GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 198. TELAH DIREBUT DARINYA


Dia tidak tahu apa yang Arimbi lakukan atau katakan pada Emir. Layla tahu bahwa Arimbi mampu menenangkan Emir ketika sedang mengamuk.


Melihat itu seharusnya Layla Serkan senang bahwa seseorang dapat turun tangan dan menenangkan cucunya saat mengamuk. Tetapi bukan itu masalahnya, sebaliknya dia merasa seolah-olah sesuatu yang berharga baginya telah diambil darinya dan tahta dihatinya telah digulingkan oleh orang lain.


Bagi Layla, Emir adalah cucu yang dibesarkannya seorang diri. Meskipun dia memiliki cucu lain tapi Emir dan Elisha adalah cucu kesayangannya karena merekalah yang paling dekat dengannya.


Mungkin karena inilah Layla secara pribadi membesarkan Emir, batasan antara ibu dan nenek agak kabur baginya karena kasih sayangnya pada Emir tidak mengenal batas.


Meskipun demikian, kasih sayangnya itu diiringi dengan keinginan yang sangat kuat untuk memiliki. “Aku belum cukup mengenalnya jadi aku tidak tahu seberapa baik Arimbi. Tapi dia adalah orang yang ramah dan aku suka berinteraksi dengannya. Karena aku tidak perlu merasakhawatir tentang apa yang dia inginkan dariku.” jawab Elisha sebelum melanjutkan.


“Dia tidak pernah mencoba untuk menyenangkan aku dan hanya memperlakukanku seperti gadis biasa lainnya.” Elisha adalah satu-satunya cucu perempuan di keluarga Serkan, dia adalah mutiara dari keluarga Serkan.


Meskipun dia adalah objek perhatian semua orang di kota ini tapi dia tidak suka diperlakukan istimewa oleh orang-orang. Karena itulah dia merasa Arimbi adalah orang yang baik karena Arimbi tidak pernah mencoba untuk menyenangkan hatinya.


Layla memandang Elisha, lalu berkata, “Tapi tetap saja aku tidak suka wanita itu!”


“Nenek apakah nenek masih berpikir untuk mengusirnya saat Emir sembuh nanti? Karena mereka berdua sudah mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi. Emir pasti akan marah jika nenek mengusir Arimbi.”


Elisha merasa tegang memikirkan jika hal itu sampai terjadi dan memikirkan kemarahan kakaknya.


Layla menjawab dengan acuh tak acuh, “Sebagai kepala keluarga Serkan, kakakmu tidak boleh mengalihkan perhatiannya pada wanita seperti itu.


Dia harus menjadi pria kejam dan berdarah dingin untuk berada dipuncak industri bisnis, dan untuk memimpin Serkan Global Group ke puncak bisnis dunia dan menjadi yang terbaik.”


“Nenek, Emir juga manusia. Dia hanya pria biasa, bagaimana bisa dia benar-benar berdarah dingin? Ditambah lagi itu tidak akan ada gunanya bagi keluarga kita jika dia benar-benar berdarah dingin.” Elisha ingin kakaknya menjadi bagian keluarga ini dan bukan hanya alat dari keluarga Serkan.


Karena bagaimana kakek neneknya membesarkan Emir hanya dengan fokus pada bakatnya saja, mereka tidak pernah mengajarinya bagaimana mencintai orang lain. Itulah yang menjadi penyebab mengapa Emir memiliki sifat yang dingin dan kesepian.


Sambil mengerucutkan bibirnya, Layla Serkan tiba-tiba bertanya, “Ku dengar orang tuamu akan segera kembali.”


“Ibuku mau kembali tetapi ayahku mengatakan bahwa mereka jarang bepergian berdua jadi dia ingin mereka tinggal selama beberapa hari lagi. Aku pikir mereka akan kembali paling cepat akhir minggu depan.” jawab Elisha menjelaskan pada neneknya.


“Sejak ayahmu pensiun, dia tidak melakukan apa pun selain membawa ibumu berkeliling untuk bersenang-senang.”


“Apakah nenek tidak senang melihat betapa bahagianya orang tuaku? Mereka saling mencintai.”


“Gadis bodoh! Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat setiap orang mencapai kebahagiaan.”


Layla serius pada kata-katanya dan berharap Emir juga bisa mencapai kebahagiaan yang sama. Namun dia tidak akan membiarkan Emir memanjakan seorang wanita secara berlebihan.


