
“Maafkan aku ya Bu. Seharusnya aku duluan yang menemui mama.” ujar Arimbi meminta maaf.
Arimbi terlalu sibuk adu mental dengan Emir sampai-sampai dia lupa untuk mengabari ibunya.
“Apakah Tuan Emir mempersulitmu? Bagaimana bisa ayahmu diam saja membiarkan anaknya dibawa pergi begitu saja?” Mosha menuduh suaminya tidak peduli pada anaknya sendiri.
“Bukan begitu bu. Emir tidak melakukan hal buruk padaku jadi mama tidak perlu khawatir ya?”
“Amanda bilang kalau Tuan Emir memintamu untuk bertanggung jawab atas sesuatu. Apa yang sduah kamu lakukan sampai membuatnya datang kerumah dan membawamu pergi?”
Setelah berpikir sejenak, Arimbi memutuskan untuk tidak memberitahu ibunya yang sebenarnya. Dia telah kehilangan surat nikahnya, bagaimana mungkin Mosha akan percaya padanya tanpa ada bukti?
“Bu! Ibu jangan khawatir ya? Saat tiba waktunya, aku akan menceritakan semuanya pada ibu. Aku baik-baik saja disini.” setelah terdiam sejenak, Arimbi melanjutkan bicara, “Ibu datang diwaktu yang tepat. Aku ikut ibu ya? Aku mau mengambil mobilku dan membawanya kesini nanti.”
Meskipun keluarga Serkan tidak kekurangan mobil tapi Arimbi adalah istri rahasia Emir dan dia tidak mendapatkan jatah mobil seperti layaknya para anggota keluarga Serkan. Untuk mempermudah aktivitasnya, dia harus pulang dan mengambil mobilnya untuk dia pakai sebagai transportasi sehari-harinya. Arimbi berniat akan mulai mencari aktivitas atau bekerja agar dia tidak bosan dirumah saja.
“Arimbi sayang, apa kamu tidak bisa tinggal dirumah kita saja?” tanya Mosha sambil menggandeng tangan Arimbi berjalan menuju mobilnya. “Jika kamu tidak mau mengatakan semuanya sekarang, tidak masalah jika ibu harus menunggu. Tapi aku pikira tidak baik bagimu untuk tinggal di Villa Serkan. Mereka mungkin masih mengingat penolakanmu waktu itu. Tuan Emir juga bukan orang yang mudah. Ibu takut…...”
Mosha tidak melanjutkan kalimatnya dan terdiam sejenak lalu dia mengubah topik pembicaraan. “Arimbi! Sebelum aku datang kesini aku mendapat pesan dari Nyonya Kanchana. Dia bilang dia sudah menentukan tanggal untuk pesta pertunanganmu dengan Reza, ditanggal enam bulan depan.”
Setelah memasang sabuk pengaman, Mosha bertanya, “Apa kamu yakin tidak mau menikahi Reza? Jika kamu memang tidak mau, ibu akan menolak Nyonya Kanchana dan membatalkan pertunangan.”
“Bu, tolong tolak pertunangan itu. Aku tidak akan menikah dengan Reza!” ucap Arimbi tegas.
Mosha sangat terkejut mendengar ucapan tegas anaknya.
‘Ada apa dengan Arimbi? Kenapa tiba-tiba dia menolak menikah dengan Reza? Bukankah dia yang mendatangi kediaman keluarga Serkan untuk menemui Emir dan mencoba bunuh diri untuk menggagalkan pernikahan?’ bisiknya dalam hati.
“Arimbi? Kamu serius? Apa kamu sudah memikirkannya?”
“Bu, aku sadar dan tahu apa yang aku lakukan. Dulu aku memang pernah menyukai Reza! Tapi aku merasa kalau dia bukanlah orang yang bisa kupercaya untuk jadi teman hidupku. Aku berada dirumah setelah kejadian itu, dia bahkan tidak peduli padaku. Dia tidak pernah menghubungiku dan menanyakan kabarku apalagi mengunjungiku. Dia sama sekali tidak menyukaiku jadi tidak mungkin aku bisa bahagia jika menikah dengannya!”
Mosha merasa lega mendengar penjelasan putrinya, lalu meraih tangan Arimbi dan menghiburnya. “Arimbi, ibu sangat senang kamu bisa berpikir dewasa. Akan sulit bagimu untuk menghadapi keluarga licik seperti seperti keluarga Kanchana itu. Meskipun Reza terlihat seperti pria yang pandai dan baik tapi seperti yang kamu bilang tadi, dia tidak peduli padamu. Baiklah kalau begitu ibu akan menolak rencana pertunangan dari Nyonya Kanchana! Kamu tidak perlu khawatir lagi, oke?”
