GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 231. BERTEMU BAJINGAN ITU


Arimbi tertawa  mendengar perkataan Jordan karena memang orang itu adalah Emir. Suaminya tercinta yang sangat dia rindukan saat mengingatnya.


Lalu Jordan melanjutkan ucapannya, “Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja memancing itu membutuhkan kesabaran. Kesenangan dalam memancing bukanlah sesuatu yang bisa kamu nikmati dalam satu atau dua jam saja. Jika kamu memang sibuk dan tergesa-gesa, kamu tidak akan bisa melihat keindahan dalam memancing.”


“Aku tidak pernah suka memaksa orang. Jika kamu memang ada rencana lain, mungkin kita bisa makan saja dirumah tani. Aku harus mentraktirmu makan, setidaknya ya.” jawab Jordan lagi.


“Aku tidak bisa menerima tawaran anda Tuan Jordan. Seharusnya aku yang mentraktir anda. Biarkan aku yang membayar!”


Saat Jordan mendengar ucapan arimbi, dia yakin jika wanita itu akan pergi saat hari sudah siang dan itu membuatnya sedikit kecewa. Tapi dia tidak menunjukkannya. “Seharusnya aku yang membayar karena aku ini seorang pria.”


Arimbi tidak bisa mengelak itu. Setelah itu Arimbi sadar bahwa kemampuan memancingnya tidak terlalu bagus. Tapi karena dia duduk disamping Jordan, mereka berbincang-bincang selagi memancing.


Mereka akhirnya memasuki topik tentang kerjasama perusahaan. Akan tetapi, Jordan adalah orang yang cukup licik, dia tidak akan semudah itu menyetujui kerjasama dengan Rafaldi Group semudah itu, meski didalam hatinya dia sangat ingin.


Sudah lama sekali semenjak dia bertemu dengan orang seperti Arimbi. Bagaimana bisa aku bekerja dengannya tanpa mencobanya? Pikir Jordan.


Wanita ini terlalu mencintai Reza sampai-sampai menolak Tuan Emir. Aku bisa merasakan jantungku yang berdebar saat memikirkan bahwa aku mendapatkan kesempatan untuk makan bersama Tuan Emir dulu.


Jika aku bisa mendapatkan Arimbi, aku pasti bisa membalaskan dendam Tuan Emir. Dia akan menyesal telah melukai hati Tuan Emir. Untuk Reza….hah. Dia ingin bertanggung jawab kepada keluarga Zimena.


Jordan dan Arimbi melanjutkan perbincangan mereka, selagi Jordan memikirkan hal itu dalam kepalanya tiba-tiba ada suara yang memanggil Arimbi.


“Nona Arimbi?”


Suara itu tidak familiar terdengar dari belakang mereka dan Arimbi menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dia bertatapan dengan mata Reza yang gelap.


Apa yang dia lakukan disini? Memang dunia ini ternyata kecil. Aku tidak percaya bisa bertemu dengan pria bajingan ini, bahkan di tempat seperti ini pikir Arimbi.


Tampak seorang wanita berdiri disamping Reza, usianya sepantaran dengan Arimbi. Akan tetapi kulitnya tidak seperti kulit Arimbi. Dan tubuhnya juga tidak sebagus tubuh Arimbi.


Meskipun begitu, wanita itu memakai pakaian yang rapi dan sederhana. Tidak ada yang istimewa dengan wanita ini karena wajahnya juga biasa saja. Jauh dari cantik jika dibandingkan dengan Arimbi.


Meskipun dia mengenakan atribut mewah, dia tidak terlihat seperti orang kaya. Dia memiliki rambu bergelombang sampai dibahu. Arimbi menatap wanita itu seketika itu juga merasa gerah.


Wanita itu mengenakan gaun panjang yang sampai ke lutut menunjukkan betisnya. Dia juga memakai sepatu hak tinggi yang sangat tinggi.


Saat wanita itu berjalan kearah Arimbi, Arimbi berpikir apakah hak sepatu setinggi itu bisa menopang berat tubuh orang dan tidak patah?


Karena tanah disini tidak rata apakah dia tidak takut terkilir saat mengenakan sepatu seperti itu? Wanita ini benar-benar salah kostum, pikir Arimbi.


“Nona Arimbi!” wanita itu terlihat berbinar-binar selagi menghampiri Arimbi. Sedangkan Arimbi hanya berdiri dan tersenyum, “Nona Ruby, apa aku benar?” ujarnya.


