GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 276. LUKISAN CINTA


“Sayang….” Arimbi memeluk suaminya saat mereka sudah berbaring diranjang.


“Ehm...ada apa? Bagaimana kelas etiketmu hari ini?”


“Lancar...ya kelas etiketku bagus. Tadi aku belajar etiket berbicara. Tapi aku merasa kelelahan, aku juga sering merasa mengantuk. Emir, kurasa kita perlu ke dokter lagi mengecek kandunganku. Kenapa aku mudah mengantuk?”


“Itu karena kamu terlalu banyak makan! Besok aku temani ke dokter. Apa kamu merasa mual?”


“Tidak! Aku tidak merasa mual sedikitpun. Aku harus berterima kasih pada anakku karena dia menjagaku dengan baik dan tidak mau membuatku muntah-muntah.”


Emir merasa gemas dengan tingkah Arimbi yang semakin hari semakin manja. Dia memeluk Arimbi lalu mencium keningnya. “Arimbi, kamu harus menjaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu lelah.”


“Sayang…..hem…...”


“Ada apa?”


“Tadi siang aku melihat Dion mendatangi kantor ayahku lagi. Tapi aku tidak tahu apa yang di inginkannya kali ini. Aku merasa khawatir.”


“Apa yang kamu khawatirkan? Jika dia  ingin mengacaukan ayahmu karena menolak bekerjasama dengan Harimurti Group maka aku yang akan turun tangan menanganinya.” ujar Emir.


“Sebenarnya aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Emir, apa kamu menyuruh anak buahmu mengawasiku? Aku sedang hamil sekarang dan aku tidak mau berkelahi dengan orang lain.”


“Memangnya kamu mau berkelahi dengan siapa?”


“Dengan siapa saja yang menggangguku! Seperti Dion mungkin, dia tidak akan pernah berhenti mengganggu. Apa yang kamu bilang itu benar!”


“Aku sudah meminta anak buahku untuk mengawasimu karena kamu tidak mau mereka mengikutimu disisimu setiap saat maka mereka hanya mengawasimu dari jauh. Jadi kalau ada orang yang mengganggumu kamu tidak perlu berkelahi. Mereka akan membantumu!”


“Terima kasih sayang. Kamu itu memang suami paling hebat! Cup!” Arimbi mencium bibir Emir setelah selesai bicara. Sebenarnya dia memang merasa khawatir jika Dion akan mengganggunya terus. Apalagi kondisinya sekarang sedang hamil muda membuatnya semakin khawatir.


“Arimbi, kenapa banyak basa basi? Katakan apa yang kamu inginkan?”


Arimbi terkekeh mendengar ucapan Emir yang seolah tahu jika dia menginginkan sesuatu, “Hmm….aku mau belanja.” dia mengerjapkan matanya dan tersenyum menggoda.


“Belanja? Malam-malam begini? Arimbi jangan aneh-aneh! Sekarang tidur!” ujar Emir mengeryitkan dahinya. Tak mau mendengarkan permintaan aneh apapun lagi.


“Sayang, bukan sekarang. Aku kan bilang aku mau belanja tapi bukan sekarang. Bagaimana kalau besok temani aku belanja, mau ya?” rayu Arimbi lagi.


“Apa kamu tidak bisa pergi sendiri? Atau ajak saja Joana bersamamu, kamu bisa sekalian belikan sesuatu untuknya. Sejak kejadian itu kamu kan belum bertemu dia lagi?”


“Oh iya! Oh sayanggg….kamu manis sekali. Aku jadi makin mencintaimu.”


Tak mempedulikan apa yang dikatakan istrinya itu, Emir meraih dompetnya yang dia letakkan diatas nakas lalu mengeluarkan sebuah kartu dan menyodorkan pada Arimbi.


“Ini buatmu.”


“Kenapa kamu memberikan kartumu untukku?” tanya Arimbi heran melihat kartu unlimited itu.


“Kamu pakai kartu ini untuk belanja. Ini aku buatkan untukmu, mulai sekarang kalau kamu mau membeli sesuatu pakai saja kartu ini untuk pembayaran. Jangan gunakan uang sakumu, mengerti?”


“Wah! Suamiku kaya sekali!”


“Emir sayang, semua wanita di seluruh dunia ini materialistis! Itu kan wajar apalagi jika aku punya suami tampan dan kaya sepertimu!Aku harus menikmati kekayaanmu, iyakan sayang?”


Emir langsung mencubit hidungnya lalu menciumnya untuk membungkam mulut istri nakalnya itu. Arimbi sampai sesak karena Emir menciumnya cukup lama. Setelah dia puas barulah dia berhenti.