Mosha mengelus pipi anaknya dengan lembut, “Anakku adalah anak yang baik, kamu bisa mencari suami yang lebih baik daripada si Reza itu!”
Ibu dan anak itu pun pergi meninggalkan Villa Serkan tapi ditengah jalan Arimbi berubah pikiran dan meminta ibunya untuk pergi ke gedung Rafaldi Group.
“Kamu benaran mau ke perusahaan?” tanya Mosha yang merasa terkejut dengan permintaan Arimbi. “Apa yang membuatmu ingin pergi ke perusahaan? Dulu kamu selalu menolak untuk masuk ke perusahaan dan membantu Amanda mengurusi perusahaan dengan alasan kamu tidak tahu apa-apa mengenai bisnis.”
Dulu Mosha dan Yadid pernah meminta Arimbi untuk mengurusi perusahaan karena dia adalah putri kandung mereka dan pewaris dari perusahaan itu. Mereka ingin Arimbi mengambil alih perusahaan dari Amanda sehingga mereka tidak terlalu bergantung pada Amanda untuk mengurusi perusahaan.
Tapi waktu itu Arimbi selalu menolak sehingga kedua orang tuanya berhenti membujuk Arimbi untuk masuk kedunia bisnis. Akhirnya mereka terpaksa mengandalkan anak angkat mereka, Amanda.
Sesungguhnya Mosha tidak menyukai jika Amanda mengambil alih perusahaan. Ketika dia melihat kedua anaknya akur, dan Amanda sepertinya menjaga Arimbi. Mosha pun memutuskan untuk memberikan Amanda setengah saham perusahaan saat mereka pensiun nanti. Dengan begitu Amanda bisa melanjutkan perusahaan dan otoritas perusahaan berada ditangan Arimbi.
Dengan Amanda yang mengatur perusahaan maka Arimbi bisa hidup dengan damai. Mosha berpikir dengan cara itu kedua anaknya akan memiliki masa depan yang indah, Mosha berhenti meminta Arimbi untuk mengambil alih perusahaan. Tapi sekarang, dia terkejut dan tidak menyangka kalau Arimbi mau pergi ke perusahaan yang dulu selalu dihindarinya.
“Ibu, ini kan perusahaan kita. Apakah aku sebagai anak kandung keluarga Rafaldi tidak boleh pergi kesana ya?”
“Hahahaha….tentu saja bisa, sayang. Aku hanya sedikit terkejut. Dulu setiap kali aku memintamu untuk mengunjungi perusahaan, kamu lebih memilih untuk menjadi guru piano dan bekerja untuk orang lain ketimbang mengurusi perusahaan kita.”
Arimbi merasa bersalah setelah mendengar penuturan ibunya. Dia telah mengecewakan orang tuanya karena dia selalu menolak untuk memasuki perusahaan milik orang tuanya. Semua ini karena dia tidak memahami manajemen bisnis dulu dikehidupan sebelumnya. Tapi dikehidupan sekarang. Arimbi benar-benar orang yang berbeda.
Dia harus mempelajari bisnis untuk membuatnya kuat agar bisa mengambilalih perusahaan supaya tidak jatuh ke tangan Amanda dan Reza.
“Bu, setelah kupikir-pikir, aku ingin belajar manajemen bisnis. Apakah ayah bersedia untuk mengajariku?” tanya Arimbi dengan serius.
Mosha merasa sangat bahagia mendengar itu. “Tentu saja dia akan bersedia! Apa yang kami takutkan adalah kamu tidak akan pernah mau belajar tentang perusahaan. Nah, karena sekarang kamu mau belajar jadi ibu juga bisa kembali keperusahaan untuk mengajarimu langsung!”
Saat Mosha menikah dan masuk kedalam keluarga Rafaldi, dia harus masuk ke dunia bisnis dan membantu suaminya menjalankan perusahaan tapi seiring berjalannya waktu, dia menjadi ibu rumah tangga setelah dia hamil dan fokus merawat anaknya.
“Arimbi, apa kamu benar-benar mau belajar cara mengatur perusahaan? Mengambil alih perusahaan tidak semudah yang kamu pikirkan. Dan pasti akan lebih sulit bagimu karena kamu tidak mempunyai pengalaman sama sekali! Kamu harus memikirkannya baik-baik sebelum memberitahu ayahmu.”
“Bu! aku tidak takut akan segala rintangan yang akan kuhadapi kelak! Selama ibu mau memberiku kesempatan, aku akan belajar. Jika Amanda saja bisa, sudah pasti aku pun bisa!” ucap Arimbi berjanji.
Mosha melirik Arimbi dan tersenyum. Akhirnya putrinya mengambil keputusan tepat untuk masa depannya. Mosha pun merubah rute perjalanannya dan mengarahkan mobilnya menuju ke gedung Rafaldi Group.