
“Maafkan aku Adrian!” ucap Arimbi pelan.
Adrian memandangnya merasa tertekan dan tidak enak hati. Gadis kecil yang tumbuh bersama dengannya kini sudah dimiliki oleh orang lain. “Jangan marah oke? Ada begitu banyak alasan sehingga aku tidak bilang kepadamu tentang ini.”
“Sekarang aku bisa mengatakan yang sebenarnya, sekarang aku harus memberitahukannya kepadamu, kan? Aku sedang mengandung dua minggu dan ini adalah anak Emir. Pernikahan kami akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Emir sedang mempersiapkan semuanya sebelum perutku semakin membesar.”
Arimbi menarik lengan Adrian dan mengayunkannya, memainkannya sama seperti yang biasa dia lakukan semasa mereka kecil dulu. Ketika dia masih anak-anak, kakaknya ingin main keluar tanpa mengajaknya. Arimbi selalu memohon seperti ini kepada Adrian.
Hal ini yang membuatnya tidak tega meninggalkan Arimbi dan akan mengajaknya untuk ikut bermain dengannya diluar. “Kenapa aku harus marah? Kamu sudah melakukannya.” ujar Adrian. Pria itu menjentikkan jarinya di kening Arimbi.
Arimbi sengaja berteriak kesakitan untuk menarik perhatian. Merasa tertekan, Adrian memajukan keningnya hingga menyentuh kening Arimbi dan berkata dengan suara lembut yang memanjakannya, “Kamu masih sama. Yang barusan itu tidak seberapa, tapi kamu tetap saja berteriak kesakitan. Dasar lemah!” ejek Adrian lagi.
“Adrian! Aku bukan anak kecil lagi. Asal kamu tahu aku sudah berumur dua puluh tiga tahun menjelang dua puluh empat tahun dan sekarang aku adalah seorang calon ibu.” dengan wajah cemberut dan mengerucutkan bibirnya Arimbi pura-pura merajuk.
“Ya, ya, ya…..Arimbi-ku sekarang sudah dua puluh tiga tahun dan sudah menikah. Sebentar lagi menjadi ibu jadi kamu sudah tidak butuh aku lagi.”
Ucapan Adrian terdengar penuh dengan rasa kesepian. “Adrian! Kamu akan selalu menjadi kakakku.” jawab Arimbi mengatakan yang sebenarnya. Dia akan tetap menganggap keluarga itu seperti keluarganya sendiri. Tidak mungkin dia melupakan keluarga yang sudah dua puluh dua tahun membesarkannya.
Adrian menatapnya dengan dalam selama beberapa saat lalu tersenyum, “Ya, aku akan selalu menjadi kakakmu. Kapanpun kamu membutuhkan bantuanku, aku akan selalu ada untuk menolongmu.”
Tiba-tiba dia menarik Arimbi kembali dan memberinya pelukan yang erat.
Lalu dia mendorongnya menjauh dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Arimbi, kamu pasti bahagia. Kalau kamu tidak bahagia jangan paksakan dirimu. Cukup ceraikan dia dan kembalilah pada kami. Aku yang akan merawatmu.”
“Aku akan bahagia. Emir memperlakukanku dengan sangat baik dan dia juga memanjakanku. Aku sangat mencintainya.” Arimbi menyanjung suaminya dengan senyum yang tulus. Dia mengatakan yang sejujurnya karena memang itu yang dirasakannya pada Emir.
Adrian yang mengenaknya dengan baik melihatnya dan mengerti akan semuanya. Rasa kehilangan di hatinya semakin dalam. Untuk beberapa lama, hubunga kakak adik mereka sedikit berubah. Dia memutuskan untuk tidak meneruskan lebih lanjut.
Selama Arimbi bahagia, Adrian akan tetap menjadi kakaknya selama-lamanya. “Kapan kamu akan mengadakan pernikahanmu?” tanya Adrian dengan khawatir.
“Karena kalian sudah mendaftarkan pernikahan kalian sejak lama, dan baru hari ini kamu mengatakannya kepada kami. Ibu pasti memikirkan banyak hal sekarang. Salah satunya berpikir kenapa kamu tidak memberitahu kami tentang pernikahanmu sejak awal.”
