GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 295. KABAR BURUK


‘Apa lagi yang sedang kamu rencanakan Amanda? Hmm….makan malam ya? Baiknya aku ajak Joana saja. Sudah lama aku tidak mengajaknya makan malam diluar. Aku rasa tidak akan masalah kalau aku mengajaknya. Bukankah akan lebih bagus kalau ramai orang?’ bisiknya didalam hati. Lalu Arimbi mengeluarkan ponselnya bertepatan lift sudah sampai di lantai teratas. Dia memegang ponselnya sambil melangkah keluar lift.


“Halo Joana!” pekik Arimbi yang terkejut saat teleponnya tersambung. Tidak biasanya Joana sudah bangun sepagi ini.


“Selamat pagi Arimbi-ku sayang!”


“Eh...kamu tidak boleh memanggilku seperti itu! Kalau Emir dengar pasti kamu sudah dihajar sama dia.” ujar Arimbi terkekeh. “Tumben kamu sudah bangun jam segini?”


“Ya. Aku kan memanggilmu seperti itu karena aku tahu Tuan Emir tidak ada disebelahmu. Kalau tidak, mana mungkin aku berani. Eh, ada apa kamu meneleponku? Mau mengajakku shopping ke mall milikmu ya.? Hehee…..Arimbi! Kamu hebat sekali sekarang!”


“Aku bertanya tapi kamu malah mengalihkan.”


“Oh...aku bangun pagi ya? Aku mau belajar jadi wanita rajin yang bangun pagi. Sudah cukup jelas jawabanku?” goda Joana terkekeh. “Ada apa kamu menghubungiku pagi-pagi?”


“Apa kamu sibuk hari ini? Aku mau mengajakmu makan malam bersama. Aku dan Amanda akan makan malam bersama klien perusahaan. Jadi kupikir aku mengajakmu saja sekalian.”


“Mau apalagi yang akan Amanda lakukan padamu?” ujar Joana mendengus. “Eh, Arimbi! Aku ada rencana untuk malam ini?” tiba-tiba muncul sebuah ide diotak Joana. Lalu dia pun langsung menceritakan pada Arimbi rencananya itu. Keduanya tertawa terbahak-bahak setelah Joana selesai bicara.


“Joana! Kamu benar-benar gila! Seharusnya kamu itu beralih profesi jadi detektif! Pasti kamu bakal sukses, aku sangat yakin itu! Tidak kusangka kamu benar-benar pintar.” puji Arimbi.


“Tenang saja Arimbi! Yang penting ajak aku shopping dan jalan-jalan lagi ya?”


“Bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami di akhir pekan nanti? Rencananya kami mau jalan-jalan ke istal! Kita bisa naik kuda, teman-teman Emir dan sepupunya juga ikut.”


“Wah...wah….semuanya pasti tampan-tampan ya?”


“Ya begitulah! Terserah kamu. Mau ikut atau tidak.”


“Aku ikut! Kemanapun kamu mengajakku pergi, aku pasti ikut! Aku sudah janji kan akan selalu bersamamu dan menemanimu sahabatku.”


Keduanya pun mengakhiri perbincangan setelah puas dengan rencana-rencana mereka. Lalu Arimbi melangkah mendekati pintu ruang direktur. Tapi----


“Tuan Setiawan. Apakah benar perusahaan anda membatalkan kerjasama dengan perusahaanku?”


“Ya benar Tuan Rafaldi! Saat ini kami terpaksa membatalkan kerjasama karena suatu hal. Maaf saya tidak bisa mengatakan alasannya karena ini adalah privasi perusaan kami.”


Yadid menutup teleponnya. Ini perusahaan ketujuh yang membatalkan secara sepihak kerjasama yang sudah dinanti-nantikannya. Rafaldi Group sudah menerima semua penawaran kerjasama proyek-proyek itu hanya menunggu penandatanganan kontrak saja.


Karena sebelumnya dia begitu yakin akan proyek-proyek itu, Rafaldi Group pun sudah melakukan pembelian bahan-bahan material dalam jumlah besar.


Pembatalan dilakukan dan Rafaldi Group sudah mengeluarkan biaya besar untuk memproduksi papan sirkuit dalam jumlah besar. Tidak masalah dengan bahan material yang sudah sempat dibeli, tapi pabrik juga sudah mulai memproduksi papan-papan sirkuit agar bisa mencapai target yang sudah ditentukan.


