
Pesan balasan berikutnya pun menyusul dikirimkan Emir, “Ya memang aku punya masalah dengan Keluarga kanchana. Apa aku tidak boleh ya? Kamu bilang kamu membenci Reza tapi kenapa kamu menemuinya? Kamu bahkan memberinya celah untuk melakukan itu padamu? Arimbi, jujur saja padaku, katakan kalau kamu tidak bisa melepaskannya, aku tidak mengekangmu. Kalau kamu mau bercerai dariku, MIMPI SAJA!”
Emir membalas pesan Arimbi satu persatu. Ketika Arimbi menerima balasan pesannya dia terdiam cukup lama. Dia membaca semuanya berulang-ulang. Pesannya memang mencerminkan kepribadiannya.
Arimbi merasa terhina tapi juga merasa aneh saat melihat kalimat ‘MIMPI SAJA’ apa maksudnya itu? Siapa juga yang mau bercerai? Bukankah sangat menyenangkan jika punya suami tampan dan kaya raya yang selalu memanjakannya? Arimbi tersenyum.
Di satu sisi Arimbi mendengus saat mengingat kehidupan sebelumnya setelah membaca pesan Emir. Bukankah dia mengulang kembali kehidupannya dengan keteguhan hati untuk mengubah tragedi pada kehidupan sebelumnya? Bukankah dia ingin menghancurkan reputasi Amanda dan Reza lalu meninggalkan mereka tanpa memiliki apapun hingga mati menyedihkan?
Semuanya baru saja dimulai tapi Arimbi sudah mau menyerah. Kemana perginya semua kepercayaan dirinya? Dimana hasrat balas dendamnya? Kenyataannya adalah Amanda jauh lebih kuat dari Arimbi dan Arimbi juga tidak mengulang kehidupannya dengan dilengkapi kemampuan yang hebat.
Dia harus melakukannya dengan perlahan tapi pasti, tidak ada jalan pintas baginya untuk bisa langsung mencapai puncak. Tapi Arimbi mulai memikirkan sesuatu yang menurutnya bisa membuatnya sampai di puncak tertinggi dan Amanda tidak bisa menghentikannya.
Saat hanyut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan muncul nama Emir yang menghubunginya. Arimbi langsung menjawab sebelum suami tampannya itu merajuk lagi.
“Emir, maafkan aku sudah mengecewakanmu.”
“Aku tidak mempedulikan itu. Sejak awal Rafaldi Group memang bukan milikku. Aku tidak peduli jika kamu tidak kuat untuk melawan mereka. Arimbi, masih banyak hal lain yang bisa kamu lakukan untuk sukses.” perkataannya Emir yang berusaha menenangkan Arimbi.
Mendengar itu Arimbi tidak bisa berkata-kata lain, dia tahu apapun yang terjadi suaminya akan selalu mendukungnya. Tapi dia ada ide dan mungkin dia akan membicarakannya dengan Emir dan meminta pendapatnya.
“Jam berapa kamu istirahat makan siang?”
“Setengah dua belas. Kenapa Emir?”
“Ayo makan siang bersama. Aku akan menyuruh Andi menjemputmu.”
“Emir, bagaimana kalau yang lain melihat kita? Nanti pasti----” Arimbi agak ragu.
“Kamu yang bilang aku suami tampan.” jawab Emir.
“Ya benar! Kamu sangat tampan Emir, kalau ada anugerah suami tertampan maka kamu pemenangnya. Cintaku padamu sangat besar dan tidak akan pernah berakhir. Seluas samudera dan mengalir seperti air di sungai. Hatiku dipenuhi oleh namamu.” Arimbi tersenyum menggoda suami tampannya. Dia menjulurkan lidah mengejek meskipun Emir tidak bisa melihat.
Meskipun mereka sedang bicara di telepon dan tidak bisa melihat satu sama lain tetapi Emir tahu kalau Arimbi sedang menggejeknya, “Kamu yang bilang aku tampan, bukan? Kenapa kamu tidak mau memamerkan suami tampanmu ini didepan umum? Apa kamu malu?”
“Emir! Kamu yang memintaku untuk tidak menunjukkanmu adalah suamiku. Kalau begitu siapa yang akan tahu kalau aku ini istrimu yang cantik jelita?” omel Arimbi mengerucutkan bibirnya.
Jika diperbolehkan, dia sangat ingin memamerkan suaminya pada semua orang. Meskipun Emir lumpuh tapi ketampanannya tiada tandingan. Arimbi merasa bangga bisa menikahi pria itu.
“Sejak kapan kamu jadi penurut padaku?” tanya Emir lagi.
Arimbi jadi kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Apakah Emir itu ingin dia mengumumkan hubungan mereka ke publik? Dia sendiri yang menyuruh Arimbi untuk merahasiakan pernikahan mereka tapi sekarang dia malah menyalahkan Arimbi karena tidak mengungkapkannya. Bukankah Emir juga tidak mengungkapkan identitas Arimbi ke publik? Benar-benar pria yang sombong!
