GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 104. HADIAH SPESIAL


Mereka melihat Emir memperlakukan Arimbi seperti layaknya seorang suami pada istrinya, Ya wajar, mereka kan pasangan suami istri sah tapi ini tidak seperti biasanya. Arimbi bahkan terlihat beberapa kali menyuapkan makanan pada Emir dan pria itu bahkan tidak menolak. Padahal dia paling anti memakai barang yang sudah dipakai orang lain tapi saat Arimbi menyuapinya dengan sendok yang sama, Emir tampak tenang.


Semua orang pun berpikir mungkin hubungan mereka mulai membaik. Beni yang melihat perubahan pada sikap Emir merasa senang dan puas hati. Menurutnya sejak kehadiran Arimbi disana, dia melihat banyak perubahan pada diri Emir apalagi pagi ini.


Keduanya tampak sangat akur dan Emir terus tersenyum menatap Arimbi sesekali. Entah apapun yang telah terjadi, Beni merasa bersyukur mungkin tak lama lagi Emir akan mau melanjutkan terapinya lagi.


Setelah selesai sarapan Arimbi teringat sesuatu. Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. “Emir, ini untukmu.”


“Apa ini?” tanya Emir mengambil kotak kecil itu.


“Itu hadiahmu. Jangan khawatir, itu harganya cukup mahal loh. Aku membelinya untukmu.”


Emir membuka kotak itu setelah menerimanya, dia melihat isi kotak itu adalah sebuah jam tangan mewah. Didalam hatinya dia merasa puas dan senang sekali menerima hadiahnya.


Arimbi berjalan mengitari meja makan mendekati pada Emir lalu melingkarkan tangannya ke lehernya dan mengecup bibirnya dengan cepat. Takut kalau Emir akan marah dan mematahkan kakinya lalu Arimbi langsung melepaskan pelukannya.


Dia langsung menjauh sebelum Emir mendorongnya pergi. Beni yang melihat interaksi keduanya merasa lega, dia bisa menilai kalau dia semakin menyukai Nyonya Muda yang pemberani itu.


Tentu saja Arimbi berani bersikap seperti itu karena Emir terus saja memanjakannya. Beni masih ingat betapa pemalunya Arimbi ketika dia baru pindah ke Kediaman Keluarga Serkan. Setelah itu Emir mengambil tisu dan mengelap pipinya sambil menggerutu keras sampai Beni bisa mendengar, “Isss…..air liurnya sampai kemana-mana!”


Beni tersenyum saat mendengar itu. Dia tahu Emir tidak bermaksud untuk bicara seperti itu. Bagaimana mungkin air liur bisa sampai ke pipi jika yang dicium adalah bibirnya? Mengenal sifat Emir seperti apa, tidak mungkin dia akan membiarkan Arimbi dekat-dekat dengannya apalagi menciumnya.


Tapi Beni yang sudah melihat mereka berdua pun tahu kalau sebenarnya Emir menyukai keintiman Arimbi dengannya. Dia hanya pura-pura jijik karena gengsi padahal tadi malam dia yang paling buas melahap Arimbi.


Sedangkan para pengawal hanya diam menundukkan wajah menahan senyum. Dimata mereka pun punya penilaian yang sama seperti Beni mengenai Nyonya Mudanya itu. Walaupun Emir mengeluh tentang air liur, tapi dia merasa kalau hadiah itu tidak membuatnya semangat saat dia menatap jam tangan mewah itu. Dia malah lebih menyukai barang-barang yang dibuat sendiri oleh Arimbi. Walaupun tidak mahal tapi itu buatan tangannya sendiri.


Memangnya kenapa kalau dulu istrinya itu tergila-gila pada Reza? Toh Reza belum pernah menerima hadiah buatan tangannya dan satu hal lagi, belum pernah menyentuh Arimbi karena Emir-lah yang pertama bagi Arimbi. “Ada apa Emir?” tanya Arimbi yang melihat eskpresi suaminya seperti tidak bersemangat seperti biasanya dia menerima hadiahnya.


“Tidak apa-apa. Besok berikan aku hadiah yang kamu buat.”


“Apakah kamu tidak menyukai jam tangan ini, Emir suamiku?” tanya Arimbi dengan wajah sedih.


“Suka. Tapi besok aku mau hadiah buatanmu.”


“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberimu sesuatu yang spesial.” jawab Arimbi.


“Kamu sudah memberinya.” balas Emir.


“Hah? Kapan? Yang mana?” tanya Arimbi bingung karena dia tidak ada memberikan apapun.


