GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
5. Tulang Manusia


Atash mendelik kaget. Tak salah lihat, sebuah benda di antara bahan kerjaannya, artefak misterius sedang berada di tangannya itu sangat menyita konsentrasi. Cepat-cepat Atash menggeser kursi di dekat meja otopsi, kemudian ia duduk. Tak sabar lekas-lekas menyimpulkan kiranya benda itu benar-benar sebuah tulang.


Atash tak menambah daya lampu. Tidak suka cahaya terlalu terang. Bekerja di ruangan bawah tanah yang hening dan tenang, menambah fokus dan kepandaiannya dalam pekerjaan misterius.


Ctash!


Suara elektrik lampu sorot dinyalakan, fokus pada benda-benda di meja. Akhir-akhir ini, lampu medis 6000 watt mengalami gagal sewaktu-waktu. Satu set berisi enam bola lampu, salah satunya agak redup, sedikit rusak. Belum sempat diperbaiki.


Sebungkus besar plastik hitam, menyimpan benda-benda tak karuan. Belum terindentifikasi semua isinya. Secara kasar, benda-benda itu wujudnya menyerupai bebatuan berlumut.


Sekilas saja, Atash dapat memperkirakan bahwa sebuah benda yang sedang disentuh adalah sisa tulang membatu. Namun yang lebih mengejutkan, itu bukan tulang hewan.


"Leher manusia?" Atash mengernyitkan dahi. Semula dikiranya, itu tulang hewan. Namun mata mikroskop digital menangkap struktur tulang itu bukan jenis hewan, melainkan tulang leher manusia!


'Bip ....'


'Bip ....'


Suara ponsel pertanda pesan singkat masuk, menyita sebentar perhatian Atash. Segera ia membaca pesan singkat itu.


'Proyek Jawata.'


Begitu pesan singkat dibaca. Pertanda kata kunci atas proyek pekerjaan yang sedang ditangani. Pengirim pesan itu atas nama kontak 'Big Bos'.


Atash pun membalas.


'Proyek Jawata. Aku memperkirakan benda temuan kode 016, sebuah tulang leher manusia.'


Terkirim ke salah satu nomor tujuan dan segera ia mendapat balasan.


'Bisakah menemui aku hari ini? Aku juga mengidentifikasi kerangka manusia.'


Balas pesan dari 'Big Bos'.


Atash berpikir sebentar. Rekan kerja serupa dirinya, sekaligus atasannya, nama sebenarnya Bobby. Disimpan dengan nama kontak di ponsel sebagai Big Bos. Dia satu-satunya orang lain di tempat berbeda, juga menangani proyek kerja yang sama.


'Sekarang?'


Balas Atash, walaupun keberatan.


'Ya.'


Balas pesan singkat itu.


'Aku sangat sibuk.'


Balas Atash.


'Sangat penting. Tidak bisa ditunda,' pesan Big Bos membuat Atash menghela nafas panjang. Permintaan sekaligus perintah atasannya sebenarnya mengganggu saat itu, padahal belum 30 menit lalu pekerjaannya baru saja dimulai.


'Aku tunggu 2 jam lagi.'


Tambah pesan dari Big Bos.


'Baiklah.'


Balas Atash, tak dapat menolak lagi selain mengiyakan saja. Selang beberapa detik berikutnya, sebuah pesan lain masuk.


'Selamat pagi, Atash. Apa kabar hari ini?'


Terlanjur membaca. Artinya, mode pesan status read. Pengirimnya, Shinta.


'Ada waktu luang hari ini?'


Lanjutan pesan dari Shinta.


Atash menghela nafas lagi. Sedikit menyesal akibat refleks jarinya memencet tombol hingga tanpa sengaja masuk ruang chat antara dia dan Bu Shinta.


Sangat sibuk, tak sempat Atash mengetik pesan balasan sekedar menjawab chat dari Shinta. Atash membuka sarung tangannya. Melepas baju khusus otopsi. Hendak bergegas pergi dari ruangan itu untuk memenuhi panggilan Big Bos di suatu tempat lumayan jauh dari rumahnya. Menempuh perjalanan ke sana, butuh waktu sedikitnya 1 jam mengendarai mobil.


