
Dion yang masih berbalut handuk putih di pinggangnya menghampiri Joana yang perlahan mundur dengan ekspresi ketakutan. “Kemana kamu kemarin?” Dion mengulangi pertanyaannya.
Joana masih memilih diam, dia bingung dengan pria didepannya ini entah apa maksudnya bertanya seperti itu. Terakhir yang Joana ingat, mereka tidak ada hubungan apapun selain malam itu?
Lantas, kenapa tiba-tiba pria ini malah menanyakan dia kemana? Kemanapun dia pergi toh itu bukan urusannya dan dia tidak perlu melaporkan semuanya yang dilakukannya pada Dion bukan? Memangnya dia itu siapa? Apa Dion melakukan ini padaku karena aku sudah mengambil uangnya sebanyak seratus milyar?”
“Kenapa kamu diam saja? Mulutmu sudah tidak bisa bicara? Bisu? Hem?” Dion semakin mendekat dan Joana yang terdesak karena punggungnya terbentur wardrobe.
“Aduh!” erangnya. Kedua tangannya masih bersilang didepan dada memegangi baju kemejanya yang koyak memperlihatkan pundak mulusnya.
“Ehm…..” hanya itu yang keluar dari mulut Joana. Dia ketakutan sehingga tidak mampu berkata-kata.
“Apa begini caramu berpakaian kalau keluar rumah? Semua pekerja disana laki-laki, Cih! Kamu terlalu bangga memamerkan tubuhmu Nona Ganesha!” Dion mencibir dan kini tak ada lagi jarak diantara mereka karena Dion sudah menghimpitnya.
“Ughh…..pergi sana!” Joana mencoba mendorong tubuh pria itu. Matanya membulat saat dia merasakan tangannya menyentuh kulit dada Dion yang tak mengenakan apapun.
“Sudah puas kamu memegang tubuhku? Sepertinya kamu menyukainya hem?” Dion menangkap kedua tangan Joana lalu mencengkeramnya erat diatas kepala Joana.
Dengan cepat dia ******* bibir Joana untuk kesekian kalinya tanpa bisa Joana menghindar. Kakinya berusaha menendang tapi kaki Dion menekannya sehingga tak bisa bergerak lagi.
“Kamu harus menjawabku setiap kali aku bertanya! Paham kamu?”
“Tuan Harimurti! Kamu sudah keterlaluan! Kenapa kamu menciumku tanpa seijinku? Untuk apa aku menjawabmu dan melapor padamu? Memangnya kamu itu siapa? Aku tahu kamu sangat berkuasa dan aku tidak peduli! Kalau kamu mau menghancurkanku! Fine! Kamu sudah berhasil melakukannya! Puas? Atau kamu akan lebih puas kalau melihatku mati? Iyakan? Kalau itu mau mu, baiklah akan kulakukan! Dasar brengsek!” Joana yang emosi pun tak mampu lagi mengendalikan dirinya.
Dia sudah lupa siapa pria yang di caci makinya. Dia terus berteriak mengumpat dan meluapkan semua kemarahannya pada Dion. Sedangkan pria itu hanya diam menatapnya sambil tersenyum tipis.
“Sudah? Lanjutkan kalau masih ada lagi!” ucap Dion dengan santainya.
Joana menghirup napas dalam-dalam, dadanya naik turun saking emosinya. “Minggir sana! Aku mau pulang!” ujar Joana menatap Dion dengan tajam.
“Apa aku sudah memberimu izin untuk pulang? Pergilah kalau kamu berani!”
“Lepaskan! Aku akan mengembalikan uangmu! Aku dan kamu tidak ada urusan apapun lagi!” Joana menghentakkan tangan Dion setelah dia merasakan cengkeram tangan pria itu mulai longgar. Dengan cepat dia berlari kearah pintu sambil memegangi kemejanya.
Saat dia memegang handle pintu, entah mengapa pintu itu terbuka sendiri dan seorang pengawal berdiri didepan pintu. Joana tertegun tanpa pikir panjang lagi karena keinginan untuk melarikan diri begitu besar dia menerjang pengawal itu namun saat pengawal itu hendak menangkap Joana, terdengar suara memerintah dari dalam kamar.
“Lepaskan! Biarkan dia pergi!”
Joana berlari namun dia masih sempat mendengari ucapan Dion. Rasa takutnya membuat Joana terus berlari hingga dia benar-benar sudah agak jauh dari rumah kediaman Harimurti.
Dia menoleh kebelakang dan memastikan tidak ada yang mengejarnya. Dia berhenti sambil membungkuk memegangi lututnya dengan terengah-engah.
