
Emir sedang memperhatikan penampilannya didepan cermin dikamar. Dia tampil semi formal dengan t-shirt putih yang berlapis long coat panjang berwarna coklat muda. Setelah merasa penampilannya sempurna, dia pun keluar dari kamar menuruni tangga villanya. Dia berencana mengajak Arimbi dinner. “Dimana Arimbi?” tanyanya pada Beni saat tidak melihat istrinya.
“Nyonya ada dirumah utama Tuan.” jawab Beni.
Mendengar jawaban Beni, dia pun bergegas menuju kerumah utama. Tampak di teras rumah utama dia melihat Arimbi sedang berbincang dengan Alarik ayahnya, Emir tersenyum melihat wajah istrinya yang tersenyum manis.
“Kamu mau hadiah apa dari ayah?” tanya Alarik. Karena dia belum memberi hadiah pada Arimbi.
“Hadiah untuk apa ayah?”u
“Karena kamu sudah mewujudkan mimpi kami untuk punya cucu. Ayah akan beri apapun yang kamu mau. Semahal apapun akan ayah beri.” ucap Alarik.
Arimbi menelan salicanya, dia terkejut karena keluarga Serkan kini benar-benar memperlakukannya dengan baik. Padahal dia sudah mendapatkan hadiah yang banyak sekali dari Nenek Serkan dan sekarang ayah mertuanya juga menawarkan ingin memberinya hadiah.
“Boleh minta apapun ayah?” tanya Arimbi dengan tatapan mata sendu.
“Apapun itu sayang. Katakanlah apa yang kamu inginkan.”
“Aku hanya mau ayah, ibu dan semua keluarga Serkan akan tetap menyayangiku dan menjagaku. Itu saja yang kuminta dari ayah. Lagipula nenek sudah memberiku banyak hadiah.”
Alarik yang mendengar ucapan menantunya itupun tersenyum hangat. “Ayah kan belum memberimu hadiah, berbeda kalau hadiah dari nenek.” ucap Alarik lagi.
“Ayah tahu kamu pasti tidak mau meminta apapun dari ayah jadi ayah akan menyiapkan hadiah untukmu. Ayah akan memilihkan yang menurut ayah cocok untukmu.”
Arimbi merasa tersanjung mendengarnya apalagi Emir.
“Aku juga akan diberi hadiah kan?” goda Emir membuat Alarik mencibir pada putranya itu.
“Kenapa ayah harus memberimu hadiah juga?”
“Aku dan Arimbi bekerjasama membuat cucu untuk ayah.” jawab Emir sekenanya.
Arimbi langsung mencubit pinggang Emir membuat pria itu meringis kesakitan.
“Kamu sudah punya segalanya. Memangnya mau apalagi?”
*****
Emir menggandeng tangan Arimbi menaiki elevator menuju rooftop disebuah hotel berbintang milik Serkan Group. Emir sudah mempersiapkan dinner romantis ini untuk menyenangkan hati istrinya yang akhir-akhir ini sering marah-marah nggak jelas padanya. “Bagaimana perasaanmu? Kondisi sudah baikan kan Arimbi?” tanya Emir ketika mereka sudah memasuki elevator.
“Ya sudah baikan.” jawab Arimbi memegangi kedua sisi lengan atas Arimbi. Menghadapkan tubuh Arimbi lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Arimbi. Dia menautkan bibirnya, mengulumnya lembut dan sangat berhati-hati. “Bahagialah selalu Arimbi!” harapnya untuk istri tercintanya.
Arimbi tersenyum merasa senang mendengar ucapan suaminya.
Emir merengkuh wajah Arimbi lalu mengulum bibir itu lagi dan kali ini ciumannya lebih insten dan bergairah. Saat mereka berciuman pintu elevator terbuka menampakkan suasana candle light dinner yang memukau Arimbi. Dia pun langsung melepaskan ciuman Emir lalu mereka keluar menuju ke meja mereka yang sudah di booking Emir.
Disitu sudah berdiri dua pramusaji yang sudah menyiapkan hidangan dan seorang lagi menyerahkan sebuket bunga mawar merah. Arimbi mencium bunga itu. “Terima kasih.” ucapnya sambil berjinjit mengecup bibir Emir. Emir membalas dengan ******* bibir istrinya tanpa mempedulikan orang lain yang berada disana.
“Duduklah.” titah Emir. Mata Arimbi langsung tertuju pada gemerlapnya lampu kota yang bisa dia nikmati dari atas rooptop itu. Sejak kehamilannya, Emir selalu bersikap romantis.
“Ini mengingatkanku akan dinner pertama kita dulu.”