Yadid memijit pelipisnya. ‘Apa yang akan dilakukannya dengan papan-papan sirkuit yang sudah sempat di cetak itu? Mau dikemanakan papan sirkuit dalam jumlah sebanyak itu akan dijual?’ Kepalanya pusing memikirkan semuanya, belum lagi biaya besar yang sudah dikeluarkan.


‘Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua perusahaan itu tiba-tiba membatalkan kerjasama secara tiba-tiba? Ini seperti ada sebuah konspirasi! Tidak mungkin sebuah kebetulan saja! Aku harus menyelidikinya.’ Arimbi pun menemui Sartika dan meminta penjelasan tentang yang terjadi di perusahaan saat ini.


Saat Arimbi sedang berbicara dengan Sartika, pintu lift terbuka dan tampak Amanda berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Ruang kerja Sartika yang terbuat dari kaca sehingga bisa melihat kearah luar. Wanita itupun langsung memberi kode pada Arimbi. Wanita itu langsung menoleh ke belakang dan melihat Amanda memasuki ruang direktur dengan wajah cemas.


“Sartika! Kenapa kamu diam saja? Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Heeh….maaf  Nona Arimbi!”


“Aku memanggilmu berulang kali tapi kamu malah diam saja. Ada apa?”


“Ah tidak ada apa-apa. Tadi saya hanya teringat sesuatu yang belum saya laporkan pada Direktur.”


‘Apa aku harus mengatakannya pada Nona Arimbi? Rasanya memang aneh jika semua perusahaan itu tiba-tiba membatalkan kerjasama tanpa alasan yang jelas. Kenapa perasaanku tak nyaman ya saat melihat wakil direktur Rafaldi?’ bisik hati Sartika yang seketika itu pikirannya teralihkan dan tidak fokus lagi pada Arimbi yang duduk didepannya.


“Apa ada yang ingin kamu sampaikan? Wajahmu berubah setelah melihat Amanda. Ada apa?” tanya Arimbi yang sejak tadi memang memperhatikan Sartika yang kehilangan fokusnya setelah melihat Amanda. Tapi dia tidak bisa menebak apapun.


“Hmm…..saya tidak tahu harus mengatakan apa!” ujar Sartika yang masih merasa ragu.


Dia tidak ingin melakukan kesalahan dengan menuduh tanpa bukti. Tapi setelah dia pikir-pikir memang ada yang terasa janggal baginya. Dia sudah lama bekerja sebagai sekretaris Direktur dan ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Reputasi Rafaldi Group sangat bagus karena perusahaan itu memproduksi papan sirkuit berkualitas.


“Nona Arimbi! Sebaiknya anda masuk menemui Direktur Rafaldi sekarang. Sedang banyak masalah yang menimpa Rafaldi Group saat ini, mungkin anda bisa memberikan beberapa saran untuk menangani masalah ini! Nona Arimbi, situasi perusahaan sedang buruk dan saya rasa ini kesempatan anda untuk membuktikan kemampuan anda dalam problem solving.” Sartika pun memberikan saran kepada Arimbi secara tidak langsung dia ingin Arimbi mengambil inisiatif.


“Aku rasa ada benarnya juga ucapanmu! Sebagai asisten Direktur, aku juga bertanggung jawab bukan atas kelangsungan perusahaan. Terima kasih atas saranmu.” ucap Arimbi tersenyum.


Dia pun segera membawa beberapa dokumen yang diberikan Sartika dan melangkah menuju keruang Direktur. Setelah mengetuk pintu, dia segera masuk dan melihat Amanda dan ayahnya sedang terlihat pembicaraan serius. “Arimbi, duduklah.” ucap Yadid.


“Apa ada masalah?” tanya Arimbi pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Arimbi duduk disebelah Amanda yang terlihat mengeratkan kedua tangannya dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Arimbi mengeryitkan dahinya melihat sikap  Amanda tersebut.


“Semua proyek yang sedang dalam proses penandatanganan dibatalkan!” Amanda menjawab.


“Bagaimana bisa?” tanya Arimbi menatap Yadid. “Apakah sudah menghubungi semua perusahaan yang membatalkan kerjasama? Apa alasan mereka melakukan itu?”


“Sudah! Ada beberapa perusahaan yang memberikan alasan, ada juga yang tidak mau bicara. Yang lainnya ada yang tidak memberikan alasan apapun.” ujar Yadid yang terlihat pusing.