
“Bu, dia bukan adikku! Kami tidak punya hubungan darah atau apapun!” jawab Adrian.
Pratiwi langsung memukul bahunya dengan kuat dan memarahinya, “Meskipun dia bukan adik kandungmu tapi kalian sudah bersaudara selama lebih dari dua puluh tahun. Jernihkan kepalamu itu! Jangan ganggu hubunganmu dengannya.”
“Ingat Adrian! Dia sudah menikah dan orang yang menjadi suaminya itu bukan orang sembarangan! Posisikan dirimu sebagai kakaknya! Tidak ada yang berubah. Ingat itu!”
Adrian menelan makanannya, rasanya menjadi getir dimulutnya. Dia berkata dengan murung.
“Bu, aku tidak melakukan apa-apa. Arimbi bilang kalau aku akan selalu menjadi kakaknya. Aku akan tetap menjadi kakaknya selama-lamanya.”
Sebelum Arimbi berusia dua puluh dua tahun, mereka berdua mengira kalau mereka adalah saudara kandung. Jadi Adrian tidak punya perasaan apapun kepadanya.
Itu terjadi setelah Arimbi kembali ke keluarga kandungnya. Sejak saat itu Adrian mulai mencintainya. Tapi sayangnya perasaan itu hanya sekejap mata saja. Dan dia segera menguburnya dalam-dalam. Mau bagaimanapun juga dia tidak mencintainya sejak lama.
“Apa kamu mengatakannya pada Arimbi?” tanya Pratiwi yang jadi merasa cemas.
“Bu, apa menurut ibu aku ini bodoh ya? Bagaimana mungkin aku mengatakan hal semacam itu kepadanya? Itu sama saja aku membuatnya akan menjauh dan menghindari aku.”
Jika dia melakukannya, hal itu akan mengacaukan hubungan mereka. Itu akan membuat Arimbi menjaga jarak darinya atau bahkan yang lebih buruk langsung memutuskan hubungan dengannya dan keluarganya. Jelas sekali Adrian tidak ingin itu sampai terjadi kelak.
Pratiwi pun menarik napas lega mendengar jawaban anaknya itu. “Cukup kita saja yang tahu tentang ini. Jangan biarkan siapapun tahu tentang ini. Setelah kau pulang, segeralah mencari wanita dan menikahlah secepatnya!”
“Bu, pernikahan itu termasuk peristiwa besar dalam hidup. Tidak mungkin melakukannya secara sembarangan dan aku harus menemukan orang yang aku cintai.” ucap Adrian dengan serius.
“Setidaknya kamu melakukan kencan buta. Sederhananya, sebelum kamu menikah agar menjaga jarak dari Arimbi. Jangan membuat masalah untukmu dan keluarga kita.”
Adrian memutar bole matanya, “Bu, aku kan tadi sudah bilang kalau aku sudah melupakan perasaanku kepada Arimbi dan tidak akan melakukan apapun kepadanya.”
“Kamu menarik Arimbi keluar tadi. Saat kamu membawanya keluar kamu tidak menyadari kalau Emir memelototi tanganmu dengan tajam?”
“Tatapannya sangatlah mengerikan. Jika orang bisa membunuh dengan tatapannya, maka aku tidak tahu sudah berapa kali dia akan membunuhmu dengan tatapannya.” ujar Pratiwi lagi.
“Aku hanya memegang tangan adikku saja!” balas Adrian dengan nada tak senang.
“Saat aku masih kecil, aku membantu mengganti popok Arimbi, memandikannya dan menidurkannya.”
“Arimbi itu gadis yang jujur dan dia tidak akan memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Tapi, Emir itu berbeda. Walaupun aku sudah lama hidup tapi aku merasa takut kepada pria itu. Dia adalah pria yang sangat posesif. Apa kamu mendengarkanku? Kita adalah keluarga angkat arimbi, dan kita ini hanya bisa menjadi itu selamanya, tidak lebih! Jangan merusak hubungan yang sudah ada.”
Adrian membalas, “Iya, Bu. Aku bukan anak berumur tiga tahun lagi yang tidak bisa membaca situasi. Jangan khawatir, selama Arimbi bahagia aku akan melakukan tugasku sendiri.” akhirnya dia menyerah, tidak hanya karena Arimbi selalu hanya menganggapnya sebagai kakak. Tepai karena dia menunjukkan kecintaannya kepada Emir dihadapannya.
