GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 144. SOMBONG SEKALI


“Emir, aku percaya kamu bisa sembuh. Tapi kamu harus rajin mengikuti fisioterapi. Aku juga percaya Arimbi pasti akan sangat bahagia disaat kamu akhirnya bisa berdiri dengan kedua kakimu lagi. Sedangkan nenek, apakah kamu pernah takut padanya? Orang tua itu tidak dapat melakukan apa-apa padamu, Emir!’ Agha membalas ucapan kakaknya.


Beberapa saat kemudian Agha berpikir, sepertinya Emir benar-benar mempedulikan Arimbi sehingga dia mengatakan hal-hal seperti itu, melihatnya begitu khawatir jika nenek akan mengusir Arimbi.


“Agha, karena kamu tidak pergi keluar hari ini, bantu aku fisioterapi hari ini. Aku ingin sembuh dengan cepat. Aku rasa hari ini aku bisa banyak berlatih.”


Dengan begitu, saat dia sudah sembuh nantijika Aimbi bertemu bahaya lagi, dia bisa dengan cepat berlari kesisinya.Ini agar dia bisa melindungi Arimbi sebaik yang dia bisa.


“Baiklah, Emir.”


Agha tidak menolak permintaan kakaknya, karena kakaknya mau fisioterapi, itu adalah berita yang bagus, Dengan begitu kakaknya bisa sembuh secepatnya dan menjalani hidup normal lagi seperti dulu.


Sementara itu Arimbi tidak mengetahui apa yang kakak beradik itu bicarakan saat dia sedang tidak ada. Rino telah memerintahkan seorang supir untuk mengantarnya kerumah sakit untuk menjenguk Pratiwi. Mungkin karena Pratiwi ditemani oleh putrinya, diapun cepat sembuh dan kondisi tubuhnya perlahan-lahan membaik.


Arimbi membeli banyak sekali suplemen kesehatan dan sebuket bunga. Saat masuk kedalam ruang perawatan, dia melihat Pratiwi sedang bermain sosial media dengan ponsel putranya, dia terlihat tertawa terbahak-bahak dari waktu ke waktu. Entah apa yang sedang diliat oleh wanita paruh baya itu sehingga dia terlihat begitu ceria dan tertawa lepas.


Arimbi sudah lama tidak melihat ibu angkatnya itu tertawa lepas seperti sekarang ini. Sementara Adrian, dia sedang mengupas apel untuk ibunya. Melihat Arimbi datang, ibu dan anak itu menghentikan kegiatan mereka. Pratiwi langsung meletakkan ponsel diatas nakas dan tersenyum menyapanya, “Halo, Arimbi.”


Dan saat dia mengalihkan pandangannya kebelakang Arimbi, ekspresi wajahnya beubah kecewa karena tidak ada seorangpun berada dibelakang Arimbi. Karena Pratiwi pasti menantikan kedatangan Amanda, lalu Arimbi pun mencoba untuk menjelaskan.


“Ibu, aku tidak pulang kerumah jadi aku tidak datang bersama Amanda. Semalam kami menghadiri pesta dan dia minum cukup banyak. Mungkin dia masih beristirahat dirumah hari ini.” ucapnya sambil memperhatikan perubahan ekspresi diwajah ibu angkatnya itu. Disatu sisi Arimbi merasa kasihan pada wanita itu yang sampai saat ini mengharapkan putri kandungnya yang tak mengharapkannya.


Pratiwi langsung membalas, “Kenapa dia minum banyak-banyak? Itu tidak baik untuk perutnya. Bagaimana denganmu Arimbi? Apa kamu juga minum terlalu banyak tadi malam? Kamu suka minum jadi kamu pasti minum banyak juga tadi malam iyakan? Apakah Amanda dan kamu mabuk tadi malam? Semoga saja dia baik-baik saja.”


Setelah Arimbi menyapa Adrian, dia menyerahkan buket bunga pada Pratiwi lalu menyusun suplemen itu diatas nakas lalu duduk. Dia tersenyum dan berkata, “Ibu, ibu tahu sendiri seberapa banyak aku bisa minum. Jangan khawatir aku tidak akan mabuk-mabukan lagi. Ayah pernah bilang sebelumnya bahwa wanita harus tahu batasan minum diluar supaya mereka tidak mabuk dan membuat masalah.”


Arimbi memang pernah mabuk sekali. Dan keesokan harinya ayah angkatnya memberitahunya seberapa banyak dia minum sebelum akhirnya dia pingsan dan berpesan bahwa tiap wanita harus tahu batasannya.


Berhati-hati kapanpun dia mabuk dan mengendalikan alkohol yang masuk sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan bisa berakibat buruk untuknya.


