
“Jangan! Tidak…..kamu tidak boleh pergi Amanda. Jangan dengarkan kakakmu! Sudahlah, kamu mandi dulu lalu sarapan ya? Air hangatnya sudah ibu siapkan di kamar mandi, sarapannya juga sudah ibu buatkan yang enak buat kamu. Ayo…..ayo…..” Pratiwi menggandeng tangan Amanda keluar dari kamar menuju ke ruang makan.
“Lihatlah! Ibu sudah memasak semua makanan enak untukmu! Kami sudah sarapan, tinggal kamu saja yang belum. Kamu mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?”
“Aku mau mandi dulu bu.” jawab Amanda melangkah pergi ke belakang rumah dimana kamar mandi berada. Pratiwi hanya menatap putrinya itu sambil menghela napas panjang.
Adrian yang sudah kesal menyalakan sepeda motornya lalu pergi. Dia tahu jika ibunya sangat merindukan Amanda dan bahagia dengan kehadiran putrinya itu. Meskipun Adrian tidak menyukai Amanda tapi mau tidak mau dia harus mengalah demi kebahagiaan ibunya.
‘Fuuh! Datang hanya karena sedang ada masalah! Kalau bukan karena berita viral itu tak mungkin dia akan menginjakkan kakinya di desa ini!’ gerutu Adrian didalam hatinya sambil melajukan sepeda motornya menuju ke kota kabupaten untuk membeli tempat tidur baru.
‘Aku akan menghubungi Arimbi nanti! Mungkin dia bisa datang berkunjung kalau ada waktu. Ah…..lupakan saja! Aku tidak boleh mengganggu hidupnya lagi! Dia sudah kembali ke keluarga kandungnya dan dia juga sudah menikah! Dia bukan lagi adik kecilku!’ resah hati Adrian menghempaskan napas kasar.
...*******...
“Selamat pagi Nyonya!” tegur satpam saat mobil yang mengantar Arimbi berhenti didepan pintu masuk perusahaan. Sejak hubungan Emir dan Arimbi diumumkan, sikap semuanya karyawan di kantor pun langsung berubah. Tak ada lagi yang berani membicarkan hal jelek tentang Arimbi, berbeda dengan sebelumnya.
Para karyawan selalu menyanjung Amanda, apalagi setelah insiden dimana Amanda tertangkap bersama Reza semuanya langsung berubah. Tak ada seorang pun yang menyangka jika Amanda berbuat seburuk itu. Apalagi semua orang tahu jika dulunya Reza pernah menjalin hubungan dengan Arimbi. Hal itu sontak membuat reputasi Amanda rusak dimata para karyawan.
Apalagi setelah mereka mengetahui jika Arimbi adalah istri Emir, siapa yang berani? Menjadi istri Emir berarti menjadi wanita terkuat dan terkaya di kota itu. Tak ada yang mau terlibat masalah jika menyinggung Arimbi. Semua orang tahu betapa berkuasanya Emir yang terkenal kejam dan tak berbelas kasihan pada musuhnya.
Arimbi melangkah memasuki lobi dengan senyum ceria, bagaimana tidak? Pagi ini dia mendapat perlakuan manis dari suami tercintanya. Emir menghadiahinya satu set perhiasan mahal yang akan dipakainya untuk acara nanti malam. Belum lagi saat dia menerima notifikasi transfer uang saku hariannya.
Tak sedikitpun uang itu disentuh oleh Arimbi, bisa dibayangkan berapa banyak uang yang sudah tersimpan direkening pribadinya. Dia memasuki lift menuju ke lantai teratas dimana ruang direktur berada. Setibanya disana, dia melihat Sandra yang baru keluar dari lift disebelahnya. Asisten Amanda itu memandang Arimbi dengan senyum tipis tak senang.
“Selamat pagi Sandra! Wah, bukankah seharusnya kamu menyapa atasanmu duluan ya?”
“Apa kamu lupa kalau aku bekerja untuk Amanda? Aku bukan bawahan anda Nona Arimbi!”
“Salah! Bukan Nona! Tapi Nyonya Serkan! Kamu paham kan? Aku sudah menikah jadi panggil aku dengan Nyonya Serkan!” ujar Arimbi melenggang pergi.
Meninggalkan Sandra yang menatap tajam punggung Arimbi, kedua tangannya mengepal erat. Dia bergegas memasuki ruang kerja Sartika, sekretaris Direktur. “Selamat pagi Sartika!”
“Hm...tumben kamu sopan sekali pagi ini Sandra! Ada keperluan apa kesini?”
“Aku mau menanyakan pekerjaan. Apa ada tugas yang harus kulaksanakan? Mengingat aku masih asisten wakil direktur rafaldi.” ujarnya dengan dagu mendongak.
“Sartika! Aku mau tanya, sampai kapan wakil direktur Rafaldi cuti?”
