
“Kenapa kamu bertanya begitu? Apa kamu ada rencanca memberiku lebih banyak hadiah jika kamu kuberitahu bagaimana rasanya menerima hadiah?” tanya Emir yang tak disadari Arimbi jebakan dalam kata-kata Emir itu.
Wajah Arimbi pun langsung berbinar-binar, “Emir! Kalau kamu mau aku bisa memberimu hadiah kecil setiap hari. Serius loh!” ucap Arimbi penuh semangat.
“Baiklah! Mulai besok dan seterusnya aku mau menerima hadiah darimu ketika aku pulang kerumah setiap harinya. Aku ingin hadiah sebanyak mungkin dan aku tidak ingin kamu membeli hadiahnya asal-asalan! Hadiah itu harus dipilih dan menjadi hadiah yang bagus!” ujar Emir.
Mata Arimbi seketika membulat, dia menatap Emir tak berkedip dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun,
‘Ya ampun! Bodoh banget sih aku! Kenapa aku jadi menggali kuburanku sendiri? Aihhh…...pria ini benar-benar pandai memasang jebakan dalam kata-katanya! Hufff!’ bisiknya dalam hati dan mengutuki dirinya sendiri yang masuk kedalam jebakan Emir.
Melihat ekspresi wajah Arimbi yang berubah muram membuat Emir menjadi tidak senang melihatnya, dia kembali mencubit pipi Arimbi. Tapi Arimbi malah marah dan menampar tangan Emir dari wajahnya. “Emir! Katakan saja apa yang ada di pikiranmu. Aku akan mendengarkan dan mengingat dengan baik dan sepenuh hati! Kamu tidak perlu mencubit pipiku setiap saat! Sakit tau!”
Karena pipinya yang dicubit Emir terasa sakit, Arimbi menjadi tidak senang dan membalas dengan mencubit pipi Emir lagi. Pria itu memelototinya tapi saat melihat sorot mata Arimbi yang seperti anak kucing kehilangan induk, dia pun tak jadi memarahinya.
“Arimbi! Kamu tahu tidak? Banyak wanita diluar sana yang ingin memberiku hadiah tapi aku tidak pernah menerima satupun hadiah dari mereka!” ujar Emir lalu melirik Arimbi.
‘Wanita tak tahu malu ini! Tadi dia sendiri yang menawarkan diri mau memberiku hadiah setiap hari. Kenapa sekarang malah dia yang tidak senang? Huh! Memangnya hadiah apa sih yang bisa dia beri padaku setiap hari! Paling-paling juga hadiah murahan! Harusnya dia bersyukur aku mau menerima hadiah darinya, aku tak pernah mau menerima hadiah dari wanita manapun selama ini!’ gumam Emir didalam hatinya.
“Oh! Begitu? Emir, aku tahu kamu itu tegas dan disiplin dan tidak suka main-main dengan wanita!”
Di masa lalu memang jumlah wanita yang ingin menikah dengan Emir sangat banyak, dia bisa memiliki wanita manapun yang dia inginkan. Ketika Arimbi masih tinggal di desa, dia pernah mendengar nama Emir dan melihatnya di surat kabar dan juga di televisi.
Jadi dia tahu semua tentang pria itu, wanita manapun rela menyerahkan diri dan akan berusaha untuk bisa naik keatas ranjangnya. Seperti Amanda misalnya yang pernah mencobanya tapi malah ditendang! Andai saja kecelakaan mobil itu tidak terjadi, posisi Nyonya Serkan saat ini tidak akan pernah menjadi milik Arimbi karena dia tidak memenuhi syarat.
Saat Arimbi memikirkan itu, dia melirik ke bagian tubuh Emir. Dia pikir dia akan memperhatikan Emir diam-diam supaya dia tidak menyadarinya; namun tiba-tiba wajahnya begitu dekat dengannya sehingga Arimbi bisa mencium aroma tubuhnya yang berbeda dari Reza.
Aroma tubuh Emir itu terasa familiar, Arimbi tidak terlalu memikirkannya karena dia pikir aroma itu tidak asing karena dia menciumnya ketika dia menggigit Emir pada hari pertama dia hidup kembali.
Mungkin itulah kenapa dia merasa aroma tubuh Emir tidak asing baginya. “Emir?”