Emir memelototinya dan menatapnya tajam. ‘Dasar bodoh! Apa aku harus menjelaskan didepan semua pengawal dan pelayan? Hadiah spesial apa yang sudah diberinya tadi malam padaku? Fuuh!’ keluhnya didalam hati. “Dasar lemot!” ketusnya.


Beni dan para pengawal kembali dibuat heran tak paham apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Tapi tidak bagi Beni, dia tidak perlu berpikir lama untuk memahami arah pembicaraan Tuan dan Nyonya Mudanya itu.


‘Apakah benar Tuan Muda Emir sudah melakukannya? Apa itu berarti dia benar-benar normal? Ah, aku berpikir terlalu jauh.’ bisik Beni didalam hatinya.


Selesai sarapan keduanya pun meninggalkan rumah, karena tujuan mereka berada di daerah yang sama maka Arimbi masuk kedalam mobil Emir dan duduk disampingnya. Tidak seperti biasanya, kali ini terjadi pembicaraan di jok belakang. Emir mengucapkan beberapa patah kata untuk istrinya itu.


“Kalau kamu menemui kesulitan mintalah bantuan ayah.”


“Iya, aku tahu. Emir...maukah kamu mengajariku bisnis juga?” tanya Arimbi.


Meskipun ayahnya adalah seorang pebisnis dan pengusaha tapi Emir adalah pengusaha paling sukses dan orang paling berkuasa dibidang bisnis. Arimbi akan sangat bersyukur jika Emir bersedia mengajarinya bisnis juga maka itu akan sangat membantunya karena ada dua orang yang mendidiknya langsung. Dengan begitu, dia akan cepat belajar dan mengetahui seluk beluk bisnis serta trik dalam berbisnis sehingga kelak dia bisa mengalahkan Amanda.


“Hemm….Kamu bisa datang ke kantorku kalau kamu mau.”


“Benarkah, Emir? Bagaimana kalau aku menemanimu makan siang setiap hari?” tanya Arimbi.


“Baiklah.”


“Oh, terimakasih Emir. Kamu memang suami terbaik. Aku mencintaimu.” Arimbi langsung mengecup pipi Emir tanpa peduli supir dan pengawal yang duduk dibangku depan melirik mereka dari spion.


Untuk menuju ke perusahaan ayahnya, mereka harus melewati gedung Serkan Global Group terlebih dahulu. Setelah tiba didepan pintu masuk gedung, saat Emir hendak turun dari mobil dia terdiam sejenak menunggu sesuatu.


Sedangkan Arimbi yang sejak tadi menatap keluar jendela menyadari jika tidak ada pergerakan dari sebelahnya pun langsung menoleh. Dia mengerutkan keningnya melihat Emir yang diam saja, seolah mengerti Arimbi tersenyum manis.


“Emir, selamat bekerja ya. Semoga harimu menyenangkan, jangan lupa untuk merindukanku. Cup!” Arimbi kembali mencium pipi suaminya. Didalam hatinya Emir merasa sangat senang tapi dia tetap menjaga agar Arimbi tidak mengetahui perasaannya.


Dia mengangguk lalu dengan bantuan pengawalnya dia turun dari mobil. Tapi saat masih berada di pintu mobil dia menoleh menatap Arimbi lagi dan berkata, “Semangat!”


“Terimakasih Emir. Sampai jumpa nanti.” ujar Arimbi.


Para pengawal mengantarkan Emir masuk kedalam perusahaan, dia melihat mobilnya yang pergi membawa Arimbi ke kantornya. Saat itu juga Emir teringat sesuatu, tempo hari dia meminta Arimbi untuk mengambil kembali semua hadiah yang pernah diberikannya pada Reza. Tapi dia belum melihat hadiah-hadiah itu, sepertinya dia harus mengingatkan Arimbi nanti.


Beberapa karyawan yang melihat sikap Emir yang berbeda pagi ini pun merasa heran. Mereka merasa penasaran saat tadi mereka sempat melihat seperti ada orang lain didalam mobil atasan mereka itu. Tapi tak ada seorangpun yang berani bergosip, setelah Emir masuk ke lift khusus semua karyawan yang berada dilobi pun beranjak ketempat masing-masing.


Para pengawal mengantarkan Emir sampai keruang kerjanya lalu keluar dan menutup pintu. Emir sudah duduk dikursi kerjanya sambil menyunggingkan senyum. Entah mengapa dia merasa sangat senang mengingat apa yang dia lakukan tadi malam, menghukum istri nakalnya. Untung saja dia masih punya perasaan tidak sampai membuat wanita itu tidak bisa berjalan. Setidaknya itu bisa membuat Arimbi sadar kalau Emir itu pria normal.