GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 41. EMIR CEMBURU


“Ingat! Kita sudah menikah jadi tidak perlu formalitas antara pasangan yang sudah menikah kecuali kau ingin menikah dengan Reza Kanchana!”


“Emir! Kamu cemburu ya?” Arimbi sengaja bertanya.


Emir terkejut langsung mematikan teleponnya dengan ekspresi muram.


‘Hah? Kok ditutup sih? Aneh banget ini orang!’ bisik hatinya. ‘Pria itu temperamen sekali, aku yakin semua pelayan di Villa Serkan pasti takut padanya.’


‘Ah ngapain juga dipikirin suami aneh kayak dia.’ Dengan cepat Arimbi berlari menyusul ibunya.


“Apa yang dikatakan Joana? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Apa kalian bertengkar?” tanya Mosha setelah Arimbi berada disamping ibunya.


“Tidak Bu! Kami baik-baik saja seperti biasa. Kami tidak pernah bertengkar kok. Joana sedang pergi liburan dan akan kembali beberapa hari lagi. Aku akan bertemu dengannya diacara ulang tahun Zivana nanti.” ujar Arimbi menjelaskan pada ibunya.


“Kamu harus datang ke pesta itu bersama Amanda. Kamu harus mencari lebih banyak teman nanti disana ya. Semakin banyak temanmu maka koneski mu pun semakin banyak. Orang-orang dilingkaran kita punya teman yang mendukung mereka jadi jika kamu bisa mempunyai banyak teman akan menguntungkan bagimu nanti saat kamu mengambil alih Rafaldi Group.”


Sejak Arimbi mengatakan pada ibunya kalau dia mau masuk ke perusahaan, Mosha mulai memperlakukan putrinya sebagai pewaris Rafaldi Group. Di masa lalu mereka telah berusaha keras untuk Amanda dan melatihnya untuk jadi pewaris perusahaan. Mereka tidak pernah mengira kalau anak mereka tertukar saat bayi, dan putri kandungnya itu tidak terbiasa dengan dunia bisnis.


Mosha masih merasakan kebencian pada pelakunya meskipun si pelaku sudah ditangkap dan menjalani hukumannya.


“Aku akan melakukannya Bu. Jangan khawatir.” ujar Arimbi tersenyum. Dia tidak pernah memberitahu ibunya bahwa setiap kali dia pergi bersama Amanda, para wanita-wanita kaya itu tidak akan pernah menjadi temannya. Mereka semua berkomplot bersama Amanda untuk melawan Arimbi dan menyaksikan Arimbi masuk dalam perangkap mereka dan mempermalukannya dan menghancurkan reputasinya.


“Nyonya, Nona….” sekretaris Yadid tersenyum menyapa keduanya sebelum mengantarkan mereka masuk menuju ke kantor direktur.


“Direktu Rafaldi dan Wakil direktur ada didalam. Apakah anda dan Nona Arimbi keberatan untuk menunggu?” tanya sekretaris itu sambil berjalan. “Atau saya bisa antarkan Nyonya dan Nona Arimbi keruang tunggu tamu untuk menunggu disana?”


“Tidak perlu! Kami disini untuk bertemu Direktu Rafaldi! Sejak kapan aku harus menunggu untuk bertemu dengan direktus?” kata Mosha dengan kesal.


Setelah melirik Arimbi, sekretaris itu langsung meminta maaf, “Nyonya Rafaldi, ini salah saya.”


Begitu sampai didepan pintu ruang direktur, si sekretaris mengetuk pintu kemudian terdengar suara Amanda dari dalam ruangan. “Masuk!”


Sekretaris itu lalu mendorong pintu hingga terbuka dan berkata, “Direktur Rafaldi! Wakil direktur Rafaldi, Nyonya Rafaldi dan Nona Arimbi ada disini.”


Pasangan ayah dan anak yang berada didalam ruangan itu terkejut dan serempak menoleh.


“Mosha! Arimbi! Apa yang membawa kalian berdua kemari?” Yadid berjalan menghampiri dengan senyum cerah diwajahnya dan menatap Arimbi dengan tatapan lembut.


“Ayah! Apakah kedatanganku dan ibu mengganggumu?”


