku yakin Rafaldi Group bukanlah perusahaan kaleng-kaleng dan aku percaya pada kalian semua.”