
Arimbi tidak menelepon suaminya. Setelah menangis sejenak, dia berdiri dan mengusap airmatanya lalu mulai berjalan pulang sambil menelepon Joana. Meskipun tasnya tertinggal didalam mobil Emir, untungnya dia membawa ponselnya karena dia baru saja melakukan panggilan dengan sahabatnya itu. Kalau tidak, dia pasti harus jalan kaki untuk pulang kerumah.
Semenyedihkan itulah dia, memiliki mobil yang tak bisa dia kendarai. Mulai saat itu Arimbi memutuskan untuk menyetir sendiri dan tak akan mengindahkan kalimat suaminya lagi. Kalau pria itu bisa dipercaya, besok pasti sudah kiamat. Tak lama Joana menjawab panggilannya.
“Hei Joana. Tolong jemput aku ya sekarang sedang berada di jalan ZZ. Jemput sekarang!”
“Apa? Kamu menangis Arimbi? Oke aku akan kesana sekarang. Tunggu aku ya? Jangan kemana-mana.” ujar Joana merasa cemas.
“Baiklah aku tidak akan kemana-mana.” Arimbi memutuskan panggilan menunggu Joana menjemputnya dipinggir jalan.
Tak lama kemudian Joana datang. “Arimbi!” teriaknya memanggil sahabatnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Joana cepat keluar dan mendekati arimbi sambil bertanya, “Ada apa Arimbi?”
Berusaha menenangkan diri Arimbi menjawab, “Baiknya kita bicara setelah masuk kedalam mobil.”
Baru setelah keduanya masuk kedalam mobil, Arimbi pun menceritakan segala hal yang telah terjadi kepadanya. Ketika mendengar kalau Emir dan Arimbi sudah menikah, Joana hampir saja menabrak mobil didepannya. Lalu dengan cepat dia menginjak rem dan menurunkan kecepatan mobilnya.
“Maaf aku tidak memberitahumu tentang hal ini Joana. Dia tak mengumumkannya pada siapapun. Jadi kupikir dia ingin hubungan kami dirahasiakan. Karena itu aku menyembunyikannya darimu juga.”
“Maafkan aku Arimbi.” Joana merasa bersalah sekali pada sahabatnya itu. “Semua ini terjadi karena aku memberithaumu soal rumor itu. Sehingga membuatmu dan Emir bertengkar.”
Kalau dia tahu temannya menikah dengan Emir dan berpihak padanya, dia tidak akan pernah bergosip soal hal itu. Bahkan jika dia diancam sekalipun.
Arimbi menjawab setelah menghela napas, “Tidak semua kesalahanmu. Semua ini terjadi karena sikapku yang tiba-tiba berubah, selain mereka kurasa tak ada satupun dari kalian yang akan percaya padaku.”
Bagaimanapun dulu dia sangat mencintai Reza. Dalam diam Joana setuju dengan perkataan Arimbi itu.
“Kami kekurangan pondasi yang kuat dalam hubungan ini. Karena itulah kamu mudah sekali dipisahkan. Tapi dia merawatku dengan sangat baik sampai rasanya aku telah terlena dan tak bisa melepaskan diri lagi.”
Ketika Emir merawat Arimbi begitu baiknya, wanita itu merasa seolah dia adalah segalanya bagi pria itu. Dan dia benar-benar menikmati semua perlakuan yang diberikan Emir padanya selama ini, pria itu selalu memanjakannya dan membiarkannya melakukan apapun yang dia mau.
“Arimbi, aku tidak akan bertanya kenapa kamu memilih untuk menikahi Tuan Emir, tapi apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Joana dengan serius.
“Melihat hubungan kalian berdua yang begitu rapuh? Maksudku, siapa yang tidak tahu temperamennya di kota ini?” Joana merasa kasihan sekali pada temannya ini. Dari awal, Emir memang sudah memiliki perangai yang buruk dan hal itu semakin memburuk setelah kecelakaannya.
Berdasarkan rumor yang tersebar, bahkan keluarganya tak berani memasuki kediamannya begitu saja karena takut memancing amarahnya.
Semua pelayan di keluarga Serkan sudah pernah merasakan amukannya lebih dari sekali. Jadi dimata Joana, Emir itu tidak ada bedanya dengan iblis. Dia bahkan kagum dengan Arimbi yang berani untuk menikahi pria itu.
