
“Emir! Apa kamu pikir aku terlalu kejam pada Reza?” tanya Arimbi meskipun Emir tidak mengatakan apapun tapi dia tidak ingin Emir menganggapnya wanita kejam.
“Tidak, sebenarnya kurasa kamu itu terlalu baik! Harusnya kamu memberi pelajaran yang lebih kejam pada mereka. Hanya dengan begitu mereka akan takut padamu!”
“Haahh?” jawaban itu mengejutkan Arimbi.
“Kalau kamu kembali untuk balas dendam pada seseorang, ambil semua yang mereka miliki! Hancurkan keluarganya, buat pria itu jadi tunawisma. Pastikan Reza terhina dan berada diposisi terbawah dihidupnya yang membuatnya tidak bisa bangkit lagi!” ujar Emir.
“Sepertinya aku masih terlalu baik ya.” jawab Arimbi.
“Kenapa kamu sangat membencinya Arimbi? Kurasa kamu mulai membencinya tepat saat kamu menolak lamaranku!” tanya Emir yang merasa penasaran dengan Arimbi.
‘Semenjak Arimbi terbangun setelah menyayat pergelangan tangannya seperti ada sesuatu yang misterius tentangnya!’ tanya Emir didalam hatinya. Emir telah mencari tahu tentang masa lalu Arimbi dan masih menjadi misteri baginya.
Emir terbiasa segala sesuatunya dalam keadaan terkendali dan sebenarnya dia tidak tahu bagian besar dari Arimbi mengganggunya. Emir menginginkan wanita itu selugu mungkin sehingga dia bisa melakukan apapun yang dia mau dengannya.
“Maaf Emir. Aku belum bisa memberitahumu. Aku akan mengatakannya pada saat yang tepat!”
Mereka masih belajar untuk lebih dekat lagi dan masalah perasaan cinta mereka tak berjalan mulus karena Emir tidak memiliki perasaan apapun pada Arimbi. Jika Arimbi menceritakan semuanya padanya sekarang bisa-bisa Emir malah menganggapnya gila. Kelahiran kembali adalah sesuatu yang hanya muncul di novel fantasi. Tidak mungkin Arimbi gegabah memberitahu pria itu jika ini adalah kehidupan keduanya.
Arimbi harus membuat cerita yang menyakinkan agar Emir percaya. Sedangkan Emir tak mendesak jawaban dari Arimbi setelah mendengar jawaban wanita itu. Semua orang memiliki rahasia masing-masing dan dia menghormati hak pribadi Arimbi.
Mereka melihat Desi berdiri diluar sebelum mereka kembali ke rumah. Desi terlihat cemas dan berjalan kesana kemari. Ketika Desi melihat mereka, segera dia menemui sepasang suami istri itu. Desi berhenti dan menunggu mereka saat keduanya sudah mendekat dia langsung menyapa Emir. “Halo Tuan Emir!”
Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Arimbi dengan sorot mata memperingatkan.
“Apa yang nenek inginkan kali ini?” tanya Emir ketus.
“Nyonya Serkan ingin bertemu dengan Nona Arimbi, Tuan!”
‘Nyonya Serkan ingin menemuiku jam segini?’ tanya Arimbi dalam hati. Seketika dia mencoba memikirkan apa alasannya dia dipanggil. Layla Serkan boleh jadi sudah mendengar tentang Arimbi yang meminta Beni untuk menyuruh anjing-anjing itu mengejar Reza.
Bisa jadi Layla tahu semua yang dilakukan semua orang disana kecuali Emir. Emir tidak pernah peduli dan mengabaikan mereka.
“Aku akan menemui beliau setelah aku mengantar Emir masuk!” ujar Arimbi. Dia tak mungkin dan tak akan pernah menolak panggilan dari Layla.
Arimbi terkejut karena Emir menolak panggilan neneknya untuk Arimbi. Dia berhenti sejenak dan berkata, “Baiklah Emir.” lalu dia mendorong kursi roda Emir masuk kedalam rumah. Arimbi melirik kearah Desi sejenak lalu kembali mendorong kursi roda masuk kedalam rumah Emir. Desi hanya memperhatikan keduanya masuk kedalam rumah lalu dia membalikkan badan dan pergi kembali kerumah utama.
“Jadi Emir tidak mengizinkannya ya?” Layla bicara dengan suara pelan.
“Ibu, kita tidak bisa membiarkan Arimbi melakukan ini. Dia menyuruh anjing-anjing itu mengejar orang yang tidak bersalah! Kita tidak takut pada siapapun tapi kita tidak bisa membiarkannya melukai orang lain hanya karena dia bisa melakukan itu!” ucap Rania.