“Soal itu aku kurang tahu! Kenapa tidak kamu tanyakan saja langsung pada wakil direktur Rafaldi? Bukankah dia atasanmu? Aku juga tidak tahu menahu soal lamanya dia cuti!”
“Tidak ada gunanya bicara denganmu!” dengus Sandra kesal karena dia juga tidak bisa menghubungi Amanda karena ponsel wanita itu tidak aktif. Dia juga hanya duduk diruang kerjanya karena semua pekerjaan Amanda diambil oleh Sartika dan dia juga tidak tahu siapa yang mengambil alih pekerjaan dan tanggung jawab Amanda selama dia tidak masuk kerja.
“Sandra! Jaga bicaramu! Kamu pikir kamu itu siapa disini? Ingat ya! Kamu itu hanya asisten disini!”
“Baiklah. Maaf. Kalau begitu aku pamit dulu.” dengan cepat Sandra meninggalkan ruangan itu bergegas menuju ke lift. ‘Huffff! Kenapa aku lupa kalau dia itu sekretaris pribadi Direktur Rafaldi? Aduh….jangan sampai dia mengadu pada Direktur Rafaldi!’
Hati Sandra mulai resah saat dia kembali keruangannya. Ruangan yang sepi karena hanya ada dia disana, tak ada satupun pekerjaan yang bisa dia lakukan. Akhirnya dia memutuskan bermain ponsel untuk mengisi waktunya. ‘Kenapa aku tidak diberikan pekerjaan ya? Aneh juga...tapi ya sudahlah anggap saja aku sedang menikmati waktu santai sampai Amanda kembali.’
Diruang meeting, para eksekutif sudah berkumpul begitu juga dengan tim pengacara Keluarga Rafaldi. Yadid memiliki tim pengaraca yang dibagi menjadi tim pengacara keluarga dan tim pengacara perusahaan. Dan saat ini keduanya hadir di rapat internal Rafaldi Group, rapat yang dilaksanakan secara tiba-tiba itupun mengundang tanya dari para eksekutif dan pemegang saham.
Diantara para peserta rapat itu ada wajah baru yang hadir. Semua orang menatap pria berwajah tampan itu dengan tatapan penuh tanda tanya karena mereka belum pernah melihat pria itu sebelumnya di perusahaan ini. Apakah pria itu salah satu eksekutif baru di perusahaan ini? Aura yang terpancar dari pria itu kuat dan wajahnya terlihat familiar.
Namun tak ada seorang pun yang tahu siapa pria muda itu. Pemuda itu adalah salah satu orang kepercayaan Emir yang merangkap sebagai pengawal dan juga asistennya. Setelah situasi Rafaldi Group yang sempat goncang membuat Emir mengambil keputusan mengirimkan salah satu orang terbaiknya untuk bekerja di Rafaldi Group membantu ayah mertuanya itu.
Saat ini kemampuan Arimbi masih jauh untuk bisa mengambil alih perusahaan. Mengingat kondisinya juga sedang hamil, Emir ingin agar istrinya itu tidak bekerja sementara waktu tapi Arimbi yang tak bisa hanya diam dirumah pun akhirnya dibiarkan tetap bekerja dengan syarat orang kepercayaan Emir akan berada disana bersamanya.
“Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah berkumpul disini. Rapat hari ini tidak akan memakan waktu lama. Saya persilahkan kepada Direktur Rafaldi untuk memulai rapat.” ujar Arimbi yang membuka rapat.
“Tanpa membuang waktu lebih lama, saya ingin mengumumkan hal penting. Tim pengacara saya hadirkan untuk menegaskan tentang pernyataan yang akan saya buat.” tanpa banyak membuang waktu lagi Yadid pun membacakan poin-poin penting rapat pagi ini, yang langsung membuat para peserta rapat membelalakkan mata dengan keputusan yang diambil Yadid.
“Pertama, dengan ini saya menetapkan ahli waris Rafaldi Group adalah putri kandung saya Arimbi Saraswaty Serkan. Kelak perusahaan ini akan dijalankan oleh Arimbi langsung jika sudah tiba waktunya. Yang kedua, posisi wakil direktur akan diambil alih oleh Renaldi Prawira dimulai sejak hari ini. Sesuai dengan keputusan saya sebagai Direktur Rafaldi Group maka Amanda Darmawan diberhentikan sebagai Wakil Direktur Rafaldi Group.”
Ruang rapat langsung riuh mendengar pengumuman mengejutkan itu, Amanda benar-benar dicopot dari jabatannya tanpa pemberitahuan. Bahkan Sandra pun tidak diundang untuk rapat sehingga dia pun tak tahu apa yang sedang terjadi.
Hai readers...makasih ya dukungannya. utk up bab selanjutnya author lanjut nanti malam ya. terima kasih 🙏🙏😘