GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 253. JANGAN MEMPERSULITNYA


Adrian mengenal Arimbi dengan baik, karena mereka hidup bersama sejak kecil. Berbeda dengan Amanda, dia tidak bisa akrab dengan saudara kandungnya karena dia memandang mereka semua rendah dan tidak peduli padanya. Itulah yang membuat Adrian tidak bisa menerima Amanda.


“Kalau begitu ibu harus berhenti mengirim pesan dan berhenti mengganggunya. Kalau kita tidak bisa membantu Arimbi jangan sampai kita mempersulitnya juga.” ucap Adrian lagi. Seusai Adrian mengatakan itu, dia diam sejenak kemudian melanjutkan. Baiklah Bu. Makan dulu ya.”


Dia tidak ingin terus mengganggu Arimbi tapi hal itu sudah menjadi kebiasaan baginya. Mereka biasa bertegur sapa setiap hari dan mereka juga biasanya saling berkirim pesan. Sekarang mereka tidak bisa bertemu setiap hari lagiseperti dulu. Bagaimana bisa dia berhenti mengirim pesan kepada Arimbi?


“Bu, ibu harus minum ini supaya tenaga ibu pulih kembali.” Adrian membuka tas dan mengambil mangkuk berisi ayam dan menyerahkan kepada ibunya dan berkata. “Ini sup ayamnya untuk ibu.”


Pratiwi mengambilnya, saat dia melihat bahwa prosinya tidak cukup untuk berbagi dengan anaknya, dia bertanya, “Kamu hanya membawa satu mangkuk sup saja?”


“Aku ini kuat, Bu! Aku tidak perlu minum itu.” jawab Adrian.


“Kamu merawatku setiap hari. Kamu juga harus mendapatkan makanan yang bergizi.” Pratiwi mengambil sebuah cangkir dan mencucinya lalu menuangkan sup ayam kedalamnya dan meletakkannya didepan anaknya dan berkata, “Minum ini. Kalau kamu tidak makan aku juga tidak makan.”


“Baiklah Bu. Aku akan memakannya.” Adrian dengan terpaksa menerima permintaan ibunya.


...*******...


Sementara itu di waktu bersamaan di rumah besar Keluarga Lavani. Sepeninggal Reza yang pergi menemui Amanda. Ruby memasuki rumah sepupunya itu dengan diantarkan oleh seorang pelayan wanita. “Dimana sepupuku?” tanyanya.


“Nona Muda sedang berada dikamarnya beristirahat.” jawab seorang pelayan.


“Dia masih belum bangun?” tanya Ruby mengeryitkan keningnya.


“Belum Nona. Karena tadi Nona Amanda datang dan mereka mengobrol sebentar. Nona Muda juga belum lama tidur sorenya. Ditunggu sebentar, begitu Nona Muda bangun saya akan beritahukan kalau Nona Zimena ada disini.” ucap pelayan itu.


“Coba kamu cek dulu ke kamarnya. Mana tau dia sudah bangun!” perintah Ruby. Pelayan itu pun mengangguk dan segera pergi meninggalkan Ruby diruang tamu setelah menyuguhkan minuman dan cemilan. ‘Tumben sekali dia baru istirahat siang telat!’ bisiknya didalam hati.


Ruby Zimena bukan berasal dari keluarga kaya kalangan atas, tetapi karena keluarganya masih punya hubungan keluarga dengan Keluarga Lavani membuat sikap Ruby pun sedikit sombong. Karena dia tahu keluarga itu akan selalu mendukung keluarganya.


Sedangkan Zivanna yang tak bisa beristirahat dengan tenang sejak kepergian Amanda pun akhirnya bangkit dari ranjang. Setelah pelayan memberitahunya tentang kedatangan Ruby yang sudah menunggunya dibawah.


Zivanna tahu alasan kedatangan sepupunya itu, meskipun dia enggan untuk menemuinya tapi bagaimana pun Ruby tetap sepupunya.


Perlahan dia melangkah menuruni tangga dan langsung menuju keruang tamu. Awalnya dia mengira Ruby akan datang bersama Reza karena saat Ruby meneleponnya dia mengatakan kalau dia dan Reza akan datang mengunjunginya untuk minta maaf. Inilah alasannya enggan menemui Ruby, karena Zivanna masih marah pada Reza.


Pria yang menghancurkan pesta ulang tahunnya. Saat dia memasuki ruang tamu dia melihat Ruby mendongak lalu tersenyum padanya. “Hai Zivanna. Apa kamu baru bangun tidur?”


