GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 186. DIPENUHI API CEMBURU


Setelah pelayan datang menghidangkan makanan pesanan mereka, Arimbi makan sambil meminum birnya. Tak lama kemudian, isi dua botol itupun habis. Melihat itu Arimbi memesan dua botol lagi sementara Joana yang tahu suasana hati temannya sedang buruk hanya mengingatkannya untuk berhenti minum setelah dua botol itu.


Arimbi yang sedang kesal dengan rakusnya meminum dua botol itu sendirian. Disisi lain, Joana hampir tidak makan akrena melihat temannya melahap semua makanan yang ada.


Seusai empat botol minuman dihabiskan oleh Arimbi, Joana pun dengan tegas mencegahnya untuk tidak memesan lagi. Empat botol bir sudah terlalu banyak dan Joana tidak ingin Arimbi akan membuat masalah lagi nanti.


Baru setelah diingatkan kalau dia perlu menemui Reza nanti untuk mengambil kembali hadiah-hadiahnya, Arimbi baru berhenti minum. Saat ini Arimbi sudah mengenyangkan dirinya sampai mabuk. Sedangkan ditempat lain Emir yang masih tidak menerima telepon dari Arimbi untuk meminta maaf padanya menjadi semakin marah.


Orang-orang yang melihatnya melangkah ke The Palm Bliss Hotel seketika itu juga ingin menghindarinya. Meskipun makanannya adalah makanan yang biasa dia makan, Emir merasa setiap makanannya terasa hambaar dan dia terus saja membuat masalah dengan hal-hal kecil. Akhirnya dia bahkan memanggil orang yang mengelola hotel itu, Agha.


Agha yang sudah berdiri didepan kamar pribadi presidential suite itupun bertanya pada Rino, “Ada dengan Emir hari ini? Biasanya dia makan siang disini setiap hari. Tapi dia tak pernah pilih-pilih seperti ini sebelumnya. Dia membuat semua juru masak disini merasa tertekan.”


Lalu Rino memperhatikan pintu yang tertutup rapat, diapun yakin jika Emir tidak bisa mendengar apa yang akan dikatakannya. Lalu dia berbisik pada Agha, “Tuan Emir dan Nyonya Arimbi bertengkar!”


Agha menatap Rino hampir saja bertanya dengan nyaring sebelum mengingat bahwa kakaknya yang menyeramkan itu sedang duduk didalam ruangan. Dengan cepat Agha menutup mulutnya, kemudian membukanya lagi, “Kenapa mereka bertengkar? Apakah sangat buruk?”


Dia pernah makan bersama dengan Emir dan kakak iparnya itu. Saat itu Emir memberikan perhatian penuh kepada Arimbi, dia tampak tahu apapun yang wanita itu sukai bahkan terus saja menaruh makanan ke piringnya. Jelas sekali kalau Emir peduli dengan Arimbi.


Agha tahu meksipun saudaranya itu kadang bisa jadi begitu dingin, dia akan merawat seseorang dengan sepenuh hati jika pria itu menyukainya. Tentu saja kalau Emir melakukan itu, dia berharap penuh orang itu akan membalasnya dengan perlakuan yang sama. Singkatnya Emir adalah orang yang sangat gigih dalam cinta individual yang membuatnya jadi picik.


“Tuan Emir sedang dalam perjalanan untuk makan siang bersama Nyonya Arimbi kesini, kemudian Tuan menendang Nyonya keluar mobil ditengah jalan. Jadi Tuan Agha bisa bayangkan seberapa buruk itu? Tuan tidak pernah bersikap seperti itu pada siapapun sebelumnya.”


“Hah? Seburuk itukah?” Agha kehabisan kata-kata tak tahu lagi harus berkata apa.


Rino menghela napas lalu melanjutkan, “Nyonya Arimbi tadi menerima telepon dari Nona Joana yang memberitahunya kalau Tuan Reza akan menikah dengan Nona Ruby yang membuat Nyonya Arimbi terpaku sejenak. Kemudian Tuan Emir menjadi cemburu melihat itu dan tak ingin memaafkannya sama sekali meski Nyonya sudah berusaha menjelaskan.”


Agha pun menjawab, “Bahkan orang bodohpun tahu bagaimana perasaan Arimbi pada Reza di kota ini. Apakah wajar bagi kakakku itu menjadi cemburu?”