Pratiwi pun menghela napas lega. “Di masa mendatang kita tidak akan datang ke kota lagi. Amanda tidak ingin kita mengganggu kehidupannya yang sempurna. Dia terang-terangan menolak kita karena kita ini miskin.” ada kepedihan yang dirasakan oleh Pratiwi saat mengatakan itu.
“Dia dibesarkan dengan baik oleh keluarga Rafaldi dan dia sudah terbang tinggi di kota. Sedangkan Arimbi, kita tidak bisa menganggu hidupnya juga. Pada akhirnya dia dan Amanda akan bertarung.” Pratiwi bisa melihat jauh kedepan dan dia menolak untuk memihak salah satu dari mereka.
Bagaimanapun juga mereka berdua adalah anak-anaknya. Jika dia membantu anak kandungnya maka dia akan menyakiti hati anak angkat yang telah dibesarkannya dengan kedua tangannya. Satu-satunya hal yang dia bisa lakukan adalah dia selalu menyambut kedua anaknya saat mereka kembali.
Tidak peduli anak mana yang akan kalah pada akhirnya, salah satu dari mereka akan kembali kepadanya. Dia adalah tempat berlindung terakhir bagi mereka berdua. Tentu saja, sebagai seorang ibu, Pratiwi berharap keduanya akan hidup damai dan akur berdampingan.
Saat dia memikirkan temperamen anak kandungnya itu, Pratiwi bergumam didalam hatinya. Hidup damai berdampingan? Itu hanya harapanku saja sebagai seorang ibu. Aku tidak melihat Amanda akan memperlakukan Arimbi dengan baik.
“Bu, aku masih ingin datang ke kota untuk membangun hidupku sendiri.” ucap Adrian. Dia sudah memiliki pemikirannya sendiri. “Ibunya Arimbi hanya memiliki satu anak di keluarganya. Dia tidak punya kakak ataupun adik. Jika dia dirundung dirumah suaminya, tidak akan ada yang berani membelanya. Aku adalah kakaknya, aku bisa hadir untuk menolongnya.”
Pratiwi berkata dengan marah, “Kamu tidak tahu keluarga Serkan itu keluarga seperti apa? Bahkan keluarga Rafaldi tidak bisa menyenangkannya. Sejujurnya jika Arimbi benar-benar dirundung oleh keluarga suaminya yang bisa kita lakukan hanya menunggu mereka menceraikannya dan kita akan datang menjemput Arimbi. Kita tidak bisa melakukan apa-apa.”
Adrian menjawab. “Aku akan bekerja keras.” dia sudah bertekad, dia harus bekerja keras untuk mendukung Arimbi! Kehidupan dilingkungan orang kaya kelas atas itu sangat keras. Dipenuhi dengan jebakan dan konspirasi dari orang-orang yang ingin saling menghancurkan.
Setelah keluar dari rumah sakit, Arimbi merasa kalau suaminya terlihat berbeda. Dia terlihat seperti sedang menyimpan sesuatu dikepalanya karena Emir tidak bicara sepatah katapun. Setelah mereka masuk kedalam mobil,dia duduk dengan ekspresi serius dengan pandangan mata lurus kedepan dengan kaku.
Arimbi menundukkan kepalanya untuk melihatnya. Dia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu. Tapi dia malah jatuh pada pesona wajah tampannya. Emir sangat tampan tidak peduli mau dilihat dari depan, belakang ataupun dari samping.
Saat Arimbi melihatnya dari sisi yang berbeda, dia menemukan penampilannya nampak berbeda. Sebelum dia menyentuhnya dengan tangannya, Emir sudah terlebih dulu memalingkan pandangannya kepadanya dan mata mereka berdua saling bertaut.
Arimbi mengerjapkan matanya dan tersenyum dengan canggung, “Sayang, a---aku tidak mencoba melakukan apa-apa padamu. Aku hanya memandangmu. Kamu tampan sekali.”
Emir melihat Arimbi yang meregangkan tangannya lalu dia meraih tangan itu dan menariknya. Lalu dia menggosok tangan Arimbi itu dengan tangannya sendiri.
Arimbi ternganga. Setelah tangannya menjadi merah karena digosok terus, dia berhenti dan berkata, “Saat kita sudah sampai dirumah nanti, cuci tanganmu sepuluh kali dengan sabun. Pastikan tanganmu bersih dari kuman dan kotoran!”