
Emir memang sempurna dibanyak hal dan Arimbi tahu itu tapi pria itu sangat suka merundungnya. Meskipun sebenarnya Airmbi yang harus disalahkan kenapa Emir melakukan itu padanya. Dia telah menggali kuburannya sendiri dengan menolak lamaran pernikahan dan melukai pergelangan tangannya didepan pria itu. Meski semua sudah terjadi, Emir cukup baik untuk menjaga hidupnya bahkan membantunya beberapa kali.
Di pintu masuk gedung Rafaldi Group, Ardian sedang berdiri disalah satu sudut melihat kearah semua mobil mewah yang keluar masuk dari gedung itu. Dia begitu takjub dengan perusahaan besar itu, melihat bahkan pengunjung saja mengendarai mobil mewah. Dia memegang sebuah foto ditangannya.
Itu adalah foto Amanda sedang berdiri disamping sebuah mobil baru.
Pria itu tahu dari Arimbi kalau mobil didalam foto itu milik Amanda. Sebenarnya dia bahkan tak punya nomor telepon Amanda meskipun dia adalah saudara kandungnya karena Amanda merasa malu mempunyai keluarga yang miskin berasal dari pedesaaan.
Amanda bahkan tak pernah kembali ke keluarga Darmawan, dia juga menolak untuk mengakui orangtua kandungnya. Adrian merasa sangat tak senang dengan sikap Amanda tersebut. Orang tua mereka memang tidak membesarkannya tapi merekalah yang memberinya kehidupan.
Lagipula, tak ada satupun dari mereka yang bisa disalahkan atas tertukarnya kedua anak itu. Mereka juga adalah korban. Tapi Amanda tak mau berhubungan dengan keluarga Darmawan disegala hal.
Dimata Amanda, keluarga kandungnya itu tidak pantas jadi keluarganya. Saat ini matahri sangat cerah, siapapun yang berada diluar ruangan saat ini pasti sudah terbakar saking panasnya. Adrian melihat sekeliling sambil menggenggam erat foto itu, dia menunggu mobil yang ada di foto itu muncul didepannya.
Sedangkan Amanda tak tahu kalau saudara kandungnya ada ditempat yang sama. Dia pergi ke kantor tepat setelah meninggalkan villa milik Reza. Dari kejauhan dia melihat beberapa ornag berdiri didekat pintu masuk tapi hal itu sama sekali tidak mengganggunya. Meskipun Rafaldi Group tidak sebesar Serkan Global Group tapi perusahaan ini memiliki pengaruh yang cukup besar di Kota Metro.
Karena itu banyak orang yang berebut untuk bisa bekerja di perusahaan itu. Tiba-tiba seorang pria muncul entah darimana dan menghalangi mobil Amanda. Semua terjadi begitu cepat sehingga Amanda harus menghentikan mobilnya tiba-tiba agar tidak menabrak orang itu. Wajahnya berubah kalut, setelah beberapa menit dia tersadar dari keterkejutannya, Amanda keluar dari mobil.
Saat Amanda melihat kalau pria yang menghadangnya adalah Adrian, ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi murka, “Kalau kau ingin mati, jangan mati didepanku!” ucapnya dingin.
“Maafkan aku. Aku takut kau akan masuk kedalam sebelum aku sempat melakukan apapun.” ucap Adrian langsung meminta maaf. Dia sadar kalau apa yang dilakukannya cukup beresiko.
“Kenapa kamu ada disini? Mau wawancara kerja? Ini adalah kantor Rafaldi Group dan perusahaan ini hanya mempekerjakan orang-orang yang terbaik. Tidak ada posisi yang tersedia untukmu disini. Pergi dari sini, cari saja pekerjaan ditempat lain.” ucap Amanda dengan angkuhnya.
Amanda tahu kalau latar belakang keluarga kandungnya tak sebanding dengan Keluarga Rafaldi.
Kakak laki-lakinya Adrian itu hanya mempunyai ijazah SMA dimana jaman sekarang ini gelar bisa didapatkan dimanapun, hanya memiliki ijaah SMA tidak akan membuatnya bisa bekerja di Rafaldi group. “Jangan pikir aku akan memasukkanmu bekerja disini hanya karena hubungan kita. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi!”
“Amanda…..”
“Jangan berani kamu memanggil namaku! Panggil aku Nona Rafaldi! Paham kamu?”