Arimbi pernah mabuk sekali. Saat itu diabaru saja memasuki usia dewasa, di usia delapan belas tahun,ayah angkatnya dan kedua saudaranya membawanya ke sebuah bar.


Sambil berkata bahwa dirinya kini sudah dewasa dan ayah angkatnya memperbolehkan Arimbi minum sebanyak yang diinginkannya. Karena itulah Arimbi pun minum hingga dia pingsan.


Keesokan harinya saat dia terbangun, ayah angkatnya memberitahunya seberapa banyak dia minum sebelum akhirnya jatuh pingsan dan berpesan bahwa tiap wanita harus tahu batasannya, berhati-hati kapanpun dia mabuk dan mengendalikan alkohol yang masuk kedalam tubuhnya sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


Masyarakat bisa saja bersikap sangat kejam, apalagi pada wanita yang mabuk saat minum alkohol diluar. Kalau tidak ada keluarga atau teman yang mengurus mereka, semua orang bisa menebak apa yang akan terjadi pada para wanita itu. Jadi mulai sekarang setiap kali Arimbi minum diluar, dia hanya minum sampai batas tertentu saja.


Sebelum kemudian dia menolak minum lagi, dia tidak akan membiarkan dirinya mabuk.


“Aku tahu bu. Ibu tidak perlu khawatir tentang Amanda. Dia sering ikut rapat bisnis dengan klien jadi toleransinya terhadap alkohol sangat tinggi.” jawab Arimbi.


Pratiwi tetap merasa khawatir pada Amanda meskipun Arimbi mengatakan itu. Tapi brada didepan Arimbi membuat Pratiwi menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun lagi.


Dia tidak ingin mempertanyakan tentang Amanda lagi. “Kamu beli banyak suplemen kesehatan lagi. Bagaimana aku bisa menghabiskan semuanya?” tanya Pratiwi setelah dia melihat apa yang dibelikan oleh Arimbi untuknya.


Sambil tersenyum Arimbi mengambil dua buah potong apel dari kakaknya lalu memberikan satu pada Pratiwi, lalu berkata, “Ibu, aku punya pekerjaan dengan pemasukan tetap sekarang. Selain itu keluargaku juga tidak berada dalam kesulitan keuangan.”


“Aku tidak tahu kemana aku harus membelanjakan uangku. Jadi kupikir aku perlu membelikanmu beberapa suplemen kesehatan. Ibu, kalau ibu tidak menghabiskannya sama saja dengan ibu menghamburkan gajiku. Ibu tidakingin itu terjadi bukan?” ujar Arimbi lagi.


“Kamu dan lidah licinmu itu…..”


Pratiwi yang ekspresi wajahnya terlihat kesal itu sebenarnya merasa benar-benar beruntung. Meskipun Arimbi bukan darah dagingnya sendiri tetapi setelah menghabiskan hidup bersama selama dua puluh tiga tahun, hubungan ibu dan anak diantara mereka terjalin sangat kuat. Sayangnya, Mosha tidak senang melihat Arimbi terus saja mengunjungi mereka.


Pratiwi ingat saat Mosha mendatangi mereka di desa. Meskipun dia banyak bicara tetapi Pratiwi tahu bahwa wanita itu tidak ingin keluarga Darmawan terus menghubungi Arimbi, karena dia takut Arimbi tidak akan bisa berbaur dengan keluarga kandungnya.


Namun Arimbi tahu bagaimana caranya untuk membalas budi. Dia akan bersikera suntuk mengunjungi mereka sesekali saat dia punya waktu. Dan dia tidak mempedulikan bagaimana pendapat ibunya tentang hubungannya dengan keluarga angkatnya.


Bagaimanapun tidak akan semudah itu dia melupakan mereka dan memutuskan hubungan setelah dua puluh tiga tahun bersama.


Selain itu dia selalu memberi mereka uang dan barang-barang tiap kali dia pulang. Pratiwi menyimpan uang pemberian Arimbi itu, dia tidak menggunakannya sama sekali.


Dia berniat untuk menggunakan uang itu sebagai hadiah pertunangan saat putrinya menikah nanti. Dia berpikir bahwa itu adalah cara terbaik untuk mengakhiri hubungan ibu dan anak diantara mereka.


“Kamu sekarang mulai bekerja Arimbi? Di perusahaan apa?” tanya Pratiwi.


“Di Rafaldi Group.” jawabnya singkat,


Adrian mengambil apel lain lalu mencuci dan mengupasnya sambil menggerutu, “Itu perusahaan keluargamu kan? Lebih baik kamu bekerja di perusahaan keluargamu sendiri. Paling tidak ayahmu bisa mengawasimu dan mengajarimu tentang perusahaan.”