GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 156. CUACA CUKUP PANAS!


Arimbi pun buru-buru menyerahkan baju dan dasi yang baru dibelinya itu pada suaminya. Dia menghampiri dan bertanya padanya dengan wajah serius, “Emir sayang, apakah aku perlu membantumu? Aku hanya ingin memastikan kalau itu cocok untukmu.”


Namun Emir tetap diam saja, lalu Arimbi mengambil baju itu dari tangannya dan membantunya memakaiannya sebelum dia membantu Emir berdiri.


“Emir, pakaiannya sangat pas! Aku memang punya selera yang bagus!” serunya senang. Kemudian Arimbi mengeluarkan dasi yangbaru saja dia beli dan membantunya memakaikannya juga. Sedangkan Emir hanya membiarkannya memerintahnya dengan bebas meskipun wajahnya berekspresi tegang.


“Wah! Suamiku tampan sekali!” ucap Arimbi menggigit bibir bawahnya.


Arimbi dengan jelas menunjukkan kepribadiaannya yang tak tahu malu saat dia langsung melingkarkan tangannya dileher Emir dan mencium bibirnya yang sejak yang sejak tadi sangat menggodanya untuk dicium.


Setelah berciuman beberapa saat, Arimbi menargetkan wajah tampanya dan menciumi wajah Emir dan meninggalkan jejak air liur diseluruh wajahnya sebelum melepaskannya dengan tatapan puas.


Emir langsung menyentuh wajahnya dan mencibir dengan jijik, “Arimbi kamu seperti anak anjing, air liurmu ada diseluruh wajahku!” dan tanpa ragu Emir malah menarik Arimbi kembali kedalam pelukannya saat dia mengencangkan cengkeraman dipinggangnya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya memegang bagian belakang kepalanya dengan kuat.


Kemudian bibir Emir mendekati bibir Arimbi yang harum dan dia menjarahnya dengan penuh gairah dan menciuminya dengan bersemangat. Arimbi pun tak tinggal diam, dia membalas ciuman suaminya dengan bergairah.


Keduanya saling berciuman dan memainkan lidah, ciuman berakhir setelah keduanya kehabisan napas lalu melepaskan tautan bibir mereka. Setelah itu Arimbi memuji suaminya.


“Hebat sekali suamiku!” Arimbi berasumsi bahwa pria yang tabah sepertinya tidak akan memiliki keterampilan romantis dan taktis seperti tadi. Baru kali ini mereka berdua menikmati ciuman paling bergairah dan waktunya cukup lama sehingga membuat bibir mereka terasa bengkak.


Emir yang mendengar pujian istrinya tersipu dan mendorongnya kesamping. “Kamu telah meraba-raba aku berkali-kali. Jadi aku melakukan ini belajar dari pengalaman.”


Arimbi berpikir kalau suaminya ini terlalu sombong dan percaya diri.


“Cuaca semakin panas.” ujar Emir dengan tenang sambil mengangkat tubuh Arimbi dan mendudukkannya kembali diatas pangkuannya lalu meremas bokongnya.


Emir mengangkat tangannya dan melepaskan pakaian yang dia kenakan. Bagian atas tubuhnya kini polos dan Arimbi yang melihat tubuh sempurna suaminya hanya bisa menelan salivanya.


“Aku akan membelikanmu pakaian yang lebih tipis, sekarang cuaca panas.” ucap Arimbi sekenanya.


“Aku sudah punya banyak pakaian.” jawab Emir menjulurkan tangannya untuk melepaskan pakaian Arimbi.


“Ya, aku tahu. Kamu sudah punya banyak pakaian, tapi tidak ada satupun yang aku belikan. Aku suka membelikan pakaian untuk suamiku.” ujar Arimbi pasrah membiarkan suaminya melucuti pakaiannya.


Akhirnya Emir hanya diam tak mau mendebat istrinya lagi dan meneruskan apa yang ingin dia lakukan.


“Emir.” Arimbi mengesampingkan pakaiannya dan dengan berani meringkuk kedalam pelukannya.


Awalnya Emir mendorong istrinya kesamping tapi sekarang dia membiarkannya meringkuk dalam pelukannya sambil meraba-raba tubuhnya yang sudah polos.