Dia tidak akan pernah mau mencari Amanda kalau bukan karena ibunya yang diam-diam datang untuk mencari Amanda dan kehilangan uang dan ponselnya karena tak mengenal lingkungan sekitarnya sebelum akhirnya menjadi korban kecelakaan mobil.
Bahkan setelah masuk rumah sakit, wanita malang itu terus saja memanggil nama Amanda. Adrian tahu betul kalau Amanda membenci kemiskinan keluarganya dan menganggap mereka lebih rendah dan tak pantas untuk menjadi keluarganya.
Bahkan Arimbi yang asli putri kandung Keluarga Rafaldi tidak pernah memperlakukan mereka seburuk itu. Arimbi selalu mengunjungi mereka setiap bulan dan sesekali menelepon mereka dan mengirimi mereka uang.
Tapi Amanda…….dia tidak pernah melakukan itu semua dan tak mau peduli.
“Amanda, ibu ingin bertemu denganmu.” ucap Adrian, “Ibu kecelakaan saat datang kesini tanpa sepengetahuan kami. Walaupun dia sedang berada dirumah sakit, ibu selalu menyebut namamu. Luangkanlah waktu untuk menjenguknya. Ibu sedang dirawat di rumah sakit umum Metro.”
“Aku sibuk! Tidak punya waktu untuk hal tidak penting itu.” lalu Amanda berjalan kembali ke mobilnya dan mengambil tasnya. Dia mengambil segepok uang lalu menyerahkannya pada Adrian, “Ini uang untuknya. Katakan padanya kalau hidupku saat ini luar biasa. Orangtuaku memperlakukanku sama seperti Arimbi dan Arimbi juga menghargaiku seperti saudaranya juga.”
“Untuk kebaikanku, tolong jangan ganggu aku dan kembalilah pada kehidupan kalian di tempat kecil itu. Kau bisa mengatakan kalau keluarga itu punya masalah keuangan maka aku akan membantu selama aku mampu. Tapi jangan serakah ya dan berpikir kalau aku adalah telur emas kalian! Ingat, jangan pernah mengganggu hidupku.”
Ucapan Amanda membuat Adrian menjadi murka. Dia tidak mengambil uang itu tapi malah menampar tangannya dan dengan marah berkata, “Amanda Rafaldi! Aku tahu kamu memandang kami rendah tapi orang yang saat ini terbaring dirumah sakit itu adalah ibumu! Yang kecelakaan karena mau bertemu denganmu itu ibumu! Sekarang kamu bahkan tidak mau menjenguknya? Apakah kamu tidak punya rasa kemanusiaan?”
Setelah mengatakan itu Adrian mengambil uang dari tangan Amanda lalu melemparkannya ke wajah Amanda dengan penuh amarah. “Kamu jadi sombong karena uang ini kan? Kami tidak butuh!”
Arimbi selalu mengirimkan uang pada mereka sejak dia kembali ke orangtua kandungnya. Tak hanya itu, Arimbi terus saja mengirimkan barang-barang meskipun keluarga Darmawan telah menolaknya.
Begitupula dengan Yadid dan Mosha yang bersyukur kepada keluarga Darmawan yang telah merawat Arimbi dengan baik. Saat mereka menjemput Arimbi dari keluarga itu, mereka juga memberikan banyak uang sebagai ucapan terima kasih. Karena itulah keluarga Darmawan tidak kekurangan uang. Setelah melemparkan uang itu ke wajah Amanda, dengan marah Adrian berjalan pergi.
Sementara Amanda memasang wajah mengerikan. Dia takut merasa malu kalau ada orang lain yang menyaksikan apa yang dilakukan Adrian tadi padanya. Setelah hening beberapa saat, dia berbalik lalu duduk didalam mobilnya sebelum melajukan mobilnya kedalam gedung itu. Tak lupa dia mengingatkan satpam, “Usir orang itu kalau kamu melihatnya lagi. Jangan biarkan dia mendekati gedung ini!”
“Baiklah Wakil Direktur Rafaldi.” jawab satpam itu penuh hormat. Amanda pun melajukan mobilnya menuju parkiran.
Sedangkan Adrian yang pergi dengan marah menghentikan atksi bahkan saat didalam taksipun dia masih terbakar emosi. Hatinya merasa sakit dan kasihan pada ibunya yang sedang terbaring dirumah sakit tak bisa menemui putri kandungnya meskipun dia sangat ingin bertemu. Saat itu juag dia sudah tidak tahan lagi untuk menelepon Arimbi.