Lampu sorot ruangan dimatikan. Namun benda-benda 'pekerjaan' tetap dibiarkan begitu saja. Berburu waktu sesegera mungkin. Tiba-tiba bayangan samar-samar muncul dari balik pintu masuk yang agak terbuka.


Atash tersadar, ternyata sejak tadi pintu masuk tidak tertutup rapat. Sesosok bayangan bergaun Lolita Merah, sekelebat tampak dari balik ambang pintu. Atash tahu itu siapa.


"Ada apa?" panggil Atash, melihat ke arah pintu itu.


Krieet ....


Suara pintu dibuka perlahan lebar. Tampak seseorang bergaun Lolita Merah, tidak lain adalah Aria.


"Kenapa menggangguku?" tanya Atash.


Ruangan bawah tanah, khusus hanya untuk pekerjaan Atash. Sekalipun adiknya, tidak boleh masuk. Apalagi orang luar. Bidang pekerjaan menuntut privasi yang tinggi dan tidak sembarang orang boleh masuk.


"Kata Kakak, ingin lebih mengenal aku?" jawaban Aria lagi-lagi aneh. Atash tentu sudah mengenal adiknya itu sejak Aria masih dalam kandungan ibu mereka.


"Apa maksudmu? Ada-ada saja," jawab Atash, sedikit mengabaikan dan membelakangi Aria mematung di ambang pintu. Sebentar Atash menggantungkan baju otopsi di tempat hanger seperti biasanya.


"Eh, kenapa masuk?" kaget juga Atash dibuatnya. Hampir tak terdengar langkah kaki, tiba-tiba Aria sudah di dalam ruangan.


Lebih terkejut lagi, baju yang dikenakan Aria menyita perhatian Atash.


"Kamu memakai baju konser itu lagi?! Bukannya baju itu sedang di laundry?" lagi-lagi Atash tak habis pikir. Baju Lolita Merah yang dikenakan Aria beberapa hari lalu dalam acara konser, saat ini sedang masa pencucian di tempat laundry, belum diambil atau diantar ke rumah.


"Aria? Ada apa?" Atash heran, naik alisnya. Raut muka Aria tampak sendu, serius mengamati benda-benda di meja otopsi. Rambut Aria terurai panjang, agak bergelombang. Ujung bagian depan sampai menjuntai ke meja.


"Aria?"


Karena tak peduli sebelumnya, Atash memanggilnya lagi.


"Aria?" Atash heran.


Aria tak berhenti mengamati setiap benda-benda tertata di atas meja otopsi. Satu yang paling diperlukan istimewa, ditaruh di dalam wadah berselimut kain putih.


"Jangan sentuh!" Atash keburu mencegah sebelum tangan Aria hampir menyentuh benda di dalam satu wadah stainless tertutup kain putih itu.


"Aria, kembali ke tempatmu," pinta Atash.


"Ini ruang kerjaku," lanjutnya tegas.


"Kakak bilang, ingin mengenalku lebih banyak," balas Aria. Kalimatnya masih sama. Terdengar janggal.


"Tulang leher manusia," kata Aria, lirih suaranya, sambil melirik wadah tertutup kain putih. Atash sontak kaget.


"Kamu mengintip aku bekerja?" tak disangka, adiknya memperhatikan dia selama 30 menit sebelumnya, mengutak-atik benda pekerjaannya yang sekarang berada di balik wadah tertutup kain putih.


"Jangan sampai ada jejak sidik jari. Jangan ada tangan lain menyentuh benda-benda pekerjaanku," begitu kata Atash akhirnya menjelaskan privasi ketat di ruang kerjanya.


"Ayo, kembali ke ruangan-mu," agak memaksa, Atash menarik lengan Aria agar segera pergi dari sana.