Arimbi merasa cemas saat matanya memancarkan sedikit kegugupan saat melihat wajah Emir yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. ‘Apa yang sedang dipikirkan oleh Emir?’
“Sayang sekali ya karena aku tidak menyesal menikahimu!” jawab Arimbi. Tanpa tahu malu, Arimbi langsung meletakkan tangannya di paha Emir dan dia bisa merasakan otot-ototnya langsung menegang karena sentuhannya.
Emir yang tak menyangka Arimbi akan senekat itu meletakkan tangannya di pahanya. Bukan hanya meletakkan tangannya saja, tapi sebaliknya dia malah menyentuh dan menggerakkan tangannya lebih jauh…..meskipun Emir tampak acuh tak acuh diluar tapi dia merasa cemas karena tidak ada seorang wanita pun yang pernah memperlakukannya seperti itu.
Emir pun jadi dilema ketika dia merasakan sentuhan tangan Arimbi semakin berani. Haruskah dia membiarkannya terus menyentuhnya seperti itu atau menarik tangannya dan mematahkannya sebagai hukuman? Eh? Apa-apaan ini? Pikirnya.
Tangan lembut itu telah berubah arah, alih-alih masuk lebih jauh sekarang malah bergerak ke arah lututnya. Lututnya tulang semua dan keras seperti batu. Apa yang harus disentuhnya? Wanita tak tahu malu ini bahkan tidak tahu bagaimana memanfaatkannya bahkan ketika dia memiliki kesempatan untuk melakukannya.
‘Huh! Dia ini tak tahu malu atau bodoh sih? Ada kesempatan bukannya dipergunakan malah tangannya pindah ke lutut!’ Emir mengomel didalam hatinya.
“Emir! Aku akan bertanggung jawab dan membantumu berjalan seperti orang normal lagi.”
Saat Emir diam-diam mengeluh bahwa Arimbi tidak tahu bagaimana memanfaatkan kesempatannya, dia mendengat suaranya yang lembut, tegas dan penuh perhatian.
Emir menoleh dan menatap Arimbi. “Kamu tidak perlu bertanggung jawab karena aku lumpuh dan apakah aku bisa berjalan lagi seperti orang normal juga bukan tanggung jawabmu!”
“Lalu…..?” Arimbi bingung. ‘Bagaimana aku bertanggung jawab padanya? Bantu melahirkan anak? Kan dia tidak bisa melakukan itu? Tidak mungkin juga menyinggungnya soal itu, nanti dia malah marah karena melukai martabatnya.’ keluhnya didalam hati.
“Sejak aku lumpuh bahkan pelayan dirumah pun melihatku sebagai binatang buas! Mereka akan bersembunyi dariku dan tak ada seorangpun dari mereka yang berani mendekat, bahkan keluargaku pun bersikap kaku seperti patung saat mereka bersamaku. Itulah sebabnya aku membutuhkan pengasuh.”
Emir bermaksud memberitahu Arimbi bahwa dia telah memaksanya untuk menikahinya karena dia ingin bertanggung jawab. Emir setuju untuk menikahinya bukan karena cinta tapi untuk menjadikannya sebagai pengasuh gratis!
Sayangnya, dia tidak pernah tahu kalau di masa depan kelak hal yang menunggunya bukan hal manis melainkan temperamen yang berubah-ubah dan cara-cara yang tidak ada habisnya untuk mempermalukannya.
Namun Arimbi sama sekali tidak marah. Sebagai gantinya dia tersenyum manis dan berkata, “Emir, aku Arimbi Saraswaty Rafaldi adalah orang yang menepati janjiku. Selama aku sudah berjanji pada seseorang, aku pasti akan menepati janjiku!”
Arimbi kembali mengingat kehidupan sebelumnya, setelah menikahi Reza malah Arimbi rela menjadi ibu rumah tangga seperti janjinya pada Reza tetapi yang menunggunya adalah akhir hidup yang mengerikan. Bahkan setelah membandingkan kemungkinan yang bisa saja terjadi kelak setelah menikahi Emir, dia tetap memutuskan untuk menikahi Emir.
Lagipula Arimbi bisa menggunakan nama Emir untuk menakut-nakuti orang lain. Arimbi adalah seekor rubah dibelakang harimau, dan dia akan membuka jalan untuk masa depannya saat berurusan dengan musuh-musuhnya dari kehidupan masa lalunya.