Arimbi tidak pernah melihat Ruby di kehidupan sebelumnya, tapi kali ini dia bisa menebak akrena wanita itu bersama Reza. Reza ingin bertanggung jawab untuk Ruby dengan alasan utamanya sebagai pelarian dari Zivanna yang berencana untuk membalasnya.


Malahan dia akan mendapatkan kesempatan untuk membangun perusahaannya dengan bantuan PT. Lavani Indoraya.


Dan suatu saat nanti, Emir pasti akan tunduk kepadanya. Itulah yang direncanakan dan dipikirkan oleh Reza sehingga dia membuat keputusan menikahi Ruby dan menjadikan Amanda sebagai wanita simpanannya. Dengan Amanda masih berada disisinya dia berencana mengambil alih Rafaldi Group.


“Namaku Ruby Zimena!” ujar wanita itu memperkenalkan dirinya sebelum memperhatikan pakaian yang dikenakan Arimbi.


“Kenapa kamu berpakaian seperti itu?” tanya Ruby.


“Aku sedang bekerja!” jawab Arimbi.


“Apa kamu kerja dipinggir sungai? Kamu benar-benar orang yang lucu.” ujar Ruby selagi tertawa. Lalu dia melirik ember Arimbi yang masih kosong tak berisi seekor ikanpun.


“Apa kamu masih belum bekerja? Kamu tidak mendapatkan ikan sama sekali.” ujarnya mengejek.


“Benar sekali! Aku adalah orang yang cinta perdamaian. Karena aku hanya mengambil ikan yang rela dan bersedia ditangkap saja. Aku tidak suka memaksa mereka untuk ditangkap.” ucap Arimbi. Perkataannya itu sangat sarkas. Padahal dia memang belum berhasil menangkap ikan sejak tadi.


Tidak seperti Emir yang jago memancing, Arimbi tidak bisa menangkap satu ikan pun. Aku jadi merindukan bau ikan gorang, pikirnya dalam hati.


“Siapa pria yang bersamamu ini?” Ruby merangkul tangan Reza seakan-akan dia menunjukkan siapa yang berkuasa atas Reza.


Sedangkan Reza sendiri tidak berani melirik Arimbi sama sekali. Setelah Arimbi menghajar Reza waktu itu, dia merasakan tubuhnya tegang setiap kali dia melihat Arimbbi.


“Perkenalkan dia adalah Tuan Jordan dari PT. Libra Elektroindo. Saat ini dia adalah rekan memancingku.” Arimbi dengan singkat memperkenalkan Ruby pada Jordan.


Jordan hanya tersenyum tipis saat Ruby menyapanya. Lalu dia berbalik ke Arimbi dan bicara padanya, “Memancing itu tidak hanya belajar sabar. Memancing itu juga belajar diam. Kita tidak mau menakut-nakuti ikan-ikannya.”


“Benar juga!” ujar Arimbi dengan tersenyum. “Aku harus bekerja keras supaya bisa lebih jago lagi Nona Ruby!” ujarnya dengan nada agak menyesal. Dengan kata lain dia tidak mau Ruby mengganggunya.


Dia tidak dekat dengan Ruby di kehidupan sebelumnya. Dan dia juga tidak tahu seperti apa ruoanya namun setelah diberi kesempatan untuk hidup lagi, banyak orang dan banyak hal yang berubah.


Semangat kalau begitu.” kata Ruby dengan senyuman sebelum menoleh pada Reza. “Ayo kita memancing juga disina za. Kita akan punya teman karena Nona Arimbi ada disini juga.” ujar Ruby,


Arimbi memutar bola matanya dalam diam setelah mendengar kata-kata wanita itu. Sepertinya Ruby ini memang sengaja ya.


Apa dia pikir aku masih suka pada Reza? Dia tidak tahu kalau Reza sekarang gugupdan ketakutan? Dia mungkin takut setelah kuhajar! Hah! Pikir Arimbi mencibir. Arimbi berpikir mungkin Reza akan menolak ide Ruby itu karena dia takut padanya. Namun ternyata dia malah menanggapi Ruby dengan lembut, “Silahkan saja Ruby. Aku mengikutimu.” ujarnya.


Ruby pun tersenyum sombong sambil memelototi Arimbi yang membuat Arimbi tidak bisa berkata-kata lagi. Sepertinya mereka berdua tertusuk panah asmara. Reza ternyata lihai juga ya bila mencari perempuan.


Ketika Arimbi mengira kalau dia sudah tidak waras ketika mengejar pria itu dan pada akhirnya memiliki akhir hidup yang tragis. Dia tidak bisa menyangkal kalau pria ini memang tampan dan menawan.