GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 309. AWAL KEHANCURAN


Begitu Yadid dan Mosha keluar dari kantor polisi bersama Amanda, wartawan yang sedari tadi menunggu diluar langsung menyerbu mereka.


“Tuan Rafaldi! Bagaimana tanggapan anda mengenai masalah ini? Apakah Nona Amanda memiliki hubungan khusus dengan Tuan Reza selama ini?”


“Nona Amanda! Apakah anda menjalin hubungan rahasia dengan Tuan Reza?”


 


“Nona Amanda, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anda berada di kamar hotel bersama dengan Tuan Reza?”


Tak ada satupun pertanyaan itu yang dijawab oleh Amanda maupun Yadid. Pengacara keluarga Rafaldi lantas menghalangi para wartawan untuk berhenti bertanya dengan alasan karena kondisi Amanda yang syok akibat kejadian itu.


 


Yadid yang kecewa dan marah tak menanggapi apapun. Sepertinya kekecewaannya sangat besar dan menyakiti hatinya. Dia naik ke mobil tanpa mengatakan sepatah katapun, begitu juga dengan Mosha.


Sedangkan Amanda hanya duduk di jok belakang dengan kepala menunduk. Airmatanya menumpuk disudut matanya. Semuanya image yang dijaganya selama ini, hancur sudah!


...******...


Berita penggerebekan di hotel dan kelab malam mewah menyebar cepat. Menjadi trending berita peringkat atas dan beberapa foto Reza dan Amanda yang tertangkap basah sedang berdua dikamar hotel itupun menyebar.


Entah siapa yang memposting tapi sudah dibagikan ratusan kali. Sedangkan Amanda tidak tahu apa yang sedang terjadi di media sosial karena sampai dia meninggalkan kantor polisi, dia sama sekali tidak menyentuh ponselnya.


 


BRAKKKK!


Johan melemparkan ponselnya ke hadapan Gio, dia sengaja mendatangi kamar saudaranya itu setelah mendapat berita penangkapan Reza dan Amanda yang viral di media sosial.


“Ada apa?” tanya Gio menatap Johan dengan tatapan heran.


“Baca itu! Dan pikirkan apa yang ku katakan padamu sebelumnya!” ucap Johan datar.


 


Gio meraih ponsel itu lalu melihat judul sebuah berita yang membuat matanya terbelalak. “Tidak mungkin! Ini pasti berita hoaks! Amanda tidak mungkin melakukan ini! Ini pasti ulah Arimbi atau mungkin orang-orang yang tidak menyukai Amanda! Foto ini pasti editan!” Gio berusaha menolak untuk mempercayai berita yang baru dibacanya.


 


“Terserah! Yang pasti, aku tidak mau wanita itu membawa malu pada keluarga kita! Sangat memalukan dan menjijikkan! Bagaimana bisa kamu masih membela wanita seperti itu, Gio?” ujar Johan dengan marah. Johan mendapatkan berita itu dari salah seorang anak buahnh  ya, saat dia ingin memberitahukan Zivanna, namun adik perempuannya itu sudah tidur sehingga dia langsung menemui Gio.


 


“Aku akan menanyakan langsung pada Amanda perihal ini! Dia bukan wanita seperti itu! Aku yakin kalau dia tidak bersalah! Reza? Aku tidak mempercayai laki-laki itu! Dulu dia menjalin hubungan dengan Arimbi lalu melecehkan Ruby! Tidak menutup kemungkinan dia juga melecehkan Amanda untuk membalas dendam pada Arimbi!” ujar Gio lagi yang meraih ponselnya ingin menghubungi Amanda.


 


“Menurutmu Amanda akan menerima teleponmu? Dia masih berada di kantor polisi untuk pemeriksaan. Gio, coba pikirkan kembali ucapanku! Keluarga kita jangan terlibat hal-hal yang memalukan seperti ini. Kalau sampai ayah tahu, kamu pasti tahukan apa konsekuensinya.”


 


“Johan! Kalau kamu keberatan membantu, aku akan melakukan sendiri! Aku sangat yakin Amanda tidak bersalah, kamu tahu orang seperti apa dia selama ini. Dia tidak pernah terlibat skandal apapun, ini bukan seperti Amanda yang kukenal.” ujar Gio kekeuh mau mendukung Amanda meskipun situasinya buruk saat ini.


Dia tahu jika Amanda tidak mencintainya tapi bukankah sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan dirinya pada Amanda kalau dia benar-benar sayang dan peduli padanya? Pikir Gio yang bucin akut sehingga melupakan logikanya.


