
“Siapa yang memberimu ini?” tanya Aslan. Menurutnya hadiah itu sangat lucu dan imut. ‘Siapa yang sudah berani memberikan Emir sepasang boneka tikus? Meskipun boneka itu dibuat dengan tingkat kejelian yang tinggi sehingag terlihat seperti tikus sungguhan tapi boneka itu tidak ada harganya!’ gumamnya didalam hati.
Dan Aslan pun yakin jika boneka tikus itu dijual online tidak akan ada harganya. Mengingat bahwa Emir adalah orang yang memiliki kekayaan triliunan, bagaimana mungkin ada orang yang memberinya hadiah seperti itu…..
Emir tidak mengucapkan sepatah katapun, dia menggenggam erat dua tikus itu. Tanpa sadar kalau ada speaker didalam tikus itu. Saat dia menggenggamnya erat-erat boneka itu mengeluarkan suara ciutan kecil dan Aslan pun tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.
“Kalau kamu terus tertawa, keluarlah!”
Dengan cepat Aslan menutup mulutnya.
“Baiklah….baiklah! Aku tidak akan tertawa lagi. Ngomong-ngomong siapa yang memberimu boeka kecil itu? Detail yang ada diboneka itu sangat bagus dan terlihat seperti tikus asli. Aku tidak akan terkejut jika tikus itu jalan.” ujar Aslan hendak mengambil salah satu tikus dari tangan Emir. Tapi Emir langsung menangkis tangan Aslan.
“Eh, Direktur Emir!”
Aslan melihat teman baiknya itu dengan ekspresi terkejut sambil menggerutu. ‘Apa bagusnya sih boneka tikus itu sampai-sampai Emir pelit begitu? Masa mau pegang bonekanya saja tidak bisa, huh! Oh tidak! Pasti ada sesuatu ini. Kenapa dia sangat berhati-hati dengan boneka itu? Siapa yang memberikan boneka itu pada Emir?’ bisiknya didalam hati penuh rasa penasaran.
Saat Aslan memikirkan itu, dia mulai curiga bahwa Emir sedang jatuh cinta, tapi dia tidak bisa memikirkan siapa yang bisa menjatuhkan raksasa dingin ini?
Emir kembali tersadar dan bersandar di sandaran kursinya dengan tangan kanannya masih memegang tikus itu sedangkan tangan kirinya memegang cangkir berisi kopi.
Sesekali dia menekan kedua tikus itu sambil meminum kopinya dan ciutan tikus-tikus itu terdengar memecahkan keheningan diruang kerja Emir. Dia tidak pernah menyangka jika Arimbi akan memberinya hadiah seperti ini. Apa dia membuatnya sendiri?
Menurut hasil penyelidikan pengawalnya, Arimbi pernah memiliki pusat edukasi seni, sepertinya dia memang memiliki talenta dan kreativitas dibidang seni.
Tadi Arimbi berkata bahwa hadiahnya bukanlah sesuatu yang berharga, namun harga hadiah itu berada dalam arti hadiah ini. Selain itu, jika dilihat dari penampilannya saja boneka ini memiliki kualitas yang sangat baik. Awalnya Emir memiliki suasana hati yang buruk karena kurang tidur, tapi sekarang dia merasa lebih baik setelah menerima hadiah Arimbi.
Sedangkan Aslan yang sedari tadi menatap Emir dengan seksama semakin yakin kalau temannya itu akhirnya jatuh cinta karena sedikit lagi Emir akan tersenyum.
Setelah Emir menghabiskan kopinya dan meletakkan cangkir dimeja, dia baru sadarjika Aslan masih memandanginya. Dia mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa kamu masih disini?”
“Apa kamu tidak melihatku sejak tadi sudah disini? Aku akan pergi setelah kamu selesai menandatangani semua dokumen itu.”
Sambil mengerucutkan bibirnya, Emir meletakkan sepasang tikus itu dimeja dan menghadapkan tikus-tikus itu kearahnya. Aslan semakin bingung dan heran dengan sikap Emir.
‘Apa dia berencana untuk memandangi tikus-tikus itu setiap kali dia merasa lelah?’ pikirnya.
Emir mengambil pulpen dan mulai memeriksa dokumen satu persatu dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Aslan sebelum menandatangani semua dokumen itu.
“Tolong informasikan pada Mike untuk menemuiku nanti jam 11.30 siang. Aku membutuhkan bantuannya.”
