
“Joana…..Joana……kamu dimana?” teriak Grace dengan wajah kalut dan cemas. Dia memasuki butiknya dan tanpa mempedulikan karyawannya yang memandangnya dengan heran. Grace langsung naik kelantai dua menuju keruang kerjanya. Namun saat dia membuka pintu, dia tidak mendapati siapapun disana. Grace menjadi panik dan berlari menuruni tangga.
Saat dia baru saja menuruni tangga seorang karyawannya sudah berdiri dihadapannya. “Nona Grace, maaf mengganggu. Tadi Joana pergi terburu-buru. Dia tidak mengatakan apapun pada kami.”
“Pergi? Kapan dia perginya?” tanya Grace semakin panik.
“Saya juga tidak tahu nona. Tadi saya sempat bertanya padanya namun dia tidak mengatakan apapun. Tapi saya lihat wajahnya sedih dan matanya sembab.”
“Oh, baiklah. Aku akan pergi mencarinya. Kembalilah bekerja.” ucap Grace lalu keluar meninggalkan butiknya. “Aduh Joana……kemana kamu? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Kemana aku harus mencarinya?” Grace tertegun didalam mobilnya.
Dia sedang berpikir kemungkinan tempat yang akan didatangi Joana. Satu-satunya tempat adalah rumah keluarga Ganesha ataupun rumah sakit.
Tadi Grace memang tak sengaja membaca berita tentang musibah yang menimpa Ganesha Group dan pimpinan perusahaan yang dilarikan kerumah sakit.
Hal itulah yang membuat Grace meninggalkan urusannya dan pergi ke butiknya untuk menemui Joana. Setelah berpikir sejenak, Grace memutuskan untuk menghubungi Arimbi terlebih dahulu.
“Halo Arimbi, apa kamu sedang sibuk?”
“Tidak. Memangnya kenapa Grace? Apa kamu dan Joana baik-baik saja?” tanya Arimbi yang sedang berada di kantor suaminya.
Saat ini dia sedang berbaring di sofa diruang kerja Emir sedangkan pria itu tampak sibuk di meja kerjanya degan tumpukan dokumen dihadapannya.
“Ehm…..Arimbi? Apa kamu tahu kabar tentang keluarga Ganesha?”
“Keluarga Ganesha? Keluarga Joana? Ada apa memangnya?” Arimbi mengeryitkan dahinya dan segera merubah posisinya. Dia duduk dan ekspresi wajahnya berubah menjad serius.
“Sedang ada musibah yang menimpa mereka. Tuan Ganesha kabarnya dilarikan kerumah sakit. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi Arimbi! Aku tadi membaca berita.”
“Apa? Dilarikan kerumah sakit? Bagaimana dengan Joana?” tanya Arimbi yang kini menjadi cemas.
“Aku tidak tahu dimana dia sekarang. Aku juga sedang mencarinya tapi aku tidak tahu mau mencari kemana makanya aku menghubungimu.”
“Apa kamu sudah meneleponnya? Mungkin dia masih ada dibutikmu.”
“Tidak! Aku masih ada didepan butikku. Tadi karyawanku bilang kalau Joana pergi tergesa-gesa dan tidak mengatakan apa-apa.”
“Grace! Jangan khawatir, mungkin Joana sudah mendengar kabar tentang keluarganya. Bisa saja dia pergi ke rumah sakit. Bisakah kamu membantuku? Pergilah ke rumah sakit, jika kamu bertemu Joana disana segera hubungi aku.”
“Ya benar juga. Pasti dia ke rumah sakit. Ah, arimbi…..baiklah aku pergi dulu. Akan kukabari lagi nanti.” ucap Grace lalu memutuskan panggilan teleponnya.
‘Aihhhh kenapa aku harus membuat Arimbi khawatir? Seharusnya aku langsung saja pergi kerumah sakit. Pasti Joana berada disana sekarang.’ gumamnya didalam hati. Grace pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Tak berapa lama dia tiba dirumah sakit dan setelah bertanya pada resepsionis, dia mendapati nomor kamar dimana ayah Joana dirawat.
Namun saat dia berdiri didepan kamar itu, dia hanya mendengar suara seorang perempuan dan laki-laki. Tapi dia tidak mengenali suara itu, yang pasti itu bukan suara Joana. Pikirannya jadi kacau, dia merasa bimbang apakah harus memasuki ruangan itu atau tidak. ‘
Aduh bagaimana ini? Sepertinya Joana tidak ada didalam. Kalau aku masuk, pasti nanti ditanya-tanya.’
