
“Kenapa dia ada disini? Bukankah dia sedang ke luar negeri dan akan kembali dua minggu lagi? Waduh gawat ini! Apa dia sudah melihat berita yang sedang viral itu?” gumam Zivanna menatap seorang pria tampan yang baru saja masuk ke restoran itu. Sebelum dia ketahuan, Zivanna pun bergegas pergi ke toilet.
‘Sepertinya aku harus mulai melancarkan aksiku untuk mendekatinya!’ gumamnya lagi lalu setelah selesai menggunakan toilet, Zivanna merapikan riasannya. Setelah merasa semuanya sempurna, dia tersenyum lalu berjalan keluar dari toilet. Saat dia kembali kedalam restoran, dia melihat kearah meja yang ditempati pria itu. Sepertinya pria itu sedang menunggu seseorang, Zivanna pun menggunakan kesempatan ini.
“Hai Marcel!”
Pria itu menoleh lalu sedikit memicingkan matanya melihat Zivanna. “Hai!” sapanya singkat.
“Aku tadi bertemu temanku disini. Kebetulan sekali aku melihatmu jadi aku menghampirimu.”
“Oke. Dimana temanmu?” tanya Marcel dingin.
“Oh dia sudah pergi duluan. Aku tadi ke toilet sebentar dan baru akan pergi.” jawab Zivanna masih memasang senyum manisnya.
Dia menunjukkan kalau dirinya adalah seorang gadis kaya yang sopan, elegan dan beretika. “Apakah kamu sedang menunggu seseorang?” tanya Zivanna berbasa basi.
“Oh tidak. Aku baru sampai hari ini dan ingin makan malam saja disini. Apa kamu mau bergabung?”
Zivanna seolah sedang berpikir, ini aktingnya agar tidak terlihat seperti wanita murahan meskipun dia ingin langsung mengiyakan.
Keduanya terlibat pembicaraan serius. Meskipun Marcel bersikap datar dan dingin tapi pria itu berbeda dengan Emir. Jika Emir bersikap dingin dan datar tapi dia tidak mudah tergoda pada wanita dan dia juga bukan seorang pria penggoda. Tapi Marcel, sikap dinginnya itu dia gunakan untuk menarik lawan jenisnya. Dia sangat tahu jika semua wanita akan merasa penasaran dengan pria dingin dan akan mengejar pria seperti itu.
Dan dia sudah membuktikannya selama ini dengan bersikap dingin, semakin banyak wanita yang mengejarnya. Dan ternyata, itu juga berhasil pada Zivanna. Didalam hatinya Marcel tersenyum puas, ternyata tidak sesulit itu untuk mendapatkan putri dari keluarga Lavani ini. “Apakah kamu mau langsung pulang?” tanya Marcel memancing diair jernih.
“Hmm...iya! Aku tidak boleh pulang terlalu malam! Orang tuaku selalu mengkhawatirkanku.” ucapnya. Dia ingin menunjukkan pada Marcel bahwa dia adalah wanita baik-baik yang tidak melalui malam-malamnya dengan bersenang-senang diluaran sana. Mendengar itu, Marcel pun semakin senang dan merasa kalau dia sangat beruntung kali ini.
...******...
“Gio, apa ada yang ingin kamu tanyakan tentang proyek-proyek itu?” tanya Amanda.
“Tidak! Aku sudah mengirimkan datanya ke Johan! Dia akan segera membereskan ini semua. Malam ini kamu bisa tidur pulas dan besok saat kamu bangun, akan langsung mendengar kabar baik.”
“Aku sudah tidak sabar! Apa benar Zivanna sedang bersama seseorang sekarang? Dia mengirimkan pesan padaku katanya dia menemui seseorang.”
“Oh itu. Ya, salah satu rekan bisnis keluarga kami! Tidak masalah kan kalau kita berdua berbincang disini? Amanda, katakan padaku bagaimana sikap kedua orang tuamu setelah Arimbi kembali?”
“Sikap ibu memang langsung berubah meskipun ayah masih tetap sama seperti dulu. Tapi akhir-akhir ini sikap ayah mulai berubah meskipun masih menyayangiku.”
“Kamu terlalu naif Amanda! Mereka sengaja menyembunyikan status Arimbi dan Tuan Emir darimu! Itu pertanda bahwa mereka tidak lagi menganggapmu sebagai bagian dari keluarga mereka! Kamu harus sadar diri! Jika mereka masing menganggapmu tidak akan ada hal yang mereka sembunyikan darimu! Bukankah kamu juga putri mereka dan masih menyandang nama keluarga Rafaldi?”