Saat ada unsur cinta yang terlibat maka akan ada titik lemah untuk di manfaatkan orang lain. Dia akan memastikan agar Emir tidak akan pernah jatuh cinta pada Arimbi.


...********...


“Sayang, apakah kamu sudah membersihkan semuanya sehingga kamu menungguku disini untuk ku terkam malam ini?”


Emir melirik Arimbi dua kali, dia hanya menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku sudah melihat semua yang bisa dilihat setelah menerkammu. Apa lagi yang mau kamu tawarkan untukku malam ini? Setiap jengkal tubuhmu sudah kuliat dan menurutku biasa saja. Tidak ada yang istimewa!”


“Emir…...kenapa aku merasa sepertinya kamu menyuruhku melakukan sesuatu yang baru? Apakah kamu mungkin ingin aku menelanjangimu sebelum mengambil fotomu sedang menggodaku?”


Ekspresi Emir langsung menggelap, “Arimbi Rafaldi! Kamu seorang wanita yang menyebalkan. Mengapa kamu begitu tak tahu malu saat bicara?”


“Karena kita suami istri sah bukan pasangan selingkuh. Lalu, apa salahnya membicarakannya? Setiap kali aku melihat betapa tampannya wajahmu dibandingkan dengan wajahku, aku merasa iri dan bersalah didalam hati. Kamu tahu tidak, pesonamu itu membangkitkan gairahku setiap saat.” Arimbi mengedipkan satu matanya sambil menggigit bibir bawahnya menggoda Emir.


“Bagaimana?”


Arimbi memberikan tatapan nakal pada bagian tertentu Emir, “Kamu tahu kan?” jawabnya.


Saat ini Emir tergoda untuk mengambil bantal dan melemparkannya tepat kewajahnya. Tidak menyadari apa yang dipikirkan oleh suaminya, dia mengambil pengering rambut dan meletakkannya didekatnya. Dengan senyum menawan diwajahnya dia membujuk.


“Emir sayangku, rambutku bilang kalau mereka sangat menyukaimu dan ingin kamu yang mengeringkan tubuh basah mereka dengan benda yang kamu miliki disana. Tubuhku juga bilang mereka mau tanganmu yang mengeringkannya.”


“Kenapa kamu keramas selarut ini?” Emir mengambil pengering rambut itu dan meminta Arimbi untuk mencolokkan ke listrik.


Sepuluh menit kemudian pasangan suami istri itu sudah berbaring di tempat tidur. Jangan tanya kenapa keduanya tanpa pakaian dan wajah Arimbi yang mengerut.


Rupanya ucapannya ‘tubuhku bilang mereka mau tanganmu yang mengeringkannya’ benar-benar diwujudkan Emir dengan cara menciumi dan menjilati sekujur tubuh istrinya.


Saat Arimbi sedang menikmatinya, Emir malah tiba-tiba berhenti dan berbaring disampingnya membiarkan Arimbi ketanggungan.  Arimbi memiringkan tubuhnya menghadap Emir sambil menatapnya. Sedangkan Emir pura-pura membaca majalah ditangannya sambil mengerucutkan bibirnya.


“Katakan!” ucapnya saat sadar Arimbi terus saja menatapnya.


“Emir, aku mencintaimu.”


“Arimbi, jika kamu berani melanjutkan omong kosongmu, aku bersumpah akan membuangmu ke rumah anjing dan membiarkanmu bermalam disana dan aku akan datang mengambil abumu besok pagi.”


“Huh! Kamu tidak asyik!” Arimbi berbaring telentang, tapi tak lama kemudian dia berbaring menghadapnya lagi. Kemudian satu tangannya memeluk Emir dan menyesuaikan posisinya agar nyaman lalu berhenti bergerak setelah menemukan posisi nyaman dipelukan suaminya.


“Emir, apakah kamu percaya bahwa orang dapat kembali ke masa lalu setelah kematian mereka?”


“Kembali ke masa lalu?” Emir mengeryitkan keningnya melirik Arimbi.


“Artinya diberi kesempatan kedua dalam hidupnya.” jawab Arimbi lagi.


Jawabannya itu membuat Emir mencibir lalu dengan ringan memukul wajahnya dengan majalah. “Kamu sudah kebanyakan membaca novel reinkarnasi!”