GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 237. GERAM


Rino menghela napas panjang setelah dia menyadari itu, Nyonya Muda Arimbi bukan sembarang orang! Setelah menghentikan mobilnya, Rino keluar dari mobil.


“Rino!” Zivanna memanggilnya. Sebelum pria itu bisa menjawab, lalu Zivanna memerintahkan, “Rino, pergilah sekarang, bantu aku menarik lidah gadis kampung itu. Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab dan kamu tidak akan kena masalah.”


Rino melihat kakinya sambil mengeryitkan dahi dan bertanya, “Nona Lavani, apakah aku harus membelikan sepatu baru untukmu dulu?”


“Tidak apa-apa. Aku punya beberapa pasang sepatu didalam mobil. Ambilkan!” perintahnya lagi. Sambil memberikan kunci mobilnya pada Rino dengan wajah memerah.


Dalam sekejap mata dia sadar kalau dia benar-benar bodoh! Kenapa dia tidak mengambil sepatu dulu sebelum menghampiri Rino? Cara dia melompat-lompat pasti terlihat sangat bodoh ketika dilihat orang luar. “Rino! Jangan beritahu Tuan Emir tentang semua ini!”


Sambil membuka pintu mobil milik Zivanna, pria itu berkata, “Mulutku tertutup rapat!”


Emir sama sekali tidak tertarik dengan Zivanna, jadi dia tak mau mendengar apapun tentangnya. Jika Rino menggosip tentangnya, Emir pasti akan menghukumnya untuk mengulangi gosip itu semalaman tanpa henti!


Dengan kunci mobil ditangannya, dia menyadari jika wanita itu tidak bisa parkir dengan benar. Jadi dia membenarkan mobilnya, memarkirnya di sebelah mobil milik perusahaan Rafaldi Group. Kedua wanita itu tercengang, mereka berpikir bahwa bantuan Rino datang terlambat.


Walaupun Arimbi mau masuk sekarang, dia tidak berani menyentuh setir mobil didepan Rino karena dia adalah orang nomor satu Emir.


Bisa-bisa suaminya itu akan menghukumnya sepanjang malam jika ketahuan. Lalu Rino memberikan sepasang sepatu kepada Zivanna dan kunci mobilnya.


Setelah Zivanna mengganti sepatunya, dia langsung menghampiri Arimbi dengan emosi meluap-luap. Rino terkejut tidak bisa menghentikan mereka meskipun dia mau.


Namun, Arimbi hanya mengambil sepatu ditangannya.melihat Zivanna mendatanginya dengan marah, Arimbi melempar sepatu itu dan ingat bahwa sepatu itu dihiasi berlian.


Dia malah menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu gegabah tidak mengambil berlian di sepatu itu dulu baru melemparnya. Namun jurus Zivanna mudah ditebak- jika tidak menampar ya menendang. Dengan kemampuan Arimbi, Zivanna tidak akan bisa menyentuhnya sama sekali dan dia sangat marah hingga memanggil Rino.


“Rino! Kemarilah! Hajar dia dan aku akan membayarmu!” perintah Zivanna.


Rino yang ketakutan tidak akan berani melakukannya walaupun dia sangat pemberani. Arimbi adalah Nyonya Muda-nya dan Tuan Emir akan mengulitinya hidup-hidup jika dia menyentuh wanitu itu!


Nyonya Muda Arimbi adalah kesayangan Tuan Emir! Dan Tuan Emir bahkan tidak akan tega melukai kelingkingnya!


Jadi, dia tidak ikut campur karena dia tidak berhak untuk melerai mereka. Sealin itu, Rino juga tahu kemampuan Arimbi, dia tidak memerlukan bantuan sama sekali. Zivanna benar-benar geram dibuatnya. Akhirnya, Amanda dan Yadid yang berada didalam gedung diberitahu oleh orang luar dan mereka segera bergegas keluar.


Jika Amanda tidak menahan Zivanna, dia pasti pingsan karena marah besar pada Arimbi. Sementara itu Yadid takut anaknya kan dipukuli oleh Zivanna karena dia melihat anaknya bersembunyi, jadi dia berpikir kalau Arimbi terpojok. Setelah Zivanna dilerai oleh Amanda, dia segera menghampiri Arimbi sambil mengamatinya dari atas sampai ke bawah.