Amanda terdiam memikirkan perkataan Gion. Ya memang benar apa yang dikatakan Gio! Kedua orang tuanya sudah menyembunyikan rahasia itu darinya, bukankah itu berarti mereka tidak lagi menganggapnya sebagi putri mereka lagi atau mereka memang tidak mempercayainya lagi.
“Gio, katakan padaku apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Sekarang kamu adalah kekasihku. Aku akan membantumu Amanda, kamu akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu! Kamu tidak bisa menyingkirkan Arimbi begitu saja! Sekarang ada Tuan Emir yang akan melindunginya! Dia adalah Nyonya Serkan sekarang dan kamu tahu kan arti status itu.”
“Dia adalah wanita terkaya dan sudah pastinya akan memiliki kuasa! Pffff…..bahkan Tuan Emir membelikan mall mewah itu untuknya! Betapa beruntungnya wanita itu! Yang aku tidak mengerti adalah, Tuan Emir sangat membencinya waktu itu, aku masih ingat bagaimana Tuan Emir mengerjainya sampai beberapa hari dia menderita sakit. Bagaimana bisa mereka menikah? Sejak kapan mereka menikah?” pertanyaan itu meluncur dari bibir Amanda.
“Mereka menikah lebih dari sebulan.” ucap Gio yang membuat mata Amanda membelalak?
“Apa? Lebih sebulan?” tanya Amanda ingin memastikan.
“Iya! Dan selama itu pula kedua orang tuamu merahasiakan pernikahan itu darimu. Apa artinya itu Amanda? Mereka tidak menganggapmu sebagai bagian keluarga Rafaldi lagi, jadi kamu tidak harus tahu tentang hal itu. Buka matamu Amanda!”
“Aku akan melakukan apapun untuk merebut semuanya dari mereka. Tapi bagaimana caranya? Aku ingin Arimbi tersingkir selamanya.”
Lalu Gio merendahkan suaranya khawatir jika ada orang yang mendengarkan di luar. Dia pun menguraikan semua yang harus Amanda lakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
...******...
Yadid baru saja tiba di ruang kerjanya pagi ini sambil diikuti oleh Sartika sekretarisnya yang segera melaporkan perkembangan terbaru padanya. Tampak eskpresi wajah Yadid tiba-tiba berubah saat dia membaca semua laporan yang diberikan oeh Sartika padanya. “Apa kamu sudah menghubungi klien-klien kita? Bagaimana bisa jadi begini?”
“Sudah Presdir! Tapi mereka mengatakan kalau perusahaan mereka sudah menandatangi kerjasama dengan perusahaan lain yang penawarannya lebih menarik dari yang perusahaan kita berikan.”
Yadid memijit pelipisnya, “Bagaimana perusahaan lainnya? Apa alasan mereka membatalkan pemesanan dari perusahaan kita?”
“Ada yang memberikan alasan yang sama Presdir! Tapi ada juga yang tidak mau mengatakan apa alasannya. Saya sudah mendesak mereka, tapi mereka bersikeras tidak akan menandatangani kerjasama dengan perusahaan kita.” jawab Sartika. “Ini laporan dari divisi pembelian dan divisi keuangan. Beberapa pembayaran harus segera dilakukan untuk pemesanan yang sudah kita lakukan.”
“Mereka tidak bisa melakukan ini! Sejak mereka menyetujui kerjasama kan hanya menunggu penandatanganan kontrak kerjasama, cepat berikan padaku kontak mereka. Biar aku menanyakan langsung pada mereka.” ujar Yadid yang kehilangan mood-nya pagi ini.
Sementara itu Arimbi yang baru saja hendak masuk ke lift langsung dihentikan oleh Amanda. “Arimbi! Tunggu sebentar.”Amanda memegangi lengan Arimbi dan tersenyum.
“Ada apa?” tanya Arimbi tanpa ekspresi apapun diwajahnya.
“Begini. Tuan Jordan mengundang kita makan malam untuk merayakan kerjasama perusahaan. Jadi kita akan pergi menemuinya malam ini.”
“Baiklah. Tidak masalah! Dimana tempatnya?” tanya Arimbi menatap Amanda dengan serius.
“Aku akan menanyakan pada Tuan Jordan lalu akan kuberitahu padamu nanti. Dia pasti senang kita menerima ajakan makan malamnya. Aku pergi dulu.” ujar Amanda lalu melangkah pergi menuju kearah meja resepsionis.