“Kita harus menenangkan diri terlebih dulu. Saat ini dia terlalu emosional, jadi dia tidak akan mendengarkan alasan apapun yang kulontarkan. Aku hanya bisa bicara dengannya saat amarahnya mereka. Ayo cari makan, Joana. Aku lapar! Oh iya, setelah makan bisakah kamu mengantarku ke kediaman Kanchana?”
“Kamu ingin pergi kerumah mereka, meskipun kamu dan Tuan Emir saling marah satu sama lain sekarang? Kalau pria itu sampai tahu kamu pergi kerumah Reza, dia pasti akan lebih marah lagi.”
Arimbi mengatupkan bibirnya setelah mendengar ucapan sahabatnya. “Aku telah berjanji padanya untuk mengambil kembali semua hadiah yang kuberikan pada Reza. Tapi aku masih belum melakukannya sampai sekarang karena aku disibukkan dengan pekerjaan baruku.”
“Kalau aku tidak mengambil kembali semua barang-barang itu, kurasa aku tak akan bisa melewati pintu masuk kediaman Serkan nanti. Jadi lebih baik kulakukan hari ini, setidaknya Emir tahu kalau aku memang ada niat untuk melakukannya. Antara aku dan Reza toh tidak ada hubungan apa-apa lagi.”
Joana mengangguk setuju, “Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi kerumah Reza untuk mengambil semua hadiah-hadiahnya setelah makan. Pasti seru sekali…..hahaha…..aku tidak bisa membayangkan wajah mereka saat kita mengambil semuanya kembali. Apa mereka akan mengamuk ya?”
Arimbi menjawab dengan gumaman, mengingat pekerjaannya dia pun menelepon ayahnya untuk pamit pergi lebih awal. Sebagai orang yang pengertian, Yadid tak bertanya kenapa Arimbi tiba-tiba meminta ijin untuk pergi. Setelah percakapan dengan ayahnya selesai, Arimbi menatap ponselnya. Haruskah dia menelepon pria yang mudah cemburu itu?
“Arimbi apakah kamu tak ingin menelepon Tuan Emir?” tanya Joana sambil menyetir.
Arimbi mengantongi ponselnya dan menajwab, “Kurasa tidak. Aku akan membiarkannya tenang terlebih dulu. Lagipula, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku juga perlu menenangkan diriku.”
Mendengar itu, Joana tidak mencoba untuk membujuknya lebih jauh lagi. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju sebuah tempat makan yang dulu sering dia kunjungi.
Setelah memesan banyak makanan, Arimbi berkata. “Aku yang traktir ya.”
“Tidak….tidak perlu. Akulah yang akan mentraktirmu karena akulah yang membuatmu bertengkar dengan Tuan Emir. Biarkan aku yang membayar makanan ini. Anggap saja sebagai permintaa maafku.” jelas Joana merasa bersalah atas apa yang terjadi hari ini.
Tak ingin berdebat soal siapa yang membayar tagihan, Arimbi pun menjawab, “Hal ini tidak ada hubungannya denganmu Joana! Kamu tidak perlu merasa bersalah, ini adalah masalah diantara kami. Kami benar-benar belum saling mengenal satu sama lain. Bagaimanapun, kami menikah terlalu cepat tanpa adanya pemahan antara satu sama lain sebelum pernikahan.”
“Meskipun seandainya kamu tak meneeleponku tadi, kami pasti akan bertengkar juga suatu saat nanti.”
Setiap suami istri memiliki masa dimana mereka bersiteru. Bahkan orang-orang yang telah mengenal lama satu sama lain juga sesekali bisa beradu mulut.
“Bagaimana kalau aku memesan sebotol bir?” tanya Arimbi pada temannya itu. Tapi Joana tidak setuju dengan apa yang dikatakan Arimbi, “Bukan hal yang bagus untuk menggunakan alkohol sebagai penghilang rasa khawatirmu.”
“Jangan khawatir, aku tidak akan mabuk.” Arimbi begitu percaya diri dengan toleransi alkoholnya. “Aku hanya akan memesan dua bool. Dengan levelku, dua botol saja sama seperti minum soda.”
Akhirnya Joana pun menyerah pada keinginan temannya itu. Tapi karena dia harus menyetir, dia tak bisa menemani Arimbi minum bersama.