
Hari pernikahan Emir dan Arimbi tinggal sehari lagi. Persiapan sudah rampung dan keluarga Serkan pun sudah bersiap-siap, pesta pernikahan diadakan di The Palm Bliss Hotel yang merupakan salah satu hotel milik Keluarga Serkan dan hotel termewah.
Pengamanan di hotel juga ditingkatkan untuk berjaga-jaga. Tampak para staf hotel yang melakukan touch up terakhir.
Sedangkan Emir dan Arimbi sudah berada di presidential suite. Malam ini semua keluarga inti dari kedua belah pihak menginap di hotel itu. Sementara disalah satu kamar hotel yang ditempati kedua orang tua Arimbi, tampak mereka sedang bersiap-siap.
“Akhirnya hari yang kita tunggu-tunggu pun tiba. Besok pesta pernikahan Arimbi digelar dan semua orang akan mengetahui statusnya.” ucap Mosha tersenyum.
“Iya. Setelah ini kita sudah bisa beristirahat dan menikmati hari tua.” ucap Yadid tersenyum sambil memeluk istri tercintanya.
“Maksudnya? Lalu bagaimana dengan perusahaan? Arimbi sedang hamil, dia sudah dilarang keluarga Serkan untuk bekerja.” ucap Mosha memandang suaminya.
“Ehem…..aku belum memberitahumu kalau Emir sudah menyiapkan seseorang untuk mengambil alih perusahaan. Jadi aku hanya mengontrol saja tidak perlu ke kantor lagi.”
“Benarkah? Siapa orang itu? Apakah dia orang kepercayaan Emir?” tanya Mosha penasaran.
“Bukan! Justru kali ini bukan hanya Emir saja yang merekomendasikan orang ini tapi Nyonya Besar Serkan juga. Karena orang itu adalah salah satu cucunya. Tepatnya sepupu Emir yang akan pulang dari luar negeri! Menurutku ini akan bagus untuk perkembangan perusahaan.”
“Ah! Sepertinya Keluarga Serkan mulai memanjangkan tangan mereka ke perusahaan kita.”
“Jangan berpikir macam-macam, istriku! Bagaimanapun Arimbi adalah pewaris kita, dan kelak perusahaan itu akan menjadi milik cucu kita. Keputusan Emir dan Nyonya Besar Serkan menempatkan pria bernama Zach itu tepat! Kita akan bertemu dengannya minggu depan.”
“Kalau memang sudah begitu keputusanmu, aku percaya! Apalagi kita sekarang besanan dengan Keluarga Serkan, mereka pasti ingin kekuatan kedua keluarga semakin kuat! Iyakan?” ujar Mosha.
“Kamu benar sekali, istriku! Lagipula menurut Emir kalau sepupunya itu ahli dalam menangani perusahaan dibidang elektronik. Selama ini dia yang memegang perusahaan Serkan diluar negeri.”
“Apa dia sengaja dipanggil pulang oleh Nyonya Besar Serkan untuk ini?”
“Tidak juga! Sebenarnya kedua orangtuanya yang meminta dia kembali karena selama ini dia menetap diluar negeri. Mereka berencana mencarikan jodoh untuknya! Dan Nyonya Besar Serkan membicarakan denganku soal menempatkan Zach sebagai pimpinan Rafaldi group!”
“Setelah kupertimbangkan, apa yang dikatakan Emir ada benarnya juga. Bagaimanapun sudah waktunya aku pensiun dan menghabiskan waktu bersamamu. Setelah Arimbi melahirkan, kita bisa membantunya mengurus cucu kita nanti.”
“Ah, suamiku. Kedengarannya menyenangkan sekali! Dengan adanya anggota keluarga Serkan yang menjadi pemimpin di perusahaan maka perusahaan kita akan semakin disegani.”
“Sekarang istirahatlah! Besok kita harus bangun pagi untuk persiapan.” ucap Yadid.
“Ehm…..apakah Amanda akan datang ke pesta besok?” tanya Mosha tiba-tiba. Ada kecemasan tergambar diwajahnya saat menyebut nama Amanda.
“Aku tidak tahu! Kurasa Arimbi tidak mengundang Amanda. Tapi kudengar kalau dia mengundang keluarga angkatnya!” ucap Yadid lagi.
“Semoga saja Amanda tidak datang dan mengacau." ucap Mosha. "Aku tidak mau dia muncul dikehidupan kita dan juga Arimbi!"
"Tenanglah! Kurasa dia tidak ajan berani menunjukkan wajahnya setelah mendapat peringatan dari Emir!"
