GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 304. AMANDA TERJEBAK


“Semuanya berjalan sesuai rencana! Kamu tunggu saja Amanda, malam ini Arimbi akan terekspos dan besok kamu akan melihat bagaimana dia ditendang keluar dari keluarga Serkan!”  ujar orang itu lagi. “Setelah berita tentang Arimbi beredar, kamu akan menikmati hidup lamamu! Tunggu saja.”


 


“Aku sudah tidak sabar menunggu itu terjadi! Hanya itu cara satu-satunya agar dia tidak ada yang melindungi lagi. Aku yakin Tuan Emir pasti langsung menceraikannya jika berita tentang istrinya sedang berduaan dengan pria lain di kelab terbongkar ke publik.” ucap Amanda dengan percaya diri.


 


“Sudah dulu. Aku tutup teleponnya. Ingat! Kamu boleh muncul setelah kehebohan terjadi! Paham?”


“Baiklah.”


Amanda berjalan menuju ke toilet setelah sambungan telepon terputus. Dia masuk kedalam salah satu bilik di toilet itu dan duduk disana menunggu selama lima belas menit. Dengan jantung berdegup kencang dia menatap layar ponselnya menunggu waktu yang dikatakan oleh si penelepon.


 


...*******...


Diruang sebelah nampak Arimbi bersama dua pengawal wanita tengah mengamati layar laptop. Terlihat jelas hanya ada Joana dan Jordan diruangan itu. Lalu Shinta mengalihkan kearah CCTV diluar tepatnya di area bar dan mengamati satu persatu memastikan tidak ada yang mencurigakan.


 


“Nyonya, coba perhatikan pria yang duduk di meja sudut itu.” ujar Shinta menunjuk ke layar laptop.


“Ada apa? Siapa pria itu? Apa dia pengawal suruhan Emir juga?” tanya Arimbi.


“Bukan Nyonya. Sepertinya kedatangan Nyonya kesini sudah diamati sejak tadi, dan coba lihat beberapa pria yang berdiri disana dekat tangga. Mereka itu orang-orang suruhan Tuan Dion.”


 


“Hah? Dion Harimurti? Kenapa orang-orangnya ada disini?” tanya Arimbi mengeryitkan keningnya.


“Kita akan segera tahu. Dua orang yang duduk di sudut itu sepertinya suruhan Keluarga Lavani. Jadi ada dua keluarga yang mengamati Nyonya malam ini.” ucap Shinta lagi.


 


“Mau apa mereka? Aku bisa mengatasi mereka, tidak masalah buatku tapi aku tidak yakin denga Joana. Apakah dia bisa menjaga dirinya seandainya terjadi sesuatu.” ujar Arimbi. Dia tahu Joana bisa ilmu bela diri tetapi kemampuannya tidak sebaik Arimbi.


“Rino duduk disudut gelap di meja bar itu! Nyonya lihat beberapa pria yang sedang berdansa dengan gadis-gadis itu? Itu anak buah Tuan Emir. Dua pria yang ada dilantai atas itu juga.”


 


“Ada berapa orang yang dikirimkan suamiku kesini untuk melindungiku malam ini?” tanya Arimbi.


“Sekitar dua puluh orang Nyonya. Tapi hanya kami berdua yang wanita. Sebenarnya kami sengaja dipanggil kesini untuk menemani Nyonya. Biasanya kami bekerja untuk pekerjaan khusus.”


“Oh begitu. Baiklah. Lalu apa rencananya?”


 


Lalu Shinta dan Qiana menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Arimbi. Sementara mereka sedang mengatur strategi berikutnya, dikamar VIP Jordan pamit sebentar keluar. Kini tinggallah Joana sendirian disana. Dia merasa bingung kenapa Amanda masih belum kembali. Sedangkan Jordan pergi menuju ke toilet.


 


Sebelum memasuki toilet Jordan mengedarkan pandangannya lalu masuk dan mengunci pintu toilet. Dia memperhatikan setiap bilik hingga dia melihat bilik paling ujung, disana Amanda sedang duduk menunggu. Jordan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya lalu menunduk dan menyemprotkan sesuatu melalui celah dibawah pintu bilik.


Kemudian Jordan berdiri diam didepan pintu itu, saat dia mendengar suara terbatuk dari dalam toilet. Setelah memastikan tidak ada pergerakan lagi, dia berusaha membuka pintu toilet dan melihat Amanda yang seperti orang linglung menatapnya.


 


“Nona Amanda…..Nona Amanda…..Oh untunglah aku menemukanmu. Apa yang terjadi?” tanya Jordan dengan kepanikan. Dia menepuk-nepuk pipi Amanda yang terasa agak panas dan dia merasakan Amanda berkeringat. “Jangan khawatir, aku akan membawamu keluar dari sini.”


