GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 72. MENOLAK IBU KANDUNG


Kemudian Adrian pun menceritakan semuanya pada Arimbi apa yang terjadi saat dia bertemu dengan Amanda. Amanda bahkan tidak ingin bertemu dengan ibu kandungnya yang jadi korban kecelakaan lalu lintas? “Kejam sekali.” ujar Arimbi marah. Mengingat di kehidupan sebelumnya orang tua Arimbi meninggal karena Amanda, dia pun berpikir inilah sifat Amanda yang sebenarnya.


Dia juga tega membunuh orangtua angkatnya yang tak pernah memperlakukannya buruk. Jadi tentu saja dia tak akan peduli dengan ibu kandungnya yang tak pernah ia temui.


“Arimbi, tolong jangan beritahu ibu soal ini saat kau menjenguknya. Kau bisa memberitahunya kalau Amanda sedang berada dalam perjalan bisnis jadi dia sednag tidak ada dikota. Aku tak mau ibu sedih dan memperlambat kesembuhannya.”


Arimbi pun terpaksa menganggukkan kepala dengan sedih. Wanita yang dia anggap sebagai ibunya sendiri dibenci oleh Amanda. Saat itu kebencian Arimbi pada Amanda makin mengakar, ketika kedua saudara itu berjalan kembali ke bangsal mereka melihat Amanda berjalan dari sisi lain.


Dia membawa Sandra yang sedang memegang buket bunga dan keranjang buah. Keranjang buah itu terlihat berat jadi Sandra terlihat keberatan membawanya. Meski begitu, Amanda tidak menolongnya dan meminta Sandra untuk berjalan dengan lebih cepat membawa buket bungan dan keranjang buah.


Saat melihat dua bersaudara itu, Amanda berhenti dan bertanya pada Adrian, “Bagaimana keadaannya?”


Wanita itu masih tak bisa memanggil Pratiwi sebagai ibunya. Dia tumbuh besar di keluarga Rafaldi dan terbiasa memanggil Mosha ibu. Sedangkan dia baru bertemu dengan ibu kandungnya sekali.


“Ibu ada didalam! Kau akan tahu setelah masuk.” ujar Adrian. Karena Amanda datang makanya Adrian pun memperlakukannya dengan baik.


Arimbi melirik Amanda, wanita itu datang kemari meski Adrian berkata sebaliknya. Jadi Arimbi merasa kalau Amanda tidak menjenguk ibunya atas dasar kemauannya sendiri. Tapi bagaimanapun, ibu pasti akan senang melihatnya.


“Arimbi, ayo masuk bersama.” Amanda memegang tangan Arimbi dengan sayang dan membuka pintunya. Pratiwi terbaring diatas kasur dengan mata tertutup dan wajahnya pucat.


Peralatan medis sedang menyala disebelah kiri dan kanan sedangkan infus ada disebelah kanannnya.


“Ibu!”


Arimbi melihat ibu angkatnya, dia menangis merasakan sakit. Dia melepaskan diri dari genggaman Amanda lalu duduk disamping ranjang. Mendengar suara tangisan yang dikenalnya, Pratiwi pun membuka mata perlahan dan melihat Arimbi. Ia tersenyum lemah, “Arimbi, apakah itu kau? Aku tidak salah lihat kan?”


“Ibu, ini aku. Aku datang kesini untuk menjenguk ibu.” jawab Arimbi. Kemudian dia menoleh dan berkata pada Amanda, “Ayo bicaralah pada ibumu.”


Melihat putri kandungnya berada disamping Arimbi, ekspresi wajah Pratiwi pun langsung berubah cerah. Ditatapnya Amanda dengan penuh harap ingin dipanggil ibu oleh Amanda. Tapi Amanda hanya menatapnya dengan tenang dan tak memperlihatkan sedikitpun perubahan. Yang terlihat dari sinar matanya adalah rasa jijik melihat ibu kandungnya itu.


“Sandra.” Amanda memanggil dan menoleh menatap Sandra.


“Iya wakil direktur Rafaldi!” Sandra bergegas melangkah maju dan meletakkan keranjang buah sebelum menyerahkan buket bunga itu pada Amanda. Setelah emngambil buket bunga, Amanda meletakkan bunga disamping Pratiwi dan berkata, “Kuharap Nyonya suka buket bunga yang kubeli. Aku juga membeli sekeranjang buah untukmu. Kalau sudah baikan makanlah buah-buahannya!”


