
Layla tersenyum, kini dia sudah semakin memahami situasi. Jadi benar- semuanya demi Arimbi. “Ya, ya suasananya menjadi lebih baik sekarang. Memang tampak indah seperti ini, kamu bisa mengagumi bunga-bunga dihalaman saat kamu keluar rumah.Suasana hatimu pun akan langsung membaik.”
Saat dia menyadari tatapan mata Emir berbinar menatap taman bunganya, Layla menyadari kalau ini bukan sekedar taman bunga biasa. Emir melakukan ini karena dia ingin menyenangkan hati Arimbi.
“Agha, ajaklah kakakmu jalan-alan. Aku akan kembali kerumahku untuk istirahat. Lagipula aku sudah tua, berjalan sedikit saja sudah membuatku lelah.”
Ketiga bersaudara itu tahu kalau Layla berbohong tapi tidak ada yang ingin mengungkapkannya. Pasti Layla merasa kesal mendengar ucapan Emir yang seolah memanjakan Arimbi dan jelas itu tidak membuat Layla Serkan senang. Setelah melihat sang nenek pergi, kedua bersaudara itu melanjutkan jalan-jalan mereka diluar menikmati mentari pagi.
Kedua bersaudara itu berjalan-jalan diluar rumah untuk beberapa saat kemudian tiba waktunya bagi Emir untuk rehabilitasi. Saat itu petugas dari pusat rehabilitasi sudah datang, dan hanya ada Emir bersama petugas didalam ruangan itu. Tidak ada orang lain yang diperbolehkannya masuk kesana.
Emir tidak mau ada orang yang emlihatnya jatuh bangun selama proses itu. Setelah menghabiskan siang hari menjalani rehabilitasi, Emir sudah merasa kelelahan dan wajahnya tegang. Semuanya berhati-hati agar tidak bermalas-malasan dihadapannya termasuk Beni. Emir baru menyesuaikan emosinya dan dia beristirahat setelah makan siang hingga petang hari saat matahri tengelam. Lalu dia memanggil Beni.
“Ya Tuan Muda Emir. Ada yang bisa saya bantu?”
“Apakah Elisha sudah berangkat ke pesta itu?” tanya Emir. Dia ingat kalau adik perempuannya akan pergi menghadiri pesta ulang tahun Zivanna Lavani malam ini.
“Belum Tuan. Mungkin sebentar lagi dia berangkat.” jawab Beni. Sebagai kepala pelayan dia harus memperhatikan semua yang terjadi dalam rumah tangga.
“Baiklah.”
Beni tidak tahu apa yang sedang Emir pikirkan. Karena Emir tidak mengatakan apapun lagi, Beni juga tidak berani bicara untuk bertanya. Dia hanya pamit dalam diam dan pergi meninggalkan Emir. Tak begitu lama, Emir yang memikirkan sesuatu segera mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi adik perempuannya.
“Halo, kakak.”
“Elisha, aku akan pergi ke kediaman Lavani bersamamu.” ujar Emir tiba-tiba membuat keputusan.
“Apa? Emir….kamu mau pergi ke Kediaman Lavani untuk menghadiri ulang tahun Zivanna?” tanya Elisha terkejut. Dia tidak percaya kalau kakaknya akan datang menghadiri perjamuan. Sebelumnya Emir memang jarang menghadiri perjamuan meskipun dia diundang tapi dia tidak pernah datang. Saking jarangnya datang ke perjamuan, jika ada orang yang perjamuannya dihadiri oleh Emir maka orang tersebut sangat beruntung dan merasa terhormat.
Setelah kecelakaan, Emir bahkan tidak mau menghadiri perjamuan yang diadakan oleh keluarganya sendiri tapi hari ini sepertinya berbeda dan entah apa yang membuat Emir tiba-tiba ingin datang ke perjamuan ualng tahun itu.
“Iya, aku akan datang bersamamu. Tolong siapkan hadiah ulang tahun untuk Zivanna. Jangan yang mahal, beli saja yang ingin kamu beli. Tidak perlu banyak pertimbangan dalam membeli hadiahnya. Jangan sampai dia berpikir aku mempunyai perasaan padanya.”
Sama seperti Michele, Zivanna juga menyukai Emir. Bedanya, Michele menyukai Emir diam-diam dan tak pernah mengungkapkan perasaannya. Tetapi Zivanna telah mengejar Emir sejak lama dan setelah kecelakaan menimpa Emir akhirnya Zivanna berhenti mengejar pria itu. Zivanna juga berhenti menyukai Emir karena dia cacat.
“Emir, semua hadiah yang kusiapkan mahal. Kalau kamu ingin hadiah murah mendadak seperti ini, dimana aku bisa mendapatkannya?” ujar Elisha merasa bingung. “Emir, tak bisakah kamu meminta yang lebih jelas?”
