
“Nona Amanda! Kenapa anda belum tiba di kantor? Nona ada dimana sekarang? Semua orang membicarakan perihal foto dan berita tentang Nona. Orang-orang di kantor ini sangat menyebalkan!” ujar Sandra yang menghubungi Amanda karena sejak pagi dia tidak melihat kehadiran Amanda di kantor. Dia juga tidak melihat Arimbi di ruangannya.
“Sandra! Jangan beritahu siapapun, tutup mulutmu dan dengarkan aku baik-baik.” kata Amanda.
“Baiklah nona.”
“Aku tidak akan masuk kerja untuk sementara waktu. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju bandara. Aku akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang belum pasti.”
“Ah? Apakah nona baik-baik saja? Apa yang bisa saya lakukan untukmu nona Amanda?”
“Lakukan saja pekerjaanmu seperti biasa. Untuk sementar waktu, kamu handle semua pekerjaanku dan laporkan semuanya padaku agar aku bisa afollow up!”
“Ta—tapi….” Sandra terbata-bata ingin mengatakan sesuatu pada Amanda tapi dia tidak melanjutkan.
“Ada apa Sandra? Apa ada masalah di perusahaan? Ayahku sudah berada di kantor kan?”
“Ehm….nona…..sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.”
Amanda mengeryitkan keningnya mendengar perkataan asistennya itu. “Maksudmu apa?”
“Sartika mengambil semua pekerjaanmu. Dia bilang itu atas perintah Direktur Rafaldi! Aku tidak tahu harus mengerjakan apa sekarang disini.”
“Eh? Apa Sartika mengatakan alasannya?”
“Dia bilang sementara wakil direktur Rafaldi tidak ada semua pekerjaanmu akan diambil alih oleh si udik desa itu!” kata Sandra dengan geram.
“Sandra! Hati-hati kamu bicara! Dia sekarang adalah istri sah Tuan Emir! Apa kamu mau mendapat masalah jika ada yang mendengarmu?” kata Amanda mengingatkan.
“Fuuuh! Kenapa dia seberuntung itu? Menikahi Tuan Emir dan menjadi wanita kaya raya sekarang! Dia bahkan pemilik dari Metro Megamall! Ini benar-benar tidak adil, seharusnya kamu yang berada diposisinya sebagai wanita kaya dan pemilik Rafaldi Group! Ah, Nona Amanda…..maafkan kata-kataku. Aku sangat emosional!”
“Sudahlah Sandra! Aku belum kalah! Aku akan kembali dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku! Untuk sementara aku harus mengalah pada keinginan ibuku! Mereka sangat marah sekarang dan aku tidak mau mereka membenciku dan menendangku.”
“Jadi Nyonya Rafaldi sendiri yang memintamu untuk pergi sementara waktu?” tanya Sandra lagi.
“Apa kamu yakin akan kembali lagi Nona Amanda? Kalau kamu tidak ada disini, bagaimana nasibku?”
“Tetaplah bekerja disana sebagai asisten pribadiku! Sandra, aku mau kamu melakukan sesuatu untukku selama aku tidak ada.”
“Apa itu nona?”
“Awasi Arimbi dan ayahku. Aku mau kamu mengawasi mereka, apa yang mereka lakukan selama aku tidak masuk kerja! Bisa kamu lakukan itu?”
“Bisa! Tidak masalah nona Amanda! Aku akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi, aku akan selalu membantumu. Katakan saja apa yang harus aku lakukan, aku akan melakukannya untukmu.” ucap Sandra dengan penekanan.
“Hanya itu saja untuk saat ini! Laporkan semuanya padaku. Bersikap baiklah disana pada Arimbi, kamu tidak mau dapat masalah kan? Dia sekarang bukan Arimbi yang sama! Dia adalah Nyonya Serkan, dan kamu tahu apa artinya itu? Dia adalah wanita paling berkuasa dan paling kaya sekarang! Kamu paham?”
“Ya aku paham! Menyebalkan sekali melihat wanita itu mendapatkan semuanya!” keluh Sandra.
“Oh iya, apa yang tadi mau kamu katakan padaku? Kamu bilang ada yang tidak beres?”