“Siapapun bisa melihat kalau Arimbi menikahi kakakku dengan motif pribadi. Entah apapun motifnya, wanita itu tak mengatakannya pada kakakku. Jadi kamu tak bisa menyalahkan Emir sepenuhnya untuk bereaksi seperti itu kan?”


Kalau hanya untuk mencapai tujuan tertentu dan mereka tak jatuh cinta maka hal itu tak akan menjadi masalah. Tapi, kebetulan sekali Emir sudah mulai punya perasaan pada Arimbi bahkan mengumumkan statusnya sebagai Nyonya Muda tertua di keluarga Serkan. Agha sangat yakin jika di masa depan seluruh penjuru kota akan tahu identitasnya juga.


Di saat seperti ini bagaimana cara Emir supaya tidak cemburu kalau melihat Arimbi masih melamunkan Reza?


“Tuan Agha, aku telah bekerja dengan Tuan Emir sangat lama dan aku adalah orang yang melihat mereka bersama. Serta melihat semua proses hubungan mereka tumbuh hingga sekarang. Mungkin Nyonya Arimbi memang pernah mencintai Reza tapi sejak Nyonya memaksa Tuan Emir untuk menikahinya, aku bisa melihat kalau perasaan wanita itu kepada Tua Reza telah hilang sepenuhnya.”


Sekalinya Emir menjadi seperti ini, diapun jadi tak ingin makan, yang akan menjadi semakin membuat keadaan buruk.  Hal seperti ini dulu pernah terjadi saat Emir mengetahui kalau dia harus menggunakan kursi roda setelah kecelakaan.


Saat itu, dia tak mau makan, minum ataupun mengikuti perawatan membuat seluruh keluarga Serkan menjadi kacau balau. Pada akhirnya Rania Serkan bersujud dan memohon pada Emir.


“Aku akan masuk untuk memeriksanya. Meskipun jika aku tak bisa membujuknya, kamu harus cepat-cepat menghubungi Arimbi supaya dia segera datang. Hal ini adalah kesalahannya, jadi dia harus menangani kekacauan ini.”


Dengan wajah murung, Rino menjawab, “Tuan Emir melarang kami untuk menghubungi Nyonya Arimbi. Dia bilang kalau bukan Nyonya yang menghubunginya lebih dulu, siapapun dari kami yang berani menghubungi Nyonya akan dibanting ponselnya lalu dipecat.”


Agha tercengang sesaat lalu berkata, “Kakakku itu sungguh keras kepala dan suka mempermasalahkan hal sepele.” sambil menarik napas Agha memasuki kamar itu.


Tampak Emir duduk sendiri disana, menu makanan hari ini telah dirubah, karena Emir yang menyuruh anak buah Rino untuk mengubah menu makanannya menyesuaikan dengan kesukaan Arimbi.


Walaupun wanita itu tidak pilih-pilih, dia tak bisa memakan makanan pedas tapi dia suka makanan yang terasa asam dan manis. Sedangkan selera Emir sangat berlawanan.


Tapi dia mengubah menunya demi Arimbi. Saat itu, melihat meja masih penuh dengan makanan yang disukai wanita itu, Emir tak akan memakannya meski suasana hatinya lebih baik, apalagi seperti ini.


Dia mengambil garpu lalu mencolek dan memainkan setiap makanan yang ada tanpa memakannya sama sekali. Dari dekat Agha bisa melihat ikan salmon yang penuh lubang karena ulah kakaknya.


“Emir.” Agha memanggilnya. Tanpa melihatnya, Emir membanting peralatan makanannya ke meja dengan benturan keras, membuat Agha takut.


“Agha! Coba ini. Rasakan betapa tidak enaknya semua makanan ini. Bagaimana caramu mengelola karyawan? Reputasi dan status hotel The Palm Bliss itu tidak mudah dibangun! Jangan kamu hancurkan dengan tanganmu!”


Agha duduk dan mengambil garpu lalu menyuap beberapa makanan kedalam mulutnya, “Kamu benra. Rasanya tak begitu enak sekarang. Tapi itu karena makanannya sudah dingin dan tak segar lagi seperti hidangan yang baru saja dihidangkan.”


“Rasanya sama sekali tidak enak. Semuanya terasa asam dan manis!” ucap Emir.


Agha pun menjawab, “Emir, kamulah yang meminta Rino untuk memberitahu pihak hotel supaya mengubah menunya. Kebanyakan dari makanan yang kamu pesan memang rasanya asam dan manis.”


Dengan wajah kesalnya, Emir berhenti bicara.