
Terlebih lagi, dia takut kalau Emir akan menyalahkannya jika Arimbi tidak ditemukan dimanapun. Hanya memikirkan tatapan dingin Emir saja sudah membuat tubuhnya gemetar seperti kesetrum listrik.
“Menurutmu apakah dia memanjat keluar melalui tembok?” tanya Beni. “Dia tidak terlalu mengenal tempat ini mungkin saja dia tersesat diluar. Kenapa tidak mencarinya diluar? Tapi jangan sampai Tuan Emir tahu masalah ini.”
“Apa kamu pikir dia bisa memanjat tembok?” Yaya memicingkan matanya ke tembok yang tingginya tiga meter itu. Beni mencoba menjelaskan kenapa dia memikirkan kemungkinan itu, “Nona Arimbi pernah ikut latihan lari saat dia masih kuliah, dia juga iktu latihan taekwondo dan sanda. Jadi masuk akal kalau dia bisa memanjat tembok. Sebenarnya Nona Arimbi mampu melakukan banyak hal yang tidak mungkin dilakukan wanita lain yang berasal dari keluarga kaya.”
“Mungkin dia sudah memanjat tembok dan keluar dari sini.” Yaya menyuruh semua pelayan untuk melakukan pencarian keluar rumah. “Cari dia diluar dan aku akan memeriksa rekaman CCTV.”
Saat dia berjalan keluar, dia melihat dua wanita sedang mengintip mereka dari balik pintu. Tepat pada saat itu juga Yaya tidak bisa berkata-kata setelah dia melihat sumber dari semua masalah yang dia dan para pelayan hadapi untuk menemukan Arimbi.
Yaya sadar kalau sejak tadi Arimbi berada dikamar Elisha, jika mereka tidak membuat keributan yang membangunkan mereka mungkin semua pelayan masih mencarinya sampai pagi.
“Apa yang sedang kalian cari Yaya?”
“Ehm, Nona Elisha….Tuan Emir ingin Nona arimbi pulang kerumahnya untuk membuatkannya makanan. Jadi dia mengirim Beni kesini untuk mencarinya tapi kami tidak menemukan Nona Arimbi dimanapun makanya saya menyuruh semua pelayan pergi mencarinya. Ternyata Nona Arimbi ada dikamar anda Nona.”
Elisha mendengus kesal, dia tidak berpikir kakaknya akan mengirim orang lain untuk menjemput Arimbi lebih dari setengah jam. Jika tidak, mungkin dia sudah tertidur pulas, apa yang kamu harapkan Emir? Orang-orangmu butuh waktu lebih lama untuk mencari istrimu, jangan salahkan aku atas hal ini.
“Nona Arimbi, Tuan Emir meminta anda membuatkannya makanan sekarang, saya mohon segera pulang bersama Beni. Jangan biarkan Tuan Emir menunggu lebih lama.” Yaya menghela napas lega dan mendesak Arimbi untuk bergegas kembali ke villa Emir.
Sepuluh menit kemudian Arimbi masuk kedalam villa dan disambut dengan tatapan dari pria yang sudah menunggunya diruang tamu. Arimbi berjalan ke dapur dan bertanya, “Kamu mau makan apa, sayang?’
“Aku tidak butuh apapun. Makanan itu hanya alasan untuk Beni menjemputmu dan membawamu pulang kesini. Pergilah ke kamarmu dan tidur.”
Arimbi berbalik dan menatap pria itu yang nampaknya berbeda malam ini. Lalu dia berjalan menghampiri Emir dan membungkuk membantunya untuk duduk di kursi rodanya sebelum mengantarnya ke kamar. “Itu bukan kamarku.” ujar Emir sesaat setelah Arimbi mendorong kursi rodanya menuju ke kamar Arimbi.
“Setiap sudut rumah ini adalah milikmu termasuk kamar ini.”
Emir terdiam seribu bahasa, dia tidak mengira Arimbi akan menjawabnya dengan kalimatnya sendiri. “Ada apa? Kamu malu sayang? Tenang saja semuanya akan baik-baik saja. Kita inikan sudah pernah tidur bersama sebelumnya. Bahkan lebih dari sekedar tidur.” bisiknya ditelinga Emir.
Kata-kata Arimbi membuat Emir terdiam dan telinganya nampak memerah.