Keesokan paginya tampak kesibukan di The Palm Bliss Hotel. Dihalaman luar hotel sudah dipenuhi dengan karangan bunga ucapan. Sedangkan di hall para staff yang bertanggung jawab sudah berada di posisi masing-masing menyelesaikan tugas mereka. Sedangkan para pengawal dan sekuriti hotel pun berjaga-jaga di setiap sudut diluar maupun di dalam hotel.
Acara pesta pernikahan Emir dan Arimbi hari ini akan dihadiri para pejabat tinggi, para pengusaha dan orang-orang berpengaruh. Acara akan diadakan pada pukul sepuluh pagi.
“Sayang, kamu cantik sekali.” Emir menatap wajah Arimbi dengan penuh kasih sayang. Penata rias sudah bersiap untuk merias pengantin. Arimbi mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang dihuasi Swarovski.
Sedangkan Emir memakai setelan jas berwarna senada dengan gaun Arimbi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Semua anggota keluarga Serkan sudah bersiap-siap begitu juga dengan kedua orang tua Arimbi dan keluarga dekat mereka. Sedangkan keluarga angkat Arimbi pun sudah bersiap disalah satu kamar di hotel itu.
“Adrian! Apakah Amanda akan datang nanti?” tanya Pratiwi pada putra sulungnya.
“Aku harap dia tidak datang bu. Dia hanya akan membuat malu dan mengacaukan acara pernikahan Arimbi!” sahut Adrian yang masih kesal pada Amanda.
“Jangan begitu Adrian. Bagaimanapun juga Amanda itu adik kandungmu! Coba kamu hubungi dia dan tanyakan apakah Arimbi memberikan undangan padanya.”
“Sudahlah bu. Tidak usah dipedulikan. Aku yakin sekali kalau Arimbi tidak mengundangnya. Kalaupun dia hadir, Tuan Emir pasti akan mengusirnya!”
Pratiwi terdiam mendengar ucapan putranya, didalam hatinya dia merasakan bahagia dan juga sedih. Bahagia karena Arimbi menikah dengan pria yang baik dan menyayanginya. Dia juga merasa sedih pada nasib Amanda yang berbanding terbalik.
"Kasihan sekali Amanda! Seharusnya dia bisa hidup damai bersama Arimbi dan keluarga Rafaldi!" tak sadar Pratiwi mengucapkan kalimat itu yang membuat Adrian menatap ibunya dengan tajam.
"Bu! Dengan karakter Amanda yang buruk tidak akan ada seorangpun yang mau menerimanya. Sudahlah bu jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kita turun sekarang, acaranya akan segera dimulai. Aku akan memanggil ayah."
Pukul sembilan pagi semua anggota keluarga Serkan dan Keluarga Rafaldi sudah memasuki hall tempat diadakan pesta pernikahan. Satu persatu tamu undangan sudah mulai berdatangan. Dekorasi tempat itu sangat mewah didominasi warna gold. Mosha tampak menitikkan airmata melihat kemewahan pernikahan putrinya.
“Hapus airmatamu, jangan menangis lagi. Nanti tidak enak dengan keluarga Serkan dan tamu.”
Mosha menatap suaminya lalu menghapus airmatanya dengan tisu. “Aku menangis karena bahagia! Kehidupan Arimbi sempurna dan Emir serta keluarganya sangat menyayanginya. Tidak salah kan kalau aku menangis?” ucap Mosha dengan suara lirih.
“Sebaiknya kita sambut para tamu dan pasang senyum terbaikmu, istriku! Ini hari bahagia keluarga kita.” ucap Yadid mengelus punggung istrinya.
Seluruh hall sudah dipenuhi tamu undangan, acara pesta pernikahan yang diselenggarakan di akhir pekan membuat semua undangan hadir. Lagipula siapa yang menolak datang ke pesta keluarga Serkan?
Sementara itu disebuah apartemen, Amanda terlihat dalam kondisi kacau. Kondisinya yang sedang hamil muda membuatnya sering mengalami morning sickness. Hidup seorang diri tanpa ada yang menemaninya membuat semuanya terasa sulit bagi Amanda.
“Ahhh…..kurang ajar! Reza….bisa-bisanya kamu menyentuh Ruby! Aku tidak akan membiarkanmu bahagia!”
Setelah Amanda keluar dari kamar mandi dia mengambil ponselnya dari atas meja. Dia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya dan juga ada pesan masuk. Dia membaca pesan masuk dari ibunya lalu tersenyum mencibir.
“Jadi ibu dan semua keluargaku hadir dipesta pernikahan Arimbi? Cih! Lihatlah betapa sombongnya perempuan kampung itu.”