Emir tersenyum, “Saat itu kamu selalu menggodaku dan aku membuatmu tidak bisa bangun keesokan harinya.” ucap Emir kembali menggoda istrinya. Dia melihat rona merah yang muncul di wajah istrinya.
“Bukankah memang begitu kejadiannya? Waktu itu kamu selalu saja menantangku dan mengejekku. Jadi untuk membuktikan ucapanmu makanya aku sengaja membuatmu tidak bisa jalan keesokan harinya. Apa kamu puas malam itu?”
Ucapan Emir membuat wajah Arimbi merona apalagi ada waiters. ‘Laki-laki ini kenapa semakin hari dia semakin mesum saja sih? Dia ini masih sehat tidak ya? Hari-hari tidak ada hal lain yang dibahasnya selain hal mesum saja.
B“Maafkan aku telah membuatmu kesal ketika itu. Saat itu aku sangat ketakutan kalau aku tidak akan bisa berjalan lagi.” ujar Emir.
“Tidak ada yang sempurna di dunia ini.” ucap Arimbi.
“Entahlah! Tidak ada yang sempurna didunia ini. Jadi meskipun aku masih lumpuh, kamu tetap akan mencintaiku dan setia menua bersama-sama bersamaku. Alih-alih mencari pria lain yang sempurna?”
“Dari dulu kan aku sudah bilang? Apa kamu lupa apa yang kulakukan padamu agar kamu menikahiku?” ucap Arimbi.
Emir menatap istrinya sambil tersenyum, mana mungkin dia bisa lupa akan kegilaan Arimbi. Dia meraaih tangan Arimbi dan membelai punggung tangannya. “Arimbi…..aku mencintaimu.” Emir mengecup kedua punggung tangan Arimbi. Wanita itu terkejut mendengar ungkapan cinta Emir untuk pertama kalinya. Selama ini Emir selalu diam dan tidak pernah mengatakan7 apapun.
“Ah? Benarkah?” Arimbi membelalak karena terkejut.
8“Bagaimana denganmu?” tanya Emir yang juga menginginkan ungkapan cinta Arimbi.
“Aku lebih mencintaimu suamiku! Hanya kamu yang ada didalam hatiku selamanya.”
“Ucapanmu sangat manis tapi terdengar palsu.” ucap Emir. Arimbi memelototinya lalu menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Emir.
“Kenapa kamu marah? Apa ada kata-kataku yang salah?”
“Emir! Apa kamu tidak bisa ya kalau tidak merusak moodku? Kamu selalu memuji dan menyanjungku setelah itu kamu menghempaskan aku dari ketinggian yang meremukkanku.” ucap Arimbi kesal.
“Kenapa kamu jadi semarah ini? Bukankah apa yang kukatakan itu benar?”
“Salah! Kamu jangan memujiku lalu mengejekku setelahnya.”
Arimbi memasang wajah cemberut dan memalingkan wajahnya. Emir tertawa terbahak-bahak melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Arimbi sayang. Semua orang akan sependapat denganku kalau mendengar ucapanmu tadi. Mana mungkin kamu mencintaiku lebih banyak dari aku mencintaimu. Tidak mungkin juga hanya ada aku dihatimu.”
“Apa maksudmu Emir?” intonasi suara Arimbi sudah melengking. Tapi sepertinya Emir tidak tahu betapa marahnya Arimbi saat ini. Kehamilannya membuat moodnya tidak stabil dan sangat mudah memancing emosinya.
“Ah ternyata kamu tidak sepintar itu Arimbi! Kata-kata semudah itu saja kamu marah.”
“Emir! Kamu mengajakku kesini untuk candle light dinner atau untuk bertengkar?”
“Kedua-duanya. Karena setelah makan nanti kita akan pergi ke kamar. Aku sudah mereserve kamar untuk kita. Jadi kamu harus mempersiapkan diri.” ucap Emir mencolek dagu istrinya.
“Ck! Aku sedang hamil! Kata dokter sampai aku melahirkan tidak boleh disentuh.”
Emir tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Yakin kalau kamu akan bertahan selama itu?”
“Emir! Dengar ya, aku ini wanita dan biasanya wanita itu lebih mampu menahan diri dan hawa nafsunya dibandingkan pria. Aku jadi curiga jangan-jangan kamu yang ingin lirik-lirik yang lain?”
“Memangnya ada yang mau sama laki-laki yang sudah beristri sepertiku?”
“Banyak! Diluar sana banyak wanita yang antri ingin menjadi istrimu yang kesekian. Tapi kuperingatkan ya, kalau aku sampai melihatmu dengan wanita lain maka tamat riwayatmu!”