GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 270. PERTEMUAN KELUARGA


“Emir! Hanya untuk makan malam bersama Keluarga Rafaldi, kamu meminta kami segera pulang? Ibu tidak menghentikanmu menikah tapi kami ini orang tuamu. Jika kamu ingin mengundang mereka, tidak perlu meminta kami segera pulang dari liburan kami!”


“Ibu! Sekarang Arimbi adalah istriku dan keluarga Rafaldi adalah mertuaku. Karena aku dan Arimbi sudah resmi menikah maka ada baiknya jika kedua keluarga bertemu. Apakah ada yang salah dengan itu bu?” ujar Emir. “Apakah liburan itu lebih penting daripada bertemu dengan orang tua Arimbi?”


“Emir, kamu bisa mengundang mereka datang meskipun kami tidak ada disini. Kenapa harus mengganggu waktu liburan kami hanya untuk sebuah makan malam?” ujar Rania dengan kesal. Dia tidak menyukai Arimbi dan tak ingin bertemu dengan keluarga Rafaldi. Dia merasa sakit hati karena merasa Arimbi sudah merebut anaknya darinya.


“Ayah dan ibu bisa pergi liburan lagi setelah semuanya selesai disini! Katakan kemana lagi ibu mau liburan? Aku akan memesankan tiket dan hotelnya. Tapi untuk sekarang ini, aku harap semua keluarga bisa berada disini! Tapi bagi siapa yang keberatan untuk menahan diri untuk tetap tinggal disini, silahkan pergi! Tapi jangan harap aku akan memberikan tunjangan bulanan lagi!”


“Emir!”


“Aku tidak pernah meminta apapun dari keluargaku selama ini. Ini pertama kalinya aku meminta keluargaku untuk menghargaiku dan istriku. Menghargai mertuaku, apakah seperti ini sikap kalian semua? Jika kalian tidak bersedia melakukan apa yang kuminta dari keluarga, maka kalian tidak perlu menghadiri pernikahanku nanti!”


“Apa kamu bilang? Pesta pernikahan?” suara Nenek Serkan terdengar bergetar. Dia sama sekali tidak menyangka jika cucu kesayangannya melakukan semua tanpa membincangkan terlebih dulu dengannya. “Aku tidak setuju jika kamu mengadakan pesta pernikahan!”


“Kenapa nenek? Apakah nenek masih berpikir untuk mengusir istriku saat aku sudah bisa berjalan nanti? Baiklah….kalau memang itu kemauan nenek. Lalu perempuan mana yang akan nenek berikan untuk menggantikan posisi Arimbi? Apakah perempuan itu hanya datang disaat aku sudah bisa berdiri? Cih! Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Arimbi sebagai istriku dirumah ini! Aku akan mengadakan pesta pernikahan untuknya dan mengumumkan kepada dunia Nyonya Serkan yang baru!”


“Nenek, sebaiknya nenek mengetahui batasan dan berhenti memikirkan cara untuk mengusir Arimbi dari sini! Karena aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi! Aku hanya akan menikah sekali didalam hidupku. Meskipun jika Arimbi meninggalkanku, aku tidak akan pernah menikah lagi!”


“Emir! Apa kamu sudah gila? Masih banyak wanita dari kalangan atas yang lebih pantas menjadi menantu dirumah ini! Tidak masalah jika Arimbi tinggal disini, aku tidak akan menghalanginya. Tapi….”


Tidak ada perempuan lain yang akan menjadi Nyonya Serkan! Tolong hargai perasaan istriku, apakah kalian pernah berpikir jika suatu hari nanti ada keluarga lain yang akan memperlakukan Elisha seperti kalian memperlakukan Arimbi? Apakah kalian akan senang?”


Diam. Suasana ruangan itu hening tak seorangpun yang berani berkata-kata. Elisha yang sejak tadi diam, kini menatap kearah Emir. Dia merasa tersentuh dengan perkataan saudara laki-lakinya itu yang sangat peduli padanya. Lagipula apa yang diucapkan Emir itu ada benarnya.