Melihat kalau putrinya itu tenang dan tidak ada yang salah denagnnya, Yadid pun menghela napas lega.  Disisi lain,  wajah Zivanna amburadul. Jelasnya dia benar-benar marah besar dan rambutnya berantakan.


“Apa yang terjadi?” bisik Yadid pada Arimbi.


“Direktur Rafaldi! Putrimu itu hebat sekali. Aku tidak akan membiarkan semua ini. Tunggu saja Rafaldi!” teriak Zivanna mengancam dengan penuh kemarahan. Merasa benar-benar dipermalukan, Zivanna membenci Arimbi hingga ke tulang sumsumnya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya.


Setelah melepaskan diri dari cengkeraman Amanda, dia mengancam mereka lalu masuk ke mobilnya dan pergi. “Zivanna! Zivanna!” teriak Amanda berusaha memanggil dan menghentikan Zivanna yang sudah melajukan mobilnya kencang meninggalkan tempat itu.


Mendengar ancaman Zivanna, Yadid cemberut. Jika ini terjadi dulu, dia pasti akan marah dan menyalahkan putrinya itu karena membuat masalah, tapi sekarang dia benar-benar penasaran tentang apa yang baru saja terjadi. Arimbi itu putri kandungnya dan dia mengenalnya dengan baik--- dia tidak akan menyerang duluan.


Dia adalah tipikal orang yang tidak suka mencari masalah, namun jika orang lain mencari masalah dengannya, dia akan membalasnya dua kali lipat bahkan lebih sampai orang itu akan berpikir ribuan kali untuk melakukan hal yang sama padanya.


“Amanda, tolong pergilah temui Nona Lavani. Kamu teman baiknya jadi tolong minta maaf padanya.” ujar Yadid. Walaupun keluarga Serkan mendukung mereka dan Yadid tidak takut dengan keluarga Lavani, dia tidak mau menambah musuh lagi dan menyuruh Amanda untuk mengejar Zivanna.


Amanda menatap Arimbi dengan garang dan berkata, “Sudah berapa kali aku bilang padamu Arimbi? Tolong pikirkan keluarga dan perusahaan ketika melakukan apapun dan berhentilah mencari musuh.” selain itu dia menyinggung orang berpengaruh di kota ini. Ornag lain akan menjadi penjilat dihadapan orang-orang itu, tetapi dia malah bertindak sebaliknya sehingga Amanda naik pitam.


“Amanda! Bagaimana bisa Nona Lavani mengetahui dimana aku berada? Apakah kamu yang memberitahunya? Hanya kita berdua saja yang tahu kalau aku menemui Tuan Jordan! Anehnya Zivanna bisa mendatangiku kesana! Bagaimana dia bisa tahu aku sedang berada disana bertepatan saat aku hendak pulang?”


Mendengar itu Amanda menjadi gugup dan marah, dia tidak menyangka Arimbi akan mengatakan itu didepan ayah mereka. Dia menatap tajam pada Arimbi, “Mungkin dia tahu dari orang lain! Aku tidak memberitahunya!” jawabnya.


“Oh iya? Baiklah kalau kamu tidak mau jujur! Aku akan segera mengetahui jika kamu atau orang lain yang memberitahunya! Satu lagi, Amanda...aku tidak bisa diam saja saat orang lain menyerangku secara fisik dan verbal dihadapanku. Aku tidak cari musuh, tetapi musuh itu sendiri yang datang kesini dan cari masalah denganku.”


Setelah melemparkan tatapan dendam, Amanda pun pergi mengejar Zivanna. Setelah itu Yadid berkata kepada Arimbi, “Ceritakan apa yang terjadi, Airmbi. Kenapa kamu berkelahi dengan Nona Lavani higga menyebabkan keributan besar? Apa benar apa yang tadi kamu katakan tentang Amanda?”


“Ya, ayah. Siapa lagi yang memberitahu Zivanna dimana aku berada kalau bukan Amanda? Hanya dia saja yang tahu dimana aku. Dan mereka berdua juga adalah teman dekat.”