“Hem….kamu sendiri saja? Mana dia?” Zivanna mengerutkan alisnya tak senang karena orang yang ingin minta maaf padanya ternyata tidak datang.


“Oh itu, maaf ya. Sebenarnya tadi kami berdua datang kesini. Tapi saat baru saja keluar dari mobil tiba-tiba Reza mendapat telepon mendadak dari perusahaan. Ada hal penting yang harus diurusnya. Jadi, hanya ada aku seorang disini.”


“Lalu?”


“Zivanna, aku tahu kalau kamu sangat marah dan kecewa pada Reza dan aku atas insiden tempo hari. Aku mewakili Reza, bisakah kamu memaafkannya? Dia sudah bersedia bertanggung jawab padaku dan mungkin dalam waktu dekat kami akan menikah. Kita sudah membicarakan hal ini.”


“Ruby, apa kamu menyukainya?” tanyanya mengeryitkan dahi.


“Hemm…...” wajah Ruby langsung bersemu merah karena malu. Sambil tersenyum dia menatap Zivanna tapi sebelum dia sempat menjawab, sepupunya itu sudah lebih dulu bicara.


“Aku tahu kamu menyukainya! Pasti kamu sudah jatuh cinta pada pria itu! Ckck!” ujar Zivanna berdecak.


“Dia memperlakukan ku baik.” jawab Ruby lagi.


“Kamu terlalu naif jadi perempuan! Ya aku harus akui memang dia menawan untuk ukuran wanita sepertimu dia bahkan sudah membuatmu jatuh cinta hanya dalam sesaat! Hebat!”


“Zivanna, aku mohon maafkan Reza ya! Dia juga tidak sengaja melakukan itu di pesta ulang tahunmu. Mengingat kita adalah sepupu dan kami akan segera menikah. Bisakah kamu memaafkannya untukku?” ujar Ruby memohon. Bagaimanapun dia tak mau jika Zivanna masih marah pada Reza.


“Kalau memang dia berniat untuk meminta maaf padaku, dia tidak akan berlindung dibalik punggungmu! Mana dia sekarang? Cih! Tidak tahu malu memintamu yang memohon padaku.” ujar Zivanna kesal. Dia tahu jika Reza hanya memanfaatkan sepupunya itu saja.


“Sebentar aku telepon dia dulu. Aku akan minta dia untuk secepatnya kembali kesini kalau urusannya sudah selesai.” ucap Ruby lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Reza.


“Halo….”


“Reza, kamu sudah selesai urusannya?”


“Ehm...sudah. Ini aku sedang menuju kesana! Tadi hanya sebentar saja, cuma butuh tandatanganku saja. Tunggu sebentar ya aku sedang dijalan sekarang…...”


Klik….. Ruby memutuskan panggilan lalu tersenyum.


“Zivanna, katanya dia sudah dijalan menuju kesini. Tidak apa-apa kan kalau menunggunya sebentar saja.” ucap Ruby.


“Baiklah. Mengingat kamu adalah sepupuku. Kapan kalian menikah?”


“Dalam waktu dekat. Reza bilang keluarganya akan segera menemui keluarga ku untuk membicarakan pernikahan.” ucap Ruby lagi dengan wajah berbinar bahagia.


“Ruby! Dengarkan aku baik-baik! Jika kamu menikah dengannya, kamu harus bisa menguasainya. Jangan biarkan Arimbi mendekatinya. Kamu tahu kan kalau Arimbi mencintainya.”


“Zivanna, ehm….mereka sudah memutuskan hubungan. Aku sangat membenci perempuan itu. Dia sengaja mendorongku jatuh ke sungai.”


Mendengar nama Arimbi saja sudah membuat emosi Zivanna meluap.


“Dimana kamu bertemu dengan perempuan udik itu? Kenapa kamu tidak membalasnya?”


“Biar aku beritahu ya. Tadi kami bertemu saat mau pergi memancing. Arimbi bersama seorang pria yang lebih pantas jadi ayahnya.” Ruby berhenti sejenak sambil memperhatikan reaksi Zivanna.


“Aku menghinanya karena dia terus saja menatap Reza dan dia langsung mendorongku hingga jatuh kesungai. Zivanna, perempuan itu mengerikan! Aku ingin membalasnya tapi pria yang bersamanya itu turut membelanya dan menghinaku juga.”