GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 370. DIJUAL


“Nomor 34…….nomor 20…….nomor 66…….nomor 38!” terdengar suara pria meneriakkan nomor-nomor urutan dari para budak yang sedang dilelang di pasar gelap perdagangan manusia di sebuah pulau bernama Pulau Gal. Ada banyak gadis-gadis berwajah cantik yang berdiri diatas panggung dengan pakaian seksi berdiri dan didada mereka ada nomor.


 


“50 juta untuk nomor 34!” teriak seorang pria bertubuh gemuk dengan wajah berminyak yang terlihat sangat menjijikkan. Para pembeli di pasar gelap ini terdiri dari berbagai macam kalangan yang datang untuk membeli budak yang akan mereka pekerjakan ataupun hanya untuk sekedar pelampiasan nafsu.


 


Diantara gadis itu nampak Zivanna yang diberi tanda kertas berwarna merah tanpa nomor. Yang berarti bahwa dia adalah barang unggul malam ini yang pastinya akan ditawarkan dengan harga tinggi.


Melihat penampilan Zivanna yang berwajah cantik dan bertubuh seksi serta berkulit putih mulus membuat semua pria yang berada disana meneteskan air liur dan menatapnya dengan buas.


Zivanna bergidik ngeri saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang dipenuhi oleh banyak orang. Ada yang datang kesana seorang diri, ada yang berkelompok dan bahkan ada yang datang bersama pasangannya. Biasanya yang datang bersama pasangan, mencari budak untuk dijadikan pelayan dirumah mereka atau pun dijual ke kelab malam.


 


Satu persatu gadis diatas panggung itu sudah mendapatkan majikan barunya dan kini tibalah pada giliran Zivanna. Tubuhnya bergetar ketakutan saat tadi dia sempat melihat ada gadis-gadis yang ditarik dengan kasar oleh pembelinya.


Kini hanya ada dia sendirian diatas panggung dan penawaran pun mulai dibuka. Zivanna tidak bisa melakukan apa-apa untuk melepaskan diri karena dia sudah dibius terlebih dahulu sehingga tidak bisa melawan.


 


Satu persatu penawar memberikan harga terbaik untuk membeli Zivanna. Dan persaingan semakin sengit karena saat ini da setidaknya lima pria yang bersaing ketat untuk mendapatkan Zivanna.


Masing-masing seolah tidak ingin kalah dan terus memberikan penawaran terbaik mereka. Hingga akhirnya terdengar suara bariton yang langsung menghentikan aksi semua orang.


 


“Gadis itu milikku! Hanya aku yang boleh membelinya! Siapapun yang berani membelinya, maka akan kuhancurkan jadi abu!” teriak pria bertubuh kekar dengan wajah rusak. Dia terlihat sangat sangar dan menakutkan dengan bekas luka diwajahnya. Melihat itu membuat Zivanna semakin ketakutan.


‘Oh tidak….tidak…...pria itu menakutkan sekali? Bagaimana caranya aku bisa melarikan diri dari sini?’ gumam Zivanna didalam hatinya.


 


Beberapa pria berpakaian hitam langsung naik keatas panggung dan menarik Zivanna. Tak ada seorang pun yang berani mendongak menatap pria itu.


“Lepaskan aku! Siapa kalian?” teriak Zivanna meronta-ronta. Dia bisa melihat bahaya yang akan dihadapinya, menatap wajah rusak pria bertubuh kekar itu saja sudah membuatnya mau muntah.


 


“Suruh orang-orang itu membersihkan tubuhnya dan memakaikannya pakaian yang pantas. Persiapkan dia untukku!” perintah pria buruk rupa itu lagi lalu melangkah pergi.


Zivanna semakin ketakutan membayangkan kemungkinan apa yang akan menimpanya. Saat dia hendak meronta dan menendang ************ pria yang memegang lengan kirinya. Tapi---


 


“Arrhhhhhhh…..” dia berteriak saat merasakan sesuatu baru saja di tusukkan ke lehernya. Tidak sakit, tapi dia terkejut dan tak lama tubuhnya pun luruh. Kedua pengawal itu mengangkat kedua lengan Zivanna dan membawanya menuju tempat yang sudah dikatakan atasan mereka tadi.


Zivanna jatuh pingsan dan tidak tahu apapun yang terjadi padanya, dua orang perempuan membantu membersihkan tubuhnya dan memakaikan pakaian yang sangat seksi.


 


Setelah itu, kedua pengawal membawa Zivanna ke sebuah kamar luas yang temaram namun di sekelilingnya terbuat dari kaca tembus pandang. Tubuh lemas Zivanna di letakkan diatas ranjang.  Dibalik jendela kaca itu terpampang ratusan manusia yang sedang berdansa diiringi hentakan musik.


 


“Semuanya sudah beres Tuan! Wanita itu sudah kami tempatkan di kamar seperti perintah Tuan.”


“Ehm…..setelah dia sadar kalian mulai buka penawaran atas perempuan itu! Dan aku mau semua aktifitasnya di kamar itu harus kalian rekam. Dan kirimkan videonya kepada keluarga Lavani dengan pesan sesuai yang aku katakan!”