“Kita akan makan siang di The Palm Bliss Hotel.” kata Emir.
“Baiklah, aku akan datang suami tampanku!”
“Dasar tukang makan!” ejek Emir.
Arimbi memang tukang makan bahkan jika Emir tidak menyukainya, dia tidak akan mengubah kebiasaannya itu untuk pria itu.
Di seberang telepon Emir tersenyum karena merasa senang dengan kata-kata Arimbi. Ketika mereka selesai bicara, dia sudah kembali ke ruang direktur dan tak berhenti tersenyum senang pada Aslan yang berdiri di seberangnya.
“Tadi ruang meeting kamu serius sekali seolah suasana hatimu sedang buruk. Aku sampai ketakutan tadi, tapi kenapa sekarang ekspresimu berubah draktis? Hanya karena sebuah panggilan telepon? Ayolah emir tersenyum lagi padaku.”
Emir bukannya menanggapi ucapan asistennya itu, dia malah melemparkan setumpuk dokumen tebal padanya. Untungnya Alsan berhasil menangkapnya. “Direktur Serkan! Semua dokumen ini adalah dokumen penting. Bagaimana bisa kamu membuangnya begitu saja? Kalau dokumen ini sampai rusak bagaimana?”
Aslan mencoba merapikan semua dokumen itu sebelum meletakkannya kembali didepan Emir. Sementara tangannya bekerja, dia tersenyum lalu bertanya, “Sepertinya kehidupan rumah tanggamu cukup harmonis? Aku tadi sempat mendengar kamu menyebut Rafaldi Group. Apakah istrimu adalah Nona Rafaldi?” wajah Aslan agak menggelap dan dia bersandar dimeja dengan hati-hati ingin memastikan kebenaran dugaannya. “Apakah istrimu adalah Arimbi Rafaldi?”
“Ya itu benar. Apa ada masalah kalau dia istriku?”
“Emir! Apa kamu sudah gila? Dia melakukan hal-hal ekstrem dan kamu masih berani menikahinya? Katakan padaku apa alasanmu menikahinya?”
“Kamu salah! Arimbi yang memaksaku untuk menikahinya.” jawab Emir santai.
Aslan semakin bingung. Dia terdiam untuk beberapa saat sebelum mengangkat tangannya dan menyentuh dahi Emir. Sepertinya dia tidak demam, suhu tubuhnya normal tapi kenapa dia jadi gila begini?
“Emir, badanmu tidak demam tapi kenapa pikiranmu kacau? Bagaimana bisa kamu menikahinya hanya karena dia memaksamu untukmenikahinya?”
“Simpel. Aku butuh istri dan dia butuh suami. Sesimpel itu, buat apa dibuat ribet?” jawab Emir.
“Sepertinya percakapanmu tadi menyenangkan? Aku bahkan bisa menebak kalau kamu memanjakannya.” ujar Aslan lagi.
Perkataan Aslan langsung membuat Emir diam dan berpikir. Memanjakannya? Bagaimana bisa aku memanjakan wanita tak tahu malu itu? Nakalnya minta ampun pula? Apakah aku memang memanjakannya?
Emir mengingat kebersamaan mereka akhir-akhir ini, dia pun mengakui kalau dia memang sudah memanjakan Arimbi. Kalau tidak maka sifat tak tahu malunya itu tidak akan semakin menjadi-jadi.
“Apa kamu ingat tindakan ekstremnya waktu itu? Kenapa dia memaksamu untuk menikahinya setelah itu?” tanya Aslan yang masih belum merasa puas. Dia merasa penasaran sekali.
“Karena aku tampan. Katanya aku suami paling tampan.” jawab Emir dengan percaya diri.
Aslan tak bisa menahan diri hingga tertawa terbahak-bahak. Dia tidak pernah membayangkan Emir akan mengatakan hal seperti itu dengan wajah datar dan tanpa emosi.
“Tertawalah sesukamu. Jangan tahan-tahan nanti perutmu sakit. Kita sedang sibuk dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, aku tidak akan membiarkanmu mengambil cuti sakit.”
Aslan pun langsung berhenti tertawa tapi tak lama kemudian dia kembali tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
“Aslan! Beri pelajaran pada keluarga Kanchana lebih kuat lagi. Lakukan dengan kejam.” ujar Emir setelah Aslan berhenti tertawa.
“Hah? Apa kamu bilang? Bukankah kamu yang bilang kalau kamu hanya ingin main-main saja dengan mereka. Kenapa sekarang kamu ingin memperlakukan mereka lebih kejam lagi?”
“Ini adalah pelajaran buat mereka. Lakukan dengan kejam dan perlahan-lahan buat mereka bangkrut.” ujar Emir dengan tegas dan tatapan yang serius.
‘Pelajaran itu akan menjadi akhir dari PT. Kanchana Semesat. Bisa-bisanya Reza mencoba mencium Arimbi? Dia pasti sudah bosan hidup! Hanya aku yang bisa mengecup bibir manis istri nakalku itu.’ gumam Emir didalam hatinya.