Layla hanya menatap Rania lalu berkata, “Emir mengizinkannya jadi meskipun terjadi sesuatu, Emir akan bisa mengatasinya. Sudah malam lebih baik kita tidur. Ibu sudah sangat menganti dan tidak semuda dulu. Ibu sudah tidak bisa tidur terlalu larut.” Layla pun berdiri.
Rania pun ikut berdiri, dia memeluk Layla untuk membantunya. Sepertinya Layla tidak ingin ikut campur dalam masalah ini.
Sedangkan Rania merasa geram karena Arimbi berhasil mempengaruhi putranya namun dia tak mau berdebat dengan Layla tentang itu. Rania membawa Layla kembali ke kamarnya lalu dia pun kembali kekamarnya sendiri dan saat masuk dia melihat suaminya sedang membaca majalah. Itu membuatnya semakin kesal, Rania merampas majalah itu lalu melemparkannya kearah suaminya.
“Ada apa sayang?” Alarik berdiri dan meletakkan majalah itu ke nakas. “Apa ada seseorang yang membuatmu marah? Ceritakan padaku aku akan memberi mereka pelajaran!”
“Baiklah kalau begitu kamu pergilah kerumah Emir dan usir ****** itu dari rumahnya! Dia telah membujuk putra kita untuk menyuruh anjing-anjing mengejar seorang pria tak bersalah! Nama Emir sudah buruk dan sekarang wanita ****** itu semakin memperburuk namanya!”
“Oh itu? Emir mengizinkannya. Kamu tidak bisa melakukan apapun tentang itu! Kita tidak punya hak untuk memberitahunya apa yang harus dia lakukan. Ayah dan ibu yang membesarkannya bukan kita! Dia hanya menghormati kita sebagai orang tuanya tetapi dia tidak akan pernah membiarkan kita memerintahnya apalgi mengatur hidupnya! Sudahlah sayang, kamu jangan terlalu khawatir, itu hanya akan membuat hatimu tidak tenang.” Alarik menyuruh istrinya duduk dan menenangkannya.
“Percayalah pada Emir! Dia adlaah kepala keluarga ini dan dia tidak akan pernah melakukan apapun yang akan melukai keluarga ini. Tidak peduli apa yang terjadi pada hubungannya dengan Arimbi, itu urusan pribadinya dan bukan kita! Yang bisa kita lakukan hanyalah mengamatinya.”
“Apa maksudmu dengan kata tidak akan melukai keluarga ini? Dia menyuruh anjing-anjing itu mengejar Reza seperti perintah Arimbi! Dia hanya akan melawan seluruh keluarga Kanchana. Kita memang tidak dekat dengan keluarga Kanchana tapi kita juga bukan musuh. Sekarang Emir hanya membuat permusuhan dengan mereka!” keluh Rania pada suaminya.
“Apa yang salah dengan gadis desa itu? Dia dulu menggilai reza dan datang pada kita lalu menyayat tangannya hanya untuk menolak menikahi Emir! Sekarang dia berubah dan menyuruh anjing mengejar Reza? Aku tidak akan percaya kalau aku belum melihat rekaman cctv.” tambah Rania lagi.
“Baiklah, sekarang tenangkan dirimu dulu. Tidur yang nyenyak dan aku akan mengajakmu ke pulau besok. Mari kita bersantai disana selama beberapa hari dan kita bisa berseluncur, memancing dan melihat pemandangan. Kita akan melakukan apa yang kamu mau.” bujuk Alarik pada istrinya.
Rania masih saja mengeluh dan berkata, “Aku tidak sedang gila, tahu! Aku hanya mengkahwatirkan putra kita saja. Aku tidak mau hal buruk terjadi padanya karena wanita itu!”
“Aku tahu kamu tidak gila. Anak-anak kita semuanya pintar jadi kita tidak perlu merisaukan mereka.”
Membayangkan putra dan putrinya membuat Rania tersenyum bangga.
Sementara itu diluar sana. Terlihat Reza yang berlari kencang seolah ajal sudah menjemputnya. Dia bahkan nyari menabrak lampu jalan beberapa kali saat dia berlari cepat. Tak lama setelah dia merasa sudah jauh dari rumah mewah Keluarga Serkan dan dekat dengan mobilnya yang dia parkir ditepi trotoar, dia mengira bahwa dia kini sudah aman. Dia bersandar dikursi setelah masuk kedalam mobilnya dengan tubuh gemetar ketakutan.