"Aku juga ada urusan keluar," lanjut Atash. Tapi tubuh Aria bergeming, seakan enggan bergerak. Lengan adiknya terasa sedingin es.


"Kamu sakit?!" Atash jadi panik. Tidak biasanya Aria mendadak aneh begini.


Prang ...!


Tak sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara seperti benda pecah dari ketinggian. Atash terkejut bukan main, segera ditariknya lengan Aria. Mereka cepat-cepat keluar dari ruangan kerja bawah tanah. Tak lupa mengunci pintu. Atash menaiki tangga selangkah demi langkah.


"Sssh ...," sebentar Atash menoleh pada Aria di belakangnya, menaruh jari telunjuk di depan mulutnya sendiri. Penuh hati-hati, Atash menaiki tangga pelan-pelan.


Suara benda pecah. Siapa atau apa kiranya, selain mereka berdua di rumah, yang membuat suara seperti benda pecah. Sangat membuat Atash waspada.


'Mungkinkah ada maling masuk rumah di pagi begini ...?'


Pikir Atash, sambil berjinjit naik tangga. Sesampai di lantai atas, suasana hening tak ada siapapun selain dirinya. Kecuali sosok tubuh mengenakan piyama merah, tengah berdiri di ujung anak tangga menuju lantai berikutnya.


"Aria?!" Atash mendelik matanya.


Terkesiap.


"Aku haus ...," ternyata Aria, sosok yang berdiri di ujung anak tangga itu, tatap matanya mengarah ke bawah lantai dengan rasa bersalah. Pecahan gelas berserakan. Rupanya, ia mengambil air dari dispenser.


'Jika Aria berdiri di sana, lalu siapa yang ditarik keluar bersama dari ruangan kerja?'


Pikir Atash heran, menoleh sebentar ke arah belakang, sepintas lalu, Aria mengenakan Lolita Merah, keluar bersama Atash dari ruangan itu. Tetapi sekarang, tak ada siapapun di belakangnya, anak tangga dari lantai bawah tampak kosong.


'Ah ...!'


Atash paham. Sepertinya, ada yang tengil mengganggunya pagi-pagi begini. Namun ditepis pikiran itu.


"Bukannya di lantai atas juga ada dispenser?" kata Atash pada adiknya. Sama sekali tak paham, kenapa adiknya turun hanya demi segelas air. Padahal di lantai atas, ada juga dispenser lain yang tersedia.


Atash melangkahi serpihan gelas kaca, hendak mengambil sapu untuk membersihkannya. Tetapi sapu ada di lantai atas. Ia terlebih dahulu melewati Aria berdiri di ujung anak tangga.


Sesampai di lantai paling atas, Atash mengambil sapu ijuk sekaligus wadah sampah. Cepat-cepat ia berniat kembali ke lantai bawah. Namun ada yang mengejutkan. Pintu kamar adiknya tertutup, terdengar Aria melatih vokal dari dalam kamarnya.


"Aria!" panggil Atash sambil mengetuk pintu beberapa kali. Pintu dibuka dan wajah adiknya menyambut dari balik pintu.


"Ya?" raut penuh tanya, Aria menatap kakaknya di depan pintu sambil memegang sapu ijuk dan sampah.


"Bukannya kakak sedang bekerja di bawah?" Aria malah heran.


'Jika Aria di kamarnya, siapa yang mengenakan piyama merah, berdiri di anak tangga lantai bawah?'


Atash menyembunyikan kaget dalam benaknya.


"Tidak apa-apa," Atash menutup pintu kamar adiknya. Tanpa ambil pusing, dia menuruni anak tangga. Tidak ada siapapun ketika melewati anak tangga menuju lantai dasar. Bahkan tidak ada pecahan gelas yang hendak dibersihkan. Seluruh ruangan di lantai itu bersih, sunyi hening. Tak ada tanda-tanda gelas pecah.


"Ini caramu berkenalan?" berbicara sendiri, Atash paham, "Baiklah, mari kita berkenalan!"


Tersungging senyuman dokter forensik itu menjawab keheningan ruangan.


...* * *...