“Emir! Apa kamu mau membuatku mati kehabisan napas?”


“Jangan suka bicara sembarangan!” ujar Emir. “Sekarang tidurlah! Besok kamu bisa belanja sepuasnya.kamu bisa membeli apapun yang kamu mau!”


“Apa kamu tidak akan memarahi dan menghukumku? Aku benar-benar ingin menghabiskan uangmu.”


“Lakukanlah! Aku mau lihat seberapa mampu kamu menghabiskan uangku! Awas saja kalau kamu belum menghabiskannya.” ancam Emir sambil tersenyum.


Arimbi tiba-tiba tersadar kalau dia lagi-lagi masuk dalam jebakan suaminya. “Hah! Sayang…..aku hanya becanda.”


“Besok kamu harus menerima hukumanmu. Sekarang tidur. Kamu yang bilang kalau lelah tapi kenapa bicara terus? Kalau kamu tidak bisa diam dan menutup matamu, aku akan membuatmu diam!”


“Iya….iya...” Arimbi langsung menutup matanya dan bibirnya mengerucut. Emir menatap tingkah istrinya itu sambil menahan tawa.


‘Kenapa semakin hari wanita ini semakin menggemaskan dan lucu?’ bisik hatinya. ‘Apa dia begitu bodohnya sampai-sampai selalu masuk dalam jebakanku? Hahahaha…..aku mau lihat reaksimu besok setelah tahu hukuman apa yang akan kuberikan kalau kamu tidak menghabiskan uangku!’


...*******...


Keesokan paginya, seperti biasa Emir sudah lebih dulu turun ke bawah untuk sarapan. Arimbi masih merias wajahnya. Mengingat dia mau pergi belanja sepulang kerja nanti karena hari ini dia tidak ada kelas etiket, jadi dia pun ingin mengajak Joana. Dia meraih ponselnya lalu menghubungi Joana.


‘Ah, kenapa aku lupa? Ini masih terlalu pagi untuk Joana! Anak itu biasanya masih tidur pulas jam segini. Aku kirim chat saja.’ bisik hati Arimbi lalu mengirimkan pesan pada Joana. Setelah itu dia turun ke lantai bawah dan menyusul suaminya ke paviliun.


Melihat Emir yang sudah menunggunya di paviliun membuat Arimbi tersenyum. Hari ini Emir memakai baju kemeja dan dasi yang ia belikan waktu itu. Pria itu terlihat semakin tampan, Arimbi bergegas menghampiri dan mendaratkan ciuman di pipi Emir.


“Selamat pagi sayang….”


“Ini yang ketiga kalinya kamu mengucapkan selamat pagi.”


“Hehe….mungkin karena aku terlalu semangat hari ini. Ayo makan.” ujar Arimbi membuat pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesuai sarapan, Arimbi mengeluarkan hadiah untuk suaminya. Kali ini dia memberikan sebuah bingkai kecil berisi lukisan wajah mereka berdua. Didalam lukisan itu terlihat mereka saling bertatapan dan tersenyum dengan lambang love ditengah-tengah.


“Apa ini kamu yang lukis?”


“Iya! Aku tidak punya waktu luang untuk melukis ukuran besar jadi aku buat lukisan kecil. Butuh waktu sebentar untuk melukisnya. Dan bingkainya terbuat dari acrylic yang akan berpijar saat berada didalam ruang gelap. Jadi kamu bisa melihat lukisan itu didalam gelap.”


Emir memandang lukisan itu dan tersenyum. Dia sangat menyukainya, wanita ini benar-benar sangat berbakat. Emir mengira dia hanya menguasai art saja, tak pernah dia menyangka Arimbi juga jago melukis dan lukisannya sangat indah. Goresan kuasnya juga halus seperti layaknya seorang pelukis handal. Tangannya mengusap lukisan itu, dia merasakan hatinya hangat.


“Sayang, kamu harus lihat lukisan itu dalam ruang gelap. Kamu pasti terpesona saat melihatnya nanti.”


“Kamu kan sudah bilang kalau bingkainya akan berpijar jadi aku bisa melihat lukisannya kan?”


“Bukan cuma itu! Ini adalah karya seni terbaruku! Pokoknya kamu harus lihat! Ini kuberi nama lukisan cinta. Karena aku membuatnya dengan penuh cinta untuk suamiku tercinta.” ucap Arimbi menjelaskan.


“Terima kasih.” ucap Emir tersenyum. Dia benar-benar menyukai hadiah dari Arimbi yang ini.