 


Tanpa menunggu lama lagi, Jordan menggendong Amanda yang setengah sadar. Tangannya melingkar dileher Jordan tanpa sadar. Dia sudah terbius dan tak sadar apa yang terjadi lalu Jordan membawanya menuju ke lift.


Kelab itu terhubung ke hotel disebelahnya, Jordan membawa Amanda kesana. Setelah mengunci pintu kamar itu, Jordan bergegas kembali ke kelab malam.


 


“Bagaimana jika kita sudahi saja pertemuan malam ini.”


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih untuk malam ini Tuan Jordan.” ucap Joana.


 


Joana keluar dari ruang VIP itu lalu menutup pintu, dengan cepat dia berjalan menuju keruang sebelahnya. “Ah! Misi selesai! Amanda sepertinya akan bersenang-senang dikamar hotel itu bersama Tuan Jordan” Joana berseru dengan gembira.


“Lalu apa selanjutnya?” tanya Arimbi pada Qiana yang duduk didepannya.


 


“Saya akan mengantarkan Nyonya pulang! Cukup sampai malam ini.” ucap Qiana.


“Hah? Hanya sampai disini keseruan malam ini? Lalu, bagaimana dengan Amanda?” tanya Joana.


“Biarkan saja. Coba lihat siapa yang akan menemaninya malam ini.” Shinta menunjuk kearah layar laptop. Disana terlihat CCTV di lorong hotel, tampak seorang lelaki berjalan cepat menuju kamar dimana Amanda berada.


 


Joana dan Arimbi menatap layar laptop dengan serius, ingin melihat dengan jelas wajah pria itu. Tiba-tiba keduanya berteriak serentak, “Aahhhhh!”


“Arimbi! i—itu…...”


“Mungkin Amanda masih sadar dan menghubunginya. Hehe….ini sangat menarik!” ujar Arimbi.


“Apakah kamu mau menghubungi orang itu sekarang?” tanya Shinta menatap Qiana yang langsung mengangguk. Sedangkan Arimbi dan Joana saling pandang karena tak paham.


“Siapa? Ehm….siapa yang mau kalian hubungi?” tanya Arimbi.


 


“Keluarga Lavani merencanakan penggerebekan malam ini tapi Rino sudah mengatasi masalah itu. Tadinya mereka ingin mengekspos Nyonya Arimbi berduaan dengan seorang pria di kelab malam.” ujar Shinta menjelaskan.


 


“Brengsek! Ini pasti ulah si ular betina Zivanna! Dia tidak terima karena Arimbi menikahi Tuan Emir, iyakan?” kata Joana marah. “Aku akan memberinya pelajaran! Perempuan sialan itu tidak bosan-bosannya mencari masalah denganmu! Arimbi, kamu sekarang sudah memiliki Tuan Emir! Akan mudah memberi pelajaran pada Zivanna.”


 


“Joana…..tenang saja! Kita tunggu sebentar lagi pertunjukan baru akan dimulai.” ucap Arimbi tersenyum. “Sebaiknya kita tunggu disini. Di luar ada anak buah Dion Harimurti dan anak  buah Keluarga Lavani. Saat mereka pergi barulah kita keluar dari sini.”


 


“Benar Nona Joana. Untuk mengalahkan keluarga Lavani, kita harus memiliki banyak bukti keterlibatan mereka dalam tindakan kriminal! Jangan gegabah dalam bertindak.” ujar Shinta lagi.


“Apa rencananya?” tanya Joana menatap pengawal wanita itu.


 


Lalu Qiana dan Shinta bergantian menjelaskan pada Arimbi dan Joana langkah berikutnya. Sangat mudah untuk menyingkirkan Amanda. Jadi mereka harus menyingkirkan wanita itu terlebih dahulu.


“Anak buah Tuan Harimurti ada disini dan Rino mengatakan ada sekitar sepuluh orang tapi yang baru dia lihat berada didalam kelab ada sekitar tiga orang. Itu berarti ada tujuh orang lagi yang mungkin menunggu diluar.”


 


“Apa yang diinginkannya? Apa dia memerintahkan anak buahnya datang kesini? Kebetulan sekali?” tanya Joana mengeryitkan keningnya. “Apa dia ingin menangkapku lagi seperti waktu itu?”


“Bukan! Mereka ada disini untukku.” jawab Arimbi.


“Apa hubungannya denganmu? Apa kamu ada masalah dengannya, Arimbi? Apa itu gara-gara aku?”


 


“Tidak ada hubungannya denganmu! Jika tebakanku tidak salah, dia mengincarku.”


“Arimbi! Aku akan menghadapinya! Kamu jangan khawatir. Sekarang aku memakai topeng wajahmu dan tidak ada yang tahu! Lihatlah, aku bahkan bisa mengelabui Amanda.” Joana tertawa terbahak-bahak. Dia merasa malam ini sangat menyenangkan, berpura-pura sebagai Arimbi untuk menjebak Amanda.