 


“Terserah! Aku akan tetap membantumu tapi tidak membantu Amanda! Semua hal yang bisa merusak reputasi keluarga kita sebaiknya kita hindari. Saat ini berita penggerebekan itu sedang viral, berhati-hatilah dalam mengambil tindakan! Jangan sampai akan menjadi awal dari sebuah kehancuran.” ujar Johan melangkah keluar dari kamar Gio.


 


...*******...


Arimbi yang tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Joana pun hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil sesekali melirik Emir yang terlelap seolah tak terganggu dengan gerakan disebelahnya. Melihat Emir yang tetap tenang membuat Arimbi meradang.


‘Isss…..bisa-bisanya dia tidak nyenyak? Ahhhh, menyebalkan sekali! Harusnya dia membujukku, merayuku bukannya tidur!’


 


 


“Emir….sayang…...” suara manjanya mendayu-dayu ditelinga Emir sambil tangannya mulai membelai-belai berusaha membangunkan Emir yang mungkin sangat lelah dan tetap tidur.


‘Issss. Jadi suami tidak peka amat! Istrinya di cuekin…..hmmm awas kamu ya Emir. Hehe kayaknya asyik nih kalau aku kerjain.’ bisik hati Arimbi yang langsung tersenyum begitu sebuah ide terbersit di benaknya.


 


Perlahan dia menaiki tubuh Emir dan berbaring dengan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Arimbi membenamkan kepalanya ke dada bidang Emir sambil mengendus-ngendus tubuhnya. Emir yang mulai merasa terganggu karena beban diatas tubuhnya perlahan membuka mata sedikit dan tersenyum melihat ulah istri nakalnya.


 


Saat Arimbi sedang menggeliatkan tubuhnya diatas tubuh Emir, ponselnya berbunyi tanda notifikasi. Dia meraih ponselnya yang berada tak jauh darinya lalu membukanya, “Ah!” pekiknya. Mata dan mulutnya terbuka lebar tak percaya melihat layar ponselnya. Teriakan Arimbi membangunkan Emir.


 


“Kamu bisa diam tidak? Cepat turun!” ujar Emir namun bukannya menuruti perintah pria itu, Arimbi malah semakin serius membaca berita di ponselnya.


“Arimbi!”


“Ehm...”


“Cepat turun!”


 


“Tidak mau! Aku mau begini saja! Baby-nya yang mau.” ujarnya memberi alasan yang membuat Emir menghela napas panjang.


‘Dia ini cari-cari alasan atau memang kemauan baby-nya?’ Emir mengerutkan alisnya menatap Arimbi. “Kamu baca pesan dari siapa tengah malam begini?” tanyanya setelah diacuhkan oleh Arimbi.


 


“Emir! Kamu tidak akan percaya apa yang terjadi!” Arimbi mendongak menatap Emir.


“Cepat turun dulu! Kamu berat sekali! Sepertinya kamu tambah gemuk ya?” ujar Emir seenaknya sehingga mendapat cubitan dari Arimbi.


“Enak saja bilang aku gemuk! Itu salahmu! Siapa suruh bikin aku hamil ya jadi gemuk lah!” Arimbi mengerucutkan bibirnya dengan wajah ditekuk.


 


CUP!


“Aku cuma becanda kalau tidak begitu kamu tidak mau turun.” ucap Emir mengecup bibir istrinya.


“Apa yang sedang kamu baca? Nampaknya serius sekali? Arimbi! Aku tidak suka diselingkuhi!”


“Siapa yang selingkuh? Aku sedang baca berita terbaru! Reza dan Amanda?”


Emir mengeryitkan keningnya mendengar perkataan Arimbi.


 


“Ada apa lagi dengan mereka? Apa mereka akhirnya memutuskan menikah dan mengakui hubungannya ke publik?” ujar Emir.


“Mereka ditangkap polisi! Ada penggerebekan dan mereka sedang begituan!”


“Maksudnya?”


“Ini baca saja sendiri! Aku harus menghubungi ayah dan ibu.” kata Arimbi lagi.


 


“Jangan! Ini tengah malam. Mungkin mereka sudah tidur, jangan diganggu! Biarkan mereka istirahat malam ini dan kamu bisa menelepon ayah besok pagi.” dengan cepat tangan Emir merangkul Arimbi.


“Baiklah kalau begitu.”


Emir mengambil ponsel Arimbi dan melihat trending news yang menyebutkan nama Reza dan Amanda.