“Sialan! Aduh…...kakiku sakit sekali! Aku harus segera pergi dari sini!” Joana mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya lalu memesan taksi online yang membawanya pulang kerumahnya.
“Joana! Kamu kenapa? Bajumu koyak begitu?” Jayanti terlihat cemas saat melihat anaknya pulang dalam keadaan berantakan dan kemeja yang koyak.
“Aku baik-baik saja bu.” jawab Joana.
“Baik-baik bagaimana? Kemejamu sampai koyak begini?”
“Oh ini…...tadi aku sedang di cafe milikku mengerjakan beberapa hal disana. Tak sengaja kemejaku yangkut di paku makanya koyak. Aku langsung buru-buru pulang kerumah.”
Jayanti yang tak percaya begitu saja, memandangi anaknya dari kepala sampai ke kaki. Merasa kalau hanya kemeja Joana saja yang koyak, dia pun percaya pada putrinya.
“Baiklah. Sana ganti bajumu.”
“Baik bu!” Joana merasa lega dan langsung pergi ke kamarnya. “Fuuuhhh! Untung saja ibu percaya!”
...******...
Di gedung Rafaldi Group, Arimbi sedang sibuk berdiskusi dengan Renaldi perihal pabrik. Ternyata Renaldi bukan cuma hebat dalam bisnis manajemen namun dia juga menguasai bidang tehnik. Renaldi pernah kuliah jurusan engineering, kemudian dia melanjutkan mengambil jurusan bisnis manajemen.
“Bagaimana dengan produk reject? Menurut data, persentasi papan PVC yang reject lumayan tinggi selama dua bulan terakhir.” ucap Renaldi membaca laporan dari manajer pabrik.
“Ehm….aku sudah ke pabrik untuk memeriksa! Masalah itu sudah bisa ditangani, karena tingginya permintaan klien dengan tenggat waktu yang singkat mengakibatkan produk reject meningkat. Ini laporan yang kudapat dari bagian produksi untuk minggu ini sudah mengalami penurunan signifikan.”
Arimbi menjelaskan pada Renaldi hasil peninjauan pabrik yang dilakukannya. Dengan lancar dia bicara tanpa jeda, hanya dalam waktu singkat dia sudah mulai memahami pekerjaannya. Tampak Renaldi tersenyum puas mendengar penjelasan Arimbi. ‘Tuan Emir beruntung memiliki istri pintar seperti Arimbi. Aku yakin jika dia tetap fokus maka kelak dia akan berhasil!’ gumamnya dalam hati.
Tok tok tok tok.
“Iya masuk.” jawab Arimbi.
“Maaf Nyonya!” ucap seorang staff wanita yang bekerja sebagai resepsionis.
“Iya, ada apa?” tanya Arimbi heran karena tak biasanya resepsionis naik kelantai atas. Dia melirik pada gadis itu dan melihat ada paperbag ditangannya.
“Ehm….ini Nyonya. Ada titipan untuk Nyonya! Katanya dari kediaman Keluarga Serkan.”
“Hah? Siapa tadi yang mengantar?”
“Ehm…..seorang wanita, berusia sekitaran tiga puluhan. Katanya dia pelayan di Kediaman Serkan, kalau tidak salah tadi katanya namanya Desi.” ucap gadis itu tersenyum.
“Oh, letakkan saja disini.” kata Arimbi menunjuk ke meja didepannya. “Terima kasih.”
“Saya pamit dulu Nyonya.”
Arimbi menatap dua paperbag itu dengan mengeryit. ‘Desi? Kenapa dia datang kesini jauh-jauh?’
“Ada apa Nyonya?” tanya Renaldi yang melihat Arimbi diam.
“Ah tidak apa-apa! Saya cuma sedang memikirkan kenapa pelayan itu datang kesini jauh-jauh. Biar saya periksa dulu ini apa sisinya.” ucap Arimbi lalu menatap Renaldi. “Cukup panggil namaku saja.”
Arimbi membuka paperbag pertama berisi makanan, ada grain salad, ayam bakar, mash potato. Lalu dia membuka paperbag kedua yang ternyata isinya buah-buahan dan jus segar. Dan rantang bertingkat yang entah apa isinya.
Dia mengambil satu botol jus lalu memberikan pada Renaldi. “Ini buat kamu.”
“Terima kasih.”
“Jangan sungkan! Aku ini istrinya Emir, sahabatmu kan?’ ucap Arimbi tersenyum memperhatikan beberapa makanan. ‘Tumben mereka mengirimiku makanan?’