Arimbi yang melihat rona merah itupun tertawa, dia merasa sangat menyenangkan pembicaraan mereka yang intim hingga membuat Emir malu. Keduanya pun berbaring di ranjang, malam ini Emir sulit tidur dengan Arimbi disampingnya.
Saat Emir sibuk berkeluh kesah karena susah tidur setelah bermimpi basah bersama Arimbi, sedangkan istrinya yang tak tahu malu itu justru tak henti-hentinya menggesekkan dadanya yang montok ke badan suaminya.
Kancing piyama Arimbi sudah terbuka sebagian dan memperlihatkan pemandangan indah yang membuat Emir pusing tujuh keliling. Dia merasakan kulit yang lembut dan kenyal serta aroma tubuh istrinya itu membuat Emir sangat ingin bercinta dengannya saat itu juga tapi dia terhambat karena kondisi kakinya. Biasanya istri tak tahu malunya itu yang bergerak duluan naik keatas tubuhnya.
Tapi malam ini Arimbi sibuk menggesek-gesek, hasrat Emir sudah semakin memuncak tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kecuali Arimbi yang berinisiatif dan bertanggung jawab penuh atas momen intim mereka.
Emir tahu kalau dia tidak bisa sepenuhnya menikmati percintaan mereka saat ini. Namun dia tak mungkin mengatakannya pada Arimbi, sebagai seorang pria seharusnya dia yang bergerak dan memuaskan istrinya bukan sebaliknya.
Sedangkan Emir tak ingin membicarakan hal itu pada Arimbi karena dia tak mau istrinya pikir kalau dia tidak bisa menikmati keintiman mereka. Apakah itu alasan kenapa dia selalu menyentuhku duluan?
Emir berusaha keras untuk bisa memejamkan mata hingga akhirnya dia pun bisa tidur pulas setelah bisa menahan hasratnya yang tak kesampaian malam ini. Keesokan paginya Arimbi bangun tepat pukul 6.30 pagi karena pola tidurnya yang teratus. Saat dia membuka matanya, dia sedang berbaring dilengan suaminya. Dia segera berguling ke samping dengan cepat karena takut akan dicekik oleh Emir.
Untungnya dia berhasil menyingkir tanpa membangunkan Emir karena dia tidur sangat lelap. Mata Arimbi turun ke bawah dan menyadari kalau kancing piyamanya terbuka dan bra nya sudah terlepas. Dia memakai bra yang pengaitnya dibagian depan sehingga mudah dibuka. Arimbi mengeryitkan dahinya lalu melirik suaminya yang masih lelap. ‘Apa anak nakal itu yang membukanya?’ matanya kembali turun menatap dadanya yang terdapat cap stempel peninggalan Emir.
Arimbi mengaitkan kembali bra-nya dan berbaring disamping Emir dengan malas-malasan. Hari ini hari sabtu dan dia tidak pergi bekerja. Dia memandang wajah tampan didepannya dan tidak bisa tidak mengaguminya yang sedang tidur. ‘Sangat tampan.’ bisiknya dalam hati.
Arimbi bergeser mendekati dan mencoba mencium bibirnya, namun saat bibirnya baru saja menyentuh bibir Emir, tiba-tiba mata pria itu terbuka menatapnya.
Karena terkejut, tanpa sadar Arimbi berguling menjauh dengan cepat sehingga dia terjatuh dari ranjang dan meringis kesakitan. Sementara dia meringis kesakitan dilantai, Emir duduk untuk melihatnya, saat dia melihat istrinya terduduk dilantai sambil meringis kesakitan membuat Emir tersenyum. Tapi saat Arimbi bangun Emir langsung menyembunyikan senyumnya dan terlihat biasa saja. “Hehehe.” kekehnya dengan tatapan datar dan dingin.
“Hehe….selamat pagi suamiku.”
“Senyummu terlihat konyol! Apa kamu membenturkan kepalamu hanya untuk membuatmu bodoh?”
Arimbi menggosok bibirnya, masih terasa sakit akibat jatuh. “Bibirku duluan yang terbentur ke lantai tapi kepalaku baik-baik saja. Aku masih waras.”
“Kenapa kamu bangun?” tanya Arimbi.
“Kenapa? Memangnya aku tidak boleh bangun? Apakah karena kamu mau mencabuliku didalam mimpiku?” Emir menggerutu. Dia kesal karena semalam dia susah tidur setelah mimpi bersama Arimbi.