“Oh tidak...tidak sama sekali! Kalian berdua datang diwaktu yang tepat karena aku dan Amanda baru saja selelsai berdiskusi. Ayo kita pergi makan di Palm Bliss Hotel!” kata Yadid penu semangat.


“Kenapa kamu mau makan siang disana? Biasanya kamu makan siang di Hotel Astro!” ucap Mosha.


Yadid menatap Arimbi dengan penuh kasih sayang, dia tersenyum dab menjelaskan, “Jarang sekali keluarga kita makan bersama diluar, apalagi dengan Arimbi. Karena hari ini kebetulan kita berkumpul disini, aku ingin mengajak putriku ke restoran terbaik.”


‘Selain itu Arimbi adalah putri kandungku dan Nyonya Muda di keluarga Serkan! Aku tidak mau dia merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri! Aku harus membawanya makan di restoran terbaik milik keluarga suaminya.’ bisik hati Yadid.


Yadid sengaja memilih restoran yang berada dihotel milik keluarga Serkan karena itu akan membawa pengaruh baik baginya. Bukankah putrinya sudah menikah dengan Emir? Kenapa harus membuang uang makan ditempat lain? Inilah yang disebut dengan istilah ‘Simpan barang-barang didalam keluarga’ artinya bahwa uang yang mereka habiskan untuk makan disana kan masuk ke kantong keluarga Serkan.


“Baiklah!” ujar Mosha tersenyum menatap suaminya. Dia mengira kalau suaminya itu sedang membujuk Arimbi setelah Mosha memarahi Yadid kemarin atas apa yang dilakukannya pada Arimbi tempo hari. Saat keluarga itu duduk di sofa, Amanda datang dengan empat gelas air hangat.


“Bu, apakah kamu dan Arimbi datang kemari setelah berbelanja?” tanya Amanda.


Amanda diam-diam menatap Arimbi, dia melihat wajah Arimbi yang sudah tidak bengkak lagi dan malah terlihat segar dan bersemangat. Dia tidak terlihat seperti orang yang dihukum ataupun dimanfaatkan setelah pindah kerumah keluarga Serkan.


“Tidak! Arimbi bilang dia ingin datang keperusahaan makanya kami kesini.”


Setelah meneguk airnya, Mosha menatap Yadid dan berkata padanya, “Suamiku, Arimbi ingin bergabung ke perusahaan jadi kamu harus mengaturnya untuk bekerja bersamamu.”


Mendengar ucapan ibunya, wajah Amanda langsung berubah tetapi dengan cepat dia berusaha menenangkan diri. Sementara itu Yadid memandang Arimbi dan bertanya, “Arimbi! Apa kamu sudah menanyakan hal itu pada Tuan Emir? Apa dia setuju jika kamu bekerja?”


Yadid tahu jika Keluarga Serkan mempunyai banyak aturan ketat, wanita yang menikah ke keluarga Serkan biasanya akan tinggal dirumah dan menjadi ibu rumah tangga.


Biasanya istri orang kayak tidak diizinkan bekerja karena mereka tidak kekurangan uang untuk dibelanjakan dan tidak memerlukan uang dari istri-istri mereka. Satu-satunya tanggung jawab mereka adalah memakai uang yang diberikan oleh suami mereka.


“Mengapa Arimbi perlu bertanya pada Tuan Emir? Dia bisa datang dan bekerja di perusahaan ini, inikan masalah pribadi keluarga kita?” Mosha menegur suaminya.


“Hanya perlu izin darimu saja! Meskipun keluarga kita menolak lamaran mereka, Tuan Emir sudah tidak mempermasalahkan lagi. Jadi Arimbi tidak berhutang apapun padanya! Dia tidak perlu izin dari Tuan Emir!” kata Mosha sedikit menaikkan suaranya.


Yadid memelototi istrinya itu, “Kamu tidak mengerti apa-apa!”


“Apa yang aku tidak mengerti?” balas Mosha dengan wajah masam.


“Tidak perlu tahu!” jawab Yadid.


Karena Emir telah melarang Yadid untuk memberitahu tentang hal itu, dia pun tidak berani mengatakan pada siapapun bahkan Mosha pun tidak diberitahunya. Karena dia tidak punya pilihan lagi, Yadid pun berusaha membujuk Arimbi agar mempertimbangkan keputusannya untuk bergabung di perusahaan.