“Sebentar lagi keluarga Rafaldi akan datang, aku hanya meminta kepada kalian semua sebagai anggota keluarga Serkan untuk menghormati mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Kapanpun mereka datang berkunjung, aku harap tidak akan ada yang mempersulit mereka. Jika kalian tidak mengindahkan perkataanku ini, itu berarti kalian tidak menghargaiku.”


“Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik tentang pesta pernikahanmu! Memang wajar jika semua orang tahu siapa yang kamu nikahi, tapi saranku untuk saat ini sebaiknya tunda dulu pernikahan. Toh kalian berdua sudah mendaftarkan pernikahan.” ujar Nenek Serkan yang masih kekeuh ingin menghalangi diadakannya pesta pernikahan.


Tak berapa lama, kepala pelayan datang menghampiri Nenek Serkan dan mengatakan jika keluarga Rafaldi sudah tiba. Saat itu tampak Yadid dan Mosha berjalan memasuki rumah utama dengan diantar oleh seorang pelayan.


Seluruh anggota keluarga Serkan yang berada disana dengan terpaksa harus memasang senyum diwajah mereka menyambut kedua orang tua Arimbi. Kedua keluarga pun makan malam bersama tanpa banyak pembicaraan. Setelah acara makan malam selesai, mereka kembali berkumpul diruang keluarga untuk membicarakan pernikahan.


Bagaimanapun Emir dan Arimbi sudah menikah dan ini pertama kalinya kedua keluarga bertemu. Emir yang memulai pembicaraan tentang rencananya untuk melaksanakan pesta pernikahan dan mengumumkan hubungan mereka dalam waktu dekat. Mengingat saat ini Arimbi sedang mengandung, Emir tidak mau menunda-nunda lagi sampai perut Arimbi membesar.


Dan saat inipun dia masih belum berkeinginan memberitahukan keluarganya tentang kehamilan Arimbi. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Emir sehingga memilih merahasiakan kehamilan Arimbi dari keluarganya.


Dengan tegas Emir mengungkapkan keinginannya kepada Keluarga Rafaldi, tapi dia tidak membahas sedikitpun tentang hadiah pertunangan dan pernikahan.


Dia sudah menyerahkan daftar hadiah pertunangan dan pernikahan kepada Mosha tanpa berniat memberitahukan keluarga Serkan. Dia tidak ingin ada drama dan masalah lainnya dari pihak keluarganya.


Sedangkan Mosha yang bisa merasakan bahwa keluarga itu sepertinya tidak menerima keberadaan Arimbi, dia pun hanya bisa menghela napas panjang. Dia merasa kasihan pada putrinya itu.


Bagaimanapun juga ini adalah keputusan yang sudah dibuat oleh putrinya apalagi kini Arimbi sedang mengandung. Sudah tidak ada jalan untuk mundur sehingga apapun yang terjadi, Arimbi harus bertahan di keluarga itu.


“Jadi semuanya sudah jelas. Aku sudah meminta anak buahku untuk mengatur semuanya jadi kalian tidak perlu repot dalam persiapan pernikahanku. Aku tahu kalian semua sibuk, yang kuminta hanya satu. Seluruh keluarga Serkan bisa datang ke pernikahanku dan memberikan dukungan pada kami.” ujar Emir yang hanya dijawab oleh keluarganya dengan anggukan.


“Baiklah Emir. Kalau memang itu niatmu dan kamu sudah mempersiapkan semuanya. Ayah akan mendukungmu. Jika ada yang kamu butuhkan dariku, katakan saja.” ucap Alarik. Dia tidak punya masalah dengan hubungan Arimbi dan Emir putranya.


Hanya istrinya yang selalu mengamuk padanya karena membiarkan Arimbi dan Emir menikah. Bagi pria itu yang terpenting adalah kebahagiaan putranya. Itulah alasannya dia membawa istrinya pergi berlibur ke luar negeri untuk waktu yang lama agar Rania tidak membuat masalah dan merundung Arimbi.


“Emir, kami sebagai orang tua Arimbi menyerahkan semuanya kepadamu. Dan terima kasih karena memberikan pesta pernikahan untuk Arimbi.” ucap Mosha berterima kasih. Bagaimanapun setelah ini semua orang akan mengetahui status Arimbi.