Ini terasa sangat nyaman dan hangat pikirnya. Satu tangannya memainkan rambut halus istrinya dan tangan lainnya menyentuh bagian dadanya. Itu adalah bagian favoritnya.


Emir hanya diam dan menikmati permainannya, dia membiarkan istrinya mengoceh. Memang benar dia tidak menyukai hewan peliharaan tetapi Arimbi menyukainya.


Emir benar-benar ingin memuaskannya tetapi dia cukup sulit untuk menyakinkan dirinya agar memenuhi keinginan istrinya kali ini.


“Kamu bisa diam tidak?” protesnya sehingga membuat Arimbi terdiam. Dia baru sadar kalau sejak tadi suaminya sedang sibuk didadanya. Dengan senyuman nakal, Arimbi pun membalas menciumi leher Emir dan membuat tanda disana tanpa pria itu menyadarinya. Sepasang suami istri itu pun mengisi siang harinya dengan bergumul diruangan itu.


Ruangan yang tadinya hening kini dipenuhi dengan suara-suara ******* dan lenguhan keduanya. Arimbi yang tadinya berada diposisi diatas pangkuan Emir, kini sedang berpacu dalam melodi.


Menggerakkan pinggulnya mengikuti irama. Tadinya mereka melakukannya diatas kursi kerja Emir tapi Arimbi membantu suaminya naik keatas kursi roda lalu mendorongnya kearah sofa dan melanjutkan kegiatan mereka disana.


Sofa itu sangat lembut dan lebih besar ukurannya sehingga memudahkan Arimbi untuk bergerak. Karena kaki Emir masih belum bisa digerakkan dia tidak bisa melakukan banyak hal sehingga hanya Arimbi yang lebih aktif mengambil inisiatif.


Hal itulah yang membuat tekad Emir untuk sembuh semakin besar. Dia ingin membahagiakan istrinya dan memuaskannya.


Satu jam kemudian, Arimbi terkulai lemas didalam pelukan suaminya dimana keduanya masih dalam keadaan polos diatas sofa dengan posisi Arimbi masih diatas pangkuan Emir.


Satu tangan pria itu mengelus punggung mulus istrinya dan tangan lainnya memeluk erat pinggangnya sambil memijatnya lembut. Setelah mengatur pernapasan dan merasa lega, Arimbi mendongak menatap wajah Emir.


“Ada apa?” tanya Emir menatap mata Arimbi. Tatapan keduanya bertautan.


Arimbi menggelengkan kepalanya lalu membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.


“Belum puas?” tanya Emir lagi yang kembali dijawab Arimbi dengan gelengan kepalanya.


“Tadi aku pergi ke istana hewan dengan Elisha dan dia mengatakan kepadaku bahwa aku bisa berkunjung kesana kapan saja aku mau. Dia juga memperbolehkan aku memberi makan hewan-hewan peliharaan dan bermain dengan mereka. Aku jadi senang karena kini aku punya hewan peliharaan. Kamu tidak perlu mengalah padaku.”


Arimbi mengangkat kepalanya dan melihat dagu Emir saat dia mengangkat tangannya untuk mengelusnya, “Hei, Emir! Kamu punya janggut!” jemarinya dengan sengaja mengelus-elus wajahnya.


“Memangnya kenapa?Apa pria sepertiku tidak bisa memiliki janggut?” ucapnya mengerutkan wajah.


Dia sering bercukur dan melakukannya setiap haru. Arimbi yang nakal pun menjulurkan lidahnya, “Bukan itu maksudku. Maksudku adalah aku pikir kamu terlihat gagah setiap hari tanpa rambut diwajahmu. Jadinya kupikir kamu tidak akan membiarkan janggutmu tumbuh.”


Emir mencubit bibirnya lalu menciumnya sekejap dan menjawab, “Dasar gombal!” dia mengakui kalau istrinya itu memiliki mulut yang manis.


“Aku mengatakan yang sebenarnya bahwa suamiku adalah pria paling tampan didunia. Aku paling mencintai suamiku dan cinta yang kumiliki untuk suamiku merupakan---”


“Cukup!” tiba-tiba Emir menghentikannya tepat saat dia berbicara terus. Sementara itu Arimbi tersenyum gembira. Tawanya membuat mata Emir menjadi kalap karena dia tidak bisa menahannya lagi dengan semua sikap dan godaan wanita itu.