“Itu….Nona Arimbi juga tidak masuk kerja hari ini! Lihatlah, dia selalu saja sesuka hatinya hanya karena dia putri kandung keluarga Rafaldi.”
“Hm….kemana dia? Apa kamu tahu kenapa dia tidak masuk kerja?” tanya Amanda heran.
“Oh begitu! Mungkin ayah ada keperluan penting makanya mengundang pengacaranya datang. Sandra, aku tutup teleponnya dulu. Aku harus boarding sekarang! Aku akan menghubungimu lagi nanti.”
Di ruang direktur Rafaldi Group.
Tampak Yadid bersama dengan tim pengacaranya sedang berbincang serius. Salah satu pengacaranya menyodorkan dokumen yang langsung di tanda tangani oleh pria itu.
“Tuan Yadid, apakah anda berniat untuk segera mengumumkan ini?
“Belum. Nanti saja, saat waktunya tiba. Yang penting semuanya sudah dilegalkan dan saya merasa lega sekarang. Tolong segera selesaikan dokumen yang tadi saya minta.” kata Yadid.
“Baik, Tuan! Setelah semua berkas yang diperlukan sudah lengkap, dokumennya akan segera kami selesaikan agar bisa langsung Tuan tanda tangani.”
“Sekretarisku akan segera mengirimkannya! Kira-kira butuh berapa lama untuk menyelesaikan dokumen itu?” tanya Yadid lagi. “Apakah akan membutuhkan tanda tangan putriku?”
“Tidak perlu Tuan! Cukup anda saja yang menandatangani. Setelah semua berkas lengkap, dokumen akan selesai dalam tiga hari! Setelah dokumen legal selesai, maka akan diumumkan ke publik.”
“Baiklah. Terima kasih untuk bantuannya hari ini.”
“Sama-sama direktur Rafaldi. Anda sudah membuat keputusan tepat hari ini! Bagaimana pun putri kandung anda yang berhak atas semuanya. Saya harap kedepannya semua akan berjalan lancar sesuai rencana dan tidak ada gangguan dari Nona Amanda.”
“Ehm…..dia pasti tidak terima! Tapi bagaimanapun dia masih punya keluarga kandungnya. Toh saya juga akan memberikannya sejumlah uang kompensasi. Itu akan cukup untuk masa depannya, saya yakin dia tidak akan menolak! Seandainya dia menolak tawaran saya, maka kita akan jalankan sesuai apa yang anda jelaskan tadi! Lewat jalur hukum!” kata Yadid.
“Baiklah Tuan. Karena semuanya sudah selesai, kami undur diri dulu. Agar kami bisa mempersiapkan semuanya.” ketiga pengacara itu pun menyalami Yadid lalu keluar dari ruangan itu.
‘Ah, akhirnya aku bisa merasa sedikit lega! Ini waktu yang tepat menjadikan Arimbi sebagai pewarisku! Untung saja Amanda tidak ada jadi semuanya pasti berjalan lancar.’ gumam Yadid.
“Sartika! Keruanganku sekarang.”
“Baik Tuan.”
Tok tok tok
“Masuk.”
“Direktur Rafaldi, semua berkasnya sudah selesai dan sudah saya berikan kepada tim pengacara.” kata Sartika langsung melaporkan tugasnya yang sudah dilakukan sesuai perintah Yadid.
“Bagus. Ehm…..apa kamu melihat asisten Amanda?”
“Ya, direktur. Tadi saya melihatnya di ruang kerja wakil direktur. Dia sempat menanyakan perihal pekerjaan Amanda yang saya ambil dari ruang kerjanya. Dia sedikit protes pada saya.”
“Menurutmu berapa banyak uang yang pantas saya berikan padanya sebagai pesangon?” tanya yadid yang membuat Sartika membulatkan matanya.
“Eh, maksud direktur…..apakah Sandra mau diberhentikan?”
“Ya. Seorang pengkhianat tidak pantas untuk bekerja di perusahaan ini!”
“Tapi, direktur Rafaldi…..bagaimana jika wakil direktur rafaldi nanti kembali dan bertanya?”
“Dia tidak akan kembali untuk sementara waktu.” kata Yadid. “Tolong kamu siapkan surat pemberhentian kerja untuk Sandra.”