GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 73. DIMANA BAYINYA?


“Halo, permisi!”


Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Arimbi menoleh dan melihat dua orang pria bersetelan hitam. Alisnya terangkat dengan waspada Arimbi bertanya, “Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Halo Nona Arimbi. Kami adalah pengawal dari Keluarga harimurti. Tuan kami ingin bertemu dengan Nona. Tolong ikutlah dengan kami.”


Para pengawal dari keluarga Harimurti? Dengan rasa curiga Arimbi pun bertanya, “Aku tidak mengenal tuanmu. Kenapa dia ingin bertemu denganku?”


“Anda telah menabraknya dan menarik dasinya tadi. Nona harus meminta maaf kepadanya. Ikutlah dengan kami Tuan bilang kami diperbolehkan untuk melakukan kekerasan kalau Nona tidak kooperatif. Nona tidak ingin kami berbuat begitu, kan?”


Ketika Dion Harimurti mendengar nama Arimbi, diapun menyadari kalau wanita itu adalah putri kandung keluarga Rafaldi yang mereka kenali setahun lalu. Kemudian dia dengan cepat menyuruh bawahannya untuk mencari tahu latar belakangnya dan membiarkan mereka membawa wanita itu.


Ekspresi Arimbi berubah saat mendengar apa yang dikatakan para pengawal itu. Pria yang tadi ditabraknya itu adalah kepala keluarga Harimurti, Dion Harimurti!


‘Tapi kenapa harus Dion? Aku melihatnya di kehidupan sebelumnya beberapa kali tapi kami tidak pernah mengobrol sebelumnya. Jadi kami bahkan tak bisa dibilang mengenal satu sama lain.’ gumamnya dalam hati.


Yang bisa diingat Arimbi hanyalah mata yang memikat milik Dion.


“Maaf, tapi aku tidak akan pergi dengan kalian. Jadi tolong katakan pada Tuanmu kalau aku akan meminta maaf di lain waktu.” ujar Arimbi menolak mereka karena dia tak tega meninggalkan ibu angkatnya yang sedang terluka. Dia juga belum siap untuk menemui ayah dari bayinya, pikirannya ini sangat kacau.


Bagaimana bisa dia tidur dengan Dion dimasa lalu? Arimbi tidak mengingat apapun tentang itu. Kalau dia yang mengambil keperawanan Arimbi kenapa dia tak bereaksi dalam pesta-pesta setelah Arimbi menikah dengan keluarga Kanchana dikehidupan sebelumnya? Ada begitu banyak misteri yang harus diungkapnya.


“Nona Arimbi! Tuan kami ingin bertemu dengan Nona sekarang. Tolong ikutlah dengan kami.” saat itu juga pengawal itu mulai bersikap tidak seramah tadi.


“Maaf! Tapi aku tidak bisa sekarang!” Arimbi masih menolak untuk pergi bersama para pengawal itu.


Kemudian para pengawal itu tampak akan memaksa Arimbi, hal yang tak mereka duga adalah Arimbi menyerang mereka tiba-tiba.


Para pengawal itu tak menyangka kalau Arimbi akan menyerang mereka. Di mata mereka, wanita itu adalah wanita lemah. Meskipun Arimbi menyerang, mereka tidak menganggapnya serius hingag salah satu dari mereka dilempar dengan bahunya lalu terjatuh ke lantai. Pengawal itu terbaring dilantai dengan wajah terkejut.


Rasa sakit lansgung menyebar keseluruh tubuhnya, saat tubuh bagian bawahnya membentur lantai dengan keras. Pengawal yang lain tercengang lalu menatap Arimbi. Arimbi bertepuk tangan, “Akan ku ulangi sekali lagi, aku tidak bisa pergi untuk meminta maaf pada tuan kalian! Akan kulakukan di masa mendatang saat aku punya waktu luand dan akan kubawakan hadiah untuknya sebagai permintaan maaf.”


Sikap para pengawal itupun berubah jadi lembut setelah dia membantu kawannya berdiri. Dengan sopan dia pun berkata, “Nona Arimbi, tolong pertimbangkan kembali dan jangan buat tuan kami kecewa. Dia adalah pria yang sibuk akan sulit baginya untuk mencari watu supaya bisa bertemu dengan seseorang.”