Emir langsung mengerucutkan bibirnya dan berkata, “Lupakan saja. Akan kusiapkan hadiahnya sendiri. Datanglah kerumahku nanti, kita akan berangkat bersama.”
“Baiklah.” jawab Elisha.
Beni jadi bingung dengan permintaan Emir. “Baik, Tuan.”
‘Pada siapa vas murah itu mau diberikannya? Apalagi harus mencari vas paling murah?’ tambah bingunglah Beni memikirkan permintaan Emir yang menurutnya aneh.
“Tuan Emir, semua vas di rumah ini adalah barang antik dan harganya mahal. Kita tidak punya vas murah dirumah ini.” ucap beni ragu-ragu.
“Ambil vas tak terpakai dari Yono dan bersihkan, setelah itu bungkus dengan rapi.” kata Emir.
Yono adalah tukang kebun yang bekerja untuk keluarga Serkan yang bertugas untuk mengurus tanaman. Jika dibandingkan dengan semua vas dirumah Emir, vas milik Yono semuanya murahan! Dia membelinya di pasar dengan harga paling murah!
‘Apakah Tuan Emir sedang marah pada seseorang? Apakah ada orang yang sudah menyinggungnya sehingga dia ingin memberikan vas murahan itu sebagai hinaan?’ guma Beni didalam hatinya.
“Beni! Cepatlah bawakan vas paling murah.”
“Ba—baik Tuan. Akan saya siapkan.” Beni yang tak mau menduga-duga lagi bergegas menyiapkan hadiah yang diminta oleh Emir.
Emir tersenyum puas melihat Beni yang dengan cepat pergi untuk menyiapkan hadiahnya. “Arimbi akan menghadiri pesta ulang tahun itu bersama Amanda. Pasti akan ada pertunjukan menarik disana, aku tidak boleh melewatkan pertunjukan apa yang akan dibuat istriku itu nanti disana. Dia selalu saja mengejutkanku.” gumamnya sambil tersenyum.
*********
Di kediaman Keluarga Rafaldi.
Mosha sedang membantu putrinua memakaikan riasan ringan lalu melangkah mundur untuk melihatnya. “Bagaimana Bu? Putri ibu ini cantik kan? Orang-orang selalu bilang kalau aku memiliki paras terbaik dari ibu dan ayah.” kata Arimbi tersenyum manis menggoda ibunya.
Yadid dan Mosha sangat menawan saat muda jadi jika Arimbi memiliki paras terbaik mereka dan dia juga sangat cantik dan imut.
Sejak muda, setiap kali orang memandang Arimbi, mereka akan berkata pada Pratiwi ibu angkatnya bahwa anak itu sangat cantik. Mereka bahkan berkata kalau sudah besar dia bisa memenangkan kontes kecantikan dan bisa menjadi model terkenal atau bahkan jadi aktris. Dan pratiwi selalu menjawab bahwa dia tidak akan membiarkan Arimbi iktu kontes kecantikan. Pratiwi hanya ingin Arimbi tumbuh sehat dan kuat dan memiliki kehidupan yang layak.
Mosha, tersenyum, “Tentu saja putriku cantik. Kalau kamu memakai kalung berlian desain The Hans yang ibu berikan padamu, kamu akan terlihat lebih cantik lagi.”
“Ibu, sudah memberiku begitu banyak perhiasan. Aku khawatir Amanda akan iri. Bu, berikanlah kalung itu padanya nanti, dia pasti menyukainya.” ujar Arimbi.
Arimbi ingat hari ini apa yang akan terjadi di kehidupan sebelumnya saat dia menghadiri perjamuan ualng tahun Zivanna di kediaman Lavani dimana saat itu Zivanna menyiramnya dengan anggur hingga basah kuyup dan gaunnya kotor. Zivanna mengerjainya atas permintaan Amanda tapi juga karena kalung The Hans yang dipakai oleh Arimbi waktu itu.
Arimbi mengingat setelah kejadian itu Amanda memberitahunya kalau Zivanna sangat menyukai kalung itu. Saat perjamuan itulah Zivanna melihat Arimbi memakai kalung itu, dia menjadi marah dan menyiramnya dengan anggur untuk mempermalukannya didepan semua orang kaya yang hadir diperjamuan ulang tahun itu.
Tapi sekarang Arimbi sudah hidup kembali dan dia tidak akan membiarkan semua itu terjadi, dia hendak membalikkan keadaan, bukan dia yang akan dirundung tapi orang lain. “Bu, Emir sudah menyiapkan perhiasan untuk kupakai dengan gaunku. Jadi aku pikir lebih baik kalung The Hans itu dipakai oleh Amanda. Dia pasti akan senang sekali bisa memakai kalung itu.”