“Bukannya rambutmu masih pendek? Kenapa kamu mencari Mike?” Aslan bertanya sambil menatap kearah rambut Emir.
“Aslan! Sepertinya hari ini lidahmu cukup panjang ya! Apa kamu butuh bantuanku untuk memendekkan lidahmu?”
“Tidak, terimakasih.” jawab Aslan cepat.
“Kalau begitu diamlah! Lakukan saja perintahku. Ingat ya aku ini adalah bosmu saat kamu ada dikantor , jadi kamu harus menuruti semua perintahku!”
“Maaf!” ucap Aslan dengan wajah serius.
Emir kembali fokus menandatangani semua dokumen-dokumen itu tapi tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba dia berkata, “Aku sudah menikah!”.
“A---apa?” Aslan terkejut sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
“Sepasang tikus itu adalah hadiah dari istriku!”
Akhirnya Aslan mengerti kenapa Emir menjaga sepasang boneka tikus itu dengan sangat hati-hati dan tidak membiarkan orang lain menyentuhnya. Tapi Aslan tidak tahu siapa istri Emir. Dengan wajah memohon, Aslan menatap Emir karena dia penasaran siapa wanita pemberani yang sudah berani menikahi Emir dan memberinya hadiah.
Tapi sepertinya Emir tidak menghiraukan permohonan Aslan dan melanjutkan menandatangani dokumen-dokumen itu. Berita mengejutkan ini bagaikan bom yang menghancurkan Aslan menjadi kepingan-kepingan kecil. Tapi Emir tetap mengabaikannya dan menggantung rasa penasaran Aslan.
Meskipun Aslan merasa penasaran pada wanita yang menikahi Emir namun dia tetap tidak bertanya pada pria itu karena melihat sifat Emir, tidak mungkin dia akan memberitahunya siapa wanita itu.
Sementara itu ditempat lain. Arimbi yang tidak tahu apa yang dilakukan Emir di kantornya saat ini pun duduk menunggu Emir pulang kerumah agar Arimbi bisa pergi kerumah orangtuanya. Dia tidak menyangka justru ibunya yang malah datang duluan. Tapi Mosha tidak bisa memasuki Villa Serkan. Begitu banyak aturan dan penjagaan ketat di sekitar Villa Serkan.
Siapapun yang datang berkunjung harus memiliki surat izin atau undangan dari salah satu anggota keluarga Serkan agar bisa masuk. Setelah itu, pelayan akan mengantarkan tamu ke tempat dimana orang yang mengundangnya berada. Para tamu tidak diperbolehkan untuk berjalan-jalan mengelilingi Villa. Semua itu dilakukan untuk menjaga keamanan dan privasi keluarga kaya itu.
Mosha datang untuk menemui putrinya Arimbi yang tinggal bersama Emir. Jadi dia harus mendapatkan izin Emir agar bisa memasuki Villa Serkan. Tetapi Emir sedang tidak ada dirumah dan Arimbi tidak mempunyai nomor ponsel suaminya itu, dia bahkan tidak mengetahui apapun tentang Emir. Sedangkan Emir sudah mengetahui nomor telepn Arimbi dan semua tentangnya dan masa lalunya.
Karena Mosha tidak bisa memasuki Villa Serkan, akhirnya dia tidak punya pilhan lain, dia menghubungi Arimbi. Saat arimbi menerimatelepon dari ibunya yang memberitahukan kalau ibunya sedang berada diluar gerbang, Arimbi bergegas pergi keluar. Meskipun dia masih belum hapal dengan denah Villa Serkan, akhirnya dia pun sampai setelah beberapa kali salah jalan.
Dia bahkan membutuhkan bantuan para pelayan untuk menunjukkan jalan padanya.
“Ibu!”
“Arimbi sayang!”
Saat Mosha melihat Arimbi, dia langsung memeluk anaknya dan memeriksa tubuh anaknya untuk memastikan kalau Arimbi baik-baik saja. Dia pun menghela napas lega dan tersenyum sambil menangkup wajah anaknya dengan kedua tangannya.
“Arimbi! Kenapa kamu tidak bilang sama mama kalau kamu akan pergi? Aku benar-benar takut saat aku tidak melihatmu dirumah. Setelah ayahmu memberitahuku aku segera ingin meneleponmu tapi ayahmu bilang sudah larut malam dan kamu sudah tidur, Aku tidak bisa tidur nyenyak sejak kamu pergi. Aku selalu memikirkanmu…..”