Grace berdiam diri didepan ruangan itu, tanpa dia sadari sepasang mata sedang menatapnya dari sudut. Setelah beberapa saat, berpikir dan merenung akhirnya Grace memutuskan untuk masuk. ‘Apapun yang terjadi nanti, sebaiknya aku masuk kedalam. Mungkin aku bisa tahu keberadaan Joana.’ pikirnya.
Grace memasang senyum saat pintu ruang rawat itu dibuka. Matanya terbuka lebar dan tanpa sadar tangannya memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang. Didepannya berdiri Ruben Ganesha, saudara laki-laki Joana.
Tampak pria itu juga terkejut melihat orang yang berdiri dihadapannya, keduanya sama-sama canggung namun Grace langsung bersikap biasa.
Sedangkan Ruben tersenyum dan berkata, “Grace ya?” tanyanya dengan senyum diwajah yang membuat pria itu tampak semakin tampan dan keramahannya membuat Grace tersadar dari lamunannya.
“Ehem……maaf kalau mengganggu. Aku datang kesini mau menjenguk Tuan Ganesha, aku membaca beritanya tadi.” Grace sebenarnya merasa sangat canggung dan tak nyaman.
Dia memang berteman dekat dengan Joana namun dia tidak pernah berintraksi dengan keluarga Joana, berbeda dengan Arimbi yang sangat akrab dengan keluarga itu.
“Oh iya. Ayo masuk. Ada ibuku didalam.”
Mendengar perkataan Ruben membuat Grace ingin menanyakan perihal Joana. “Joana dimana?”
“Joana? Aku tidak tahu, dia belum datang kesini.” jawab Ruben menatap Grace dengan heran.
“Maaf, bisa kita bicara sebentar?” ucap Grace yang merasa lebih baik bicara langsung dengan Ruben. Lagipula ini kesempatannya bertemu langsung dan berbicara dengan pria idamannya itu.
“Apa ada masalah dengan Joana? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan adikku?” tanya Ruben yang merasa aneh dan bingung. Dia tidak tahu seberapa dekat pertemanan Grace dan adiknya.
Keduanya duduk dibangku panjang yang berada di ujung koridor. Untuk menghindari ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka, tempat itu agak jauh dari ruang rawat.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Ruben yang duduk bersebelahan dengan Grace.
“Begini, sebenarnya beberapa waktu ini Joana bekerja di butikku.”
“Apa? Bekerja di butikmu? Kenapa? Apa dia kekurangan uang?”
“Bu---bukan…..bukan begitu. Jangan salah paham dulu. Dia hanya sedang mencoba menggali bakat dirinya. Jadi dia memutuskan untuk bekerja di butikku, dia juga mulai belajar menggambar desain.”
Ada senyum diwajah Ruben saat mendengar perkataa Grace. Untuk pertama kalinya dia mendengar kalau adiknya itu akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang positif.
Setelah selama ini Joana dikenal sebagai gadis yang suka mempotret laki-laki tampan. Setidaknya untuk saat ini Joana memilih melakukan hal yang baik. “Sudah berapa lama?” tanya Ruben.
“Hm…..sudah hampir tiga minggu.” Grace menghela napas sebentar. “Apa Joana tahu soal Tuan Ganesha? Hari ini dia tidak ke butik.”
Grace sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kejadian Joana yang pergi dari butiknya. Dia ingin mendapatkan informasi dari Ruben sekaligus mengambil kesempatan menghabiskan waktu bersama pria itu.
“Tadi aku sudah mencoba menghubungi ponselnya berulang kali. Tapi sampai sekarang ponselnya masih tidak bisa dihubungi.” jawab Ruben dengan wajah sedih.
“Aku juga tidak tahu kalau Joana tidak datang bekerja hari ini. Karena aku juga sibuk dengan urusan pekerjaan yang lain. Hanya saja, tadi aku mampi ke butik sebentar dan karyawanku yang bilang.”
“Oh begitu. Kalau kamu bertemu Joana nanti tolong beritahu dia tentang ayah.” ucap Ruben lagi.
“Iya, pasti aku sampaikan.” Grace kembali terdiam karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan lagi.