Arimbi pun melanjutkan untuk menjelaskan, “Aku belum mengumumkannya karena ada beberapa masalah. Emir itu hebat dna terlalu banyak wanita yang menyukainya. Dia pikir kalau aku masih lemah, jika kami mengumumkan pernikahan kami sekarang, yang lain pasti akan datang menyerangku. Kami akan menunggu sampai aku lebih kuat untuk mengumumkan hubungan kami.”
Adrian cemberut. “Jika dia tidak bisa melindungimu, Arimbi. Kamu harus segera meninggalkannya. Dengan begitu kamu tidak akan terluka oleh duri-duri penggemarnya. Rasanya sangat menakutkan saat wanita menjadi gila.”
“Walaupun kamu memang jago seni bela diri, tapi kamu sendirian dan tidak akan bisa melawan mereka seorang diri. Mintalah pada Emir untuk memberimu pengawal yang bisa melindungimu setiap saat. Ingat Arimbi, kamu sedang mengandung katamu. Kamu tidak boleh memikirkan dirimu sendiri lagi, ada jiwa lain yang harus kamu lindungi.”
“Adrian! Kalau Emir tidak bisa melindungiku lalu siapa lagi? Ini sesuai dengan apa yang aku inginkan. Jangan salahkan Emir. Saat kita masih muda, bukankah ayah mengajari kita bahwa lebih baik untuk tidak bergantung pada orang lain?” ucap Arimbi.
“”Aku harus menjadi lebih kuat. Duniaku dulu sangatlah sederhana tapi sekarang menjadi sangat berwarna. Aku tidak bisa hidup didalam dunia yang sederhana.” ujar Arimbi lagi menambahkan.
Adrian memperhatikan Arimbi, mencermati setiap kata-kata yang diucapkannya. Dia tahu kalau adiknya punya rasa percaya diri.
Arimbi selalu bicara penuh semangat dan dia tahu kalau itu adalah cinta saat dia menyaksikan adiknya melindungi Emir dengan penuh eprlindungan. Pada akhirnya, dia semakin jauh dari kakaknya dan dia juga sudah bukan orang yang sama lagi sekarang.
“Adrian! Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Arimbi saat dia melihat tatapan Adrian yang berbeda dari biasanya. Arimbi merasa heran dan agak bertanya-tanya, Tatapan mata kakaknya penuh dengan kekecewaan dan kesedihan.
Dia meregangkan tangannya dan menyentuh kepala adik tersayangnya lalu menggerakkan tangannya dan menemukan jepit rambutnya. ketika dia melihat lebih dekat, dia menyadari kalau jepit rambutnya pun sudah berubah. Ini bukan jepit rambut sederhana dan berharga murah yang biasa dipakai Arimbi.
“Arimbi, kamu punya jepit rambut baru. Ini cantik sekali.” ujar Adrian lalu tersenyum.
“Cantik bukan? Emir memberikannya kepadaku. Dia memberiku banyak jepit rambut dna bilang kepadaku untuk memakai yang mana saja yang aku suka. Dia juga memberiku dua ekor kucing Ragdoll dan seekor anjing.”
“Emir tidak suka hewan berbulu tapi karena aku menyukainya dia memberiku hewan itu untuk membuatku senang. Ditempat tinggalnya, halaman rumahnya awalnya kosong dan nampak suram. Tapi sekarang penuh dengan beragam bunga dan bunga-bunga itu cantik sekali! Semua dia lakukan karena aku menyukai bunga.” Arimbi tampak tersenyum bahagia.
“Dia punya pelayan yang membelikannya untukku. Aku akan membawamu berkeliling lain kali kalau aku punya kesempatan.” ucap Arimbi. Kapan pun Emir disebut, nampak Arimbi memancarkan kebahagiaan. Namun kata-katanya yang manis terasa layaknya pisau yang menusuk jantung Adrian dengan dalam.
Luka itu meninggalkan rasa sakit yang tidak terbayangkan, tapi dia tidak berani mengungkapkannya karena dia adalah kakaknya. Arimbi sudah bahagia dan dia juga harus bahagia untuknya. Adrian tetap tersenyum sepanjang waktu memperhatikan senyum diwajah Arimbi.
Dia mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Arimbi tentang betapa baiknya Emir kepadanya. Arimbi terus saja bicara hingga tenggorokannya kering.