“Ibuku sedang berada dirumah sakit karena kecelakaan, jadi aku akan menemaninya. Kalianpun pasti punya orangtua kan? Apakah kamu akan meninggalkan mereka saat mereka membutuhkanmu?”


Sontak para pengawal itupun terdiam. Pengawal yang tadi dilempar ke lantai mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Dion. Ketika panggilannya dijawab, pengawal itu memberitahunya kalau Arimbi menolak untuk pergi dengan mereka dan menekankan kalau wanita itu tahu seni bela diri. Dia mengatakan kalau Arimbi dengan mudah bisa melempar seseorang dengan pundaknya jadi kemampuannya pasti luar biasa.


Si pengawal tak paham apa maksudnya setelah panggilan itu diputuskan tapi mereka tak berani pergi. Mereka juga tak berani menghentikan Arimbi memasuki bangsal. Mereka hanya berdiri diluar kamar pasien itu. Setelah beberapa menit, Dion Harimurti muncul di pintu masuk bangsal dikelilingi pengawal lain. Paar pengawal didekat pintu itu dengan hormat menyapa, “Tuan.”


Dion memberi sinyal pada pengawal untuk mengetuk pintu. “Siapa?” Adrian bertanya sambil membuka pintu, kemudian dia melihat barisan para pria bersetelan hitam di pintu. ‘Bukankah pria yang berdiri di tengah ini adalah orang yang ditabrak Arimbi tadi? Pikirnya.


“Halo, sedang mencari siapa?”


“Aku mencari Arimbi Rafaldi!” jawab Dion dengan nada dalam, “Minta dia keluar.”


“Boleh aku tahu anda ini siapa? Ada perlu apa dengan Arimbi?”


Mata Dion yang memikat berkedip melanjutkan dengan nada yang sama, “Dia menabrakku dan mencekikku. Dia belum meminta maaf padaku.”


Adrian terdiam sejenak lalu berkata, “Baiklah. Akan kuminta Arimbi untuk meminta maaf padamu.”


Sebenarnya Arimbi sudah melihat Dion dipintu tadi, dia tak menyangka pria itu akan mendatanginya langsung. ‘Apakah dia mengenaliku? Tapi Dion tampaknya tak ingat wajahku di kehidupan sebelumnya. Mana mungkin dia mengingatku sekarang?’ pikirnya. ‘Belum lagi dia bicara soal bayiku.’


Arimbi pun mulai merasa panik.


“Arimbi!”


Adrian menoleh dan memanggil saudarinya lalu mendapati bahwa Arimbi telah pergi dari sisi ranjang. “Arimbi!” teriaknya.


“Arimbi bilang dia merasa tidak enak badan dan pergi ke toilet. Adrian minta maaf pada ornag itu mewakili Arimbi.” kata Pratiwi dengan suara lemah. Wanita itu mendengar apa yang dikatakan Dion.


Wajar saja pria itu mengejar Arimbi untuk permintaan maaf dan wanita itu juga salah karena tak meminta maaf. Tatapan mata Dion terpaku pada Pratiwi yang berbaring diatas ranjang. Dia emngatupkan bibirnya dan berjalan memasuki kamar itu. Adrian tidak sempat menghentikannya karena para pengawal Dion sudah menghentikannya dan mendorong Adrian menjauh.


“Salam kenal nyonya.” Dion menyapa Pratiwi dengan sopan.


“Tuan, maafkan putriku yang tak meminta maaf padamus etelah menabrakmu. Aku akan meminta dia untuk minta maaf setelah keluar dari toilet.” ucap Pratiwi dengan suara lemah.


“Nyonya, aku mencarinya hanya untuk bertanya tentang satu hal.” ujar Dion yang menggunakan alasan meminta maaf hanya untuk bertemu Arimbi.


Dion memutar kepalanya dan menatap kearah toilet. ‘Apakah wanita itu merasa bersalah hingga bersembunyi didalam toilet? Apakah kami sungguh pernah tidur bersama dan memiliki anak? Aku ingin tahu semuanya apakah itu mimpi atau kenyataan.’


Dion muncul dirumah sakit hari ini karena dia memiliki mimpi yang sama seperti Emir akhir-akhir ini. Dia sempat berpikir kalau dia bermasalah, jadi dia berkonsultasi dengan seorang spesialis.