Setelah bicara, Amanda membuka tasnya lagi kemudian mengeluarkan segepok uang dari dalam tas yang jumlahnya melebihi jumlah yang tadi ditawarkannya pada Adrian. Lalu Amanda meletakkan segepok uang itu diatas selimut lalu menatap wajah keriput Pratiwi. Suara Amanda terdengar lembut tetapi tanpa emosi, “Ada empat puluh juta disitu. Gunakan uangnya untuk makan makanan yang sehat. Jangan takut menggunakannya katakan saja kalau sudah habis. Aku akan memberi lebih banyak.”


Pratiwi merasa sangat kecewa karena Amanda tak memanggilnya ibu. Tapi wanita itu memaksakan tersenyum diwajahnya. “Amanda, aku senang kau bersedia menjengukku. Tapi aku tidak mau uangmu. Ambil saja kembali uangnya.” ujar Pratiwi lalu menatap Adrian, “Adrian! Ambil uang itu dan berikan kembali pada saudarimu.”


Supir yang menabrak Pratiwi sudah membayra tagihan rumah sakit dan perusahaan asuransi pun  telah membayar juga. Supir itu bahkan berjanji akan memberikan sejumlah uang yang lebih besar nantinya. Jadi dia tak perlu khawatir dengan biaya medisnya. Yang Pratiwi inginkan hanyalah putri kadnung yang memanggilnya sebagai ibu. Dengan cepat Adrian mengambil uang itu dari atas selimut dan menyerahkannya kembali pada Amanda.


Amanda menolak untuk menerima uang itu kembali dan berkata dengan tenang, “Aku sibuk dengan pekerjaanku jadi aku tidak bisa disini terlalu lama. Yang bisa kuberikan hanyalah uangku. Kalau ditolak aku akan merasa tak enak hati. Apakah Nyonya ingin melihatku sedih?” Amanda mengambil kembali uang itu dan meletakkannya kembali diatas selimut.


“Arimbi, aku akan kembali ke pertemuan bisnis. Sering-seringlah tinggal bersamanya.” Setelah itu Amanda bergegas keluar dengan Sandra. Sebenarnya dia tak ingin mengunjungi ibu kandungnya sama sekali. Ibu angkatnya yang mengingatkan dia soal kecelakaan itu dan Amanda menjenguk Pratiwi karena dia tak ingin ibu angkatnya berpikir kalau dia kejam.


“Amanda!” Arimbi memanggil dan mengejarnya untuk menghentikannya. Amanda membalikkan tubuh saat mendengar namanya dipanggil.


“Amanda! Yang terbaring disana adalah ibu kandungmu. Ibu mengalami kecelakaan karena ingin bertemu denganmu! Karena kamu disini, tidak bisakah kamu tinggal lebih lama demi ibu? Apakah pekerjaanmu jauh lebih penting dibandingkan ibumu sendiri?”


Amanda memberi isyarat pada Sandra untuk pergi ke lantai bawah dan menunggunya. Setelah kepergian Sandra, Amanda mendekati Arimbi dan tersenyum ceria yang membuat Arimbi tak senang. Tangannya sudah gatal ingin menampar Amanda yang dianggapnya anak durhaka dan kejam. ‘Beraninya dia tersenyum bahagia saat ibunya menjadi korban kecelakaan?’ bisik hatinya.


“Dia punya kamu! Dia adalah orang yang membesarkanmu Arimbi! Kamu memanggilnya ibu dan kalian punya perasaan mendalam satu sama lain. Kamulah yang harusnya tinggal bersamanya bukan aku! Karena aku tidak pantas untuk menjadi anak mereka!” ujar Amanda dengan sombongnya.


“Walaupun dia ibuku tapi dia tidak pernah membesarkanku. Aku tak bisa memanggilnya ibu. Dihatiku, ibuku hanyalah NyonyaMosha Rafaldi!” bagi Amanda, Arimbi adalah orang yang mau berjuang demi ibunya dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Orang seperti Arimbi harus tetap bersama dengan orang seperti Pratiwi! Amanda mengulurkan tangannya dan merapikan baju Arimbi.


“Arimbi! Tinggallah bersama ibumu. Aku akan pergi sekarang, kalau kau butuh sesuatu segera hubungi saja aku.” Setelah berkata begitu Amanda pun berbalik dengan kepala terangkat dan melangkah pergi. Arimbi menatapnya pergi dengan wajah tanpa ekspresi. Sejenak dia menenangkan diri lalu berbalik dan berjalan kembali ke bangsal.