 


“Baik, Tuan! Akan kami lakukan sesuai perintah anda. Sekitar sepuluh menit lagi dia akan tersadar dan obatnya akan mulai bereaksi.” ujar seorang pengawal lagi menjelaskan.


“Pergilah dan tetap awasi dia. Ingat, jangan sampai mereka bisa melacak lokasi ini. Kerjakan seperti biasanya. Keluarga itu harus merasakan sakit yang sama seperti yang pernah mereka lakukan padaku dan keluargaku.” ujar pria itu mencengkeram erat gelas wine ditangannya.


 


Beberapa anak buah pria itu pun mempersiapkan semua yang diperintahkan atasannya. Sementara itu didalam kamar kaca, Zivanna mulai membuka matanya perlahan dan menyesuaikan pandangan.


 


Dia melihat kalau dia ada didalam sebuah kamar yang terlihat luas, dia mengerjapkan matanya lalu berusaha untuk duduk. Zivanna mengedarkan pandangannya dan mendapati kalau kamar itu dikelilingi oleh kaca.


Rasa penasarannya mendorongnya untuk berdiri dan melangkah mendekat, matanya membulat saat melihat pemandangan dibalik kaca itu.


 


“Ah! Tempat apa ini?” Zivanna yang terkejut pun mundur dua langkah. Dia menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Dia melihat kalau diluar sana begitu ramai orang yang membeli gadis-gadis cantik. “Aku harus pergi dari tempat ini! Sebenarnya aku ada dimana sekarang? Aku sepertinya belum pernah melihat tempat seperti ini?” gumamnya.


 


Dia berjalan menuju pintu namun baru melangkah beberapa langkah, dia merasakan tubuhnya bereaksi. Panas! Kenapa dia merasa sekujur tubuhnya terasa panas? Apa lagi ini? Zivanna mulai tidak bisa fokus, reaksi obat dosis tinggi itu sontak membuat Zivanna mengangkat rambutnya lalu menggulungnnya.


 


Dia merasa tubuhnya semakin panas dan dia menurunkan AC kamar namun bukannya merasa dingin tapi reaksi lainnya pun muncul. Dia merasakan bagian sensitif tubuhnya berdenyut, tanpa sadar Zivanna sudah berdiri didepan jendela kaca dan bergerak sambil mengelus tubuhnya dengan gerakan yang sensual.


 


Sementara itu para pria yang berada didalam ruangan itu tiba-tiba berbalik menatap kearah ruangan kaca saat seseorang berteriak. “Lihat itu! Wanita itu cantik dan seksi sekali! Apakah dia dilelang?”


“Wah, benar-benar cantik! Aku mau beli wanita itu!”


“Aku bayar berapapun harganya! Aku akan mendapatkan wanita itu malam ini.” teriak yang lain.


 


Sementara Zivanna yang sudah tidak sadar atas apa yang terjadi semakin meliukkan tubuhnya semakin sensual saat dia melihat mata para pria itu menatapnya penuh nafsu.


Dia seolah merasa bangga begitu banyak pria yang menginginkannya. Di satu sisi, akal sehatnya menyuruhnya untuk berhenti tapi di sisi lain dia semakin liar bergerak.


 


Diluar penawaran pun sudah dimulai dan semuanya direkam. Satu persatu para pria itu memberikan tawaran mereka untuk Zivanna. Kamera diarahkan kewajah Zivanna yang tersenyum puas sambil melepaskan satu persatu pakaiannya menampilkan tubuh mulus dan seksinya. Penawaran semakin sengit karena para pria dari dunia gelap itu bersaing untuk bisa menikmati malam bersama Zivanna.


 


Suara pintu dibuka membuat Zivanna menoleh, entah obat apa yang disuntikkan padanya sehingga membuatnya berubah menjadi wanita ******. Dia sudah kehilangan akal sehatnya dan perlahan berjalan menuju pintu dan membukanya. Dia terus melangkah hingga ke bagian depan kamar yang berbatasan dengan arena dansa dimana semua orang berdiri menatapnya.


 


Merasa kalau dirinya adalah seorang bintang, Zivanna malah meliukkan tubuhnya dengan lugas dan sensual seolah sengaja memancing setiap orang. Lalu dia meraih mikropon yang terletak tak jauh darinya.


Dengan senyum diwajahnya Zivanna berkata, “Apa ada yang ingin menemaniku malam ini?”


“Aku!


“Aku akan menemanimu nona!”


“Katakan berapa harga yang kamu minta nona?”


 


Teriakan-teriakan dari para pria itu membuat Zivanna semakin menjadi-jadi. Seiiring dengan mengalunnya musik, dia juga ikut meliukkan tubuhnya mengikuti alunan musik membuat situasi semakin panas. Sementara itu didalam sebuah ruangan, tampak pria berwajah cacat itu tersenyum puas.


“Hahaha…...akhirnya putri kesayangan keluarga Lavani merendahkan dirinya bak seorang pelacur!”